Kisah Orang Tua yang Besarkan Anak-anak Mereka Tanpa Gender

ADVERTISEMENT

Kisah Orang Tua yang Besarkan Anak-anak Mereka Tanpa Gender

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 27 Okt 2022 10:01 WIB
Kisah orang tua yang membesarkan anak-anak mereka tanpa gender (MARKUS TSCHANNEN)
Foto: MARKUS TSCHANNEN
London -

Maddy Savage, BBC Worklife

Beberapa orang tua kini mendukung gaya pengasuhan 'gender kreatif, yakni membiarkan anak-anak memilih identitas gender mereka sendiri di kemudian hari.

Saat Gabriella Martenson bersiap untuk melahirkan anak pertamanya, dia mengambil keputusan tak populer.

Dia tidak akan memberi tahu anaknya jika mereka terlahir sebagai perempuan atau laki-laki, dan akan menghindari mendiskusikan jenis kelamin anaknya dengan orang-orang di luar keluarga dan kelompok pertemanannya.

"Saya ingin mereka menjadi seperti yang mereka inginkan. Saya tidak ingin memutuskan gender untuk mereka," kata Martenson, yang berusia 30 tahun dan tinggal di kota kelahirannya, Stockholm, ketika dia memiliki anak pertamanya.

"Saya juga tidak ingin memutuskan apa yang harus mereka lakukan di masa depan, atau dengan siapa mereka memutuskan untuk jatuh cinta atau tinggal bersama."

Baca juga:

Saat masih kecil, Martenson dibesarkan dalam norma-norma stereotip gender, seperti diberi barang-barang berwarna merah muda dan gaun untuk dipakai.

Namun, di akhir masa remajanya, dia mengatakan telah "menemukan feminisme dan mulai mempertanyakan norma-norma gender".

Jadi, ketika dia menjadi seorang ibu, dia memilih untuk membelikan anaknya sendiri berbagai macam pakaian dan hadiah, mulai dari kereta hingga boneka, membiarkan mereka bebas memilih, terserah apa yang ingin mereka pakai pada hari tertentu.

Dia berharap gaya pengasuhannya akan membantu anaknya merasa lebih nyaman menjajal berbagai hobi dan studi, alih-alih mendorong mereka ke kegiatan yang lebih stereotip untuk gender tertentu.

Dia juga percaya membesarkan anak tanpa menentukan jenis kelaminnya akan membuat segalanya lebih mudah jika mereka akhirnya mengidentifikasi diri sebagai gender yang berbeda dari gender kelahiran mereka.

Ini juga akan membantu mereka lebih mudah menerima orang lain yangtidak menganut gender biner atau norma sosial lainnya.

pola asuh gender netral

Getty Images

"Saya membiarkan mereka menjadi apa saja dan mengajari mereka untuk tidak berpikiran sempit," katanya.

Martenson, yang sejak itu menerapkan pendekatan itu kepada dua anaknya yang lain, adalah bagian dari sedikit orang tua baik dari pasangan orang tua yang straight maupun queer yang telah memilih pengasuhan netral gender dalam beberapa tahun terakhir, kata para ahli. Meski sedikit, mereka mengatakan jumlahnya terus bertambah.

Tidak jelas berapa persisnya keluarga yang telah mengadopsi strategi ini, karena hanya ada sedikit penelitian akademis atau publik tentang tren mikro ini.

Namun, penulis yang kerap membahas pengasuhan anak, psikoterapis, dan guru prasekolah secara anekdot mengatakan bahwa mereka telah memperhatikan praktik ini terus meningkat dalam satu dekade terakhir, terutama di Eropa utara dan AS.

Meski sudah ada lebih banyak orang tua memilih pendekatan tersebut ini adalah pilihan yang tidak konvensional, dan bukan tanpa penolakan, bahkan kontroversi.

Namun, orang tua yang menentang praktik membesarkan anak yang sudah kadung mengakar, memiliki motivasi khusus dan pendekatan praktis.

Memahami motivasi ini mungkin dapat memberi pengertian tentang cara-cara berbeda di masa depan untuk membesarkan anak.

Kemunculan pola asuh yang netral gender

Ravna Marin Nathanael Siever, penulis, blogger, dan dosen pengasuhan anak dengan gender netral yang berbasis di Berlin, mengatakan memilih untuk tidak melabeli anak kecil sebagai laki-laki atau perempuan mulai mendapatkan sorotan pada 1980-an, kebanyakan dari komunitas queer.

Ini bertepatan dengan apa yang mereka gambarkan sebagai "gelombang feminisme kedua.

Para perempuan memberontak agar tidak diidentikkan sebagai pengasuh anak di rumah atau dalam pekerjaan tertentu.

Penelitian Siever, untuk bukunya, melibatkan peninjauan beberapa dekade literatur studi gender yang ada, serta berbicara dengan orang tua itu sendiri.

Mereka mengatakan banyak orang yang tertarik pada pengasuhan netral gender karena ingin menghindari anak-anak mereka mengalami pengalaman yang mereka alami sendiri;tumbuh di dunia di mana stereotip laki-laki-perempuan dan struktur kekuasaan lebih umum daripada sekarang.

Mereka melihat bagaimana orang-orang transgender menghadapi tingkat diskriminasi yang lebih tinggi dan hubungan LGBTQ+ kurang diterima.

Oleh karena itu, pengasuhan yang netral gender muncul bukan untuk "menetralkan jenis kelamin anak, "tetapi untuk memberikan kesempatan bagi anak untuk menemukan identitas mereka sendiri, daripada harus diberitahu oleh orang lain," kata Siever.

Beberapa orang tua berbahasa Inggris lebih menyukai istilah "pengasuhan gender-kreatif untuk membantu menghindari kebingungan bahwa tujuannya adalah untuk "menetralkan gender, kata Siever.Beberapa orang tua menggunakan istilah "pengasuhan terbuka gender untuk alasan yang sama.

Apapun namanya, pola asuh semacam ini adalah minoritas di tahun 90-an dan 2000-an, kata Siever.

Di awal 2010-an, pola asuh ini menjadi lebih populer setelah sejumlah keluarga queer dan straight berbagi cerita mereka di media, menghasilkan perdebatan yang terpolarisasi.

Beberapa contohnya adalah pasangan di Toronto yang membesarkan seorang anak bernama Storm tanpa memberi mereka label gender, dan seorang suami cis dan istrinya yang genderqueer di Salt Lake City, yang mendokumentasikan perjalanan mereka membesarkan seorang anak bernama Zoomer di media sosial.

Sementara itu, laporan global tentang beberapa prasekolah di Swedia yang menghindari penggunaan kata ganti him dan her untuk semua murid, juga membantu menyoroti ideologi netral gender, kata Siever.

Di sekitar periode yang sama, Siever yang mengidentifikasi dirinya sebagai transgender, non-biner dan poliamori mulai membesarkan anak pertama dari tiga bersaudara tanpa label gender.

Siever menjelaskan pengalaman pribadinya yang tumbuh di tahun 1990-an, sangat mempengaruhi keputusan ini.

Meskipun orang tua mereka dipengaruhi oleh gelombang feminis sebelumnya, yang mendorong anak-anak untuk "melakukan apapun" yang mereka inginkan dalam hal kegiatan, mereka masih melabeli Siever sebagai seorang gadis, yang membuatnya merasa tidak nyaman.

"Butuh waktu sampai saya berusia di akhir 20-an saat saya menyadari saya bisa keluar dari kotak itu, karena saya tidak punya kata-kata untuk itu.Saya tidak diberitahu bahasa untuk itu," kata Siever.

Seperti Martinson, Siever percaya pengasuhan netral gender sejak lahir membuat hidup lebih mudah bagi anak-anak yang memutuskan bahwa mereka tidak cocok dengan norma biner, dan dapat membantu anak-anak ini menghindari beberapa "kebingungan" yang dialami Siever selama masa mudanya.

Baca juga:

Dia juga berharap pendekatan ini akan membantu menyebarkan pesan feminis lebih luas.

"Gagasan kaku tentang gender telah dibahas sebagai sumber utama penindasan oleh patriarki terhadap karya feminis selama beberapa dekade," kata Siever, yang meninjau literatur studi gender selama beberapa dekade untuk bukunya.

"Semakin anak-anak kita tumbuh dengan terbuka, semakin sedikit struktur kekuasaan gender akan mempengaruhi siapa yang memiliki kekuasaan dalam masyarakat dan dengan demikian, siapa yang paling diuntungkan darinya."

Mark Vahrmeyer, seorang psikoterapis yang bekerja sama dengan sebuah keluarga di Brighton, Inggris, menambahkan bahwa pada 2020-an, percakapan tentang identitas gender dan penindasan gender telah menjadi jauh lebih umum di media dan masyarakat, dan ini membantu menunjukkan kepada orang tua bahwa ada cara alternatif membesarkan seorang anak.

"Lebih banyak orang tua yang menyadari kemungkinan membesarkan anak yang netral gender," katanya.

Ini didorong dengan meningkatnya penggunaan kata ganti they/them serta kesadaran yang berkembang secara umum tentang dampak stereotip dan bias.

Dari pengalamannya bekerja sama dengan orang tua dan remaja, dia mengatakan "semakin banyak orang tua yang ingin memberi anak mereka ruang secara psikologis dan emosional untuk sepenuhnya mengekspresikan siapa mereka dengan meminimalkan dampak sadar dan tidak sadar bahwa bias gender dapat terjadi pada anak misalnya, melihat anak perempuan sebagai 'lebih lemah' atau anak laki-laki sebagai 'lebih pintar'.

'Mereka dapat mengalami apa yang mereka rasa terbaik bagi mereka'

Praktik pengasuhan yang netral gender dan pendekatan yang dilakukan orang tua seringkali bersifat pribadi, terkait dengan persepsi dan pengalaman sosial mereka sendiri.

Di dalam keluarga berbahasa Inggris, misalnya, orang tua bisa menggunakan kata ganti they/them untuk merujuk anak mereka.

Kata theyby' perpaduan kata they dan baby muncul untuk menggambarkan anak-anak ini.

Beberapa orang tua akan menggunakan campuran dari kata ganti he dan she.Lainnya, seperti Martinson, tidak menggunakan kata anak laki-laki' atau anak perempuan', tetapi merasa nyaman menggunakan kata ganti kelamin kelahiran anak mereka (kecuali si anak meminta sebaliknya), sambil memprioritaskan alternatif netral seperti 'anak', 'teman' atau 'saudara'.

Markus Tschannen, seorang penulis paruh waktu, yang menganut pendekatan pengasuhan netral gender dari daerah berbahasa Jerman di Swiss, mengatakan dia ingin mengidentifikasi anak-anaknya dengan kata ganti netral gender seperti 'they', tetapi saat ini tidak ada dalam bahasa Jerman.

pola asuh gender netral

Ilustrasi - Penanda toilet gender netral. (Getty Images)

Oleh karena itu, dia dan istrinya memanggil dua anak mereka yang masih kecil dengan nama panggilan berbeda, yang tidak selalu sesuai dengan stereotip gender.

Dalam bahasa Jerman, semua kata benda memiliki awalan maskulin, feminin atau biasa disebut 'netral'. Kata tikus atau 'mouse', misalnya, adalah kata benda feminin dengan awalan gender 'die' (die Maus).

Tschannen mengatakan kebanyakan orang tua Jerman akan menghindari memberikan nama panggilan hewan ini kepada anak laki-laki, namun keluarganya tidak akan berpikir seperti ini.

"Sebagai orang tua yang kreatif gender, kami sengaja menggunakan nama dengan ketiga gender tata bahasa," katanya.

"Keuntungannya, anak-anak dapat merasakan apa yang mereka pikir terbaik bagi mereka sebelum memutuskan kata ganti yang disukai," jelasnya.

"Kami pada dasarnya ingin memberi mereka lebih banyak pilihan daripada masyarakat yang mencoba menempatkan anak-anak dalam kotak-kotak berbasis gender sejak dini."

Dia dan istrinya adalah straight, dan masing-masing mengidentifikasi diri sebagai jenis kelamin kelahiran mereka.

Bagi mereka, pengasuhan yang netral gender bukanlah reaksi terhadap masa kanak-kanak mereka sendiri, dan lebih merupakan kasus melihat dunia yang berkembang dan memutuskan untuk melakukan sesuatu secara berbeda.

Secara khusus, mereka mengatakan bahwa mereka sama-sama terkejut dengan "pemasaran berat buku, pakaian, dan mainan bias gender yang, menurut Tschannen, telah "meledak di Swiss selama beberapa dekade terakhir.

Pasangan itu, seperti Martinson, membeli pakaian anak-anak mereka "dari kedua sisi, dan mencoba mengekspos mereka ke berbagai pilihan barang dan hiburan.

"Kami memastikan bahwa mereka membaca buku atau menonton film yang mewakili keragaman tertentu, dan tidak mereproduksi terlalu banyak stereotip gender," katanya.

"Tetapi yang terpenting, kami menjaga bahasa kami agar tidak mereproduksi stereotip gender sendiri, dan kami mencoba menjadi panutan yang baik. Juga, kami secara terbuka berbicara tentang gender dan seksualitas sejak dini dengan cara yang sesuai dengan usia, tentu saja."

Seperti Martinson dan Siever, Tschannen juga berharap pengalaman itu akan membuat perjalanan anak-anaknya tidak terlalu sulit jika nanti mereka mengidentifikasi diri sebagai LGBTQ+, dan mendorong mereka untuk menerima orang lain yang sesuai dengan kategori ini.

"Ini realistis, bahwa anak-anak kita akan bertemu dengan anak-anak lain yang tidak mengidentifikasi diri dengan jenis kelamin mereka saat lahir, dan bahwa mereka akan bertemu banyak orang queer dalam hidup mereka," katanya.

"Dan saya ingin anak-anak kita memahami identitas gender yang berbeda dan saya ingin mereka memahami kata ganti yang berbeda."

Dia menerima bahwa orang tua lain mungkin merasa mereka dapat mendorong nilai-nilai ini tanpa mengubah bahasa dan perilaku mereka sedemikian rupa, dan percaya bahwa orang tua dapat menemukan tempat di "spektrum netral gender", di mana mereka merasa paling nyaman.

Namun demikian, menurutnya, pendekatan keluarganya berpotensi lebih "membantu dalam memerangi stereotip dan stigma gender.

Dampak yang tidak diketahui

Karena pengasuhan yang netral gender tetap menjadi fenomena yang relatif baru dan terbatas, para peneliti belum tahu banyak tentang dampak jangka panjangnya, termasuk bagaimana pengaruhnya terhadap anak-anak dan masyarakat luas.

Pendukung pendekatan ini berpendapat bahwa pola asuh semacam ini membuat perbedaan, setidaknya pada tingkat individu.

Berdasarkan pengalamannya, Tschannen mengatakan bahwa di daerahnya di Swiss, masih banyak "pembicaraan tentang hal-hal yang 'hanya untuk laki-laki' atau 'untuk perempuan' saja.

Namun, dia mengatakan anak-anaknya tidak "memikirkan ini".

Misalnya, jika anak sulungnya mendengar seorang guru dengan santai mengatakan bahwa "anak laki-laki tidak mengecat kuku mereka, mereka akan "secara aktif tidak setuju atau hanya diam-diam menggelengkan kepala.

Dia mengatakan anaknya - yang berbagi identitas mereka dengan orang tua mereka ketika berusia sekitar lima tahun, tetapi tidak ingin dipublikasikan - juga cenderung tidak "condong pada minat 'biasanya' anak laki-laki atau perempuan", warna atau mainan tertentu.

Anak tertua Martinson, yang sekarang berusia 11 tahun, telah mengidentifikasi diri sebagai perempuan sejak dia berusia sekitar empat tahun, mencerminkan jenis kelamin kelahirannya.

Namun, Martinson berpendapat bahwa pengalaman putrinya yang tumbuh dalam rumah tangga yang netral gender telah membantunya merasa lebih nyaman mengejar berbagai hobi dan mengenakan pakaian dari beragam gender saat dia tumbuh dewasa.

Dia mengatakan putrinya sudah "sangat menerima" teman-temannya yang mengaku sebagai gay atau "tidak berpakaian seperti norma".

Martinson berkata, "Dia tidak peduli tentang itu.Dia pikir itu keren dan dia pikir mereka berani karena mau mengungkapkan ini.

pola asuh gender netral

Banyak orang tua yang tidak menggunakan label gender mendorong anak-anak mereka untuk bermain dengan mainan dan melakukan aktivitas di luar ekspektasi gender tradisional. (Getty Images)

Baik Tschannen maupun Martinson menjelaskan bahwa pengasuhan yang netral gender tidak berhenti begitu seorang anak memilih jenis kelamin yang mereka identifikasi.

Mereka masih akan terus berusaha menghindari bahasa stereotip gender di dalam rumah.

"Ketika saya berbicara tentang anak-anak lain, jika itu adalah seseorang yang kita kenal [baik], saya mungkin mengatakan him atau her.Tapi jika itu anak di taman bermain atau teman mereka di sekolah, saya hanya merujuk mereka sebagai 'temanmu atau dengan nama mereka", daripada mengacu pada "laki-laki" dan "perempuan", kata Martinson.

"Begitu anak-anak dapat memberi tahu kami kata ganti apa yang harus digunakan, kami menggunakannya tetapi kami masih mengikuti jenis pendekatan yang terbuka gender, kreatif gender atau netral gender dengan menggunakan bahasa yang agak beragam karena tidak ada alasan untuk menghentikannya," kata Tschannen.

"Kami masih ingin anak-anak mengetahui [berbagai] identitas gender yang ada, dan pilihan apa yang mereka miliki."

Namun, Vahrmeyer, seorang psikoterapis, mengatakan pengalamannya dengan klien menunjukkan bahwa tidak semua anak yang terpapar gaya pengasuhan ini akan bereaksi positif.

"Bagi anak-anak yang merasa aman untuk menjelajahi ruang yang ditawarkan orang tua mereka, perjalanan ini bisa menjadi salah satu penemuan jati diri.Namun, untuk beberapa anak, kurangnya identitas yang ditentukan dapat membawa ketidakpastian dan meningkatkan kecemasan," katanya.

Alih-alih menolak norma gender seperti yang diharapkan orang tua mereka, mereka mungkin "menemukan kurangnya struktur dan bimbingan yang tegas, dan bahkan dapat "kembali ke identitas gender yang tertanam lebih kuat untuk mengimbangi perasaan ketidakpastian ini, untuk mendapatkan kepastian.

Mandee Lal, pelatih kesehatan mental anak-anak bersertifikat yang berbasis di Wokingham, London, sepakat dengan beberapa aspek pengasuhan yang netral gender, seperti memilih beragam pakaian dan mainan.

Tapi, dia setuju bahwa menolak kata ganti gender mungkin membingungkan bagi beberapa anak, terutama ketika sebagian besar teman sebaya mereka masih dikategorikan sebagai anak perempuan atau laki-laki.

"Mengatakan bahwa, Anda adalah 'they' saya tidak berpikir seorang anak dapat memahami apa itu 'they' dan mungkin [anak itu] mungkin merasa bahwa mereka tidak sama dengan teman-temannya."

pola asuh gender netral

Pendukung pola asuh 'kreatif gender' berharap bahwa memungkinkan anak-anak mereka untuk mengeksplorasi identitas mereka juga akan membuat mereka lebih menerima orang lain. (Getty Images)

Salah satu anak Lal adalah transgender, dan mengalami "perundungan yang mengerikan" di sekolah.

Dia percaya anak-anak yang diberi label 'they' mungkin tidak bisa lepas dari ejekan yang sama, bahkan jika orang tua mereka telah mengambil pendekatan ini untuk menghindari ketegangan di masa depan, jika anak-anak mereka tidak sesuai dengan norma gender.

Sementara itu, dia menunjukkan bahwa anak-anak non-gender mungkin masih perlu mengelola "peralihan" identitas publik, jika mereka memilih label gender biner nanti.

"Jika orang tua memilih they, maka kemungkinan anak memilih jenis kelaminnya sendiri sebagai him atau her masih cukup tinggi. Jadi, masih banyak yang harus dilalui anak itu.Itu belum tentu melindungi mereka."

Orang tua yang memutuskan untuk membesarkan anak-anak mereka tanpa deskripsi gender juga perlu menyadari bahwa bahkan jika mereka mencoba untuk mempromosikan kebebasan, pendekatan mereka mungkin bukan tanpa bias, tambah Vahrmeyer.

"Tugas orang tua adalah mengenal anak mereka dan mendengarkan anak, alih-alih memaksakan 'proyek' atau ideologi pada anak mereka.

"Jadi, dengan cara yang sama, sekarang dianggap sebagai racun untuk memberi tahu seorang anak bagaimana menjadi perempuan atau laki-laki, itu bisa sama merusaknya bagi orang tua untuk memaksakan pandangan anti-gender apa pun kepada seorang anak," katanya.

Erika Ohlsson, seorang ilmuwan perilaku dari Stockholm, juga berpendapat bahwa beberapa orang tua yang mengadopsi pola asuh netral gender mengambil sudut pandang politik, misalnya untuk "membuat pernyataan menentang patriarki, atau untuk membenarkan masalah dalam kehidupan mereka sendiri terkait bagaimana mereka secara pribadi mengalami gender.

"Saya pikir ini tentang orang tua itu sendiri.Saya pikir mereka mungkin tidak bahagia dan puas dengan maskulinitas atau feminitas mereka sendiri," katanya.

"Sekarang mereka memiliki kesempatan, karena ada dogma ideologis di luar sana dalam perdebatan dan politik, yang mengklaim bahwa Anda dapat memilih realitas [gender] Anda sendiri."

Tantangan bersama

Berbicara tentang etika dan kemanjuran pengasuhan netral gender, para ahli sepakat bahwa tantangan bagi mereka yang mengadopsi pendekatan ini adalah belajar bagaimana menangani reaksi eksternal.

"Pengasuhan yang netral gender masih hanya dilakukan oleh sedikit orang, dan mereka masih menerima penolakan yang hampir sama seperti pada awal 2010-an," kata penulis parenting Siever.

Dia percaya "orang-orang di luar keluarga mereka, kemungkinan besar masih akan memisahkan setiap anak ke dalam kotak 'laki-laki' atau 'perempuan' di setiap kesempatan, karena gagasan untuk memperlakukan orang secara berbeda berdasarkan jenis kelamin pada dasarnya tertanam dalam masyarakat kita".

Vahrmeyer juga memperingatkan "kritik mungkin tidak hanya datang dari luar keluarga tetapi dari dalam, terutama dari generasi yang lebih tua seperti kakek-nenek.

Ini, menurutnya, dapat membuat orang tua merasa cemas dan terasing, terutama jika mereka tidak memiliki dukungan keluarga yang kuat.

pola asuh gender netral

Getty Images

Memang, Martinson mengatakan ibunya terus-menerus mempertanyakan gaya pengasuhannya, menggambarkannya sebagai orang yang "aneh" atau "ruwet. Bahkan anak-anaknya dikatakan melanggar norma pakaian gender.

Ibunya mengaku tidak bisa memahami pilihan Martinson untuk tidak akan berbicara tentang identitas gender anak-anaknya sampai mereka siap.

Sebaliknya, Tschannen mengatakan gaya pengasuhannya tidak "menjadi masalah besar dan dia belum menyaksikan reaksi negatif yang serius secara langsung.

"Kami menjelaskan kepada teman dan keluarga tanpa membuat terlalu banyak keributan dan mereka hanya mengikutinya," jelasnya.

Namun demikian, dia telah mengalami reaksi negatif secara online dari orang asing setiap kali dia menulis tentang keluarganya.

"Beberapa orang berpikir itu ekstrem, mereka menyiratkan bahwa kami mencuci otak anak-anak kami dan mengambil hak (yaitu semua aspek gender) dari mereka," katanya.

"Orang-orang memiliki banyak miskonsepsi."

Tren yang meluas?

Apakah pengasuhan netral gender akan menjadi lebih diterima dan lebih umum adalah perdebatan yang sedang berlangsung di antara pengikut dan pengamat fenomena tersebut.

Siever berpendapat bahwa contoh baru-baru ini tentang pengasuhan netral gender dalam berita dan media sosial mungkin berkontribusi pada "peningkatan kecil dalam penerimaan".

Namun, menurut dia, itu tidak akan menjadi tren arus utama dalam waktu dekat.

"Saya berharap ini akan menjadi lebih umum, tetapi pada kecepatan saat ini, mungkin akan memakan waktu beberapa dekade, terutama dengan politik sayap kanan dan poin pembicaraan tentang melindungi anak-anak dari apa yang disebut 'ideologi gender' yang sedang meningkat di mana-mana di dunia Barat."

Tschannen juga percaya ada "jalan panjang" sebelum pengasuhan netral gender berhenti menjadi niche, meskipun perhatian media meningkat terhadap fenomena tersebut.

Dia percaya ada perbedaan besar antara peningkatan minat yang nyata dan perubahan perilaku yang nyata.

"Ada reaksi umum dari orang tua berpikiran terbuka yang menyebutnya 'ide menarik', tetapi menganggap pengasuhan netral gender sulit untuk dilakukan dan oleh karena itu mereka tidak memikirkannya lebih jauh."

Namun, yang lain, seperti Martinson, lebih optimistis tentang masa depan pola asuh ini, terutama di negara-negara yang lebih progresif seperti Swedia, yang memiliki sejarah memperjuangkan kesetaraan gender dan hak-hak LGBTQ+.

Pada tahun-tahun setelah dia memiliki anak pertamanya, Martinson mengatakan bahwa sekarang semakin sedikit orang tua yang menghentikannya di taman bermain untuk menanyakan jenis kelamin anak-anaknya.

Sementara itu, dia melihat lebih banyak fluiditas gender dalam pemasaran pakaian dan mainan anak-anak "anak laki-laki berbaju merah muda, anak laki-laki bercelana ketat dan hal-hal seperti itu yang menurutnya berdampak pada sikap masyarakat umum.

"Saya pikir [pengasuhan yang netral gender] akan lebih mudah dan lebih populer," katanya.

"Di generasi ibu saya kebanyakan orang tidak mengerti sama sekali, tapi di generasi saya banyak orang yang mengerti. Jadi, ketika anak-anak saya punya anak, saya pikir dan saya berharap gender tidak akan menjadi permasalahan dengan cara yang sama seperti yang saya alami sekarang."

--

Versi bahasa Inggris artikel ini dengan judul The parents raising their children without gender dapat Anda baca di BBC Worklife.

Simak juga Video: Detik-detik Mahasiswa Baru Unhas Diusir Lantaran Pilih Non-Binary

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT