Pembakaran Gas Suar dari Perusahaan Minyak Berkaitan dengan Kanker

ADVERTISEMENT

Pembakaran Gas Suar dari Perusahaan Minyak Berkaitan dengan Kanker

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 30 Sep 2022 11:33 WIB
Fatima tetap kuat, meskipun di hari terakhir hidupnya, kata ibunya. (Jess Kelly/BBC News)
Jakarta -

Ali Hussein Julood, seorang pemuda 19 tahun yang selamat dari leukemia. (Hussein Faleh/BBC News)

Perusahaan-perusahaan besar dalam industri perminyakan tidak mengumumkan jumlah emisi gas rumah kaca yang signifikan, demikian menurut investigasi BBC News.

BBC menemukan jutaan ton emisi yang tidak diumumkan dari pembakaran gas suar (flaring) di ladang-ladang minyak milik BP, Eni, ExxonMobil, Chevron, dan Shell.

Pembakaran gas suar merupakan pembakaran kelebihan gas selama produksi minyak.

Perusahaan-perusahaan itu mengatakan metode pelaporan yang mereka lakukan sudah memenuhi praktik standar di industri.

Semburan gas suar, dari pembakaran gas alam, memancarkan campuran karbon dioksida, metana, dan jelaga hitam yang kuat. Kandungan itu mencemari udara dan mempercepat pemanasan global.

BBC juga menemukan bahan kimia yang berpotensi menyebabkan kanker dalam jumlah besar pada masyarakat Irak yang tinggal di dekat ladang minyak, tempat pembakaran gas suar terjadi. Ladang-ladang ini memiliki tingkat pembakaran gas suar yang tidak diumumkan dalam jumlah paling tinggi di dunia, menurut temuan kami.

Baca juga:

Menanggapi hal itu, David Boyd, pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia dan lingkungan, menyebut daerah yang ditinggali masyarakat sebagai "zona pengorbanan modern, area di mana keuntungan dan kepentingan pribadi diprioritaskan ketimbang kesehatan manusia, hak asasi manusia, dan lingkungan".

Perusahaan telah lama menyadari kebutuhan untuk menghilangkan semua, kecuali pembakaran gas suar secara darurat.

BP, Eni, ExxonMobil, Chevron, dan Shell, berkomitmen pada perjanjian Bank Dunia pada 2015 untuk mendeklarasikan dan mengakhiri pembakaran gas suar rutin pada 2030 - dalam kasus Shell pada 2025.

Namun, perusahaan-perusahaan itu berdalih mereka telah mengontrak perusahaan lain untuk menjalankan operasional harian, sehingga yang seharusnya mengumumkan jumlah emisi pembakaran gas suar adalah perusahaan lain itu.

Ladang-ladang tersebut merupakan bagian utama dari produksi minyak - rata-rata menyumbang 50% dari portofolio lima perusahaan ini.

Namun, melalui analisis yang dilakukan selama berbulan-bulan, BBC menemukan puluhan ladang minyak di mana operator-operator yang ditunjuk perusahaan-perusahaan itu juga tidak mengumumkan emisinya. Artinya, tidak ada pihak manapun yang mengumumkannya.

Dengan menggunakan data satelit pelacak suar Bank Dunia, kami dapat mengidentifikasi emisi dari masing-masing lokasi tersebut.

Kami memperkirakan pada 2021, hampir setara 20 juta ton CO2 tidak dilaporkan dari lokasi-lokasi semburan gas suar tersebut. Jumlah itu sama dengan emisi gas rumah kaca yang akan dihasilkan 4,4 juta mobil dalam setahun.

Warga memancing di sungai di Nahran OmarBBC

Menanggapi hal itu, kelima perusahaan tersebut mengatakan bahwa pendekatan pelaporan emisi hanya dari lokasi yang mereka operasikan secara langsung adalah praktik standar dalam industri.

Shell dan Eni juga mengatakan bahwa mereka memberikan angka emisi keseluruhan yang mencakup emisi pembakaran dari lokasi-lokasi yang tidak dioperasikan, tetapi mengatakan ini tidak dirinci atau termasuk dalam perjanjian Bank Dunia untuk mengurangi emisi.

Investigasi BBC News Arabic menunjukkan bahwa emisi pembakaran itu meningkatkan risiko beberapa jenis kanker bagi orang-orang yang tinggal di dekat ladang minyak di Irak.

Orang-orang yang tinggal di beberapa ladang minyak terbesar di dunia di Basra, Irak tenggara - Rumaila, Qurna Barat, Zubair dan Nahran Omar - telah lama menduga bahwa leukemia pada masa kanak-kanak meningkat, dan penyebabnya adalah pembakaran gas yang disemburkan ke udara.

Girl running in front of flares in Nahran OmarHussein Faleh/BBCSemburan gas suar sangat dekat dengan permukiman penduduk.

Di wilayah Basra, kasus baru dari semua jenis kanker naik 20% dalam periode 2015 sampai 2018, menurut laporan Kementerian Kesehatan Irak yang bocor, yang dilihat oleh BBC News Arabic. Penyebabnya adalah polusi udara.

BP dan Eni masing-masing adalah kontraktor utama di ladang minyak Rumaila dan Zubair, tetapi karena mereka bukan operator, mereka tidak mengumumkan jumlah emisinya. Begitu juga dengan perusahaan operatornya.

Pada 2021, BBC News Arabic bekerja sama dengan pakar lingkungan dan kesehatan di dekat empat lokasi itu untuk menguji bahan kimia penyebab kanker, yang terkait dengan pembakaran gas, selama dua minggu.

Hasil pemeriksaan kualitas udara menunjukkan tingkat benzena, terkait dengan leukemia dan kelainan darah lainnya, mencapai atau melampaui batas nasional Irak, setidaknya di empat tempat tersebut.

Sampel urin yang kami kumpulkan dari 52 anak menunjukkan bahwa 70% mengalami peningkatan kadar 2-Naphthol, bentuk zat naftalena yang mungkin bisa menyebabkan kanker.

Dr Manuela Orjuela-Grimm, profesor kanker anak di Universitas Columbia, mengatakan: "Anak-anak memiliki kadar yang sangat tinggi ... ini mengkhawatirkan kesehatan [mereka] dan mereka harus dipantau secara ketat."

Prof Shukri testing levels of pollution in Nahran OmarHussein Faleh/BBC NewsProf Shukri, salah satu pakar lingkungan lokal yang bekerja sama dengan kami, melakukan pengukuran polusi udara di masyarakat sekitar ladang minyak.

Saat berusia 11 tahun, Fatima Falah Najem didiagnosa mengidap sejenis kanker darah dan tulang yang disebut leukemia limfoblastik akut. Paparan benzena dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini.

Fatima tinggal bersama orang tua dan enam saudara kandungnya di dekat ladang minyak Zubair, di mana Eni bertindak sebagai kontraktor utama.

Baik Eni maupun perusahaan operator Zubair tidak mengumumkan jumlah emisi pembakaran di sana.

Untuk alasan kesehatan, aturan hukum di Irak melarang pembakaran gas dalam jarak 10 kilometer dari rumah penduduk.

Namun, pembakaran gas di Zubair yang terus menyembur ke udara jaraknya hanya sekitar 4 kilometer dari rumah warga.

Fatima menggambar "api yang menyala-nyala" yang mengelilingi rumahnya, selama perawatan kemoterapinya.

Dia memberi tahu kami bahwa dia menikmati menonton semburan gas itu di malam hari, dan membuatnya menganggap itu adalah hal yang normal.

Tapi bagi ayahnya, melihat Fatima sakit rasanya "seperti terbakar tanpa bisa memadamkannya".

Fatima meninggal dunia pada November lalu, ketika keluarganya putus asa mencari transplantasi sumsum tulang. Dia meninggal dunia di usia 13 tahun.

Fatima, 13, in hospital whilst receiving treatment for Leukaemia

Fatima tetap kuat, meskipun di hari terakhir hidupnya, kata ibunya. (Jess Kelly/BBC News)

Kami meminta Eni menanggapi hal ini, dan pihaknya mengatakan "sangat menolak tuduhan bahwa kegiatannya sendiri membahayakan kesehatan rakyat Irak".

Eni mengatakan secara kontraktual tidak memiliki tanggung jawab untuk pembakaran gas di Zubair.

Ladang minyak Rumaila, 40 kilometer jauhnya, menghasilkan lebih banyak gas daripada situs lain mana pun di dunia, menurut perhitungan BBC- cukup untuk memberi daya pada hampir tiga juta rumah di Inggris per tahun.

BP adalah kontraktor utama yang membantu mendirikan dan sekarang mengawasi perusahaan operator, Rumaila Operating Organization (ROO). Tidak ada yang mengumumkan emisi pembakaran gas suar dari ladang minyak itu.

Standar operasional ROO, yang ditandatangani BP, mengatakan: "Mereka yang terkena dampak tingkat polusi yang melebihi batas nasional secara hukum, berhak atas kompensasi."

Namun, Ali Hussein Julood, seorang penyintas leukemia berusia 19 tahun, mengatakan dia dan ayahnya dibungkam ketika mereka meminta kompensasi dari BP pada 2020 dan 2021.

BP mengatakan: "Kami sangat prihatin dengan masalah yang diangkat oleh BBC - kami akan segera meninjau kekhawatiran tersebut."

Dalam laporan yang bocor tentang kanker di daerah Basra, Menteri Perminyakan Irak Ihsan Abdul Jabbar Ismail mengatakan kepada kami: "Kami menginstruksikan semua perusahaan kontraktor yang beroperasi di ladang minyak untuk menegakkan standar internasional."

Jika semua gas alam yang menyala secara global ditangkap dan digunakan, itu dapat menggantikan lebih dari sembilan persepuluh impor gas Eropa dari Rusia, berdasarkan data dari Badan Energi Internasional.

Aerial shot of West Qurna oil fieldEssam Abdullah Mohsin/BBC News

Menangkap gas, pada awalnya, bisa mahal dan sulit secara teknis, menurut Bank Dunia. Untuk mengakhiri semua pembakaran rutin diperkirakan dapat menelan biaya hingga $100 miliar (senilai Rp15 triliun)

Namun, CEO Capterio Mark Davis, yang memberi nasihat kepada perusahaan minyak untuk menangkap pembakaran gas, mengatakan kepada BBC bahwa negara-negara seperti Norwegia telah menunjukkan hal itu mungkin dengan bantuan regulasi yang kuat.

Data tambahan dari: Becky Dale dan Christine Jeavans (Data & Analisis)

Simak juga 'Mengenal Lebih Dekat Kanker Payudara':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT