Kisah Pilu 5 Sekawan Rayakan Halloween di Itaewon, Hanya 2 yang Kembali

ADVERTISEMENT

Kisah Pilu 5 Sekawan Rayakan Halloween di Itaewon, Hanya 2 yang Kembali

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 02 Nov 2022 10:16 WIB
Park Ju-sung telah berteman dengan James selama 20 tahun. (BBC)
Jakarta -

Jean Mackenzie, Won Jung Bae dan Hosu Lee

BBC News, Seoul

Rumah-rumah duka di Seoul kini dipenuhi jenazah anak-anak muda dan orang tua mereka yang terpukul. Di ujung sebuah koridor yang panjang, Sim dan istrinya duduk meringkuk di sofa kecil, tidak mampu mengangkat kepalanya.

Di dalam salah satu ruangan di rumah duka itu ada jasad putra mereka, James Sim yang berusia 28 tahun. Di ruangan sebelahnya, ada jasad dari teman James, Yoon. Sedangkan di ruangan seberangnya menjadi tempat bagi kekasih James.

Mereka pergi ke Itaewon bersama dua teman lainnya pada Sabtu malam lalu untuk merayakan Halloween. James yang mengatur rencana pada malam itu.

"Dia selalu menjadi penyelenggara, karena dia senang keluar malam bersama teman-temannya, kata ibu James.

James adalah salah satu dari 155 orang yang tewas dalam kerumunan massa di gang sempit yang penuh sesak.

Tanda-tanda pertama bahwa ada sesuatu yang tidak beres terasa ketika orang tua James, seperti banyak orang tua lainnya, bangun tidur dan menemukan tempat tidur putra mereka kosong.

Ayah James pun meminta bantuan teman-temannya untuk menelepon James. Namun polisi yang menjawab.

Ketika mereka terjebak di tengah kerumunan maut itu, dua di antara sekawan itu berhasil keluar dari kerumunan dengan naik pagar di pinggiran gang sempit itu.

Sedangkan James, pacarnya, dan Yoon, tidak bisa keluar dari kerumunan.

Baca juga:

James suka berolahraga dan menghabiskan sebagian besar waktu luangnya di gym dengan mengangkat beban untuk menambah berat badan, kenang ibunya. Dia tidak mengerti bagaimana hal ini tidak bisa menyelamatkan nyawa anaknya.

Hubungan James dengan kekasihnya pun semakin serius, menurut ayahnya. Mereka akan segera menikah, andai mereka selamat dari tragedi itu.

James bekerja sebagai tukang ledeng, yang dia lakukan dengan tekun, tetapi dia sangat hobi bermain ski dan berselancar.

Mata ibunya berbinar ketika menceritakan apa yang disukai anaknya, tetapi ayahnya menutup mata dan menangis.

"James adalah kakak laki-laki terbaik, kenangnya. "Bagaimana putra bungsu saya akan bertahan tanpa kakaknya?

Tragedi Itaewon

Orang tua James merasa belum siap menyalahkan siapa pun atas peristiwa yang menghilangkan nyawa anak mereka. (BBC)

Di kamar, di sebelah peti matinya, duduk sejumlah teman sekolah lamanya. Park Ju-sung adalah yang paling lama mengenal James, sejak mereka berusia delapan tahun.

"Saya adalah anak yang pemalu, kata Ju-sung.

"James adalah satu-satunya teman saya. Dia mengajak saya ke berbagai aktivitas dan mendorong saya mengikuti taekwondo bersamanya. Dia membantu saya untuk jadi lebih terbuka.

Sedangkan teman dari James, Yoon, berusia sekitar 28 tahun. Dia sudah nyaman berada di perusahaannya sendiri. Dia suka menjelajah. Dia biasa pergi ke bar sendirian di malam hari dan berbincang dengan orang asing untuk membiasakannya belajar bahasa asing. Jung-su, mengagumi kepercayaan dirinya.

Lebih dari separuh korban tewas berusia sekitar 20 tahun dan trauma atas kejadian ini dirasakan oleh generasi ini.

Ini adalah bencana kedua yang menimpa generasi ini, setelah pada 2014, 250 pelajar sekolah menengah tewas ketika sebuah feri tenggelam di lepas pantai barat daya negara itu. Para siswa yang menjadi korban itu akan berusia 20-an sekarang, andai mereka masih hidup.

Tragedi Itaewon.BBC

Di altar publik yang besar, yang dibuat di pusat kota Seoul, orang-orang berkumpul untuk berkabung. Kim Dae-hui yang berusia 19 tahun meletakkan satu krisan putih, yang merupakan bunga simbol duka di Korea, sebagai penghormatan kepada temannya, Raghu Jordagan yang berusia 21 tahun.

Dia pindah ke Korea Selatan dari Malaysia pada Januari 2021. Mereka berteman setelah Raghu menyapanya di jalan dan memuji gayanya.

Raghu bekerja di bidang konstruksi untuk menghidupi keluarganya, tetapi dia juga berjiwa kreatif dan bercita-cita menjadi seorang perancang busana, kata Dae-hui.

Mereka biasanya akan hang out, mendengar musik hip hop dan bertukar tips fesyen. Mereka saling mengajarkan bahasa masing-masing.

"Raghu lebih sabar dariku, dia tidak pernah kesal, kenang Dae-hi, sambil melepas kaca matanya, menutup wajahnya dengan tangan, dan larut dalam kesedihan.

Raghu meneleponnya lewat panggilan video ketika kekacuan di gang dimulai.

Di samping Raghu, ada seorang perempuan muda yang kesulitan bernapas. Mereka tetap berbicara di telepon ketika Raghu mencoba mencari cara melarikan diri. Kemudian tangan perempuan itu menjadi dingin dan Raghu menutup telepon. Itu adalah kabar terakhir yang didengar Dae-hui darinya.

Tragedi Itaewon

Kim Dae-hui melihat temannya, Raghu, melalui video yang beredar di media sosial. (BBC)

Esok paginya, Dae-hui melihat video di media sosial yang menunjukkan Raghu di tengah kerumunan, dengan wajah pucat dan tertekan.

Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu bukan Raghu, hanya seseorang yang mirip dengan temannya itu.

Kemudian polisi meneleponnya. Menurut polisi, Raghu sepertinya terdorong dan terinjak-injak.

Mengetahui kisah-kisah para korban meninggal membuat masyarakat Seoul semakin sulit memahami apa yang terjadi.

Mereka butuh jawaban, membuat tekanan terhadap otoritas semakin meningkat untuk memastikan siapa yang salah dan bertanggung jawab atas ini.

Sementara itu, orang tua James merasa belum siap menyalahkan siapa pun.

"Putra kami didorong dan dia meninggal. Itu adalah kecelakaan. Kami belum memikirkan siapa yang harus bertanggung jawab. Kami tidak bisa berpikir, kami hanya bisa menangis."

Simak video 'Warga Jepang Tetap Rayakan Halloween Meski Ada Tragedi Itaewon':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT