Rusia Akan Umumkan Kemenangan di Ukraina 9 Mei, Mengapa Tanggal Itu Penting?

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 30 Apr 2022 14:43 WIB
Parade militer pada Hari Kemenangan - 9 Mei - telah mendapat peran penting dalam kalender Rusia. (Getty Images)
Jakarta -

Pada tanggal 9 Mei, Rusia merayakan kemenangan mereka di Perang Dunia Kedua. Itu merupakan hari libur nasional yang lain dari yang lain, sangat personal bagi banyak keluarga tapi juga kesempatan besar untuk propaganda negara.

Tahun ini, 9 Mei juga tanggal penting bagi tentara Rusia, karena Presiden Putin diharapkan akan menggunakan kesempatan tersebut untuk mengumumkan kemenangan besar dalam perang di Ukraina. Mengapa tanggal itu begitu penting?

Perang Dunia Kedua adalah konflik bersenjata terbesar di dunia hingga saat ini. Peristiwa itu dimulai dengan invasi ke Polandia pada September 1939 (meski ini bukan tanggal yang diperingati Rusia) dan berakhir pada tahun 1945.

Puluhan juta orang tewas; jutaan lainnya mengungsi dari rumah mereka ke seluruh dunia.

Uni Soviet adalah salah satu negara dalam aliansi yang mengalahkan Nazi Jerman dalam PD II dan mungkin yang terdampak paling buruk, karena sebagian besar pertempuran terjadi di Soviet.

Penyerahan diri Jerman pada PD II.

Jerman menandatangani surat penyerahan diri dua kali - pertama kepada sekutu Barat di Rheims, Prancis, pada 7 Mei. (Hulton Archive/Getty Images)

Pada Mei 1945, Nazi menandatangani penyerahan tanpa syarat di PD II, menerima kekalahannya di Eropa. Dokumen legal ini mengakhiri pertempuran di kawasan tersebut, meskipun perang Sekutu melawan Jepang di Asia berlanjut sampai bulan Agustus tahun itu.

Penyerahan yang resmi dan definitif ditandatangani di dekat Berlin pada tanggal 8 Mei, dan Jerman secara resmi menghentikan semua operasi pada pukul 23:01 waktu setempat - sudah lewat tengah malam di Moskow.

Hari Kemenangan (Victory Day) juga dikenal dengan VE (Victory in Europe) Day, karena itu diperingati setiap tanggal 8 Mei di kebanyakan negara Eropa dan di AS, dan pada tanggal 9 Mei di Rusia, Serbia, dan Belarus.

Hari Kemenangan mengakhiri perang panjang dan berdarah yang di dalamnya banyak keluarga di Uni Soviet kehilangan orang-orang terkasih. Namun, tidak sampai lama kemudian tanggal 9 Mei tidak lagi sekadar hari peringatan tetapi menjadi alat ideologi penting bagi negara komunis itu.

Selama hampir dua dekade setelah perang dunia kedua berakhir, 9 Mei belum jadi hari libur nasional di Uni Soviet dan diperingati hanya di kota-kota besar dengan kembang api dan acara perayaan lokal.

Lonid BrezhnevGetty ImagesHari Kemenangan menjadi semakin penting bagi Soviet di bawah kepemimpinan Leonid Brezhnev.

Pada tahun 1963, pemimpin Uni Soviet waktu itu Leonid Brezhnev memulai kebijakan untuk menciptakan kultus kemenangan dalam perang melawan Nazi Jerman, kemungkinan untuk menguatkan basis ideologis negara dan sentimen patriotik.

Ini berarti acara di seluruh Soviet, termasuk parade militer di Lapangan Merah sehingga menjadikan 9 Mei sebagai tanggal merah.

Pada awal abad ke-21 Presiden Rusia Vladimir Putin berusaha membuat Hari Kemenangan itu menjadi lebih penting lagi, dengan menjadikannya bagian tak terpisahkan dari warga Rusia.

Perayaan Hari Kemenangan menjadi semakin meriah, namun setiap tahun semakin sedikit veteran perang dan saksi mata yang masih hidup dan bisa ambil bagian dalam pesta tersebut.

Narasi tentang perang besar Rusia dalam mengalahkan Nazisme juga diabadikan dalam amandemen Konstitusi Rusia pada 2020.

Di antara perubahan lainnya, yang menekankan nilai konservatif dan nasionalisme, warga Rusia dilarang mempertanyakan narasi sejarah resmi tentang kemenangan tersebut.

Presiden PutinGetty ImagesVladimir Putin memainkan peran penting dalam memegahkan perayaan Hari Kemenangan.

"Kultus Kemenangan dihidupkan kembali di Rusia pada tahun 2000-an dengan jauh lebih megah daripada di zaman Soviet. Itu sebabnya triumfalisme (perayaan kemenangan) terus mengemuka baik di media maupun dalam kesadaran massa," kata Oleg Budnitsky, Direktur Pusat Internasional untuk Sejarah dan Sosiologi Perang Dunia Ii di Sekolah Tinggi Ekonomi di Moskow kepada BBC.

"Ada konsekuensi positifnya: misal, fokus yang lebih besar pada sejarah perang. Jutaan dokumen dipublikasikan dan didigitalkan. Tetapi di sisi lain - kita menyaksikan peningkatan militerisasi massa," kata sang pakar, merujuk pada slogan"Kita bisa melakukannya lagi" yang mulai muncul dalam perayaan Hari Kemenangan Rusia selama satu dekade terakhir, kemungkinan besar mengisyaratkan bahwa tentara Rusia dapat mengambil alih setengah dari Eropa lagi seperti pada tahun 1945.

Perayaan patriotik massal tidak memperkaya pengetahuan faktual. Sejarawan menunjukkan bahwa narasi Perang Dunia II, atau, Perang Patriotik Raya seperti yang dikenal di Rusia, kerap mengecilkan elemen-elemen kunci, seperti besarnya kerugian nyawa yang diderita Uni Soviet dalam upayanya menghentikan invasi Jerman.

Kuburan warga RusiaBBCJumlah warga Soviet yang tewas dalam PDII tidak diketahui secara pasti, namun diperkirakan mencapai 28 juta.

Menurut survei pemerintah pada 2020, mayoritas warga Rusia tidak banyak tahu tentang bagaimana dan di mana kerabat-kerabat mereka pada masa perang.

Kurang dari sepertiga anak berusia 18-24 tahun tahu kapan Perang Patriotik Raya dimulai (ketika Nazi Jerman menyerang Uni Soviet pada Juni 1941).

Sejak dimulainya ketegangan di timur Ukraina pada 2014, media pemerintah telah meningkatkan penekanan pada komponen patriotik dari perang melawan Nazi.

Ketika otoritas Rusia secara keliru mengklaim bahwa kelompok ekstrem kanan telah berkuasa di Ukraina, mereka menggarisbawahi peran historis Rusia dalam mengalahkan Fasisme.

Foto keluarga Rusia di masa perangBBCBanyak warga Rusia tidak tahu di mana keluarga mereka di masa perang.

Beberapa gerakan warga sipil di akar rumput untuk memperingati mereka yang gugur dalam perang diambil alih oleh negara. Misalnya, pada 2011, sekelompok jurnalis independen di kota Tomsk, Siberia, memulai gerakan untuk memperingati mereka yang gugur dalam perang dan menamakannya "resimen abadi".

Idenya adalah untuk berbaris pada Hari Kemenangan sambil memegang foto para korban perang, dengan cara ini menciptakan "resimen" kenang-kenangan. Inisiatif ini segera menyebar ke daerah-daerah lain di Rusia, dan menjadi fenomena nasional.

Pada 2015, organisasi negara dengan nama yang sama diciptakan, namun para pendiri gerakan aslinya tidak dilibatkan.

"Resimen abadi" menjadi inisiatif pemerintah di mana pekerja sektor negara, anak-anak sekolah, dan media pemerintah terlibat, kadang-kadang karena diwajibkan. Dengan cara ini otoritas Rusia tampaknya ingin menunjukkan bahwa hanya peringatan Hari Kemenangan yang disponsori negaralah yang benar.

Pawai Hari Kemenangan RusiaEPAPawai Hari Kemenangan - ini pada 2020 - telah menjadi jauh lebih megah sejak pertama kali diadakan pada 1963.

Pada 2020, perayaan ulang tahun ke-75 Kemenangan dalam Perang Dunia II harus dipindahkan dari Mei hingga akhir Juni karena pandemi Covid-19, tetapi masih menjadi salah satu acara Rusia paling mewah yang pernah ada.

Lebih dari 20.000 personel, ratusan pesawat, dan kendaraan lapis baja ikut serta dalam parade militer besar-besaran, memamerkan peralatan militer terbaru, yang bertujuan untuk membuat dunia terkesan dengan kekuatan Rusia.

Kurang dari dua tahun kemudian negara itu terlibat dalam invasi skala penuh ke Ukraina dengan menggunakan banyak peralatan yang sama. Tujuan Rusia, seperti yang disuarakan oleh Presiden Putin, adalah untuk "mendemiliterisasi" dan "mendenazifikasi" Ukraina.

Pesawat jet RusiaGetty ImagesBanyak pakar mengatakan bahwa militer Rusia ingin menggunakan acara tahun ini untuk merayakan kemenangan di Ukraina.

Ketika kampanye militernya gagal untuk segera membuahkan hasil - dengan mengambil alih Kyiv atau menggulingkan pemerintah Ukraina, misalnya - diperkirakan bahwa tanggal kemenangan yang diusahakan oleh para komandan Rusia adalah 9 Mei.

Jika pada hari itu Rusia berhasil mendapatkan kemenangan teritorial yang signifikan, maka Moskow akan dapat menciptakan kembali Hari Kemenangan untuk tujuan propaganda sekali lagi.

Perayaan Hari Kemenangan kemungkinan akan menjadi kesempatan bagi pihak berwenang untuk menegaskan klaim mereka bahwa "operasi militer khusus" Rusia di Ukraina bukanlah agresi perang tetapi perjuangan untuk membasmi Nazisme, sebuah klaim yang tidak didukung oleh peristiwa sehari-hari di lapangan.

Simak Video: Jokowi Undang Putin dan Zelensky ke KTT G20 di Bali

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)