ADVERTISEMENT

China Sukses Turunkan Polusi Udara dalam Waktu 7 Tahun, Caranya?

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 06 Jul 2022 10:45 WIB
Patung panda di Beijing pada hari yang cerah dan hari dengan polusi udara tinggi pada tahun 2017. (Getty Images)
Jakarta -

Foto-foto yang menggambarkan kondisi polusi udara yang pekat sehingga matahari tak tampak di siang hari adalah pemandangan yang biasa di China dalam satu dekade terakhir. Tapi hal itu tak terjadi lagi saat ini.

Negara itu berhasil mengurangi jumlah partikel udara yang merugikan sebanyak 40% dalam kurun waktu tujuh tahun, sejak tahun 2013 hingga 2020, menurut studi berdasar pengukuran satelit yang dipublikasikan oleh Energy Policy Institute (EPIC) dari Universitas Chicago,

Itu adalah penurunan populasi udara tertinggi di suatu negara dalam waktu yang singkat.

Pada kenyataannya, Amerika Serikat membutuhkan waktu tiga dekade untuk mencapai jumlah penurunan polusi yang sama sejak kebijakan menurunkan emisi industri dan kendaraan yang dikenal dengan Clean Air Actdikeluarkan pada 1970.

Bagaimana China melakukannya dalam waktu singkat?

Baca juga:

Di ambang tak layak

Demi menjawab pertanyaan itu, kita harus kembali ke tahun 2013, ketika polusi udara di negara-negara Asia mencapai level ekstrem.

Pada tahun itu, China mencatat rata-rata 52,4 mikrogram (g) per meter kubik (m3) partikel polutan PM2,5, sepuluh kali lebih banyak dari batas yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hari ini.

Partikel halus PM2,5, yang berasal dari pembakaran bahan bahan bakar fosil, sangat berbahaya bagi kesehatan karena kemampuannya yang tinggi untuk menembus saluran pernapasan.

Harbin pada 2013

Foto yang diambil pada 2013 ini menunjukkan polusi ekstrem di kota Harbin, salah satu kota dengan polusi tinggi di China. (Getty Images)

"Pada saat itu, Beijing mengalami apa yang kami sebut 'akan kiamat', dengan polusi ekstrem yang membuat orang sadar akan masalah tersebut," kata Christa Hasenkopf, direktur program kualitas udara di EPIC dan salah satu penulis laporan tersebut, kepada BBC Mundo.

Oleh karena situasi yang serius ini, pemerintah China mendeklarasikan perang melawan polusi udara.

Pada akhir 2013, pemerintah mengimplementasikan rencana aksi nasional tentang kualitas udara, demi menurunkan polusi dalam periode empat tahun, dengan anggaran sebesar US$270.000 juta, atau sekitar Rp4 triliun.

Dewan Kota Beijing menambah anggaran dana sebesar US$120.000, setara Rp1,8 triliun.

Kota Terlarang di Beijing pada 2013

Ini adalah pemandangan di Kota Terlarang di Beijing pada 2013. (Getty Images)

Perang melawan batubara

Rencana aksi itu menetapkan target khusus untuk menurunkan polusi udara sekitar 35% dalam jangka waktu lima tahun ke depan.

Adapun, musuh pertama dari polusi udara adalah mineral yang memungkinkan industrialisasi yang pesat di China yang dimulai pada kuartal terakhir abad ke-20, sekaligus sumber energi utama di negara itu: batu bara.

Pemerintah telah melarang pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di hampir seluruh kawasan yang tercemar polusi udara, serta memaksa pembangkit listrik yang sudah ada untuk mengurangi emisi atau beralih ke bahan bakar gas alam.

Beijing pada 1982

Beijing pada 1982, pada awal modernisasi di negara itu. (Getty Images)

Pada 2017 saja, sebanyak 27 tambang batubara di provinsi Shanxi ditutup. Shanxi adalah produsen batu bara terbesar di China.

Pada tahun berikutnya, pada Januari 2018, satu-satunya pembangkit listrik batu bara yang tersisa di China akhirnya ditutup. Di sisi lain, pemerintah China membatalkan rencana untuk membangun 103 pembangkit listrik baru.

Kendati batu bara masih menjadi sumber utama listrik di China, negara itu telah menurunkan sekitar 67,4% keseluruhan produksinya pada 2013 menjadi 56,8% pada 2020, menurut data resmi dari China.

Untuk mengimbangi dekarbonisasi, pemerintah China menambah pembangkit listrik dari energi terbarukan.

Baca juga:

Hingga pada tahun 2017, energi terbarukan mewakili seperempat dari total pembangkit listrik negara itu, bahkan melampaui Amerika Serikat, yang hanya memiliki porsi 18%, pada tahun yang sama.

China juga secara aktif mempromosikan energi nuklir: antara 2016 hingga 2020 China meningkatkan kapasitas energi nuklir sebanyak dua kali lipat, menjadi 47 GW dengan 20 pembangkit baru.

Pada 2035 jumlah itu ditargetkan naik hingga 180 GW, hampir dua kali lipat kapasitas energi nuklir Amerika Serikat saat ini.

Pembatasan mobil

Langkah lain yang ditempuh pemerintah China adalah mengurangi kapasitas produksi besi dan baja: berkurang 115 juta ton dalam jangka waktu satu tahun sejak 2016 hingga 2017.

Dan, tentu saja, China juga kendaraan bermesin menjadi sasaran rencana untuk mengurangi polusi udara ini.

Di Beijing, Shanghai, Guangzhou dan kota-kota besar lainnya, jumlah mobil yang beredar dibatasi dengan kuota harian dan jumlah plat nomor baru dibatasi setiap tahun.

Trfico en China

Getty Images

Kendati begitu, langkah ini tak mengurangi jumlah kendaraan yang terus bertambah, dari sebanyak 126 juta kendaraan pada 2013, menjadi 273 juta pada 2020, menurut data resmi.

Tentu saja, dengan emisi lebih sedikit: pemerintah memperketat standar dan pada 2017 menghentikan produksi 553 model kendaraan produksi lokal dan asing yang menghasilkan polusi tinggi.

Fokus pada kota-kota besar

"Kami memperkirakan China secara keseluruhan akan memperoleh dua tahun [tambahan] harapan hidup rata-rata jika warga terus menghirup udara yang lebih bersih dibandingkan dengan tahun 2013," kata Christa Hasenkopf, direktur program kualitas udara di EPIC.

Hasenkopf mencatat bahwa sebagian besar kota besar di negara ini telah berhasil mengurangi polusi mereka lebih dari rata-rata nasional 40% antara 2013 dan 2020.

Di Shanghai, partikel polutan menurun sebesar 44%, di Guangzhou sebesar 50%, di Shenzen sebesar 49% dan di Beijing sebesar 56% .

"Warga keempat kota menghirup udara yang jauh lebih bersih," tuturnya.

Lapangan Tianamen, Beijing 2021

Lapangan Tianamen di Beijing di siang yang cerah pada 2021 (Getty Images)

Rencana-rencana lain

Program selama empat tahun yang dimulai pada 2013 kemudian diikuti oleh rencana jangka pendek selama dua hingga tiga tahun untuk menurunkan polusi udara, yakni pada 2018 dan 2020, yang semakin memperketat langkah-langkah pengendalian emisi.

Di sisi lain, pembatasan dan pengetatan akibat Covid-19 telah mengurangi aktivitas industri dan transportasi, yang kemudian berdampak pada penurunan polusi.

Ditanya apakah ini mungkin mempengaruhi hasil penelitian, Hasenkopf menjawab bahwa dampak pandemi belum dievaluasi secara khusus.

Tapi dia meyakini bahwa "data untuk tahun 2020 di China tampaknya cocok secara umum dengan tren penurunan tingkat polusi yang konstan sejak 2014", terlepas dari faktor Covid.

Baca juga:

Dibandingkan negara-negara lain

Namun demikian, terlepas dari upaya yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir, China masih harus menempuh jalan panjang untuk membersihkan langit di kota-kotanya.

Polusi di Beijing saat ini rata-rata mencapai 37,9 g/m3, angka yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan tingkat polusi di New York yang hanya 6,3g/m3, merujuk data satelit terbaru.

Adapun tingkat polusi di London mencapai 9 g/m3, sementara di Madrid sebesar 6,9 g/m3, dan di Meksiko mencapai 20,7 g/m3.

Polusi di New Delhi

Sebuah tangki menyemprotkan air di jalanan New Delhi yang padat, dalam upaya mengurangi polusi udara. (Getty Images)

Meski begitu, penelitian yang dilakukan Universitas Chicago memperkirakan bahwa penduduk di ibu kota China, Beijing, akan hidup rata-rata 4,4 tahun lebih lama dibanding 2013, berkat penurunan partikel polutan tersebut.

Di tempat-tempat lain, situasinya jauh lebih buruk: polusi udara di New Delhi mencapai 107,6 g/m3, atau 20 kali lebih banyak ketimbang ambang batas 5 g/m3 yang direkomendasikan WHO.

Bangladesh, India, Nepal dan Pakistan adalah negara-negara dengan udara yang tak layak di dunia, sementara China, yang dalam dekade terakhir termasuk dalam lima besar, kini berada di posisi ke-sembilan dengan 31,6 g/m3, merujuk pada data satelit pada 2020.

Adapun polusi udara di Amerika Serikat tercatat 7,1 g/m3. Sementara negara-negara di kawasan Amerika Latin seperti Guatemala, Bolivia, El Salvador dan Peru, termasuk negara-negara dengan polusi udara tinggi berkisar antara 20 - 30 g/m3, sementara negara-negara lain berkisar antara 10 - 20 g/m3.

Polusi di Meksiko

Kota Meksiko adalah kota dengan udara paling tercemar di Amerika Latin (Getty Images)

Faktanya, tak banyak orang di planet ini yang dapat mengatakan bahwa mereka menghirup udara bersih: 97% populasi dunia tinggal di tempat-tempat di mana kualitas udara berada di bawah standar WHO.

"Kita hidup [dengan jangka waktu] lebih pendek karena polusi di udara yang kita hirup.

"Kami memperkirakan bahwa lebih dari dua tahun harapan hidup rata-rata secara global hilang karenanya," kata Hasenkopf.

"Beban dalam hidup kita ini lebih besar daripada HIV/AIDS, malaria atau perang," katanya.

Rekan penulis penelitian ini memastikan bahwa sumber daya terbaik untuk mengurangi polusi udara bukanlah perkembangan teknologi, namun "kemauan politik dan sosial yang berkelanjutan untuk mempromosikan, membiayai, dan menerapkan kebijakan udara bersih".

(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT