Orang-orang Kaya Rusia Lari ke Dubai untuk Hindari Sanksi Barat

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 07 Mei 2022 17:14 WIB
Dubai -

Dubai menjadi tempat perlindungan bagi banyak orang kaya Rusia yang melarikan diri untuk menghindari sanksi negara-negara Barat akibat perang di Ukraina.

Para miliarder dan pengusaha Rusia yang datang ke Uni Emirat Arab berjumlah sangat banyak, data yang tak pernah terjadi sebelumnya, kata para pebisnis kepada BBC.

Pembelian properti di Dubai oleh orang Rusia meningkat 67% dalam tiga bulan pertama tahun 2022, menurut satu laporan. Uni Emirat Arab tidak menjatuhkan sanksi terhadap Rusia atau mengkritik invasi Rusia.

Negara ini juga memberikan visa kepada warga Rusia yang tidak terkena sanksi sementara negara-negara Barat membatasi gerakan mereka.

Baca juga:

Dalam dua bulan terakhir, diperkirakan ratusan ribu orang meninggalkan Rusia, walaupun jumlah yang pasti belum dapat dipastikan.

Seorang ekonom Rusia mengatakan sekitar 200.000 warga Rusia meninggalkan negara mereka dalam 10 hari pertama sejak perang dimulai pada 24 Februari lalu.

Virtuzone, yang membantu perusahaan-perusahaan mendirikan bisnis di Dubai, mengatakan klien dari Rusia meningkat tajam.

"Kami menerima permintaan lima kali lipat lebih banyak dari Rusia sejak perang dimulai," kata direktur perusahaan George Hojeige.

"Mereka khawatir perekonomian akan hancur. Itulah mengapa mereka datang untuk menyelamatkan kekayaan mereka," tambahnya.

Rusia, Dubai

Seorang turis Rusia memberi makan burung-burung camar di pantai Marina Dubai, Uni Emirat Arab. (Foto ilustrasi) (Getty Images)

Membanjirnya warga Rusia ke Dubai meningkatkan permintaan vila dan apartemen mewah. Perusahaan real estat melaporkan kenaikan tajam harga karena banyak orang Rusia yang tiba di Dubai ingin membeli rumah.

Perusahaan real estate di Dubai, Betterhomes mengatakan pembelian apartemen oleh orang Rusia naik dua pertiga dalam tiga bulan pertama 2022.

Dan perusahaan real estate lain, Modern Living, mengatakan kepada BBC mereka mempekerjakan pegawai yang bisa berbahasa Rusia untuk mengantisipasi naiknya permintaan ini. Direktur perusahaan Thiago Caldas mengatakan mereka menerima banyak telepon dari orang Rusia yang ingin segera pindah ke Dubai.

"Orang Rusia yang datang tidak hanya membeli untuk investasi namun mereka ingin menjadikan Dubai sebagai rumah kedua mereka," katanya.

Dubai Marina

Getty Images

"Menguras otak"

Banyak perusahaan multinasional dan perusahaan baru Rusia juga memindahkan pegawai mereka ke Uni Emirat Arab.

Fuad Fatullev adalah salah seorang pendiri WeWay, perusahaan teknologi yang memiliki kantor di Rusia dan Ukraina. Setelah perang pecah, ia dan pendiri perusahaan lain memindahkan ratusan pegawai ke Dubai.

"Perang sangat mempengaruhi usaha kami. Kami tidak bisa melanjutkan dalam kondisi perang dan kami harus memindahkan ratusan pegawai ke luar Ukraina dan Rusia," kata Fuad yang merupakan warga Rusia.

Ia menambahkan mereka memilih Uni Emirat Arab karena wilayah ini memiliki suasana ekonomi dan politik yang relatif aman untuk bisnis.

Ia mengatakan bisnis Rusia pindah ke luar negeri karena mereka sulit beroperasi akibat sanksi. Tantangan lebih berat adalah bila perusahaan-perusahaan multinasional itu memiliki klien di luar negeri. Sebagian besar perusahaan Barat telah memutus hubungan dengan perusahaan yang bermarkas di Rusia, katanya.

Perusahaan global seperti Goldman Sachs, JP Morgan dan Google telah menutup kantor mereka di Rusia dan memindahkan sebagian pegawai ke Dubai.

"Kejadian ini sangat menguras otak. Banyak orang angkat kaki karena banyak sekali pembatasan bisnis saat ini," kata Fatullev.

Harga properti naik pesat

A view of Dubai Marina

Getty Images

Bank sentral Rusia dilarang untuk mengambil cadangan devisa di luar negeri. Sebagian bank Rusia juga telah dicabut dalam sistem finansial Swift.

Untuk melindungi cadangannya, pemerintah Rusia mengaktifkan pembatasan modal dan melarang warganya ke luar negeri dengan dana lebih dari US$ 10.000 uang asing.

Kesulitan transfer uang tunai membuat banyak orang Rusia menggunakan pembayaran kripto. Sebagian pembelian memiliki perantara yang menerima pembayaran dalam bentuk kripto dan kemudian memberikan uang tunai atas nama pembeli.

Negara-negara Teluk termasuk Uni Emirat Arab dan Arab Saudi menolak seruan negara-negara Barat untuk menerapkan sanksi terhadap Rusia.

Uni Emirat Arab adalah satu dari hanya tiga negara, termasuk China dan India yang abstain dalam pemungutan suara di Dewan Keamanan PBB Februari lalu untuk mengecam invasi Rusia ke Ukraina. Uni Emirat Arab juga abstain dalam Majelis Umum PBB pada 7 April yang melakukan pemungutan suara untuk membekukan keanggotaan Rusia dan Dewan Hak Asasi Manusia PBB.

Meningkatnya investasi Rusia ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Uni Emirat Arab ditempatkan dalam "daftar abu-abu" oleh Financial Action Task Force (FAFT), pengawas kejahatan finansial global

Ini berarti, Uni Emirat Arab menghadapi monitor lebih ketat dalam upaya menghadapi pemutihan uang dan pendanaan teroris.

Pemerintah Uni Emirat Arab mengklaim mereka telah mengambil langkah signifikan untuk mengatur investasi dan telah menyatakan bahwa mereka tetap akan bekerja sama secara erat dengan FAFT.

Simak juga 'Restoran Burger di Kiev Ini Tetap Buka di Tengah Perang':

[Gambas:Video 20detik]




(nvc/nvc)