Setahun Kudeta, Banyak Tentara Myanmar Membelot dari Junta Militer

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 09 Mei 2022 15:54 WIB
Agne Lay memberikan isyarat untuk mendukung oposisi sipil Myanmar (BBC)
Jakarta -

Myanmar dilanda perang saudara yang semakin mematikan, yang dimulai ketika Tatmadaw - angkatan bersenjata negara itu - merebut kekuasaan tahun lalu.

Kini, berkat bantuan sebuah jaringan bawah tanah yang menggunakan berbagai akun Facebook dan Telegram, tentara Myanmar berbondong-bondong melakukan desersi - kabur meninggalkan dinas ketentaraan.

Baca juga:

Agne Lay - bukan nama sebenarnya - sedang duduk di sebelah ponselnya, menunggu dengan sabar.

Lima menit kemudian, dia menerima sebuah pesan pada gawainya.

Seorang tentara yang putus asa meminta pertolongan Agne Lay. Dia ingin meninggalkan Tatmadaw, namun takut jika tertangkap. Bisakah Lay membantu?

Pesan-pesan seperti ini muncul setiap hari, bukan hanya kepada Lay yang berusia 44 tahun, tapi juga kepada ratusan sukarelawan yang tergabung dalam People's Embrace (pelukan rakyat) - sebuah jaringan sosial media yang membantu pembelotan para tentara dan polisi yang kecewa dengan pemerintah.

"Kami mengiklankan di Facebook bahwa mereka yang ingin desersi harus mengontak kami di Telegram," kata Lay kepada saya, sambil menggambarkan skenario operasi melalui jaringan online dari lokasi yang dirahasiakan di dalam wilayah Myanmar.

Agne Lay terlihat berhati-hati. Dia tidak menjelaskan secara spesifik bagaimana mereka beroperasi karena peningkatan infiltrasi yang dilakukan Tatmadaw ke jaringan mereka.

Walaupun demikian, saya telah berbicara dengan beberapa mantan serdadu Tatmadaw yang menjelaskan secara luas bagaimana operasi itu bekerja.

Aksi pembelotan itu memunculkan resiko yang sangat besar. Lay mengatakan, dia tahu konsekuensi yang akan dihadapi jika ditangkap oleh para tentara Tatmadaw.

"Saya akan dieksekusi," katanya

Konflik berdarah

Seorang warga sipil melakukan protes pascakudeta dengan spanduk bertuliskan Getty ImagesSeorang melakukan protes setelah kudeta militer di Myanmar.

Perang saudara di Myanmar telah berubah menjadi semakin brutal setelah penggulingan pemerintah sipil oleh militer tahun lalu.

Pada 1 Februari 2021, setelah Aung San Suu Kyi terpilih kembali, Tatmadaw menggulingkan pemerintahan Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

Para pemimpin militer membenarkan kudeta itu dengan mengeklaim terjadinya kecurangan dalam pemilih, meskipun komisi pemilihan negara itu menegaskan tidak ada bukti atas klaim itu.

Masyarakat kemudian turun ke jalan - namun protes mereka dibalas dengan tindakan kekerasan oleh militer

Pada waktu itu, Lay adalah seorang tentara berpangkat sersan yang bekerja di kantor. Bingung oleh kekacauan yang pecah di sekitarnya, Lay kemudian mencari jawaban melalui sosial media.

Lay mengatakan, dia menemukan video-video yang menunjukkan tentara Myanmar melakukan pembunuhan di luar proses hukum.

"Saya menyaksikan orang-orang dijadikan sebagai target dengan sengaja, ditembak di kepala dan dibunuh," katanya.

Ketakutannya memuncak ketika tentara Tatmadaw memaksa putra remajanya untuk bergabung ke pasukan cadangan militer - sesuatu yang tidak dapat dia cegah.

"Saya diberitahu, jika saya menolak maka akan dihukum," kata Lay.

Perintah itu adalah yang terakhir didengar Lay. Dia pun memutuskan untuk melakukan desersi.

"Saya tidak lagi bersedia tetap di tentara," katanya.

Lima bulan setelah kudeta, Lay mengumpulkan keluarganya dan berbondong-bondong melarikan diri ke pegunungan. Mereka adalah kelompok pertama yang dibantu oleh jaringan People's Embrace.

Masyarakat Myanmar berdemonstrasi di jalan-jalan.Getty ImagesRibuan warga sipil memprotes pengambilalihan pemerintahan oleh militer

Mempersenjatai internet

Lay kini menjadi bagian dalam organisasi People's Embrace. Dia bekerja dari jauh, di "daerah yang merdeka", satu dari beberapa kawasan yang dikuasai penentang kudeta. Area ini merupakan kantong kekuatan kelompok etnis minoritas dan pemerintahan sipil Persatuan Nasional (National Unity Government - NUG).

Lay menggambarkan ke saya, bagaimana Facebook dan Telegram berperan penting baik dalam menyadarkannya dari apa yang dia sebut "cuci otak selama bertahun-tahun" maupun dalam pelariannya.

People's Embrace memiliki lebih dari 100.000 pengikut. Para tentara yang ingin membelot dan menghubungi secara online kemudian akan menjalani pemeriksaan - mencegah jika ada mata-mata.

Bagi mereka yang lolos, akan disediakan tempat tinggal, makanan, keamanan, hingga tunjangan.

"Jika teman [pembelot] ingin meninggalkan militer, mereka saling memberikan tautan," katanya.

Media sosial memainkan peran penting dalam menciptakan jaringan desersi dan menjadi putaran terbaru dalam penggunaan teknologi di sejarah modern Myanmar.

Satu dekade yang lalu, sangat sedikit orang memiliki akses ke ponsel, apalagi internet.

Baca juga:

Tetapi karena biaya penggunaan internet menurun, media sosial menyebar dengan cepat. Sekarang, lebih dari setengah penduduk Myanmar menggunakan Facebook.

Hal ini membuka ruang gerakan People's Embrace untuk tumbuh - dan juga menyebarkan berita-berita tentang dugaan kekejaman yang dilakukan oleh Tatmadaw.

"Ketika panggung-panggung untuk mempromosikan akuntabilitas dan keadilan tidak ada, [masyarakat] dapat menjangkau secara online," kata Daniel Anlezark, wakil kepala investigasi LSM Myanmar Witness yang berbasis di London.

Tim Daniel telah memverifikasi ribuan video online yang menunjukkan tentara-tentara melakukan tindak kekerasan dan tanpa hukuman (impunitas).

Di sisi lain, Facebook juga merupakan instrumen yang digunakan dalam menyebarkan hoaks dan kebencian, contohnya adalah peristiwa genosida Muslim Rohingya.

Menurut laporan PBB, tokoh-tokoh militer penting di Myanmar harus diselidiki atas kejahatan genosida di Negara Bagian Rakhine serta kejahatan terhadap kemanusiaan di tempat lain. Saat itu, pemerintah Myanmar menolak tuduhan tersebut.

Seorang anggota oposisi menggunakan smartphone-nya di tempat perlindungan.Getty ImagesSeorang anggota oposisi menggunakan smartphone-nya di tempat perlindungan.

Itulahmengapa, James Rodeheaver, dari UN's Human Rights Council, menggambarkan media sosial sebagai sebuah "pedang bermata dua" dalam negara.

Dia mencatat bahwa, Tatmadaw juga telah menyebarkan berita-berita palsu dan melakukan pemutusan internet sebagai salah satu strategi perang. Dengan mematikan jalur komunikasi sebelum melakukan serangan, ketergantungan warga pada koneksi internet menjadi kelemahan.

"Cahaya fajar baru"

BBC telah menghubungi Tatmadaw dan menanyakan mengenai tuduhan yang disampaikan oleh Lay dan lainnya, tetapi kami tidak menerima jawaban.

Saat konflik terus berlanjut, People's Embrace dan NUG semakin menarik banyak dukungan masyarakat, hingga di internal tentara sendiri.

Kami tidak dapat memverifikasi jumlah pembelot secara independen, tapi NUG mengatakan, lebih dari 8.000 tentara dan polisi telah membelot.

Beberapa dari mereka kembali ke medan perang namun menjadi oposisi, yang lain bekerja sebagai petugas di kantor, dan ada yang mendukung proses jaringan People's Embrace, sementara sisanya memilih menjalani kehidupan sipil.

Setelah membantu banyak tentara yang membelot, Lay merasa hidupnya telah mendapatkan kembali tujuannya.

"Hak asasi manusia yang mendasar sedang hilang," katanya. "Standar hidup kami berada pada titik terendah sepanjang masa dan ada korupsi. Jika Anda melihat semua ini, Anda akan merasa kasihan pada kami."

Dia mengatakan bertekad untuk terus berjuang sampai kudeta dijungkirbalikkan dan Tatmadaw digulingkan.

(ita/ita)