Kisah Gadis Putus Sekolah dan Depresi Usai Jadi Meme Viral di Medsos

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 07 Sep 2021 11:10 WIB
Lara da Silva menjadi viral dan dibuat meme pada peristiwa 'neraka' 2015 (Archivo Personal)
Jakarta -

Peringatan: Artikel ini memuat sebuah foto yang melukai tubuh sendiri.

"Apa kamu sudah selesai, Jessica?" Lara da Silva bertanya menantang pada November 2015, usai berkelahi dengan temannya pada jam pulang sekolah di kota kecil Brasil, Alto Jequitib di Minas Gerais.

Remaja 12 tahun itu tidak membayangkannya sebelumnya, tapi apa yang terjadi hari itu akan melekat padanya di tahun-tahun berikutnya.

Sampai hari ini, situasi itu hadir di kehidupan Lara, melalui komentar yang tak terhitung yang ia terima maupun pada luka yang tergores di tubuhnya.

Periode yang berdampak besar setelah video rekaman perkelahiannya disebar ke media sosial.

Rekaman yang viral dengan kalimat "Apa kamu sudah selesai, Jessica?" dijadikan meme dan benar-benar mengubah kehidupan Lara, yang saat ini berusia 18 tahun.

"Ini sesuatu yang tak bisa sepenuhnya diterima. Jika saya memikirkannya terlalu banyak, ini membuat saya sakit. Ini bukanlah sesuatu yang saya sukai, tapi ini sudah terjadi, tak bisa ditarik kembali," kata gadis ini kepada BBC News Brazil.

Setelah peristiwa itu, remaja ini menjadi target perundungan, lalu putus sekolah, melukai dirinya sendiri dan mulai menjalani perawatan kesehatan mental.

Baca Juga:

Rekaman videonya dibawa ke pengadilan.

Lara, dan temannya yang muncul dalam rekaman itu, menggugat stasiun televisi dan platform yang telah menayangkan adegan perkelahian.

Dua remaja tersebut menyerukan agar rekaman video itu dihapus, dan meminta kompensasi atas kerugian materi dan immateri.

Hampir enam tahun kemdian, Lara memutuskan untuk menerima permintaan wawancara.

"Tak pernah ada satu orang pun yang bertanya, bagaimana semua ini berdampak terhadap saya," katanya, menjelaskan kenapa dia mau diwawancarai BBC News Brazil.

Putus sekolah

Peristiwa perkelahian itu terjadi di pertengahan November 2015.

Di pintu keluar sebuah sekolah umum di kota kecil Alto Jequitib berpenduduk lebih dari 8.000 jiwa, di Minas Gerais, remaja berkerumun karena melihat adegan perkelahian--peristiwa yang nantinya menyebar di internet.

Rekaman video menunjukkan Lara terbaring di jalanan, saat Jessica berada di atasnya.

Keduanya bergelut dengan agresif.

Lara kemudian berdiri, setelah Jessica mundur. Saat masih sempoyongan, Lara membenarkan rambutnya, dan bertanya menantang, "Apa kamu sudah selesai, Jessica?"

"Saat saya berdiri, saya pikir: dia mendorong saya sampai terjatuh, dia memukuli saya ketika saya terbaring di jalan, dan mungkin kembali lagi? Saat itulah saya mengucapkan kalimat, yang berakhir menjadi neraka dalam hidup saya," kata Lara.

Pertarungan fisik berakhir di situ.

Lara da SilvaArchivo personalLara saat ini berusia 18 tahun, setelah menghabiskan waktu-waktu depresi karena video perkelahiannya viral di media sosia.

Perkelahian ini dipicu karena Jessica cemburu terhadap pacarnya dengan Lara.

"Kami bahkan tak pacaran lagi, tapi dia mendekatinya," kata Jessica, dalam sebuah wawancara dengan situs Estado de Minas di tahun 2015, beberapa hari setelah videonya viral.

Dalam wawancara dengan Estado de Minas, Jessica juga mengatakan bahwa perkelahian itu dikarenakan Lara membuatnya kesal, dan menghina dirinya di sekolah.

Tapi Lara membantahnya. Baginya, alasan utama perkelahian itu karena Jessica cemburu dengan pacarnya.

Video viral

Perkelahian antara dua remaja perempuan itu dianggap sebagai situasi yang akan segera berlalu... kalau saja peristiwanya tidak disebar melalui jejaring media sosial oleh seseorang yang ikut menyaksikan adegan itu.

Saat mengetahui putrinya terlibat pertengkaran fisik setelah pulang sekolah, Deusiana Figueredo, Ibu Lara, terkejut.

"Saya tak pernah berkelahi sebelumnya, saya takut dengan perkelahian. Dia gadis yang sangat bodoh," katanya.

Lara y DeusianaArchivo PersonalDeusiana bersama putrinya.

Hari berikutnya, ibunya Lara dipanggil ke sekolah untuk berbicara dengan dewan sekolah dan dewan perwalian.

Dalam pertemuan itu, mereka yang bertanggung jawab atas anak-anaknya, menandatangani perjanjian yang menunjukkan bahwa mereka menyadari insiden tersebut. Mereka juga diminta berjanji untuk berbicara dengan anak-anak mereka yang terlibat perkelahian, untuk tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari.

Setelah insiden itu, Deusiana memperhatikan bahwa sesuatu yang tak wajar telah terjadi: banyak orang di kota kecil ini telah melihat rekaman video tersebut.

"Kami sangat sederhana, saya tak pernah membayangkan bahwa apa yang sudah terjadi, terjadilah. Mereka mulai menelpon saya, memberi tahu bahwa saya ada di internet, dan saya melihat situasinya menjadi serius. Saat itu menakutkan. Semua terjadi dengan sangat cepat," jelas Deusiana.

Kembali ke sekolah

Kembali ke dalam kelas, setelah rekaman video itu viral adalah situasi yang dramatis bagi Lara.

"Saya tak bisa belajar, karena mereka banyak mengolok-olok saya, dan saya merasa sangat buruk tentang itu," katanya.

Dia berkomentar bahwa orang-orang menyinggung perasaannya, dan mengejek dengan pertanyaan, "Apa kamu sudah selesai, Jessica?", kalimat yang berulang-ulang terus dihadapinya, dan makin masif.

Saat itulah siksaan bagi Lara dimulai.

Saat mereka menyadari bahwa anaknya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, orang tuanya memutuskan untuk menariknya dari sekolah.

Ibu melarang Lara untuk mengakses internet atau menonton televisi, apa yang dilakukan karena Deusiana tak ingin anaknya mengambil risiko mengikuti komentar-komentar tentang perkelahian itu.

"Kami tinggal di pantai untuk beberapa hari, untuk keluar dari kerumunan," kata Deusiana. Dia meyakini bahwa dia akan kembali ke kota beberapa hari kemudian, saat rekaman video itu sudah dilupakan.

"Saat kami kembali, saya melihat orang-orang masih membicarakannya. Video ini diputar berkali-kali di televisi," katanya.

Saat itu, perkelahian dua gadis remaja menjadi salah satu topik paling hangat dibicarakan di media sosial.

Videonya ditonton jutaan kali. Situs-situs humor dan Facebook juga ikut membantu penyebaran rekaman video itu.

Depresi dan melukai tubuh sendiri

Rutinitas Lara setelah videonya dijadikan meme, hanya tinggal di rumah atau pergi ke tempat-tempat terdekat, seperti rumah keluarga atau toko kecil di area tempat tinggalnya.

"Yang paling suka saya lakukan adalah tidur dan berbenah di rumah. Saya mulai tinggal di rumah, dan mengerjakan segala sesuatu dengan Ibu, yang juga mengajak saya keluar sekali-sekali," katanya.

Saat dia pergi keluar rumah, dia sudah dikenali dengan komentar-komentar tentang rekaman video perkelahian.

Rasa putus asa yang berkelanjutan pada anak itu membuat orang tuanya khawatir.

Lara da SilvaArchivo personalLara menunjukkan bekas luka sayatan di tangannya.

Situasinya makin buruk bagi Deusiana ketika mengetahui putrinya mengiris lengannya sendiri.

Lara mengatakan mulai melakukan itu, setelah videonya viral di media sosial. Dia mengaku bahwa sebelum dijadikan meme di media sosial, dia sudah pernah berniat melakukannya, saat lagi sedih, tapi ia tak pernah punya keberanian.

"Mereka menyalahkan segala keburukan yang telah terjadi pada saya dan orang tua saya. Saat itu terjadi [videonya vira], saya tidak tahu mana yang lebih buruk: kalau ibu meninggalkan saya di rumah, seperti yang sudah mulai dilakukan, atau ketika membiarkan saya keluar rumah," katanya.

"Sekitar empat hari sejak perkelahian itu, saya mulai mengiris diri saya sendiri, karena segalanya telah terjadi," katanya.

Mengiris diri sendiri, menurutnya, merupakan cara meringankan beban hidup.

"Sejak melakukannya pertama kali, jadi ketagihan. Saya mengirisnya lebih dalam dan dalam lagi di dan di beberapa bagian ketika sesuatu terjadi, seperti ketika saya melihat sesuatu yang membuat saya sedih, saya akan mengiris lagi."

Luka irisan benda tajam itu membekas di lengan, dan beberapa bagian kakinya.

Seperti Lara, kasus melukai diri sendiri-tak sampai bunuh diri, merupakan istilah yang digunakan para ahli untuk menggambarkan mereka yang melakukan itu biasanya dalam situasi mengalami kesedihan mendalam.

"Kala remaja mengalami depresi, mereka tak tahu bagaimana menghadapi perasaan itu, dan mereka akhirnya menyakiti diri sendiri untuk mengurangi keputusasaan dan kecemasan," jelas psikiater Jackeline Giusti, koordinator klinik rawaj jalan remaja di Institute of Psychiatry dari Universitas So Paulo (USP).

Giusti mengatakan, melukai diri sendiri biasanya dilakukan anak atau remaja yang harga dirinya terluka. Dalam banyak kasus, mereka adalah korban dari perundungan.

Penelitian terkait ini, menurut ahli, menunjukkan bahwa sekitar 20% remaja memiliki kecenderungan perilaku melukai diri sendiri-bukan bunuh diri.

Perawatan

Deusiana mencari perawatan bagi putrinya. Di kota yang ia tinggali, dia tak bisa menemukan psikolog yang bersedia memberi layanan kepada anaknya.

"Ini sangat menyedihkan. Saat saya mengatakan saya menggores tubuh sendiri, para psikolog mengatakan ini merupakan kasus yang sulit untuk disembuhkan. Saya akhirnya mencari psikolog di kota lain," kenang perempuan itu.

Untuk mendapatkan penanganan khusus, Lara harus menempuh perjalanan dua jam dengan sebuah ambulans publik Alto Jequitib. Ambulans yang biasa digunakan untuk membawa warga yang membutuhkan bantuan medis ke luar kota.

"Saat itu tiga kali dalam seminggu [saat ia mendapatkan bimbingan psikolog]. Kami berangkat pagi, dan kembali pukul 5 sore, dan saat itulah Ambulans kembali ke kota kami," kata Deusiana.

Sistema judicialGetty ImagesLa joven present varias demandas judiciales.

Selama periode ini, Lara didiagnosis dengan masalah depresi, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan gangguan kecemasan.

"Dia bahkan minum obat tujuh kali dalam satu hari," jelasnya.

Perawatan psikiatri ini menjadi salah satu landasan yang dibawa dalam tuntutan ke pengadilan.

"Penggugat menderita dan terus menderita akibat paparan seperti itu, hidup dalam rasa malu yang terus menerus yang membuat psikologisnya hancur," ungkap berkas tuntutan.

Dalam berkas itu, penggugat mengatakan bahwa kehormatan Lara dicemarkan "secara tidak adil di depan publik," melalui video yang viral.

Tuntutan hukum

Ada enam gugatan hukum yang ditujukan Lara kepada: Google, Facebook, stasiun televisi SBT, Record and Band, serta dua anak muda yang membuat game berdasarkan video perkelahian itu.

Dalam tuntutannya, Lara menyatakan bahwa Google dan Facebook adalah dasar dari penyebaran video tersebut, dan menunjukkan bahwa platform ini tidak mencegahnya tersebar luas, bahkan yang melibatkan anak di bawah umur.

Gugatan yang dilayangkan pada stasiun televisi juga sama.

Dalam gugatannya, Lara mengatakan bahwa saluran tersebut menyiarkan perkelahian remaja atau menggunakan ungkapan "Apa kamu sudah selesai, Jessica?", telah mendorong penyebaran kalimat tersebut, tanpa izin dari pihak terkait.

Gugatan termasuk dua pembuat game berjudul: "Apa kamu sudah selesai, Jessica?", yang dirilis November 2015, dan memperoleh keuntungan dari sana, tanpa memperoleh izin dari orang tua Lara.

Dalam berkas tuntutan, Lara juga menuduh bahwa penayangan video atau segala jenis penyebutan terkait, yang dilakukan oleh perusahaan dalam perkelahian yang terjadi 2015, telah melanggar Statuta Anak dan Remaja (ECA).

"ECA sangat jelas mengatur tentang fisik remaja, psikologis, dan integrasi moral, termasuk integritas identitas, otonomi, nilai dan keyakinan anak-anak remaja", menjadi dasar bagi pengacara Tatiane Hott, yang bertanggung jawab dalam tuntutan Lara.

Di antara tuntutan adalah tindakan untuk menghapus video dari jaringan dan seluruh konten terkait hal ini, yang dilakukan oleh mereka yang tanpa izin bertanggung jawab atas Lara.

Gugatan juga mencantumkan kompensasi atas kerugian moral, yang berdampak terhadap Lara, dan material, bagi orang tuanya yang telah menghabiskan biaya perawatan yang harus dijalani selama terdampak.

Lara da SilvaArquivo pessoalLara telah berhasil melewati masa-masa buruknya

Dalam sebuah pernyataan, Facebook mengatakan tak akan berkomentar mengenai kasusnya. Google juga tidak bicara secara khusus mengenai gugatan Lara, tapi mereka bilang, menghapus video itu dari YouTube, platform yang menjadi tanggung jawabnya, karena melanggar pedomannya.

"Jika sebuah video tidak mengikuti aturan, ini bisa dihapus dari platform. Ditambahkan, YouTube mematuhi keputusan pengadilan yang memutuskan penghapusan konten yang ditentukan dengan menunjukkan URL, sebagaimana ditetapkan Marco Civil da Internet dan diakui yurisprudensinya", kata Google melalui pesan tertulis kepada BBC News Brazil.

Sementara itu, stasiun televisi SBT, dalam pesan tertulis mengklaim tidak menyiarkan video Lara sepanjang waktu. Stasiun penyiaran ini berdalih bahwa ini digunakan semata-mata "hanya jargon untuk promosi sinetron sore hari, karena dalam plot ada karakter yang memiliki nama yang sama [Jessica]".

Dua orang yang membuat game tidak berkomentar tentang kasus ini.

Band, dalam hal ini, juga mengatakan tidak berkomentar "pada konsekuensi persidangan di mana dia menjadi pihak terkait, membatasi dirinya untuk mengungkapkan dirinya dalam kasus ini."

Record TV dalam pernyataan kepada BBC News Brazil, mengatakan tidak ingin berkomentar mengenai gugatan itu.

Proses hukumnya masih berjalan di distrik Manhumirim (MG). Pekan lalu, Lara memperoleh kemenangan awal di pengadilan.

Rabu kemarin, hakim Rafaella Amaral menetapkan bahwa Record TV harus mengeluarkan video yang dipublikasi dalam internet, foto, dan editan yang memiliki semacam keterkaitan dengan meme, dikenai denda dengan hitungan per hari $96 (Rp1,3 juta), yang kemudian mencapai $5,784 (Rp82,5 juta).

Jessica juga ikut dalam gugatan itu di Pengadilan Minas Gerais. Dalam gugatannya ia menyebut menderita "kerusakan psikologis yang tak bisa diobati" dan menyatakan sampai hari ini "dia masih mengalami penderitaan atas apa yang terjadi".

Dos jovenesGetty Images

Saat ditanya tentang apa yang terjadi ketika dirinya diolok-olok menjadi meme, Lara dengan tegas menyatakan: banyak intimidasi, depresi, dan kurang percaya diri pada diri sendiri dan orang lain.

"Saya punya luka yang tak bisa dihapuskan dalam hidup saya sama sekali. Saya tidak menjadi kaya atau miskin, saya hanya punya tanda bekas luka," kata Lara. "Tapi hari ini saya terus hidup," tambah remaja yang baru-baru ini mulai keluar rumah tanpa harus peduli dengan komentar-komentar.

"Jarang sekali mereka menyadari keberadaan saya di jalanan akhir-akhir ini, tapi jika itu terjadi lagi, dan mereka melontarkan komentar negatif, saya akan berusaha untuk mengabaikannya," katanya.

Lara mengatakan ia mulai berhenti menyayat dirinya sendiri sekitar setahun lalu, di samping dia masih dalam perawatan karena depresi.

---------------------------------------------

Jika Anda, sahabat, atau kerabat memiliki kecenderungan bunuh diri, segera hubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas, Rumah Sakit terdekat, atau Halo Kemenkes dengan nomor telepon 1500567.

Anda juga dapat mencari informasi mengenai depresi dan kesehatan jiwa di intothelightid.org dan yayasanpulih.org.

Simak juga 'Anak Bunuh Ayah Kandung di Jakbar, Pelaku Diduga Depresi':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)