ADVERTISEMENT

Pasokan Bantuan Tiba di Gaza Usai Gencatan Senjata Disepakati

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 09 Agu 2022 11:42 WIB
Gaza City -

Truk mengangkut bahan bakar masuk ke Gaza setelah Israel melonggarkan perbatasan yang ditutup.

Truk mengangkut bahan bakar masuk ke Gaza setelah Israel melonggarkan perbatasan yang ditutup. (Reuters)

Pasokan bantuan makanan dan bahan bakar telah tiba di Gaza setelah Israel sepakat melakukan gencatan senjata dengan kelompok Palestina yang memungkinkan dibukanya kembali perbatasan.

Tibanya pasokan bahan bakar ini memungkinkan beroperasinya kembali satu-satunya pembangkit listrik di Gaza - yang sangat bergantung pada pasokan yang dibawa dari Israel.

Gencatan senjata antara Israel dan Palestina itu dimulai Minggu malam, menyusul kekerasan tiga hari yang menyebabkan setidaknya 44 orang meninggal, termasuk 15 anak-anak.

Laporan dari Gaza menyebutkan truk-truk pengangkut bantuan dan bahan bakar mulai dikerahkan lagi setelah gencatan senjata konflik paling parah sejak perang 11 hari pada Mei 2021.

Rumah sakit rumah sakit dilaporkan kekurangan pasokan karena perbatasan ditutup.

Gencatan senjata yang ditengahi Mesir dan mulai berlaku Minggu malam disambut banyak pihak, namun PBB memperingatkan situasi masih sangat rentan.

Amerika Serikat dan PBB mendesak kedua belah pihak untuk tetap mematuhi gencatan senjata.

Dalam pernyataan, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden memuji langkah gencatan senjata itu dan meminta Israel dan Palestina "mematuhi sepenuhnya dan memastikan pasokan bahan bakar dan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza."

Biden juga mendesak agar laporan terkait korban warga sipil diselidiki.

Namun saat gencatan senjata ini mulai berlaku pada Minggu (07/08) malam, militer Israel memastikan mereka menyerang kelompok Jihad Islam Palestina (PIJ) di Gaza untuk membalas roket-roket yang ditembakkan. Media Israel juga melaporkan sejumlah tembakan roket dari Gaza beberapa menit setelah batas waktu gencatan senjata mulai berlaku.

Tetapi setelah itu tidak ada lagi laporan kekerasan.

Baca juga:

Para korban yang tewas dalam serangan tiga hari itu di antaranya enam anak-anak, dan sejumlah anggota Jihad Islam Palestina - termasuk pemimpinnya, Tayseer Jabari.

Kementerian Kesehatan Palestina menyalahkan "agresi Israel" atas kematian warga Palestina ini, dan lebih 300 orang yang terluka.

Israel mengatakan mereka menghantam 150 sasaran PIJ dan menewaskan petinggi serta menghancurkan terowongan dan tempat penyimpanan senjata.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Israel, Ran Kochav mengatakan mereka memiliki informasi terkait 35 orang Palestina yang tewas termasuk "11 orang korban sipil, termasuk istri komandan grup teror."

Ia mengklaim "15 korban sipil lain akibat ledakan PIJ."

Warga Palestina merayakan ketika gencatan senjata diumumkan.

Warga Palestina merayakan ketika gencatan senjata diumumkan. (Reuters)

Israel mengatakan serangan itu menindaklanjuti adanya "ancaman langsung" dari kelompok tersebut.

Militan Palestina menembakkan lagi roket-roket ke wilayah Israel selatan dan juga Tel Aviv. Israel mengatakan sejauh ini lebih dari 900 roket ditembakkan selama tiga hari sejak Israel memulai operasi militer. Dikatakan ada ancaman nyata dari kelompok Jihad Islam.

Sementara itu, para pejabat Israel dan penengah dari Mesir mengisyaratkan gencatan senjata hampir disepakati pada Minggu malam tetapi laporan terbaru menunjukkan perundingan mungkin menemui jalan buntu.

Aksi kekerasan terbaru ini merupakan pertikaian paling serius antara Israel dan Gaza hanya dalam waktu setahun.

Dalam perang 11 hari pada Mei 2021 telah menewaskan lebih dari 200 orang warga Palestina dan selusin warga Israel, sebelum gencatan senjata disepakati.

Militer Israel memperingatkan bahwa operasi terbaru ini - dengan nama sandi Breaking Dawn - dapat berlangsung selama sepekan.

Sebelumnya, sirene peringatan rudal terus terdengar di kota-kota Israel pada Sabtu, di tengah lebih banyak laporan adanya serangan udara di Gaza yang diklaim Israel untuk menargetkan kelompok militan PIJ.

Para pejabat kesehatan Palestina mengkonfirmasi seorang pria tewas di dekat Khan Younis di selatan jalur tersebut.

Namun sejauh ini Hamas, kelompok militan terbesar di wilayah itu - yang memiliki ideologi serupa dengan kelompok Jihad Islam dan sering mengoordinasikan tindakannya dengan kelompok itu - tampaknya tidak menembakkan senjata roketnya yang berukuran besar.

Akibatnya, tidak ada laporan serangan udara Israel yang menargetkan kelompok Hamas.

Hamas mengeluarkan pernyataan keras pada Jumat malam yang mengatakan bahwa "kelompok perlawanan" telah bersatu.

Tetapi karena kelompok ini menguasai Gaza, mereka memiliki pertimbangan praktisnya sendiri yang dapat menghentikannya untuk terlibat lebih lanjut.

Bagaimanapun, kehidupan di wilayah Palestina menjadi jauh lebih sulit dalam sepekan terakhir, setelah Israel menutup penyeberangannya dengan Gaza.

Hal itu terjadi di tengah kekhawatiran bahwa kelompok Jihad Islam akan membalas penangkapan salah satu pemimpinnya di wilayah utara Tepi Barat.

Baca juga:

Perhitungan kelompok Hamas dapat berubah, jika misalnya, korban tewas warga sipil di Gaza meningkat pesat.

Apabila mereka memutuskan untuk bergabung dalam pertempuran, maka hal itu akan menjadi jauh lebih cepat terjadi.

Jika keadaan tetap seperti ini, Mesir - yang sering bertindak sebagai perantara bagi Israel dan Gaza - dapat memiliki peluang yang lebih baik untuk menengahi semacam gencatan senjata.

Pada Sabtu, para pejabat Kairo tengah bersiap sebagai tuan rumah bagi delegasi potensial dari perwakilan PIJ sebagai bagian dari proses itu, lapor media Mesir.

Berapa banyak roket yang diterbangkan dari Gaza?

Militer Israel juga mengatakan hampir 600 roket ditembakkan dari Gaza ke Israel sejak Jumat malam hingga Ahad.

Sebagian besar berhasil dilumpuhkan oleh sistem pertahanan Iron Dome, tanpa ada korban dari warga Israel.

Sekitar 30 target kelompok Jihad Islam telah diserang, di antaranya dua fasilitas penyimpanan senjata dan enam lokasi pembuatan roket, kata militer Israel. Sedikitnya 78 orang terluka.

Image shows missile strike

Militer Israel memperingatkan bahwa operasi terbaru ini - dengan nama sandi 'Breaking Dawn' - dapat berlangsung selama sepekan. (Getty Images)

Mengacu pada serangan awal pada hari Jumat, Perdana Menteri (PM) Israel Yair Lapid mengatakan Israel melakukan "operasi kontra-teror yang tepat terhadap ancaman langsung".

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Ayelet Shaked mengatakan: "Kami tidak tahu bagaimana ini akan berlanjut... tapi ini bisa memakan waktu... ini bisa menjadi putaran [konflik] yang panjang dan sulit."

Militer Israel mengatakan, serangannya menargetkan situs-situs yang terkait dengan PIJ.

Siapa sosok Tayseer Jabari?

Militer Israel mengatakan sosok Tayseer Jabari adalah "komandan senior" di PIJ, dan menuduhnya melakukan "beberapa serangan teroris" terhadap warga sipil Israel.

Alaa Kaddum yang berusia lima tahun termasuk di antara mereka yang tewas dalam serangan itu, kata pejabat setempat juga.

Dalam keterangan yang disampaikan saat dalam perjalanan ke ibu kota Iran, Teheran, Sekretaris Jenderal PIJ, Ziyad al-Nakhala mengatakan: "Kami akan menanggapi dengan tegas agresi ini, dan akan ada pertarungan di mana rakyat kami akan menang."

"Tidak ada red lines untuk pertempuran ini ... dan Tel Aviv akan berada di bawah roket perlawanan".

Konflik terbaru ini menyusul aksi penangkapan Israel atas Bassem Saadi, yang dilaporkan sebagai kepala PIJ di Tepi Barat, pada Senin malam.

Dia ditahan di daerah Jenin sebagai bagian dari serangkaian operasi penangkapan setelah gelombang serangan oleh orang-orang Arab dan Palestina Israel yang menewaskan 17 orang Israel dan dua orang Ukraina.

Dua orang penyerang berasal dari distrik Jenin.

A map of Gaza

BBC

Setelah penangkapan Bassem Saadi, Israel memperingatkan bahwa PIJ bermaksud menyerang warga sipil dan tentaranya sebagai pembalasan.

Dengan demikian, situasi ini akan meningkatkan tindakan keamanan bagi masyarakat yang tinggal di dekat perbatasan dengan Gaza.

Siapakah kelompok Jihad Islam Palestina (PIJ)?

PIJ, yang merupakan salah satu kelompok militan terkuat yang beroperasi di Gaza, didukung oleh Iran dan bermarkas di ibu kota Suriah, Damaskus.

Kelompok ini bertanggung jawab atas banyak serangan, termasuk tembakan roket dan penembakan terhadap Israel.

Pada November 2019, Israel dan PIJ terlibat dalam konflik lima hari setelah aksi pembunuhan oleh Israel terhadap seorang komandan PIJ, yang menurut Israel, telah merencanakan serangan yang akan segera terjadi.

Aksi kekerasan tersebut menyebabkan 34 warga Palestina tewas dan 111 terluka, sementara 63 warga Israel membutuhkan perawatan medis.

Israel mengatakan 25 orang Palestina yang tewas adalah anggota kelompok militan, termasuk mereka yang terkena serangan disebut akan meluncurkan serangan roket.

Simak video 'Gencatan Senjata Palestina-Israel, Kelompok Jihad Islam Palestina Kini Lebih Kuat':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT