Perang Afghanistan Berkecamuk Lagi, RS Kewalahan Rawat Korban Luka

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 06 Agu 2021 09:40 WIB
Para dokter dan staf medis di Lashkar Gah merawat pasien luka siang dan malam. (MSF)
Jakarta -

Sejumlah laporan dari kota Laskar Gah di Afghanistan selatan menunjukkan puluhan pejuang Taliban tewas dalam serangan udara dan pertempuran sengit di jalan-jalan di tengah operasi pasukan pemerintah mengusir mereka.

Sebagian besar kota Laskar Gah - ibu kota strategis provinsi Helmand - sempat dikuasai oleh Taliban.

Banyak yang meninggal kota itu dan yang masih terperangkap kekurangan makanan, air dan obat-obatan. Sebagian pihak menggambarkan melihat mayat-mayat tergeletak di jalan-jalan.

Makin banyak anak-anak dan perempuan yang menjadi korban akibat pertempuran antara pasukan pemerintah Afghanistan dan kelompok Taliban dalam memperebutkan kota-kota utama, seperti Lashkar Gah dan Kandahar.

Sejumlah dokter mengungkapkan bahwa pihak rumah sakit tengah berjuang mengatasi lonjakan jumlah korban yang terluka.

"Saya tidak pernah mengalami situasi tegang seperti ini sepanjang hidup saya," tutur Dokter Masood Khan yang sudah tujuh tahun bekerja untuk lembaga Medecins Sans Frontieres (MSF).

"Akibat pertempuran, banyak orang terluka. Beberapa dari mereka bahkan tidak dapat menjangkau rumah sakit. Secara umum kami menerima lebih banyak pasien dari biasanya."

Baca juga:

Milisi Taliban menangguk keuntungan di seluruh Afghanistan dan menguasai banyak distrik sejak pasukan Amerika Serikat meninggalkan negara tersebut bulan lalu.

Mereka kini menargetkan kota-kota dan selama sepekan terakhir terjadi pertempuran sengit di sekitar Herat, dekat perbatasan barat dengan Iran, serta Lashkar Gah dan Kandahar di bagian selatan.

Nasib Laskar Gah pun tergantung pada keseimbangan dan, ada laporan bahwa pasukan Taliban telah mengambil alih rumah-rumah, toko-toko dan pasar, sehingga orang-orang di kota itu terjebak.

Dokter Khan mengungkapkan tengah berjuang mengatasi pasien terluka parah yang terus-menerus mengalir datang ke rumah sakit Boost dengan kapasitas 300 tempat tidur dan merupakan satu-satunya rumah sakit rujukan di provinsi Helmand yang menangani layanan darurat dan bedah.

A view of a market that was closed over security fears as Taliban attacked parts of the city in Lashkar Gah, the provincial capital of Helmand, Afghanistan, 02 August 2021.

Dokter Khan mengatakan toko-toko di Lashkar Gah dan persediaan pun menipis. (Reuters)

Ia menuturkan, ketersediaan di rumah sakit itu sudah nyaris habis.

Selama tiga bulan terakhir, rumah sakit Dokter Khan merawat rata-rata lima orang yang terluka parah setiap harinya. Tapi dengan lonjakan kekerasan belakangan, itu artinya korban warga sipil pun bisa jadi akan lebih banyak.

Hanya dalam tiga hari antara 29 hingga 31 Juli, rumah sakit telah merawat 70 korban luka akibat pertempuran.

Dari 482 pasien yang dirawat di rumah sakit antara Mei hingga Juli, hampir 90 persen di antaranya mengalami cedera akibat tembakan dari beberapa jenis peluru. MSF mengatakan akan ada lebih banyak korban luka yang tak bisa mencapai ke rumah sakit.

"Konflik ini mempengaruhi semua orang. Bahkan di rumah sakit, kami tidak merasa betul-betul aman ketika mendengar suara tembakan," kata dia.

"Ada pertempuran di mana-mana. Kami mendengar banyak suara di rumah sakit kami."

PBB menyatakan pada Selasa bahwa sedikitnya 40 warga sipil tewas dalam 24 jam terakhir.

'Taliban ada di mana-mana'

A general view of Lashkar Gah, the capital city of Helmand province.Getty ImagesMilitan Talibat telah memasuki kota Lashkar Gah.

Pasukan pemerintah Afghanistan telah meminta sekitar 200.000 penduduk Lashkar Gah untuk pergi. Pasukan angkatan udara mengebom posisi para pemberontak dan ada laporan yang menyatakan pertempuran memanas di dekat markas polisi.

Taliban telah merebut lebih dari selusin stasiun radio dan TV lokal.

"Taliban ada di mana-mana di kota, Anda dapat melihat mereka dengan sepeda motor di jalan-jalan," cerita seorang penduduk kepada kantor berita AFP tanpa menyebut nama.

"Mereka menangkap atau menembak orang-orang yang memiliki telepon pintar," lanjut dia lagi.

Seorang warga bernama Saleh Mohammad mengatakan ratusan keluarga berhasil melarikan diri, tapi banyak juga di antaranya yang terjebak di tengah baku tembak.

"Tidak ada cara untuk melarikan diri dari daerah itu, karena pertempuran sedang berlangsung. Tak ada jaminan bahwa kami tidak akan terbunuh di jalan," kata Mohammad.

"Pemerintah dan Taliban menghancurkan kami," ucap dia lagi kepada AFP.

Dokter Khan belum bisa pulang selama dua hari terakhir karena pertempuran masih bergolak. Sebagaimana stafnya, ia tinggal di rumah sakit.

"Akses ke rumah sakit sangat sulit. Jadi kami tinggal di rumah sakit. Kami bekerja siang dan malam dan tidur di bunker."

Seorang dokter merawat pasien

MSF mengatakan banyak pasien terpaksa menunggu di rumah karena perang masih berlangsung. (MSF)

Menurut Dokter Khan, jumlah pasien dan kebutuhan meningkat tetapi pasokan medis serta staf justru menurun.

"Kami berusaha memberikan perawatan berkualitas kepada pasien. Tapi kami tidak menerima cukup pasokan. Semua toko tutup di kota. Kota benar-benar terkundi," ungkap dia.

Mati dan terluka

Rumah sakit di Kandahar, kota kedua Afghanistan, juga dilaporkan menangani lebih banyak pasien.

"Dalam tiga minggu kami menerima 145 jenazah," kata Dokter Daud Farhad, Kepala Rumah Sakit Merwais di Kandahar.

Menurut dia, situasi saat ini menjadi lebih baik karena pasukan pemerintah kembali menghalau serangan Taliban yang dimulai sejak tiga pekan lalu.

dokter

Sebuah rumah sakit di kota terbesar kedua Kandahar telah menangani ratusan korban. (BBC News)

Dokter Farhad mengatakan kepada BBC bahwa pada hari-hari tertentu, mereka bisa menerima 10 hingga 30 pasien luka korban.

Rumah sakit Merwais memiliki 115 dokter dan 600 tempat tidur, tetapi mereka juga telah mendirikan bangsal darurat dengan kapasitas 30 tempat tidur terpisah untuk menangani kian banyaknya korban.

"Tiga minggu lalu, Taliban tiba di dekat kota dan kami mulai menerima korban. Sampai sekarang kami telah menerima 513 kasus," urai dia.

"Warga sipil yang terluka mencapai 80 persen. Di antara mereka ada yang terluka parah, 110 di antaranya anak-anak, sekitar 75 pasien adalah perempuan."

Kekurangan staf

Makeshift ward in a hospital

Rumah sakit Merwais menambah 30 tempat tidur sementara untuk menangani banyaknya pasien. (BBC)

Dokter Farhad mengatakan bahwa rumah sakitnya tempat di mana Palang Merah Internasional juga beroperasi memiliki stok obat-obatan yang cukup dan mampu memberikan perawatan yang baik.

Tapi karena begitu parahnya cedera, ia khawatir beberapa dari mereka yang terluka berpotensi meninggal dalam beberapa hari mendatang.

"Kami menangani luka tembak, luka ranjau, luka bakar, shock akibat ledakan bom, luka pecahan peluru. Ada pasien yang kehilangan kaki dan tangan," terang Dokter Farhad.

Konflik telah mengakibatkan ribuan orang mengungsi dan, di banyak kota besar juga kecil, beberapa di antara mereka adalah dokter.

"Sebagian besar dokter kami tinggal di rumah sakit, tetapi perawat dan staf medis lainnya yang tinggal di luar rumah sakit sulit untuk datang ke rumah sakit. Kami juga kekurangan staf non-medis," tambah Dokter Farhad.

MSF menyatakan sejak Mei, para staf juga telah menyaksikan alarm peningkatan yang mengkhawatirkan dari tingkat keparahan penyakit pasien.

Dia pun menambahkan, "Orang-orang telah menggambarkan bahwa bagaimanapun, betapapun mereka membutuhkan perawatan medis, mereka terpaksa harus menunggu di rumah sampai pertempuran mereda atau mengambil rute alternatif yang berbahaya".

"Dengan perang yang berlangsung tak jauh dari rumah sakit Boost, dan orang-orang yang terlalu takut untuk meninggalkan rumah karena kekerasan di mana-mana, akses ke perawatan kesehatan menjadi sangat terbatas."

Simak video 'Serangan Bom di Kabul Targetkan Menhan Afghanistan':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)