Pengunjuk Rasa Misterius, Disensor di China Tapi Dipuji di Dunia Maya

ADVERTISEMENT

Pengunjuk Rasa Misterius, Disensor di China Tapi Dipuji di Dunia Maya

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 15 Okt 2022 18:50 WIB
BBC
Pemandangan di jembatan Sitong pada hari Kamis (13/10) (Twitter)
Jakarta -

Aksi protes di Beijing yang mengkritik Presiden Xi Jinping telah memicu khalayak internasional untuk ramai-ramai mencari tahu identitas pengunjuk rasa misterius tersebut seraya memujinya atas tindakan itu.

Si pengunjuk rasa naik ke atas Jembatan Sitong di Distrik Haidian, Beijing, dan membentangkan dua spanduk besar yang menyerukan agar kebijakan nol-Covid yang ketat di China diakhiri serta Presiden Xi digulingkan.

Ketika media pemerintah China masih bungkam, foto dan video peristiwa itu beredar luas di dunia maya. Pemerintah China lantas segera melakukan sensor di platform media sosial dan aplikasi WeChat yang digunakan oleh sebagian besar warga China.

Aksi protes yang langka dan dramatis itu terjadi pada Kamis malam (13/10) menjelang Kongres Partai Komunis yang bersejarah. Melalui kongres tersebut, Xi akan mendapatkan masa jabatan ketiga sebagai ketua partai sehingga memperkuat cengkeramannya pada kekuasaan.

Si pengunjuk rasa juga membakar benda yang tampak seperti ban mobil dan terdengar meneriakkan slogan-slogan menggunakan pengeras suara.

Baca juga:

Sejumlah laporan menyebutkan satu orang telah ditangkap sehubungan dengan protes tersebut. Gambar-gambar insiden itu menunjukkan petugas polisi mengelilingi si pengunjuk rasa, yang mengenakan helm kuning dan pakaian oranye.

Kepolisian setempat belum menjawab permintaan komentar dari BBC.

Banyak yang memuji tindakan si pengunjuk rasa tunggal itu. Mereka menyebutnya sebagai "pahlawan" dan menjulukinya "Manusia Tank baru" merujuk pria China tak dikenal yang berdiri di depan tank saat unjuk rasa di Lapangan Tiananmen pada 1989.

Para detektif dunia maya kemudian berusaha melacak identitas orang tersebut, dengan fokus pada seorang peneliti dan fisikawan Tiongkok yang berasal dari sebuah desa di Provinsi Heilongjiang di bagian utara China.

Namanya tidak akan disebut dalam artikel ini demi keamanan. Namun, pemeriksaan BBC pada pejabat desa mengonfirmasi bahwa seorang pria dengan nama tersebut pernah tinggal di sana.

Ia sempat mengunggah dokumen yang tampaknya merupakan sebuah manifesto di situs penelitian populer ResearchGate. Dokumen tersebut belakangan dihapus, meskipun sejak itu banyak orang telah mengunggah salinannya.

Dalam dokumen setebal 23 halaman tersebut, ia menyerukan mogok kerja dan tindakan pembangkangan sipil - seperti menghancurkan stasiun pengujian Covid - pada Minggu (16/10). Maksud tindakan tersebut ialah menghentikan "diktator Xi Jinping melanjutkan jabatannya secara ilegal, sehingga China dapat memulai jalan menuju demokrasi dan kebebasan".

Beberapa warga China telah berkumpul di dua akun Twitter milik pria tersebut, mengunggah foto-foto yang mereka klaim sebagai foto dirinya dan menulis ratusan pesan terima kasih.

"Anda adalah pahlawan dan saya menghormati Anda," tulis satu orang, sementara yang lain berkata: "Salut kepada pahlawan rakyat! Semoga kamu bisa kembali dengan selamat!"

Nama pria itu termasuk di antara materi terkait protes yang telah disensor di dunia maya. Tidak ada referensi tentang insiden tersebut yang dapat ditemukan di situs media sosial China, Weibo, pada hari Jumat pagi (14/10).

Rekaman dan gambar aksi protes serta kata kunci terkait, termasuk "Haidian", "pengunjuk rasa Beijing" dan "Jembatan Sitong", segera disensor.

Frasa pencarian yang bersinggungan dengan protes, termasuk "jembatan" dan "pahlawan", juga memunculkan hasil yang terbatas.

Aksi protes China

Pada Kamis malam, semua tanda-tanda tindakan si pengunjuk rasa telah dibersihkan. (Reuters)

Meskipun media China belum melaporkan insiden ini, mantan editor Global Times, Hu Xijin, tampaknya merujuknya ketika dia mengetwit pada Kamis malam (13/10) bahwa "sebagian besar" rakyat China mendukung pemerintahan Partai Komunis serta "mengharapkan stabilitas dan menentang pergolakan".

Banyak warga China melaporkan bahwa akun mereka di platform media sosial atau WeChat - aplikasi perpesanan terbesar di China - telah diblokir sementara setelah mereka membagikan gambar protes atau mengunggah pesan yang menyinggung protes tersebut.

BBC telah menghubungi Tencent, perusahaan induk WeChat, untuk meminta konfirmasi namun belum dijawab.

Protes dramatis semacam ini - dan kritik terhadap pemerintah di ruang publik - jarang terjadi di China, meskipun kebijakan "nol Covid" China yang keras telah memicu frustrasi publik yang semakin besar.

Pada tahun 2018 seorang perempuan yang merusak poster Xi, berkata ia menentang "tirani" -nya. Belakangan dia dirawat di rumah sakit jiwa.

Tindakan si pengunjuk rasa di Beijing datang pada waktu yang sangat sensitif secara politik.

Ribuan petugas polisi diperkirakan akan dimobilisasi di seantero ibu kota, menjelang kongres partai yang akan berlangsung selama sepekan.

Lihat juga Video: Ada Lonjakan Covid-19, Aktivitas Masyarakat di Shanghai Dibatasi

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT