ADVERTISEMENT

Putin Akan Bertemu Xi Jinping, Apa yang Diharapkan Kedua Pihak?

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 15 Sep 2022 17:17 WIB
AFP
Tashkent -

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping - dalam kesempatan yang jarang terjadi - akan bertemu di Uzbekistan.

Kremlin menegaskan pertemuan dengan pemimpin China sebagai "sangat penting".

Sejumlah pemimpin dunia, seperti India, Pakistan, Turki dan Iran, juga akan hadir dalam puncak pertemuan Shanghai Cooperation Organisation (SCO) yang digelar di Kota Samarkand, Uzbekistan, pada 15-16 September.

Baca juga:

Kedua pemimpin terakhir bertemu di Olimpiade Musim Dingin di Beijing pada bulan Februari silam.

Usai pertemuan tersebut, keduanya mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebut bahwa persahabatan antar negara itu "tidak ada batasnya".

Beberapa hari setelah itu, Rusia menginvasi Ukraina.

Akankah perang di Ukraina mengubah persahabatan kedua negara yang "tidak ada batasnya" tersebut?

BBC Monitoring menelisik apa yang ingin dicapai Moskow dari pertemuan ini, dan apa yang mungkin diharapkan Beijing sebagai imbalannya.

Putin kian terdesak?

Bagi Presiden Putin, hubungan yang lebih erat dengan Beijing merupakan bagian penting dari visinya tentang dunia "multipolar", di mana negara-negara seperti Rusia dan China akan melampaui pengaruh Barat di seluruh dunia.

Kebijakan ini merupakan bagian mendasar dari pemerintahannya dan dia telah mengupayakan hal ini selama bertahun-tahun. Namun kini, mengejar visi itu menjadi lebih penting bagi Kremlin.

Samarkand

Pertemuan SCO, yang Kremlin pandang sebagai alternatif dari dunia Barat, akan digelar di kota Samarkand di Uzbekistan. (AFP)

Setelah menginvasi Ukraina, Vladimir Putin telah dijauhi dan diasingkan oleh negara-negara Barat, sehingga dia ingin terlihat bertemu dengan para penggerak dan pelopor dunia seperti Xi Jinping.

Namun, lebih dari sekadar hal itu yang membuat pertemuan dengan pemimpin China begitu penting bagi presiden Rusia.

Apa yang diharapkan Putin?

Putin tertarik dengan investasi, teknologi dan perdagangan bilateral dengan China, sebab perang dengan Ukraina telah memicu gelombang sanksi terhadap Rusia yang tak diperkirakan sebelumnya.

Setelah perusahaan-perusahaan asing dari dunia Barat hengkang dari Rusia, Putin tertarik mengganti operasional mereka di Rusia dengan perusahaan China.

Seiring dengan negara-negara Barat berupaya melepaskan ketergantungan dengan minyak dan gas Rusia, Moskow akan berupaya mengalihkan pasokan energi ini ke timur, ke China.

Baca juga:

Moskow juga menghendaki pasokan senjata untuk menyokong invasinya ke Ukraina, namun - terlepas dari retorika yang mendukung - China sangat berhati-hati dalam membantu Rusia di bidang itu.

Akan tetapi, kebijakan mempererat hubungan dengan China ini menciptakan jebakan bagi pemimpin Rusia itu.

Kedua negara tetap bersaing secara geopolitik, dan di dalam negeri, Presiden Putin dituding membiarkan pengaruh China tumbuh di Rusia bagian timur.

Xi Jinping memegang kendali?

Perjalanan Xi Jinping ke Uzbekistan (dan Kazakhstan) adalah perjalanan ke luar negeri pertamanya setelah pandemi Covid-19 bermula pada 2020.

Kunjungan itu tepat sebelum Kongres Nasional Partai Komunis China (PKC) ke-20 digelar pada 16 Oktober, saat Xi diperkirakan akan terpilih kembali untuk masa jabatan ketiga - yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sementara media pemerintah China belum merilis rincian lebih jauh tentang pertemuan dengan Putin, media Taiwan dan Hong Kong memandang kehadiran Xi Jinping di pertemuan itu sebagai cara dia memberi sinyal pada dunia bahwa dia memiliki kendali penuh terhadap partai dan negaranya.

Putin dan Xi dalam pertemuan SCO di Kyrgyzstan pada 2019

Putin dan Xi dalam pertemuan SCO di Kyrgyzstan pada 2019, bersama dengan presiden Belarusia dan Iran. (Getty Images)

Central News Agency, media yang berafiliasi dengan pemerintah Taiwan, juga melihat potensi "memalukan", karena kunjungan itu bertepatan dengan perkembangan terbaru di Ukraina, yang menunjukkan pasukan Rusia dipaksa keluar dari wilayah timur Ukraina yang sebelumnya mereka rebut dari negara itu.

Diplomat senior China, Yang Jiechi, baru-baru ini mengafirmasi solidaritas Beijing dengan Moskow dalam sebuah pertemuan dengan Duta Besar Rusia Andrey Denisov.

Sementara itu, pejabat Partai Komunis China, Li Zhanshu, melakukan "kunjungan dengan niat baik" ke Rusia awal September ini.m

Baik Yang dan Li mengharapkan China dan Rusia untuk lebih membangun hubungan - yang "akan dinaikkan ke tingkat yang baru", menurut Li.

Faktor perang Ukraina

Kendati begitu, Beijing hati-hati mempertahankan "posisi netral" terkait perang di Ukraina.

Negara itu perlu bantuan Rusia di tengah kekhawatiran akan kontaminasi dunia Barat, namun begitu negara itu tampaknya tak mau terlalu dekat dengan Putin.

Dengan perang di Ukraina yang memburuk secara drastis dan petisi Twitter yang menyerukan pengunduran diri Putin yang ditandatangani oleh puluhan anggota dewan kota Rusia, pertemuan Xi dengan pria yang pernah disebutnya sebagai "teman dekat" akan diperhatikan dengan ketat.

Akankah Xi menjauhkan dirinya dari pemimpin Rusia itu, atau menawarkan dukungannya untuk menghindari dirinya semakin terisolasi jika Putin jatuh?

Lihat juga video 'Kanselir Jerman: Putin Nggak Sadar, Memulai Perang Adalah Kesalahan':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT