Putrinya Tewas Saat Ikut Unjuk Rasa, Wanita Iran: Anak Saya Dibunuh!

ADVERTISEMENT

Putrinya Tewas Saat Ikut Unjuk Rasa, Wanita Iran: Anak Saya Dibunuh!

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 08 Okt 2022 13:26 WIB
Nika Shakarami mengirim pesan kepada temannya yang mengatakan ia dikejar oleh aparat keamanan. (BBC PERSIAN SOURCE)
Teheran -

Ibu seorang remaja perempuan yang meninggal dalam unjuk rasa di Iran menuduh pemerintah membunuh putrinya.

Nika Shakarami, 16 tahun, hilang di Teheran pada tanggal 20 September setelah memberi tahu seorang temannya ia dikejar oleh polisi.

Dalam video yang dikirim ke Radio Farda, yang didanai Amerika Serikat, Nasrin Shakarami mengatakan ia telah melihat luka-luka di tubuh putrinya dan kondisi itu bertolak belakang dengan pernyataan resmi aparat.

Pemerintah mengatakan Nika Shakarami, didorong dari bangunan tinggi, kemungkinan oleh pekerja bangunan.

Pada Rabu malam (05/10), sebuah laporan televisi pemerintah menunjukkan bibinya, Atash, mengatakan: "Nika tewas jatuh dari sebuah gedung."

Pamannya juga terlihat di TV berbicara menentang kerusuhan, sementara seseorang tampak berbisik kepadanya: "Katakan, dasar bajingan!"

Sumber itu mengatakan kepada BBC Persia bahwa ini adalah "pengakuan paksa" yang dilakukan "setelah interogasi intens dan ancaman bahwa anggota keluarga lainnya akan dibunuh".

Atash dan Paman Nika, Mohsen, ditahan oleh pihak berwenang setelah Atash mengunggah pesan tentang kematian keponakannya di dunia maya dan berbicara kepada media.

Pernyataan yang disiarkan televisi direkam sebelum pesan tersebut dirilis, menurut sumber tersebut.

Atash mengatakan kepada BBC Persia sebelum penangkapannya pada hari Minggu (02/10), Garda Revolusi memberi tahunya bahwa Nika berada dalam tahanan mereka selama lima hari dan kemudian diserahkan kepada otoritas penjara.

Pengadilan Islam Iran mengatakan pada malam Nika menghilang, ia pergi ke sebuah gedung tempat delapan pekerja konstruksi hadir, dan bahwa ia ditemukan dalam keadaan tewas di halaman luar keesokan paginya.

Pejabat pengadilan Teheran, Mohammad Shahriari dikutip oleh media pemerintah mengatakan pada Rabu (05/10) bahwa post-mortem menunjukkan Nika menderita "beberapa patah tulang ... di panggul, kepala, tungkai atas dan bawah, lengan dan kaki, yang menunjukkan bahwa orang tersebut terlempar dari ketinggian".

Ia menyatakan ini membuktikan kematian perempuan itu tidak ada hubungannya dengan aksi protes.

Namun, sertifikat kematian yang dikeluarkan oleh pemakaman di ibu kota, yang diperoleh BBC Persia, menyatakan Nika meninggal setelah menderita "banyak luka yang disebabkan oleh pukulan dengan benda keras".

Akun Instagram dan Telegram Nika juga dihapus setelah ia hilang, menurut Atash.

Pasukan keamanan Iran diketahui biasanya menuntut agar tahanan membuka akses ke akun media sosial mereka sehingga akun atau postingan tertentu dapat dihapus.

Laporan televisi pemerintah pada Rabu malam juga menampilkan rekaman yang menunjukkan Atash mengkonfirmasi bahwa jenazah keponakannya ditemukan di luar gedung yang disebutkan oleh pengadilan, meskipun itu bertentangan dengan pernyataan sebelumnya yang dibuat olehnya serta anggota keluarga lainnya.

"Jenazah dicuri"

Keluarga itu sebelumnya mengatakan mereka menemukan jenazah Nika di kamar mayat pusat penahanan 10 hari setelah ia menghilang.

Mereka lantas hanya diizinkan oleh petugas untuk melihat wajahnya selama beberapa detik untuk memastikan identitasnya. Atash mengatakan sebelum dirinya ditahan, ia tidak pergi ke kamar mayat.

Keluarga Nika memindahkan jenazahnya ke kampung halaman ayahnya di Khorramabad, di barat negara itu, pada hari Minggu (02/10) - hari ulang tahunnya yang ke-17.

Seorang sumber yang dekat dengan mereka mengatakan kepada BBC Persia bahwa keluarga itu setuju, di bawah tekanan dari pihak berwenang, untuk tidak mengadakan pemakaman publik.

Namun, kata sumber itu, pasukan keamanan kemudian "mencuri" jenazah Nika dari Khorramabad dan diam-diam menguburnya di desa Veysian, sekitar 40km jauhnya.

Ratusan pengunjuk rasa kemudian berkumpul di pemakaman Khorramabad dan meneriakkan slogan-slogan menentang pemerintah, termasuk "kematian bagi diktator" - merujuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei.

Nika bukan satu-satunya pengunjuk rasa perempuan muda yang tewas dalam kerusuhan yang meletus bulan lalu, menyusul kematian Mahsa Amini.

Mahsa Amini adalah perempuan berusia 22 tahun yang ditahan oleh polisi moral karena diduga melanggar undang-undang jilbab yang diterapkan secara ketat oleh Republik Islam itu.

Keluarga Hadis Najafi, 22 tahun, mengatakan ia ditembak mati oleh pasukan keamanan saat berunjuk rasa di kota Karaj, sebelah barat Teheran, pada 21 September.

Pihak berwenang diduga meminta ayahnya untuk mengatakan bahwa ia meninggal karena serangan jantung.

Gadis berusia 16 tahun lainnya, Sarina Esmailzadeh, meninggal setelah dipukuli habis-habisan di kepala dengan tongkat oleh pasukan keamanan dalam unjuk rasa di Karaj pada 23 September, menurut Amnesty International yang mengutip seorang sumber.

Sumber tersebut juga mengatakan kepada kelompok pemantau HAM itu bahwa aparat keamanan dan intelijen telah melecehkan keluarga gadis itu untuk memaksa mereka diam.

Beberapa video yang dibuat oleh Sarina sebelum kematiannya kini telah diunggah di media sosial. Dalam satu video yang direkam setelah menyelesaikan ujian sekolah, dia berkata: "Tidak ada yang terasa lebih baik daripada kebebasan."

(nvc/nvc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT