Jelang Pemilu Malaysia, Pertama Kalinya Warga 18-20 Tahun Punya Suara

ADVERTISEMENT

Jelang Pemilu Malaysia, Pertama Kalinya Warga 18-20 Tahun Punya Suara

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 16 Nov 2022 13:32 WIB
Jakarta -

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Malaysia, warga usia 18 tahun mempunyai hak pilih dan mencalonkan diri dalam pemilu 2022, menyusul pengesahan undang-undang Undi18 untuk menurunkan batas usia dari 21 tahun.

Nas Addina mengaku cukup tertarik untuk menyalurkan suara dalam pemilu yang dipercepat pada Sabtu (19/11).

Walaupun berusia 22 tahun, baru dalam pemilu kali ini dia memenuhi syarat mencoblos.

Informasi terkait perkembangan politik di negaranya, dia ikuti lewat Twitter. Apa yang diharapkan dalam pemilu untuk memilih 222 anggota parlemen yang sebagian juga akan duduk di pemerintahan?

"Siapa saja yang tersangkut kasus korupsi atau siapa saja yang bertanggung jawab, harus diadili dan dapat hukuman. Sebab tidak adil, banyak kasus korupsi sekarang ini dan semakin jelas siapa yang terkena kasus korupsi tidak mendapat hukuman," kata Addina dalam percakapan di sebuah taman di kawasan Subang Jaya.

Dia khawatir calon-calon yang tersangkut kasus korupsi akan bisa lolos dari jeratan hukum begitu mereka duduk di kursi parlemen atau kursi kabinet.

Sebelum berjumpa dengan Nas Addina, saya menemui seorang mahasiswa berusia 19 tahun, Ernest. Di ruang tamu rumahnya, mahasiswa jurusan bisnis internasional itu mengeluarkan sikap politiknya secara blak-blakan.

"Pemilihan kali ini sangat penting karena akan menentukan kelangsungan Malaysia. Saya merasa rakyat sudah sampai pada tahap lelah dengan cara pemerintah menangani bermacam-macam masalah," kata Ernest kepada BBC News Indonesia.

"Kami menginginkan Malaysia yang lebih baik. Bukannya sekedar janji mewujudkan kemajuan - yang digeser dari 2020 ke 2050, kami mengendaki tujuan-tujuan tertentu.

"Kapan negara akan lebih baik, kapan nilai mata uang kita akan naik, kapan kita akan menjadi negara maju, kapan kita akan menyamai standar negara tetangga seperti Singapura?" tanyanya dengan suara tegas.

Kerangka waktu 2020-2050 yang dirujuk Ernest merupakan prakarsa pembangunan nasional selama 30 tahun. Ini dikenal dengan nama Transformasi Nasional 2050.

Baca juga:

Banyak lagi pemilih pemula mengaku sudah tidak sabar menantikan pergantian pemerintahan untuk segera keluar dari stagnasi.

Pada Jumat malam (11/11) saya melihat kerumunan warga di posko Partai Keadilan Rakyat (PKR) di kawasan Bandar Tun Razak, Kuala Lumpur.

Anak-anak muda, bapak-bapak hingga ibu-ibu menunggu kedatangan mantan wakil PM Wan Aizah Wan Ismail, calon anggota parlemen daerah pemilihan itu.

Di samping posko saya berjumpa dengan Farah, pemilih pemula pada usia 23 tahun. Dalam pemilu sebelumnya pada 2018, umurnya 19 tahun sehingga belum memenuhi syarat.

"Saya menginginkan Malaysia yang baru serta kemajuan dari pemimpin yang baru. Jadi saya ingin mengundi (memilih) calon yang dapat dipercaya yang mampu memimpin kita dengan lebih baik," ungkap Farah seraya menambahkan dia sudah jenuh dengan kepemimpinan yang ada.

Memilih berdasarkan isu-isu

Farah, Ernest dan Addina tercatat sebagai tiga dari 6,23 juta pemilih baru dari 21,17 juta keseluruhan jumlah warga yang mempunyai hak suara, berdasarkan data Suruhanjaya Pilihan Raya (SPR), setara dengan KPU di Indonesia.

