ADVERTISEMENT

Mengapa Rusia Bakar Gas Alam Senilai Rp 147 Miliar Setiap Hari?

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 27 Agu 2022 07:42 WIB
Versi berwarna dari citra satelit ini menangkap radiasi infra merah dari pembakaran gas di pabrik Portovaya. (COPERNICUS SENTINEL/SENTINEL HUB/PIERRE MARKUSE)
Moskow -

Saat ongkos energi Eropa meroket, Rusia membakar gas alam dalam jumlah besar, menurut sebuah analisis yang dibagikan kepada BBC News.

Para pakar mengatakan gas alam yang dibakar itu awalnya akan diekspor ke Jerman.

Mereka mengatakan pabrik Rusia yang terletak di dekat perbatasan dengan Finlandia, membakar gas senilai sekitar US$ 10 juta (Rp 147 miliar) setiap hari.

Para ilmuwan khawatir dengan volume besar karbon dioksida dan jelaga yang dihasilkan oleh pembakaran itu, yang dapat mempercepat pencairan es di Arktik.

Analisis oleh Rystad Energy menunjukkan bahwa sekitar 4,34 juta meter kubik gas dibakar setiap hari.

Gas itu berasal dari pabrik gas alam cair (LNG) baru di Portovaya, barat laut St Petersburg.

Tanda-tanda pertama bahwa ada sesuatu yang salah ditemukan warga Finlandia di perbatasan terdekat yang melihat nyala api besar di cakrawala awal musim panas ini.

Portovaya terletak dekat dengan stasiun kompresor di awal pipa Nord Stream 1 yang membawa gas ke Jerman melalui bawah laut.

Pasokan melalui pipa telah dibatasi sejak pertengahan Juli, dengan dalih masalah teknis.

Namun Jerman mengatakan itu murni langkah politik setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Meskipun praktik membakar gas atau flaring adalah hal biasa di pabrik pengolahan - biasanya dilakukan untuk alasan teknis atau keamanan - skala pembakaran ini membingungkan para pakar.

"Saya belum pernah melihat pabrik LNG menyala begitu terang," kata Dr Jessica McCarty, seorang ahli data satelit dari Miami University di Ohio.

"Mulai sekitar bulan Juni, kami melihat puncak yang sangat besar ini, dan itu tidak hilang. Anomali itu masih sangat tinggi."

Foto suar gas

Foto ini diambil oleh warga Finlandia bernama Ari Laine pada tanggal 24 Juli pada jarak sekitar 38 kilometer dari fasilitas di Portovaya. (Ari Laine)

Mark Davis adalah CEO Capterio, sebuah perusahaan yang terlibat dalam menemukan solusi untuk pembakaran gas.

Dia mengatakan pembakaran gas biasanya bukan hal yang tidak disengaja dan kemungkinan besar merupakan keputusan yang dibuat untuk alasan operasional.

"Operator seringkali sangat ragu untuk benar-benar menutup fasilitas karena khawatir akan secara teknis sulit atau mahal untuk memulai lagi, dan barangkali itu yang terjadi di sini," katanya kepada BBC News.

Lainnya percaya bahwa bisa jadi ada tantangan teknis dalam menangani volume besar gas yang selama ini dipasok ke pipa Nord Stream 1.

Perusahaan energi Rusia Gazprom mungkin berniat menggunakan gas itu untuk membuat LNG di pabrik baru, tapi mungkin mengalami masalah dalam menanganinya dan pilihan teraman adalah membakarnya.

Bisa juga ini adalah akibat embargo perdagangan Eropa dengan Rusia sebagai respons atas invasi Ukraina.

"Pembakaran jangka panjang semacam ini mungkin berarti bahwa mereka kehilangan beberapa peralatan," kata Esa Vakkilainen, seorang profesor teknik energi dari Universitas LUT Finlandia.

"Jadi, karena embargo perdagangan dengan Rusia, mereka tidak bisa membuat katup berkualitas tinggi yang dibutuhkan dalam pemrosesan minyak dan gas. Jadi barangkali ada beberapa katup yang rusak dan mereka tidak bisa menggantinya."

Gazprom perusahaan raksasa energi yang dikendalikan pemerintah Rusia dan pemilik pabrik tersebut - belum menanggapi permintaan komentar tentang pembakaran itu.

Biaya keuangan dan lingkungan meningkat setiap hari suar terus menyala, kata para ilmuwan.

"Meskipun alasan pasti untuk pembakaran itu tidak diketahui, volume, emisi, dan lokasi pembakaran adalah pengingat yang nyata akan dominasi Rusia di pasar energi Eropa," kata Sindre Knutsson dari Rystad Energy.

"Tidak ada sinyal yang lebih jelas - Rusia dapat menurunkan harga energi besok. Ini adalah gas yang seharusnya diekspor melalui Nord Stream 1 atau jalur alternatif."

Harga energi di seluruh dunia naik tajam seiring karantina wilayah akibat COVID dicabut dan ekonomi kembali normal.

Banyak tempat kerja, industri, dan rekreasi tiba-tiba membutuhkan lebih banyak energi pada saat yang sama, memberikan tekanan yang begitu besar pada pemasok.

Harga naik lagi pada Februari tahun ini, menyusul invasi Rusia ke Ukraina.

Pemerintah Eropa mencari cara untuk mengimpor lebih sedikit energi dari Rusia, yang sebelumnya memasok 40% gas yang digunakan di UE.

Harga untuk sumber gas alternatif naik sebagai hasilnya, dan beberapa negara Uni Eropa - seperti Jerman dan Spanyol - sekarang mulai menerapkan langkah-langkah penghematan energi.

Dampak lingkungan dari pembakaran itu membuat para ilmuwan khawatir.

Menurut para peneliti, pembakaran jauh lebih baik daripada sekadar melepaskan metana yang merupakan bahan utama dalam gas bumi, dan merupakan agen pemanasan iklim yang sangat kuat.

Rusia punya riwayat membakar gas - menurut Bank Dunia, Rusia adalah negara nomor satu dalam hal volume pembakaran.

Namun selain melepaskan sekitar 9.000 ton ekuivalen CO2 setiap hari, pembakaran tersebut menyebabkan masalah signifikan lainnya.

Karbon hitam adalah nama yang diberikan kepada partikel jelaga yang dihasilkan melalui proses pembakaran yang tidak lengkap terhadap bahan bakar seperti gas alam.

"Yang menjadi perhatian khusus dengan pembakaran di garis lintang Arktik adalah pengangkutan karbon hitam yang dipancarkan ke utara tempat bahan itu mengendap di salju dan es dan secara signifikan mempercepat pelelehan," kata Prof Matthew Johnson, dari Carleton University di Kanada.

"Beberapa perkiraan yang sudah banyak dikutip para ilmuwan menempatkan flaring sebagai sumber dominan pengendapan karbon hitam di Arktik dan setiap peningkatan pembakaran di wilayah ini khususnya sangat tidak dinantikan."

Tonton Video: 6 Bulan Rusia Invasi Ukraina, PBB: Tak Ada Tanda Akan Mereda

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT