ADVERTISEMENT

Ilmuwan Akan Coba Bangkitkan Harimau Tasmania dari Kepunahan

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 23 Agu 2022 14:14 WIB
Potret harimau Tasmania di Kebun Binatang Hobart (tanggal tidak diketahui). (Getty Images)
Jakarta -

Para peneliti di Australia dan Amerika Serikat bekerja sama dalam proyek bernilai miliaran dolar untuk mengembalikan harimau Tasmania dari kepunahan.

Individu terakhir hewan tersebut, nama resminya thylacine, diketahui mati pada tahun 1930-an.

Tim di balik proyek ini mengatakan hewan punah tersebut dapat diciptakan kembali menggunakan teknologi sel punca (stem cells) dan pengeditan gen, dan thylacine pertama dapat dilepas ke alam liar dalam waktu sepuluh tahun.

Banyak pakar lain skeptis dan mengatakan memutar balik kepunahan, atau de-extinction, hanyalah fiksi ilmiah.

Thylacine dijuluki harimau Tasmania karena loreng di punggungnya namun ia sebenarnya adalah marsupial, sejenis mamalia endemik Australia yang membesarkan anaknya di dalam kantung di tubuhnya.

Sekelompok ilmuwan dari Australia dan AS berencana mengambil sel punca dari spesies marsupial yang masih hidup dan memiliki DNA yang mirip, dan kemudian menggunakan teknologi pengeditan gen untuk "menghidupkan kembali spesies yang sudah punah itu atau sesuatu yang sangat mirip dengannya.

Baca juga:

Ini akan menjadi pencapaian luar biasa bagi para peneliti yang mencobanya, dan memerlukan sejumlah terobosan saintifik.

"Sekarang saya percaya bahwa dalam waktu 10 tahun kita bisa punya bayi thylacine hidup pertama sejak mereka punah karena diburu hampir seabad yang lalu, kata Profesor Andrew Pask, yang memimpin penelitian ini dari Universitas Melbourne.

Populasi harimau Tasmania menyusut ketika manusia tiba di Australia puluhan ribu tahun yang lalu, dan semakin menyusut lagi ketika dingo spesies anjing liar muncul.

Akhirnya, hewan marsupial itu hanya ada di pulau Tasmania, dan akhirnya diburu hingga punah.

Harimau Tasmania terakhir di penangkaran mati di Kebun Binatang Hobart pada 1936.

Bila para ilmuwan sukses menghidupkan kembali hewan itu, ini akan menandai peristiwa pembalikan kepunahan atau "de-extinction pertama dalam sejarah, namun banyak pakar di luar proyek ini meragukan sains di baliknya.

"De-extinction adalah sains dongeng, kata Profesor Madya Jeremy Austin dari Pusat Penelitian DNA Kuno Australia kepada surat kabar Sydney Morning Herald.

Ia menambahkan bahwa proyek tersebut "lebih tentang menarik perhatian media pada para ilmuwan yang terlibat dan bukan melakukan pekerjaan ilmiah yang serius.

Ide menghidupkan kembali harimau Tasmania telah ada selama lebih dari 20 tahun. Pada 1999, Museum Australia memulai proyek untuk mengklon hewan tersebut, dan berbagai upaya telah dilakukan sejak itu untuk mengekstrak atau membangun kembali DNA yang layak dari sampel.

Proyek terakhir ini adalah kemitraan antara para ilmuwan di Universitsa Melbourne dan perusahaan Colossal, yang berbasis di Texas.

Perusahaan AS itu jadi berita tahun lalu dengan rencananya untuk menggunakan teknologi pengeditan gen serupa untuk mengembalikan mamut berbulu dari kepunahan pencapaian saintifik yang luar biasa jika seandainya tercapai.

(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT