AS Sebut Rusia Mungkin Menyerbu Bulan Depan, Siapkah Ukraina Menghadapi?

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 29 Jan 2022 09:04 WIB
Kiev -

Presiden AS Joe Biden telah memperingatkan ada "kemungkinan yang jelas" Rusia akan menyerang Ukraina bulan depan, kata Gedung Putih.

Pernyataan itu muncul setelah Biden bertelepon dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky.

"Presiden Biden mengatakan bahwa ada kemungkinan yang jelas bahwa Rusia bisa menyerang Ukraina pada Februari," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih Emily Horne.

"Beliau telah mengatakan ini secara terbuka dan kami telah memperingatkan tentang ini selama berbulan-bulan."

Baca juga:

Sedangkan Rusia mengatakan melihat hanya "sedikit optimisme" dalam menyelesaikan krisis itu setelah AS menolak tuntutan utama Rusia.

Rusia, Ukraina

Tank-tank Rusia di dekat perbatasan Ukraina. (Reuters)

Pengerahan puluhan ribu tentara Rusia di perbatasan Ukraina dalam beberapa pekan terakhir telah memicu kekhawatiran invasi tersebut. Khawatir akan terjadi invasi, sejumlah negara menarik perwakilannya dari ibu kota Ukraina, Kiev.

Mengapa Rusia mengancam Ukraina?

Rusia menampik tuduhan mereka merencanakan invasi terhadap Ukraina, namun dalam sejarahnya, negara ini sudah pernah menguasai teritori Ukraina dan kini memiliki sekitar 100.000 tentara di perbatasan.

Rusia juga telah lama keberatan dengan Ukraina yang terus mendekat kepada institusi-institusi Eropa, terutama NATO.

Military strengths graphic

BBC

Ukraina berbagi perbatasan negara dengan Uni Eropa dan Rusia, namun sebagai salah satu bekas Republik Uni Soviet (USSR), ia memiliki ikatan sosial dan kultur yang erat dengan Rusia. Bahasa Rusia juga dipakai secara luas di sana.

Saat Ukraina menumbangkan presiden mereka yang pro-Rusia pada awal 2014, Rusia menganeksasi bagian selatan negara itu, Semenanjung Krimea, dan memberi sokongan pada kelompok separatis yang merebut sebagian besar wilayah timur Ukraina.

Sejak itu, para pemberontak ini kemudian memerangi militer Ukraina dalam konflik yang telah merenggut 14.000 nyawa.

Seberapa besar kemungkinan invasi?

Rusia bersikukuh mengatakan tak berencana menyerang Ukraina; dan Kepala Angkatan Bersenjata Rusia Valery Gerasimov mengecam pemberitaan tentang rencana invasi itu.

Tapi ketegangan terus meningkat, dan Presiden Vladimir Putin mengancam "tindakan pembalasan militer-teknikal yang pantas" bila apa yang disebutnya sebagai pendekatan agresif dari Barat ini terus berlangsung.

Sekretaris jenderal NATO memperingatkan risiko konflik sangat nyata dan Presiden Biden berkata, ia menebak Rusia akan melanjutkan penyerangan.

Amerika Serikat mengaku mengetahui bahwa pasukan Rusia akan masuk ke area Ukraina "dengan pemberitahuan mendadak".

AS juga berkata Rusia tidak memberi penjelasan apa-apa tentang penempatan pasukan di dekat perbatasan - dan fakta bahwa pasukan Rusia telah mengarah ke Belarus untuk latihan.

Pada Rabu (26/01), Biden berkata akan ada "konsekuensi besar" jika Rusia bergerak menyerang Ukraina. Dalam sesi wawancara dengan wartawan, Biden menjawab "ya" saat ditanya apakah AS akan menjatuhkan sanksi internasional kepada Presiden Putin bila invasi terjadi.

Kremlin dilaporkan marah akan pernyataan Biden ini. Dmitry Peskov, juru bicara Putin, berkata sanksi tidak akan "menyakiti" Putin, tapi aksi ini akan "merusak secara politik".

Sebelumnya, wakil menteri luar negeri Rusia membandingkan situasi sekarang dengan krisis misil di Kuba pada 1962, saat AS dan Uni Soviet nyaris terlibat dalam konflik nuklir.

Posisi tentara Rusia di perbatasan dengan Ukraina

BBC

Apa yang diinginkan Rusia dari NATO?

Rusia telah bicara "tanpa tedeng aling-aling" soal hubungannya dengan NATO: "Bagi kami, sangat wajib untuk memastikan Ukraina tidak pernah, selamanya, menjadi anggota NATO," kata Wakil Menteri Luar Negeri Sergei Ryabkov.

Moskow menuduh negara-negara NATO "memompa" Ukraina dengan persenjataan dan bahwa AS memanas-manasi suasana. Presiden Putin sempat mengeluh bahwa Rusia "tidak bisa pergi ke mana pun - apakah mereka pikir kita akan diam saja?"

Ukrainian President Volodymyr Zelensky

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di garis depan perbatasan, Desember 2021. (EPA)

Kenyataannya, Rusia ingin NATO kembali ke perbatasannya di era sebelum 1997.

Rusia ingin ekspansi ke timur dan mengakhiri aktivitas militer NATO di Eropa Timur. In berarti, unit-unit pertahanan ditarik dari Polandia dan republik-republik Baltik di Estonia, Latvia, dan Lithuania.

Juga, tidak ada misil yang boleh ditembakkan dari negara-negara seperti Polandia dan Rumania.

Rusia juga telah mengusulkan pakta perjanjian dengan AS yang melarang senjata nuklir ditembakkan di luar wilayah nasionalnya.

A graphic showing Nato's expansion since 1997

BBC

Apa yang diinginkan Rusia dari Ukraina?

Pada 2014, Rusia menduduki Krimea dan mengaku memiliki klaim sejarah atasnya. Ukraina adalah bagian dari Uni Soviet, yang runtuh pada Desember 1991, dan Presiden Putin pernah berkata bahwa peristiwa itu adalah "disintegrasi sejarah Rusia".

Tanda-tanda bahwa Putin sudah sejak lama memikirkan Ukraina adalah ketika tahun lalu ia menyebut rakyat Rusia dan rakyat Ukraina "satu bangsa".

Dia melabeli para pemimpin Ukraina sekarang sebagai "proyek anti-Rusia".

Map of eastern Ukraine

BBC

Rusia juga merasa frustrasi dengan perjanjian perdamaian Minsk 2015 untuk Ukraina timur yang sampai kini jauh dari dipenuhi.

Masih belum ada rencana untuk diadakannya pemilu independen yang dimonitor di wilayah-wilayah separatis. Meski, Rusia menolak tuduhan bahwa ini adalah bagian dari konflik sekarang.

Apakah aksi Rusia bisa dihentikan?

Presiden Vladimir Putin telah beberapa kali melakukan perbincangan dengan Presiden Joe Biden, dan hingga kini, diskusi tingkat tinggi terus berlanjut.

Namun para pejabat Rusia memperingatkan bahwa penolakan Barat atas permintaan-permintaan kunci mereka telah mengakibatkan perbincangan ini "buntu".

Pertanyaannya sekarang, seberapa jauh Rusia akan beraksi. Presiden Biden memperingatkan, invasi skala besar akan mengakibatkan bencana bagi Rusia.

Tapi jika serangan ini hanya kecil semata, dia berkata, negara-negara Barat akan "saling ribut soal apa yang harus dilakukan".

Gedung Putih menekankan, gerakan apapun yang melewati perbatasan akan dihitung sebagai invasi - namun juga memperingatkan bahwa Rusia memiliki persenjataan lain, termasuk serangan siber dan taktik paramiliter.

Pentagon menuduh Rusia menyiapkan apa yang disebut operasi bendera-palsu, di mana anggotanya akan menyabotase pemberontak yang dibeking Rusia, sehingga ada alasan untuk invasi. Rusia menyangkal tuduhan ini.

Rusia juga telah membagikan 500.000 paspor kepada orang-orang yang tinggal di wilayah yang dikuasai para pemberontak, sehingga jika mereka tidak mendapatkan kemauannya, Rusia dapat membenarkan aksi mereka dengan alasan melindungi warga negaranya.

Tapi jika tujuan utama Rusia adalah untuk mengusir NATO dari wilayahnya, Rusia sepertinya akan gagal.

Sebanyak 30 negara anggota NATO menolak permintaan Rusia. "Kami tidak akan membiarkan siapapun menutup pintu pada kebijakan pintu terbuka NATO," kata Wakil Menteri Dalam Negeri AS Wendy Sherman.

Ukraina menginginkan garis waktu yang jelas untuk bergabung dengan NATO, dan lembaga ini berkata Rusia "tidak punya veto, tidak berhak mengganggu proses ini".

Apakah Barat akan membantu Ukraina?

AS telah dengan jelas menyatakan tidak akan mengirim pasukan untuk berperang membantu Ukraina, namun di sisi lain, mengaku berkomitmen membantu Ukraina mempertahankan "wilayah kedaulatannya".

Alat utama untuk melakukannya adalah ancaman sanksi internasional dan bantuan militer berupa penasihat dan persenjataan.

Russian President Vladimir Putin holds talks with U.S. President Joe Biden via a video link in Sochi, Russia December 7, 2021

Reuters

Ancaman Biden tentang sanksi "yang sangat memberatkan" Rusia itu, bisa berarti beberapa hal.

Pukulan ekonomi yang utama adalah pemutusan koneksi sistem perbankan Rusia dari sistem pembayaran internasional Swift. Ini biasanya menjadi senjata pamungkas, tapi Latvia berkata tindakan ini akan mengirim pesan kuat untuk Moskow.

Ancaman keras lainnya adalah upaya untuk menghalangi pembukaan pipa gas Nord Stream 2 milik Rusia di Jerman, dan persetujuan untuk proyek ini saat ini sedang diputuskan oleh regulator energi Jerman.

Ada pula tindakan yang terkait dengan dana kekayaan negara Rusia, RDIF, atau pembatasan penukaran mata uang rouble ke mata uang negara lain di bank-bank.

Tapi negara-negara Barat masih terbelah. Washington mengatakan berkomitmen untuk "menetapkan langkah" dengan sekutu-sekutunya, tapi ada perpecahan antara AS dan Eropa.

Para pemimpin Eropa berkeras Rusia tidak bisa begitu saja menentukan masa depan dunia bersama AS. Prancis mengusulkan supaya negara-negara Eropa bekerja bersama dengan NATO dan melakukan dialog sendiri dengan Rusia.

Presiden Ukraina menginginkan diadakan pertemuan internasional untuk memecahkan konflik ini, yang melibatkan Prancis, Jerman dan Rusia.

Lihat Video: Bersiap Hadapi Invasi Rusia, Warga Ukraina Dilatih Tempur

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)