60% Orang Asia Selatan Punya Gen Lebih Berisiko Fatal terhadap Corona

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 08 Nov 2021 13:46 WIB
Temuan menunjukkan sebanyak 60% orang Asia Selatan dan 15% orang keturunan Eropa memiliki gen yang berisiko tinggi terkena Covid. (Getty Images)
Jakarta -

Para peneliti Universitas Oxford di Inggris telah menemukan gen yang menggandakan risiko gagal napas dan kematian akibat Covid-19.

Temuan itu menunjukkan sebanyak 60% orang Asia Selatan dan 15% orang keturunan Eropa memiliki gen yang berisiko tinggi tersebut.

Namun, para peneliti mengatakan bahwa vaksin berperan penting mengurangi risiko tersebut secara signifikan.

Studi yang dilakukan oleh The Nature Genetics ini juga menyinggung mengapa beberapa kelompok masyarakat di Inggris dan Asia Selatan lebih berisiko tinggi terhadap Covid-19.

Sayangnya, hal itu tidak dijelaskan secara rinci.

Baca juga:

Dalam studi itu, peneliti menggunakan kombinasi kecerdasan buatan dan teknologi molekuler baru untuk mengidentifikasi gen bernama LZTFL1, yang berkontribusi pada peningkatan risiko.

Peneliti juga memperkirakan bahwa gen yang berisiko itu ada pada sekitar 2% orang Afrika-Karibia dan 1,8% orang keturunan Asia Timur.

Meski demikian, Kepala peneliti Profesor James Davies menekankan bahwa temuan ini tidak serta merta berdampak pada seluruh populasi secara merata.

Ada beragam faktor, termasuk usia, yang berkontribusi pada risiko setiap individu.

Profesor Davies menambahkan, faktor sosial ekonomi juga berperan menyebabkan sejumlah kelompok masyarakat terdampak buruk oleh pandemi.

"Meskipun kita tidak bisa mengubah gen kita, tetapi hasil penelitian kami menunjukkan bahwa orang-orang yang berisiko tinggi akibat gen ini merasakan manfaat dari vaksinasi."

'Menggelincirkan pertahanan'

Para peneliti mempercayai bahwa versi gen yang berisiko ini membuat paru-paru seseorang menjadi lebih rentan terhadap virus corona.

Mereka berhipotesis bahwa gen yang berisiko tinggi itu menggagalkan mekanisme pertahanan utama yang biasanya digunakan oleh sel-sel yang melindungi paru-paru dari Covid-19.

Ketika sel yang melindungi paru-paru bertemu dengan virus korona, salah satu strategi bertahannya adalah dengan berubah menjadi sel yang lebih tidak spesifik dan tidak ramah terhadap virus.

Proses despesialisasi ini mengurangi jumlah protein kunci yang disebut sebagai ACE-2 di permukaan sel, yang merupakan kunci bagi virus korona untuk menempel pada sel.

CovidGetty Images

Namun pada orang-orang dengan gen LZTTFL1 yang berisiko, proses ini tidak bekerja dengan baik sehingga sel paru-paru dibiarkan rentan terhadap serangan virus.

Para ilmuwan berpendapat penting bagi gen yang terlibat mempengaruhi paru-paru, sepanjang tidak berdampak pada sistem kekebalan tubuh.

Ini berarti orang-orang yang berisiko tinggi masih bisa mendapatkan perlindungan dari vaksin.

Para ilmuwan juga berharap penemuan ini bisa membantu penemuan obat baru yang fokus pada paru-paru, mengingat sejauh ini sebagian besar pengobatan fokus pada sistem kekebalan tubuh.

(ita/ita)