Dari 6,23 juta pemilih baru,1,4 juta di antaranya adalah pemilih golongan usia 18-20, yang dikenal dengan sebutan pemilih Undi18.

Sisanya adalah mereka seperti Addina dan Farah yang belum memenuhi syarat dalam pemilu 2018 ketika usia mencoblos masih 21 tahun.

Dari berbagai jajak pendapat, antusiasme pemilih pemula, termasuk rentang usia 18-20 tahun, tampak tinggi.

"Mungkin kita akan menyaksikan mereka akan memilih beramai-ramai tapi untuk membaca kegembiraan itu diterjemahkan dalam kertas suara itu mungkin berbeda," kata dosen senior bidang politik dari Universitas Teknologi Mara, Mujibu Abdul Muis.

Namun demikian, yang jelas pemilih muda punya sejumlah perbedaan dibanding golongan usia lainnya.

"Kebanyakan pemilih muda ini berbeda kehendak, berbeda pengaruh karena berbeda dari sudut bagaimana mereka dibesarkan, bagaimana mereka mendapat pendidikan, bagaimana keterpaparan politik mereka," tambah Mujibu Abdul Muis.

Tidak membawa beban kesetiaan atau keterhutangan sejarah kepada partai-partai politik dan calon-calon, sebagaimana pada umumnya kelompok umur lebih tua, pemilih pemula kemungkinan akan menjatuhkan pilihan berdasarkan isu-isu yang mengemuka, lanjutnya.

Analis lain juga mempunyai penilaian serupa. Meskipun muda dan semestinya idealis, perhatian pemilih pemula diarahkan ke masalah umum, khususnya kesejahteraan ekonomi.

"Mereka memerlukan pekerjaan. Ini juga masalah setelah dampak Covid-19, gaji yang stagnan. Sejak tahun 2000 khususnya, Malaysia mengalami masalah di industrialisasi di mana ketika China membuka ekonominya, banyak perusahaan besar berhijrah ke China dan pekerja-pekerja asing dibawa masuk.

"Ini memberikan kesan persaingan atau daya saing lulusan perguruan tinggi, lulusan sekolah menengah dan sebagainya," jelas DR. Muhamad Nadzri Hj. Mohamed Noor selaku kepala Program Sains Politik, Universitas Kebangsaan Malaysia.

Calon termuda dan tertua

Jelas pemilih pemula akan menjadi komponen penting dalam pemilihan umum di saat Malaysia menghadapi berbagai masalah pelik, seperti ketidakstabilan politik dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Masing-masing partai politik mencoba untuk merangkul anak-anak muda, meskipun mayoritas pengurus partai masih generasi tua.

Perkecualiannya barangkali adalah Partai Ikatan Demokratik Malaysia (MUDA) yang dinahkodai politikus Syeh Saddid. Pria berusia 29 tahun itu dikenal luas di kalangan muda dan mempunyai banyak pengikut di media sosial.

"Salah satu cara kami menyasar pemilih muda adalah lewat media sosial. Jadi sekarang banyak pemimpin politik dan calon cukup aktif di media sosial, seperti Tiktok dan Instagram," papar mantan menteri industri utama dan calon anggota parlemen dari Partai Aksi Demokratik, Teresa Kok Suh Sim, dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir.

Produk yang dikemas, masih menurutnya, berupa video-video pendek berisi pesan-pesan politik dan pembelajaran seputar pencoblosan.

Sejumlah partai politik juga mengusung sosok-sosok muda sebagai upaya menarik sokongan pemilih pemula. Beberapa di antara mereka merupakan perempuan menawan dan berpendidikan tinggi. Media setempat menyebut kelompok calon itu sebagai 'beauty with brain'.

Ada dua calon anggota parlemen paling muda; Peggy Chaw dan Muhammad Syahmi Suhaimi. Keduanya berusia 23 tahun. Adapun calon tertua adalah mantan Perdana Menteri Tun Mahathir Mohamad, 97 tahun.

Kedua kategori itu terpaut usia 74 tahun.

***Tulisan ini merupakan bagian dari Liputan Khusus Pemilu Malaysia di situs BBC News Indonesia dan dalam siaran Dunia Pagi Ini BBC Indonesia.

(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT