ADVERTISEMENT

Perang Antargeng Marak, Warga Haiti Terkepung Kekerasan dari Segala Penjuru

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 09 Agu 2022 16:29 WIB
Seorang petugas polisi Haiti berjaga di Kota Port-au-Prince. (Getty Images)
Port-au-Prince -

Ibadah pada Minggu, 24 Juli, lalu di Gereja Persekutuan Jemaat Tuhan yang terletak di pinggiran ibu kota Haiti, Port-au-Prince, berjalan seperti banyak ibadah lainnya. Sebanyak 400 jemaat menghadiri misa itu, kata Pendeta Samual Lucien.

Peringatan: Artikel ini berisi deskripsi yang mungkin bisa mengganggu kenyamanan Anda.

Tepat pada tengah hari, sekelompok laki-laki bersenjata yang menggunakan penutup wajah memasuki gereja dan membunuh Inspektur Polisi Reginald Laleau.

Laki-laki berusia 45 tahun itu memimpin sebuah unit yang berpatroli secara rutin di wilayah yang dikuasai oleh 400 Mawozo. Ini adalah nama salah satu geng paling ditakuti di ibu kota Haiti.

"Saya mencoba mencari perlindungan, tetapi ada begitu banyak peluru, tembakan yang begitu dahsyat. Saya belum pernah mendengar tembakan seperti itu sebelumnya dalam hidup saya. Itu seperti zona perang," kata Pastor Lucien tentang peristiwa itu.

Setelah membunuh Inspektur Laleau, orang-orang bersenjata itu meninggalkan gereja, membawa jenazah polisi itu bersama mereka.

Pada malam harinya, 400 Mawozo membagikan video yang memperlihatkan pemimpin geng di sebelah tubuh Laleau yang disiksa, mengancam akan membunuh semua orang di unit Laleau.

Kalah jumlah personel dan persenjataan

Bahkan sebelum 400 Mawozo mengunggah peringatan mengerikannya, petugas polisi tahu bahwa mereka telah menjadi sasaran.

"Kami sedih melihat mereka memperlakukan petugas polisi, bagaimana mereka membunuh polisi," kata Kepala Serikat Polisi, Lionel Lazarre.

Kalah jumlah personel dan kalah senjata dari geng-geng bersenjata lengkap, para polisi yang berpenghasilan rata-rata kurang dari US$ 100 (sekitar Rp 1,49 juta dalam kurs hari ini) sebulan, menuntut pemerintah berbuat lebih banyak untuk mendukung mereka.

"Ini mendesak. Kami membutuhkan lebih banyak dukungan dan lebih banyak peralatan," kata Lazarre. "Kami sangat membutuhkan pemerintah untuk menjadikan hal ini sebagai prioritas mereka."

Meski Lazarre mengatakan bahwa dia masih percaya bahwa polisi Haiti dapat memecahkan krisis keamanan saat ini, pembunuhan Inspektur Laleau memperlihatkan bahwa kendali geng-geng yang kejam itu sekarang mulai masuk ke ibu kota.

Baca juga:

Kota hantu

Kelompok Hak Asasi Manusia memperkirakan, sekitar 60% dari wilayah Port-au-Prince, sekarang digolongkan sebagai wilayah "tanpa hukum".

Kota yang luasnya hampir sama dengan Los Angeles itu telah lumpuh akibat perebutan kekuasaan dan wilayah antar-puluhan geng.

Dulu kota ini ramai dengan kehidupan malam, tapi sekarang pusat kota terlihat dan terasa seperti kota hantu. Toko-toko tutup dan banyak warga yang meninggalkan rumah mereka karena takut terjebak dalam baku tembak.

Haiti

Anak-anak dari Cite Soleil berlindung di sekolah setelah melarikan diri dari kekerasan geng di wilayah permukiman mereka. (Getty Images)

Di wilayah pinggiran kota, sebagian besar masyarakat hidup dengan uang yang sangat pas-pasan, tanpa listrik atau bahkan akses ke air bersih

.

Juli berdarah

Kekerasan terkait geng telah meningkat sejak pembunuhan Presiden Jovenel Moise oleh tentara bayaran pada Juli 2021. Sampai sekarang, kekerasan itu telah mencapai level baru yang mengejutkan, dalam beberapa pekan terakhir.

Bekerja sama dengan jurnalis lokal Harold Isaac, BBC telah memetakan lima insiden besar yang menggambarkan tingkat kekerasan yang dihadapi warga dalam waktu satu bulan.

8 Juli: Perang wilayah selama 10 hari terjadi antara geng G9 dan G-Pp di lingkungan permukiman Cite Soleil. Menurut PBB, 209 orang tewas dan 114 di antaranya adalah anggota geng. Lebih dari 3.000 penduduk terpaksa meninggalkan rumah mereka.

24 Juli: Pembunuhan Inspektur Polisi Reginald Laleau saat Misa Minggu. Dia adalah petugas polisi ke-32 yang dibunuh dalam enam bulan pertama di 2022. Serikat polisi mengatakan pembunuhan ke-32 dari 1 Januari - 22 Juli.

26 Juli: Sebuah penculikan kejam oleh orang-orang bersenjata yang menggunakan penutup wajah, terekam CCTV. Penduduk setempat terlihat berlarian dari tempat kejadian, tepat di luar sebuah sekolah, di mana lebih dari 300 anak-anak dan orang dewasa berlindung dari perang yang sedang berlangsung di Cite Soleil.

27 Juli: G9 melancarkan serangan terhadap G-Pp di tengah pusat kota Port-au-Prince, dekat istana presiden. Setelah itu terjadi perang wilayah di Bel-Air.

27 Juli: Katedral sementara di kota dibakar saat terjadi perang antar geng. Katedral asli hancur pada 2010 akibat gempa bumi.

Kota yang dirusak oleh kekerasan

Dengan bantuan Harold Isaac, BBC juga telah memetakan geng mana yang menguasai beberapa wilayah pada Juli 2022.

Perang perebutan wilayah antarkelompok terjadi tanpa henti. Itu berarti banyak batas-batas wilayah terus berubah.

G9, aliansi yang terdiri dari sembilan geng, menguasai wilayah utama pelabuhan pesisir kota dan terminal minyak. Dampaknya, sebagian besar ekonomi kota ada di cengkeraman mereka.

Mereka mungkin bukan geng yang menguasai sebagian besar wilayah, tetapi bisa dibilang geng yang memiliki kekuatan ekonomi terbesar.

Dipimpin oleh mantan petugas polisi Jimmy Cherizier, juga dikenal sebagai Barbekyu, G9 terkenal karena menyita truk pengangkut barang dan merampas bisnis-bisnis.

Para pejabat Amerika Serikat menuduh Barbekyu dan G9 berada di balik pembantaian kejam pada 2018, yang menewaskan 71 orang di wilayah La Saline, di ibu kota.

Geng yang menguasai petak wilayah terbesar adalah 400 Mawozo.

Tahun lalu, 400 Mawozo menjadi terkenal karena menculik 17 peziarah asal Amerika Utara, di antaranya anak-anak.

Pengaruh 400 Mawozo tidak terbatas di ibu kota saja. Mereka juga menguasai jalan menuju perbatasan Haiti dengan Republik Dominika serta akses ke wilayah utara negara itu.

Akses ke selatan negara ada di tangan 5 segonn (5 detik), geng yang memamerkan aksi kekerasan mereka di media sosial, membajak bus yang dipenuhi orang yang akan bepergian ke luar kota.

Masyarakat yang terguncang

Sejak pembunuhan Inspektur Polisi Reginald Laleau, tidak ada kebaktian gereja yang diadakan di Gereja Persekutuan Jemaat Tuhan. Pendeta Samuel Lucien mengatakan masyarakat masih terguncang.

"Orang-orang masih terlalu takut untuk pergi ke gereja," katanya. "Semua orang tahu risikonya, bahwa sesuatu bisa terjadi. Namun, kami tidak pernah membayangkan itu akan terjadi di gereja, apalagi gereja kami."

"Saya percaya Haiti harus dan bisa berubah."

(nvc/nvc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT