Demo Aturan COVID Meluas di China, Pemicunya Kebakaran di Urumqi

ADVERTISEMENT

Demo Aturan COVID Meluas di China, Pemicunya Kebakaran di Urumqi

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 28 Nov 2022 10:42 WIB
Polisi terlihat berkonfrontasi dengan para pemrotes di Shanghai, hari Minggu (27/11/2022). (Getty Images)
Jakarta -

Rangkaian aksi protes terhadap kebijakan pembatasan Covid-19 di China tampaknya semakin intensif menyusul kebakaran yang menewaskan 10 orang di sebuah blok apartemen di Urumqi.

Di Kota Shanghai, video yang diunggah di media sosial oleh sejumlah jurnalis asing menunjukkan ribuan orang turun ke jalan untuk mengenang para korban sekaligus memprotes pembatasan Covid.

Dalam tayangan video itu, ratusan orang terdengar menuntut Presiden Xi Jinping mengundurkan diri.

Banyak orang menyalahkan penguncian bangunan permukiman atas kebakaran tersebut.

Pihak berwenang membantah bahwa pembatasan Covid menyebabkan kematian, namun pejabat di Urumqi dalam perkembangan yang tidak biasa menyampaikan permintaan maaf dan berjanji "memulihkan ketertiban umum" dengan secara perlahan mencabut pembatasan.

Para mahasiswa juga menggelar aksi di universitas mereka di Beijing dan Nanjing.

Pihak berwenang China telah menyangkal bahwa itu adalah penyebabnya, meski tidak biasanya pihak berwenang Urumqi mengeluarkan permintaan maaf pada Jumat (25/11) malam - berikrar menghukum siapa pun yang telah meninggalkan tugas mereka.

Baca juga:

Pada sebuah acara di Shanghai, beberapa orang terlihat menyalakan lilin dan menaburkan bunga untuk para korban.

Polisi di Urumqi

Tampak pengamanan yang ketat di jalan-jalan di Urumqi. (Getty Images)

Adapun lainnya terdengar meneriakkan slogan-slogan seperti "Xi Jinping, mundur" dan "Partai Komunis, mundur". Beberapa juga memegang spanduk putih kosong.

Tuntutan semacam itu merupakan pemandangan yang tidak biasa di China, mengingat setiap kritik langsung terhadap pemerintah dan presiden dapat mengakibatkan hukuman yang berat.

Beberapa pengunjuk rasa juga meneriakkan makian kepada polisi, yang berbaris di jalan tempat orang berkumpul.

Seorang pengunjuk rasa mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa salah satu temannya telah dipukuli oleh polisi di tempat kejadian, sementara dua lainnya disemprot merica.

Video lainnya yang merekam aksi protes tersebut menunjukkan polisi berdiri menonton ketika aksi unjuk rasa berlangsung.

Shanghai

Polisi di Shanghai berjaga-jaga setelah aksi demonstrasi. (BBC)

Meskipun situasi di daerah tersebut telah tenang pada Minggu (27/11) pagi, BBC melihat peningkatan jumlah polisi di daerah protes. Puluhan polisi, penjaga keamanan swasta, dan petugas polisi berpakaian preman tampak berjaga-jaga di jalan.

Sementara itu, di beberapa universitas China, foto-foto dan video mahasiswa yang melakukan protes pada Sabtu (26/11) malam muncul secara online. Aksi terbesar tampaknya terjadi di Universitas Komunikasi Nanjing.

Tayangan video protes sulit untuk diverifikasi secara independen, tetapi banyak di antaranya menunjukkan kritik yang sangat eksplisit dan blak-blakan terhadap pemerintah China dan pemimpinnya.

Memprotes kebijakan Presiden Xi

Tessa Wong, Reporter Digital Asia

Kebakaran Urumqi adalah mimpi buruk bagi banyak orang China yang ditempatkan dalam pembatasan dalam beberapa bulan terakhir - terkunci di apartemen tanpa ada cara untuk melarikan diri, menurut beberapa laporan. Pihak berwenang telah membantah hal ini, tetapi hal itu tidak menghentikan kemarahan dan kecemasan publik.

Kejadian tersebut telah menjadi titik kritis terbaru dalam kefrustrasian yang kian memuncak. Jutaan orang lelah dengan pembatasan pergerakan selama tiga tahun dan tes Covid setiap hari.

Kemarahan telah menyebar ke seluruh penjuru China, dari kota-kota besar hingga daerah-daerah yang jauh seperti Xinjiang dan Tibet. Setiap bagian masyarakat lantas bergerak memprotes, termasuk mahasiswa muda, pekerja pabrik, dan warga awam.

Ketika kemarahan ini tumbuh, aksi protes terhadap kebijakan pembatasan penularan Covid menjadi pemandangan yang semakin umum. Kendati demikian, demonstrasi akhir pekan ini tidak biasa, baik dalam jumlah pengunjuk rasa maupun keterusterangan mereka terhadap pemerintah dan Presiden Xi Jinping.

Turun ke jalan secara massal sembari menyerukan Presiden Xi untuk mundur dianggap tidak terpikirkan belum lama ini. Tapi setelah aksi protes dramatis di jembatan Beijing baru-baru ini yang mengejutkan banyak orang, batasan baru tampaknya telah ditetapkan dalam hal menyuarakan perbedaan pendapat yang lebih terbuka dan lebih tajam.

Ada sejumlah demonstran yang memilih untuk mengibarkan bendera Tiongkok dan menyanyikan lagu kebangsaan - liriknya mendukung cita-cita revolusioner dan mendesak orang-orang untuk "bangkit, bangkit".

Ini menunjukkan patriotisme yang juga dapat dibaca sebagai ekspresi solidaritas yang tajam dengan sesama warga China yang menderita di bawah kebijakan nol-Covid ala Xi Jinping - dan seruan untuk bertindak.

urumqi

Khalayak meletakkan karangan bunga di Jalan Urumqi - namun polisi memungutinya. (BBC)

Protes tersebut adalah aksi terbaru dari serangkaian demonstrasi massa menentang langkah-langkah nol-Covid China yang juga semakin berani mengkritik pemerintah dan Presiden Xi.

Di antara negara-negara ekonomi utama dunia, China adalah yang masih menerapkan strategi nol-Covid. Sebagian alasannya karena tingkat vaksinasi China yang relatif rendah dan upaya untuk melindungi orang lanjut usia.

Lockdown secara mendadak telah menyebabkan kemarahan di seluruh negeri - dan pembatasan Covid secara lebih luas telah memicu protes kekerasan baru-baru ini dari Zhengzhou hingga Guangzhou.

Terlepas dari langkah-langkah ketat, jumlah kasus China minggu ini mencapai rekor sepanjang masa sejak pandemi dimulai.

(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT