Apa yang Diinginkan Putin dari Ukraina untuk Mengakhiri Perang?

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 31 Mar 2022 17:30 WIB
EPA
Kiev -

Delegasi Rusia dan Ukraina telah mengadakan pembicaraan tatap muka di Istanbul, Turki, untuk membahas perang antara kedua negara.

Kedua pihak sebelumnya telah mengumumkan beberapa posisi mereka kepada publik.

Ukraina mengatakan akan mempertimbangkan permintaan Moskow mengenai netralitas, tetapi tidak akan berkompromi terkait wilayah.

Rusia menyerukan "de-nazifikasi" dan "demiliterisasi" Ukraina, tanpa mengklarifikasi arti sebenarnya dari tuntutan tersebut.

Setelah lima pekan pengeboman, ribuan kematian di kota-kota yang hancur dan perpindahan lebih dari 10 juta orang di Ukraina dan sekitarnya, apa yang diinginkan Putin guna mengakhiri perang?

Berikut adalah ringkasan dari apa yang mungkin diminta pihak Rusia dalam negosiasi.

Ukraina 'Netral'

Rusia telah lama menuntut agar Ukraina tetap "netral" sehubungan dengan perluasan aliansi militer Barat, NATO.

Faktanya, beberapa analis meyakini hal ini merupakan "alasan utama" invasi Rusia ke Ukraina, kata Pascal Lottaz, ahli tentang netralitas di Waseda Institute for Advanced Study di Jepang.

A handout photo made available by the Ukrainian Presidential Press Service shows Ukrainian President Volodymyr Zelensky during an interview via videolink with Russian media, in Kyiv (Kiev), Ukraine, 27 March 2022

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, telah mengindikasikan bahwa dia siap membahas tentang netralitas. (EPA)

Rusia kemungkinan akan meminta Ukraina menuliskan ke dalam konstitusinya sebuah janji supaya tidak pernah bergabung dengan NATO dan menandatangani perjanjian bilateral dengan Rusia guna memperkuat posisi ini, kata Lottaz.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, telah mengindikasikan bahwa dia siap membahas tentang netralitas, walau kurang jelas apa artinya ini tentang kemungkinan Ukraina bergabung dengan Uni Eropa (UE) di masa depan.

Menjadi anggota UE berarti akan ada jaminan keamanan bersama, dan tidak jelas bagaimana Ukraina dan Rusia memandang situasi seperti itu.

'Demiliterisasi'

Ini adalah poin lain yang bakal mencuat dalam perundingan, yaitu Ukraina melakukan demiliterisasi, tanpa NATO atau mitra Eropanya.

Apabila ini dipaksakan kepada Ukraina, akan membuat mereka sangat rentan terhadap kemungkinan invasi Rusia.

Namun Lottaz yakin poin terpenting dari tuntutan ini bukanlah membubarkan Ukraina, tetapi memastikan negara itu tidak memiliki senjata ofensif atau nuklir yang dapat mengancam keamanan Rusia - terutama senjata NATO.

Ukrainian army soldiers ride a tank on a road near where pro-Russian separatists fired heavy artillery, on the outskirts of the key southeastern port city of Mariupol, on September 5, 2014.

Putin mengatakan dia ingin memastikan Ukraina tidak akan menjadi ancaman masa depan bagi keamanan Rusia. (Getty Images)

Salah satu preseden yang berpotensi terulang dalam kasus Ukraina, adalah ketika AS menuntut Jepang meninjau ulang kekuatan pertahanannya usai Perang Dunia Kedua.

Semenjak itulah Jepang secara konstitusional dilarang menggunakan perang sebagai sarana untuk menyelesaikan perselisihan internasional.

Sebagai gantinya, Jepang dan AS menandatangani perjanjian bilateral dan Jepang menjadi tergantung kepada AS untuk keamanannya.

Lottaz yakin tuntutan Rusia tidak akan sejauh itu, dan kemungkinan berfokus menghilangkan kemampuan ofensif yang mungkin dimiliki Ukraina.

'De-nazifikasi'

Putin menuduh pemerintah Ukraina dikendalikan oleh kelompok neo-Nazi, yang kemudian dibantah oleh pengamat politik.

Tetapi dengan melontarkan tuduhan itu, Vladimir Putin membangkitkan ingatan kuat tentang serangan Hitler di Uni Soviet, dan dia menyamakannya dengan serangan terhadap kelompok separatis Rusia di Ukraina timur.

Tuduhan Nazi ini kemungkinan serangan personal kepada Presiden Zelensky, yang berasal dari keluarga Yahudi. Para kerabatnya ikut berperang melawan Nazi selama Perang Dunia Kedua.

Servicemen of Ukraine's Azov Battalion pray in the Ukraine's second-biggest city of Kharkiv on March 11, 2022.

Anggota sayap kanan Batalyon Azov secara resmi menjadi bagian dari pasukan Ukraina. (Getty Images)

Lottaz mengatakan "de-nazifikasi" kemungkinan adalah "jargon Rusia untuk adanya perubahan rezim", tetapi prospek ini menjadi semakin jauh ketika pasukan Ukraina melawan dan berhasil menghentikan kemajuan pasukan Rusia.

Demi menyelamatkan muka, Rusia dapat menerima bahwa Zelensky tetap berkuasa, tetapi berkeras membubarkan Batalyon Azov, kelompok sayap kanan yang memainkan peran kunci dalam perlawanan melawan Rusia, dari pasukan pertahanan Ukraina.

Lottaz mengatakan tuntutan ini "kemungkinan kecil dapat dilakukan" tetapi "tidak akan mengurangi fungsi pertahanan pasukan Ukraina itu sendiri".

Donetsk dan Luhansk

Setelah menggelar pembicaraan damai dengan Ukraina, Rusia mengumumkan strategi militer baru yang "secara dramatis" mengurangi serangan di Kyiv.

Sebaliknya, mereka fokus kembali ke wilayah berbahasa Rusia di Ukraina timur, yang dikendalikan oleh kelompok separatis yang didukung Rusia.

A Russian flag flies near Pro-Russia militants sitting atop a 2S1 Gvozdika (122-mm self-propelled howitzer) as a convoy of pro-Russian forces takes a break as they move from the frontline near the eastern Ukrainian city of Starobeshevo in Donetsk region, on February 25, 2015.

Kelompok separatis yang didukung Rusia menguasai wilayah timur Ukraina dan Rusia dapat menuntut agar mereka berpisah dari Ukraina. (Getty Images)

Moskow dapat menuntut agar Ukraina menyerahkan kantong-kantong kelompok separatis di dalam wilayah Donetsk dan Luhansk, di lembah sungai Donbas, yang menjadi pusat konflik.

Krimea

Kemungkinan Rusia juga akan menuntut supaya Ukraina secara resmi menerima pencaplokan wilayah Krimea oleh Rusia.

Semenanjung itu diserbu dan dianeksasi oleh Rusia pada 2014 dan secara de facto dikuasai oleh Moskow.

Apabila Kyiv menerima kondisi ini, hal itu akan menjadi kerugian teritorial yang besar bagi Ukraina.

Perjanjian Rusia-Ukraina, sebelum Putin berkuasa, pada 1997 mengakui kedaulatan Ukraina atas Krimea.

Bahasa Rusia

Kremlin juga dapat meminta jaminan bahwa penggunaan bahasa Rusia akan dilindungi di Ukraina.

Sejak konflik dengan Moskow meningkat pada 2014, Rusia menjadi titik perselisihan politik di Ukraina.

A man looks through a newspaper at a kiosk with Russian newspapers displayed outside in the Crimean port of Sevastopol on March 27, 2014.

Menanggapi tindakan Rusia di Ukraina, pihak berwenang Ukraina telah menolak penggunaan bahasa Rusia. (Getty Images)

Pada 2017, peradilan Ukraina melarang pengajaran bahasa Rusia di sekolah-sekolah dan semenjak saat itulah ada undang-undang lain yang membatasi penggunaan bahasa Rusia di negara tersebut.

Sejak Januari, semua surat kabar dan majalah nasional di Ukraina harus diterbitkan dalam bahasa Ukraina.

Apapun tuntutan Putin atas semua masalah itu, para pengamat politik mengatakan kesepakatan damai antara Ukraina dan Rusia bisa memakan waktu lama untuk dinegosiasikan.

Tetapi kedua negara memiliki alasan untuk mencapai satu kesepakatan.

Bagi Ukraina, ini tentang mencegah kematian lebih banyak di kalangan warga sipil, menahan kerugian material akibat penghancuran kota-kotanya, dan menghentikan aliran pengungsi ke negara-negara tetangga.

Bagi Rusia, ini tentang mengurangi konsekuensi dari korban besar di antara tentaranya sendiri dan sanksi ekonomi yang dikenakan oleh Barat - yang dampaknya dirasakan oleh masyarakat Rusia.

Apa isi pembicaraan Putin dengan Erdogan?

Sebelumnya, dalam pembicaraan dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, melalui telepon pada 17 Maret lalu, Putin telah mengajukan sejumlah hal.

Turki telah memposisikan diri dengan sangat hati-hati sebagai perantara Rusia-Ukraina, dan upaya itu tampaknya membuahkan hasil.

Putin menelepon Erdogan dan menyampaikan apa yang sebenarnya menjadi tuntutan Rusia untuk mencapai kesepakatan damai dengan Ukraina.

Dalam kurun setengah jam setelah perbincangan via telepon itu berakhir, editor BBC bidang internasional, John Simpson, mewawancarai penasihat sekaligus juru bicara utama Erdogan, Ibrahim Kalin. Kalin adalah satu dari sebagian kecil pejabat yang mendengarkan perbincangan itu.

Menurut Kalin, tuntutan Rusia terdiri atas dua kategori.

Empat tuntutan pertama Rusia tidak terlalu sulit untuk dipenuhi Ukraina.

Tuntutan utama adalah Ukraina diminta untuk netral dan tidak berupaya untuk bergabung dengan NATO. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah menerima hal ini.

Ada tuntutan lain dalam kategori ini, yang sepertinya akan menjadi penyelamat muka Rusia.

Ukraina harus menjalani perlucutan senjata untuk memastikan bahwa negara itu bukan ancaman bagi Rusia. Ada pula sesuatu yang disebut sebagai de-Nazifikasi.

Tuntutan ini sangat menyinggung Zelensky, yang merupakan seorang Yahudi dan beberapa kerabatnya tewas dalam Holokos. Tetapi Turki yakin Zelensky akan cukup mudah menerima ini.

Ukraina dirasa cukup mengutuk seluruh bentuk neo-Nazisme dan berjanji akan menindaknya.

Kategori kedua adalah yang bagian yang sulit. Dalam percakapan dengan Erdogan melalui telepon, Putin mengatakan perlu negosiasi tatap muka antara dia dan Presiden Zelensky sebelum kesepakatan tercapai pada poin-poin ini.

Zelensky juga telah menyatakan siap bertemu Putin untuk bernegosiasi secara langsung.

Kalin kurang menjelaskan secara spesifik tentang poin ini, namun dia mengatakan bahwa tuntutan itu melibatkan status Donbas -sebuah wilayah di Ukraina Timur yang telah memisahkan diri dari Ukraina dan memilih Rusia. Status Krimea juga perlu dibahas.

Rusia diasumsikan akan menuntut agar Ukraina menyerahkan wilayah di timur Ukraina itu. Hal tersebut akan sangat kontroversial.

Asumsi lainnya, Rusia akan menuntut agar Ukraina secara resmi mengakui bahwa Krimea -wilayah yang dicaplok Rusia secara ilegal pada 2014adalah bagian dari Rusia. Apabila ini yang dituntut, maka ini akan menjadi pil pahit yang harus ditelan Ukraina.

Putin

Getty Images

Hal ini menjadi semacam klaim sepihak, meskipun Rusia tidak memiliki hak hukum untuk mengklaim Krimea dan telah menandatangani perjanjian internasional bahwa Krimea adalah bagian dari Ukraina. Tetapi itu terjadi sebelum Vladimir Putin berkuasa, tepatnya setelah jatuhnya komunisme.

Bagaimanapun, tuntutan Presiden Putin tidak sekeras yang dikhawatirkan oleh sejumlah pihak dan dirasa tidak sebanding dengan seluruh kekerasan, pertumpahan darah, hingga kehancuran yang disebabkan Rusia di Ukraina.

Mengingat kendali besar Putin atas media Rusia, tidak akan sulit baginya untuk menampilkan kesepakatan itu sebagai sebuah kemenangan.

Sementara itu, Ukraina akan menghadapi kekhawatiran yang serius.

Apabila detil kesepakatan tidak dirampungkan dengan sangat hati-hati, Presiden Putin atau pun penerusnya akan selalu berpeluang memanfaatkan itu sebagai alasan untuk kembali menyerang Ukraina.

Kesepakatan damai ini mungkin akan memakan waktu yang lama, walau gencatan senjata dapat menghentikan pertumpahan darah sementara waktu.

Rusia menyerang Ukraina:

Mengapa Putin ingin Ukraina menjadi negara netral?

Sejak Ukraina meraih kemerdekaan pada 1991, seiring dengan kolapsnya Uni Soviet, Ukraina secara perlahan mengarah ke Baratbaik Uni Eropa maupun NATO.

Putin berupaya membalikkan keadaan ini. Dia melihat runtuhnya Uni Soviet sebagai "disintegrasi Rusia yang sarat sejarah".

Tahun lalu Putin merilis tulisan panjang yang menyebut bangsa Rusia dan Ukraina adalah "satu bangsa". Dia juga mengklaim negara modern Ukraina diciptakan seutuhnya oleh komunis Rusia. "Ukraina tidak pernah punya tradisi kenegaraan yang asli," sebutnya.

Pada 2013, dia menekan pemimpin Ukraina pro-Rusia, Viktor Yanukovych, agar tidak menandatangani perjanjian dengan Uni Eropa. Tindakan ini memicu rangkaian aksi protes yang berujung pada lengsernya Yanukovych pada Februari 2014.

Rusia lantas membalas pada 2014 dengan mencaplok Krimea di selatan serta memicu aksi pemberontakan di timur. Rusia mendukung kaum pemberontak yang memerangi pasukan Ukraina selama delapan tahun yang menewaskan 14.000 jiwa.

Sempat terjadi gencatan senjata serta kesepakatan damai di Minsk pada 2015, namun tidak pernah diterapkan.

Sebelum melancarkan invasi, Putin merobek perjanjian damai dan mengakui wilayah Donetsk dan Luhansk sebagai negara merdeka yang terpisah dari Ukraina.

Selagi mengirimkan pasukan untuk menginvasi Ukraina, Putin menuduh NATO mengancam "masa depan kami sebagai sebuah bangsa". Dia juga menuduh tanpa dasar bahwa negara-negara anggota NATO ingin mendatangkan perang di Krimea.

Baca juga:

rusia ukraina

BBC

Apakah ada jalan keluar dari perang ini?

Penasihat kepresidenan Ukraina, Mykhailo Podolyak, meyakini gencatan senjata bisa dimulai dalam beberapa hari mendatang karena pasukan Rusia mandek pada posisi mereka saat ini.

Kedua negara telah mengutarakan bahwa terdapat kemajuan dalam perundingan. Podolyak mengklaim bahwa Presiden Rusia telah melunakkan sejumlah tuntutannya.

Pada awal perang, Putin mendesak Ukraina untuk mengakui Krimea sebagai bagian dari Rusia dan mengakui kemerdekaan dua wilayah separatis di bagian timur. Ukraina juga didesak mengamandemen konstitusi yang menjamin tidak akan bergabung dengan NATO dan Uni Eropa.

Status Krimea serta wilayah separatis Luhansk dan Donetsk masih jauh dari kejelasan, namun ditengarai status ketiga wilayah tersebut tidak akan membatalkan perundingan jika Ukraina dan Rusia memilih membahas topik itu lain kali.

Baca juga:

Rusia tampak menerima bahwa mereka tidak bisa melengserkan presiden Ukraina dan menggantinya dengan pemerintahan boneka, seperti terjadi di Belarus. Presiden Volodymyr Zelensky berkata pada awal invasi, "pihak musuh menjadikan saya target nomor satu; keluarga saya target nomor dua."

"Sepertinya [Putin] harus menerima daftar yang jauh lebih terbatas," kata Tatiana Stanovaya, dari lembaga kajian RPolitik dan Carnegie Moscow Center.

Rusia ditengarai sedang mempertimbangkan untuk menerima Ukraina yang "netral dan demiliterisasi" seperti Austria dan Swedia dua anggota Uni Eropa.

Austria netral, tapi Swedia tidak. Bahkan Swedia tidak berpihak dan ambil bagian dalam latihan-latihan NATO.

Akan tetapi tidak semua kalangan yakin Rusia berunding dengan iktikad baik. Menlu Prancis mengatakan Moskow seharusnya menetapkan gencatan senjata terlebih dulu, karena perundingan tidak bisa digelar "sambil menodongkan senjata ke kepala".

Nato and US extra troops in Eastern Europe

BBC

Apa permintaan Ukraina?

Permintaan Ukraina jelas, kata penasihat kepresidenan Ukraina, Mykhailo Podolyak.

Gencatan senjata, penarikan mundur pasukan Rusia, serta jaminan keamanan yang mengikat secara hukum dari negara-negara sekutu sehingga mereka akan secara aktif mencegah serangan dan "ikut serta dengan aktif di pihak Ukraina saat konflik".

Membuat Rusia menarik mundur pasukannya ke posisi sebelum perang tidak hanya merupakan tuntutan Ukraina, tapi juga batasan bagi negara-negara Barat, yang akan menolak "konflik beku" dengan Rusia, menurut Marc Weller, professor hukum internasional dan mantan pakar mediasi PBB.

Ukrainian Presiden Volodymyr Zelensky

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berada di garis depan. (EPA)

Ukraina juga telah melunakkan pendiriannya sejak invasi Rusia. Presiden Zelensky berkata rakyat Ukraina kini paham NATO tidak akan menjadikan mereka sebagai anggota. "Itu adalah kebenaran dan harus diakui".

"Kami tengah membuat sejumlah dokumen yang dapat didiskusikan dan ditandatangani presiden. Jelas dokumen-dokumen tersebut akan terwujud dalam waktu dekat karena itu satu-satunya cara mengakhiri perang ini," kata Podolyak kepada media AS, PBS.

Ukraina, Rusia

BBC

Bagaimana ke depannya bagi Rusia?

Presiden Putin terkesima oleh kekuatan respons negara-negara Barat setelah dia menginvasi Ukraina. Dia tahu bahwa anggota-anggota NATO tidak akan mengirim pasukan ke Ukraina, tapi dia tidak menebak dampak rangkaian sanksi terhadap ekonomi Rusia. Atas hal itu, dia marah besar.

Uni Eropa, AS, Inggris, dan Kanada menggempur ekonomi Rusia dengan berbagai cara:

  • Aset-aset bank sentral Rusia dibekukan dan bank-bank utama Rusia dikeluarkan dari jaringan transfer uang internasional, SWIFT.
  • AS melarang impor minyak dan gas Rusia, Uni Eropa berencana memangkas impor gas hingga dua-pertiga dalam setahun, sedangkan Inggris berencana tak lagi menggunakan minyak Rusia pada akhir 2022.
  • Jerman menghentikan persetujuan atas jaringan pipa gas Nord Stream 2 dari Rusia, investasi besar bagi perusahaan-perusahaan Rusia dan Eropa.
  • Maskapai penerbangan Rusia dilarang terbang di wilayah udara Uni Eropa, Inggris, dan Kanada.
  • Rangkaian sanksi pribadi dijatuhkan pada Presiden Putin, Menlu Sergei Lavrov, dan individu-individu lainnya.

Kesepakatan damai dengan Ukraina tidak akan mengakhiri deretan sanksi tersebut dan Vladimir Putin tahu itu. Dia justru memenjarakan warga Rusia yang menentang perang.

Hampir sebanyak 15.000 demonstran anti-perang telah dipenjarakan dan semua media independen dibungkam.

Tiada kubu oposisi yang berani menentang Putin. Mereka telah kabur dari Rusia, atau dalam kasus pemimpin oposisi Alexei Navalny, dipenjarakan.

"Rakyat Rusia akan selalu bisa membedakan mana patriot yang sebenarnya serta mana yang bedebah dan pengkhianat," kata Putin.

Graphic showing Nato's expansion since 1997

BBC

(nvc/nvc)