Gerhana Bulan Sebagian Terlama Abad Ini Berlangsung 3 Jam Lebih, Ini Bentuknya

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 20 Nov 2021 08:57 WIB
Gerhana bulan sebagian tampak dari menara Tokyo Skytree. (Reuters)
London -

Gerhana bulan sebagian yang terjadi pada Jumat (19/11) ini merupakan gerhana bulan terlama di abad ini.

Bulan tertutup bayangan Bumi selama tiga jam dan 28 menit, menurut NASA. Pada 2018, gerhana bulan total terlama terjadi dengan durasi satu jam, 42 menit, dan 57 detik.

Kebanyakan gerhana bertahan selama kurang dari dua jam, maka peristiwa gerhana bulan sebagian yang datang nanti akan menjadi yang terpanjang di abad ini.

Untuk Indonesia, menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Lapan, gerhana sebagian dapat dilihat terlama di Papua, dengan durasi dua jam dan 20 menit.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, BMKG menyiarkan streaming gerhana bulan sebagian ini di sejumlah wilayah termasuk Jakarta, Bandung, Sleman dan Aceh selatan.

Di bawah ini, foto-foto gerhana bulan sebagian di sejumlah negara.

gerhana bulan sebagian

Di Jepang, dari gedung Tokyo Skytree dari sisi lain. (Reuters) gerhana bulan sebagian

Gerhana bulan di Catania, Sisilia, Italia. (Reuters) gerhana bulan sebagian

Santiago, Chile (Reuters) gerhana bulan sebagian

Washington DC (EPA) gerhana bulan sebagian.

Kota New York (Reuters)

Bulan di akhir November ini juga dikenal dengan nama 'frost moon' atau 'beaver moon'.

Baca juga:

Ini juga berarti, gerhana bulan kali ini akan menjadi 'blood moon' sebagian, di mana semburat warna kemerahan akan terlihat di permukaan Bulan.

'Blood moon' adalah nama lain yang diberikan untuk gerhana bulan total, yang terjadi ketika posisi Bumi terletak tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi menutupi Bulan - dan menghalangi sinar Matahari.

November ini, 97% dari Bulan akan tertutup Bumi.

Di abad ini, antara 2001 hingga 2100, akan ada sebanyak 288 peristiwa gerhana bulan. Kebanyakan tahun akan memiliki dua peristiwa gerhana, sementara beberapa tahun mengalami tiga atau empat kali gerhana bulan.

Pada Mei 2021, kita telah melihat peristiwa gerhana bulan total. Ini menjadikan gerhana bulan pada 19 November nanti sebagai yang kedua pada tahun ini.

gerhana bulan sebagian

Gerhana bulan total yang terjadi pada Mei 2021 tampak di Surabaya. (Getty Images)

Menurut NASA, apabila cuaca bersahabat, "sebagian besar orang di planet ini" akan dapat menyaksikan gerhana bulan sebagian nanti. Ini termasuk wilayah di Amerika Utara dan Selatan, Asia Timur, Australia, dan wilayah Pasifik.

Di Indonesia, puncak gerhana bulan parsial ini bisa disaksikan pada pukul 16.02 WIB di sebagian wilayah, menurut Pussain Lapan.

gerhana bulan sebagian

Gerhana bulan tampak dari Rusia (Getty Images)

Gerhana bulan sebagian mungkin tidak semenakjubkan gerhana bulan total, namun ini terjadi lebih sering.

Artinya, "lebih banyak kesempatan untuk menyaksikan perubahan-perubahan kecil di sistem tata surya kita, yang terkadang terjadi tepat di depan mata," kata NASA.

NASA juga akan menyediakan layanan livestream saat gerhana bulan terjadi.

Hujan meteor, Nadir Ka'bah, dan kembalinya Orion

Fenomena lain yang juga terjadi pada November adalah sejumlah hujan meteor yang tersebar sejak awal hingga akhir bulan.

hujan meteor

Ilustrasi hujan meteor (Getty Images)

Hujan meteor Taurid Selatan yang aktif sejak 25 September hingga 25 November mencapai intensitas maksimum pada 6 November.

Jika Anda melewatkan hujan meteor Taurid Selatan yang sudah berlalu, pada 9-10 November akan ada puncak hujan meteor Andromedid, yang titik radiannya berada di dekat konstelasi Andromeda, disusul oleh puncak hujan meteor Taurid Utara (12-13 November).

Hujan meteor Leonid, juga dapat disaksikan pada 18-19 November sejak pukul 03.00 waktu setempat hingga akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbit Matahari). Intensitas hujan meteor yang berasal dari sisa debu komet 55P/Temple-Tuttle ini memiliki intensitas 11-14 meter per jam untuk wilayah Indonesia.

Baca juga:

Di akhir bulan, hujan meteor Alfa Monocerotid (21-22 November) dan hujan meteor Orionid November (28-29 November) akan mencapai puncaknya.

Sementara itu, juga pada 29 November, fenomena astronomis Nadir Ka'bah akan terjadi. Ini adalah peristiwa yang terjadi ketika Matahari berada tepat di nadir (titik terbawah) saat tengah malam bagi pengamat langit yang berlokasi di Ka'bah.

Karena bentuk Bumi yang bulat, Matahari akan berada tepat di atas titik antipode Ka'bah - atau titik yang terletak di belahan Bumi yang berlawanan dengan Ka'bah - ketika tengah hari.

Pada saat itu, ujung bayangan Matahari yang mengalami pagi, siang, dan sore akan mengarah ke kiblat. Fenomena ini terjadi dua kali dalam setahun, dan yang pertama telah berlangsung pada 13 Januari lalu.

Orion

Rasi bintang Orion (Getty Images)

Para pengamat langit juga akan merayakan kembalinya Konstelasi Orion di langit pada bulan ini. Konstelasi atau rasi bintang adalah sekelompok bintang yang letaknya sedemikian rupa sehingga sebuah garis imajiner bisa dihubungkan menjadi bentuk tertentu.

Rasi bintang ini diberi nama dari seorang pemburu terkenal dalam mitologi Yunani, Orion. Konstelasi ini dapat mulai dilihat kembali setelah pukul 22.00.

Salah satu bagian paling terkenal dari rasi bintang Orion adalah tiga bintang yang bersinar terang di tengah-tengah, seperti sabuk. Namun konstelasi ini juga memiliki dua bintang dengan sinar yang paling terang di langit malam, Bellatrix dan Betelgeuse, yang membentuk bahu Orion.

(nvc/nvc)