Taliban Batal Izinkan Anak Perempuan Afghanistan Bersekolah, PBB Sangat Kecewa

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 26 Mar 2022 15:36 WIB
Para siswi tiba di sekolah di Kabul, Afghanistan, Rabu (23/03). (Getty Images)
Kabul -

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan sangat kecewa dengan keputusan Taliban yang tetap menutup sekolah menengah bagi perempuan di Afghanistan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, melalui juru bicaranya Stephane Dujarric, menggambarkan, langkah Taliban itu sebagai tindakan yang sangat merusak bagi anak perempuan dan masa depan Afghanistan.

"Sekjen PBB sangat menyesalkan pengumuman otoritas Taliban di Afghanistan bahwa pendidikan anak perempuan dari kelas enam ke atas telah ditangguhkan sampai pemberitahuan lebih lanjut."

"Kegagalan otoritas membuka kembali sekolah bagi anak perempuan, meskipun ada komitmen berulang, merupakan kekecewaan yang mendalam dan sangat merusak bagi Afghanistan," kata Dujarric.

Untuk itu, kata Dujarric, Guterres menyerukan agar Taliban membuka kembali lembaga pendidikan tanpa penundaan lebih lanjut.

Seorang juru bicara Kementerian Pendidikan Taliban mengatakan kepada wartawan bahwa sekolah-sekolah menengah akan tetap ditutup sampai rencana "komprehensif" dan "Islami" disusun.

Baca juga:

Sebelumnya, pada Rabu (23/03), Taliban mengurungkan keputusan untuk membolehkan anak perempuan kembali ke bangku sekolah menengah, dengan alasan masih memikirkan soal seragam yang harus mereka pakai.

Murid perempuan di Afghanistan menangis kecewa

Murid perempuan di Afghanistan menangis kecewa, setelah pemerintah Taliban membatalkan keputusan membuka sekolah untuk mereka. (BBC)

Mestinya sekolah di seluruh Afghanistan akan dibuka hari Rabu (23/03), menyusul penerapan pembatasan yang dikeluarkan Taliban sejak kelompok ini mengambil alih kekuasaan tujuh bulan lalu, pada Agustus 2021.

Namun, tiba-tiba saja Kementerian Pendidikan mengumumkan sekolah menengah untuk anak-anak perempuan belum akan dibuka, keputusan yang memicu kebingungan.

Pengumuman di menit-menit membuat anak-anak menangis karena kecewa.

Keputusan dikeluarkan sepekan setelah Kementerian Pendidikan Afghanistan mengatakan semua murid, termasuk siswa perempuan, akan kembali bersekolah mulai Rabu (23/03).

Pernyataan kementerian menyebutkan "semua siswi sekolah menengah dan sekolah-sekolah yang punya siswa perempuan di atas kelas enam masih akan tetap libur sampai ada pemberitahuan lebih lanjut".

Ditambahkan, sekolah untuk anak-anak perempuan akan dibuka kembali begitu ada keputusan terkait seragam sekolah "yang sesuai dengan hukum Islam dan tradisi Afghanistan".

Kekecewaan tak hanya dialami oleh murid-murid perempuan, tetapi juga para orang tua.

Seorang laki-laki yang enggan menyebut namanya kepada BBC mengatakan putrinya tak berhenti menangis dan sangat kecewa begitu tahu pemerintah Taliban tak membolehkannya kembali bersekolah.

"Jika sesuatu terjadi pada anak saya, saya tak akan pernah memaafkan Taliban," ujarnya.

Analisis Secunder Kermani, wartawan BBC di Pakistan

Saat Taliban berkuasa pada 1990-an, anak-anak perempuan sama sekali dilarang mendapatkan pendidikan. Dan sejak Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021, hanya anak perempuan usia sekolah dasar yang boleh mengenyam pendidikan formal.

Anak laki-laki sementara itu tetap boleh bersekolah di hampir semua wilayah Afghanistan.

Mestinya anak-anak perempuan dibolehkan masuk sekolah menengah mulai Rabu (23/03).

Di balik layar, para anggota Taliban mengakui pendidikan untuk anak-anak perempuan masih menjadi isu kontroversial di kalangan Taliban garis keras.

Pembatalan pembukaan sekolah bagi anak-anak perempuan menunjukkan perpecahan di kelompok ini dan menggarisbawahi sikap elemen garis keras yang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat secara umum.

Aktivis Mahouba Seraj, pendiri Jaringan Perempuan Afghanistan, mengatakan dirinya tak habis mengerti mengapa Taliban berubah pikiran.

Mahasiswa perempuan di Afghanistan

Masyarakat internasional menuntut anak-anak perempuan dibolehkan bersekolah sebagai syarat pencairan dana bantuan. (EPA)

Ia mempertanyakan mengapa tiba-tiba saja keputusan pembukaan sekolah dibatalkan karena urusan seragam.

Ia mengatakan seragam murid-murid perempuan selama ini tak menjadi masalah karena para siswi semua mengenakan hijab. Ia juga mengatakan di sekolah menengah ada pemisahan kelas antara siswa laki-laki dan perempuan.

Masyarakat internasional menuntut anak-anak perempuan dibolehkan bersekolah sebagai syarat pencairan dana bantuan.

Seraj mengatakan, masyarakat internasional harus tegas dan menyatakan, "Jika tak ada pengakuan [atas hak-hak perempuan], maka tidak akan ada uang bantuan. Titik."

Misi PBB di Afghanistan mengatakan "mereka sangat kecewa dengan pengumuman Taliban".

Sejumlah diplomat mengatakan penutupan sekolah menggerus kepercayaan terhadap Taliban.

Utusan khusus AS, Rina Amiri, mengatakan langkah Taliban "memupus harapan para orang tua yang menginginkan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak perempuan mereka".

(nvc/nvc)