Invasi Rusia Mengancam, Video Warga Ukraina 'Siap Angkat Senjata' Viral

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 29 Jan 2022 09:25 WIB
Kiev -

Ukraina

Bagaimana kondisi Ukraina di tengah ancaman invasi militer Rusia? (Getty Images)

Di satu sisi, diperkirakan 100.000 tentara Rusia sudah dikerahkan ke perbatasan Ukraina. Di sisi lain, Amerika Serikat bersama beberapa negara NATO mulai mengirimkan jutaan bantuan militer.

Tapi apa pendapat orang Ukraina mengenai hal itu?

Pekan ini sebuah video viral di Ukraina memperlihatkan seorang pria paruh baya menyatakan kesiapannya untuk membela keluarga dan negaranya dari potensi invasi Rusia. Dia terlihat tulus.

"Saya akan angkat senjata dan pergi berperang. Saya siap," katanya kepada kru TV dari saluran berita TV berbahasa Rusia, Current Time.

Dia mengatakan rencana daruratnya sudah siap.

Setelah membawa keluarganya ke rumah musim panas mereka, dia akan kembali ke kota Kharkiv dan mengangkat senjata.

Baca juga:

Kharkiv terletak kurang dari satu jam perjalanan dari perbatasan Ukraina-Rusia. Ribuan tentara Rusia saat ini ditempatkan tepat di perbatasan kedua negara.

Banyak pengamat, termasuk Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, memperingatkan kemungkinan ancaman terhadap kota Kharkiv yang mayoritas penduduknya berbahasa Rusia.

Posisi tentara Rusia di perbatasan dengan Ukraina

BBC

Namun, terlepas dari kekhawatiran banyak pengamat, orang-orang tetap tenang.

"Sejauh ini saya tidak melihat tanda-tanda kepanikan," kata Antonina Baranova, 27 tahun, seorang dosen universitas di Kharkiv. "Tidak ada antrean panjang di supermarket, tidak ada orang-orang yang menimbun makanan."

Presiden Zelensky sendiri, beberapa hari sebelum membunyikan alarm bahaya yang mengancam kota, juga menyerukan agar masyarakat tetap tenang.

"Tarik napas. Tenang. Tidak perlu memborong soba dan korek api," kata presiden dalam sambutannya.

Soba, gandum pokok Ukraina, korek api, air, pakaian, dan bahan bakar dilaporkan mulai ditimbun jika konflik tiba-tiba pecah.

Namun bagi mereka yang tinggal di Ukraina timur, di mana selama delapan tahun terakhir separatis yang didukung Rusia terus menguasai sebagian besar wilayah Luhansk dan Donetsk, menyaksikan rak-rak supermarket yang kosong dan krisis bahan bakar bukanlah hal baru.

Kekerasan di timur

Diperkirakan 14.000 orang tewas dalam konflik itu, meskipun perjanjian damai telah disepakati pada 2015.

Pekerja sosial Olena Beliayeva, sekarang berusia 43 tahun, menjelaskan bahwa dia harus berlindung di ruang bawah tanah bersama kedua anaknya ketika pemberontak pro-Rusia terus menyerang kota kelahirannya di Svitlodarsk sepanjang 2014 sampai 2015.

Sekarang, kata dia, kota ini kembali bersiap menghadapi situasi yang lebih buruk.

"Saya tahu tempat penampungan lain sedang didirikan di ruang bawah tanah taman kanak-kanak setempat," katanya.

Bagi mereka yang tinggal di timur seperti Olena, ini bukan masalah kapan atau apakah Rusia akan menyerang. Ini masalah apakah konflik saat ini akan meningkat lebih serius.

"Kami sekarang tahu, seperti pada 2014 dan 2015 ketika perang Donbas pecah, kami harus selalu menyiapkan dokumen perjalanan dan uang sewa."

Ukraina

Pasukan Ukraina di dekat Luhansk. (Getty Images)

Rusia membantah merencanakan invasi, tetapi negara itu telah merebut wilayah Ukraina dan dengan perkiraan 100.000 tentara dikerahkan di dekat perbatasan, dapat dimengerti bahwa orang-orang gelisah.

Bahkan warga minoritas Ukraina yang pro-Rusia, banyak dari mereka yang berusia lanjut dan yang bernostalgia dengan bekas Uni Soviet, tidak menginginkan eskalasi kekerasan setelah delapan tahun konflik.

Kegelisahan di ibu kota

Jauh dari penembakan dan kondisi sulit di tempat perlindungan, bagi orang yang tinggal di ibu kota Kiev, banyak yang mengatakan seperti hidup dengan kepribadian ganda.

Satu menit yang lalu Anda mencari tempat perlindungan serangan udara terdekat di internet, tapi menit berikutnya Anda hidup seperti biasa dengan pembeli di jalan-jalan dan bar yang penuh pada Jumat malam.

Tentu saja ada ketakutan baru, tetapi setelah hampir satu dekade konflik terus-menerus di timur, banyak orang Ukraina mengatakan bahwa mereka telah belajar untuk hidup dengan keamanan yang minim.

"Kami orang Ukraina mungkin adalah bangsa yang paling keras di Eropa karena ancaman terus-menerus dari Rusia di perbatasan kami," kata Fedir Balandin, 44 tahun, seorang pengusaha dari Kiev.

Dia memiliki salah satu bar tertua di pusat kota serta agen perjalanan.

Dia menggambarkan pikirannya sudah "dikondisikan untuk bersiap" terhadap apapun yang akan terjadi selanjutnya, entah menyumbangkan uang atau mendukung tentara.

Seperti semua teman dan pelanggannya, kata dia, mereka siap membela negara.

(nvc/nvc)