Operasi Plastik Marak di Kalangan Anak Muda di China Meski Bahaya Mengintai

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 14 Jul 2021 19:10 WIB
Jakarta -

Seperti banyak teman sebayanya, Ruxin yang berusia 23 tahun melihat media sosial setiap hari, tetapi dia mencari sesuatu yang sangat spesifik: info baru soal bedah kosmetik.

Ruxin berencana untuk menjalani operasi "kelopak mata ganda" yang diharapkannya akan membuat matanya tampak lebih besar.

Warga Guangzhou itu masuk ke aplikasi Gengmei secara teratur untuk mencari ahli bedah yang paling cocok.

Baca juga:

"Ada begitu banyak klinik di kota ini, tetapi saya ingin memastikan bahwa saya pergi ke klinik yang bagus. Yang sedang kita bicarakan adalah wajah saya," katanya kepada BBC.

Gengmei, yang berarti "lebih cantik" dalam bahasa Mandarin, adalah salah satu dari beberapa platform jejaring sosial di China yang didedikasikan untuk bedah kosmetik.

Di aplikasi itu pengguna bisa menulis status tentang semua hal tentang operasi plastik, termasuk sedot lemak dan operasi hidung.

Hasil pencarian dapat disaring berdasarkan wilayah, perawatan, dan klinik.

app operasi plastikGengmei/So-youngAplikasi media sosial bedah kosmetik Gengmei (kiri) dan So-Young (kanan) telah mencatat lonjakan pengguna dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak diluncurkan pada tahun 2013, pengguna Gengmei telah melonjak dari 1 juta menjadi 36 juta. Lebih dari setengahnya adalah perempuan muda berusia dua puluhan.

Demikian pula, platform bedah kosmetik So-Young yang pengguna aktif bulanannya tumbuh, dari 1,4 juta pada 2018 menjadi 8,4 juta hari ini.

Popularitas perusahaan itu merupakan indikasi dari perubahan sikap terhadap operasi untuk kecantikan di China, yang sekarang melakukan lebih banyak operasi plastik dibandingkan negara mana pun di dunia setelah AS.

Menurut laporan Deloitte, nilai pasar di China hampir tiga kali lipat dalam empat tahun menjadi sekitar 177 miliar yuan (Rp396 triliun) pada tahun 2019, pertumbuhan tahunan sebesar 28,7%, jauh di atas tingkat global sebesar 8,2%.

Jika ini terus berlanjut, China bisa menjadi pasar bedah kosmetik terbesar di dunia pada pertengahan dekade ini, menurut The Global Times.

Prosedur yang paling populer di antaranya untuk membentuk "kelopak mata ganda" dan garis rahang berbentuk V.

Namun, tren operasi terus berganti, yan baru adalah bentuk telinga runcing seperti elf, menurut sejumlah laporan.

Gen Z - mereka yang lahir setelah tahun 1996 - tidak malu untuk melakukan prosedur seperti itu meskipun topik tersebut dianggap tabu di masa lalu.

Ruxin, yang bekerja di ritel fesyhen, mengatakan bahwa teman-temannya "secara terbuka berbicara tentang prosedur bedah plastik".

"Bahkan jika orang tidak secara terbuka mengatakan mereka telah melakukan operasi, mereka tidak akan menyangkalnya jika Anda bertanya kepada mereka tentang hal itu."

Diperlukan lebih banyak regulasi

Namun, ledakan bedah kosmetik China datang dengan kekurangannya.

Menurut laporan Global Times, negara ini mencatat lebih dari 60.000 klinik bedah plastik tanpa izin pada tahun 2019.

Klinik-klinik itu bertanggung jawab atas sekitar 40.000 "kecelakaan medis" setiap tahun, rata-rata 110 operasi yang gagal per hari, tambah laporan itu.

Dalam salah satu kasus paling terkenal, aktris Gao Liu membagikan gambarnya secara online tentang prosedur kosmetik yang membuatnya mengalami nekrosis pada hidung, yang berarti jaringan di ujung hidungnya telah mati.

Gao Liu mengatakan dia akan membutuhkan lebih banyak operasi untuk memperbaikinya, tetapi ia telah kehilangan lebih dari 400.000 yuan dari kontrak film.

Sementara itu, dokter yang merawatnya diskors selama enam bulan, dan rumah sakit didenda 49.000 yuan.

Banyak pengguna internet mengatakan hukumannya tidak cukup.

"Ini adalah hukuman setelah melukai seseorang?" tulis seorang pengguna internet seraya menuntut regulasi industri yang lebih baik.

Bulan lalu, Komisi Kesehatan Nasional China mengumumkan kampanye yang menargetkan penyedia bedah kosmetik tanpa izin.

Komisi itu juga mengatakan akan menyelidiki keluhan pelanggan dengan lebih cepat.

Mengapa mengambil risiko?

Banyak orang di China sangat mementingkan penampilan dan upaya untuk "menjadi cantik" mendorong tren bedah kosmetik, kata para ahli kepada BBC.

pencari kerja

Beberapa iklan pekerjaan di China menetapkan persyaratan fisik untuk perempuan. (Getty Images)

Dr Brenda Alegre, guru besar studi gender di Universitas Hong Kong, mengatakan bahwa "menyesuaikan diri dengan apa yang dianggap ideal membuat seseorang lebih diinginkan, bukan hanya untuk percintaan, tetapi juga untuk pekerjaan".

Di China, pelamar kerja sering diminta untuk menyerahkan foto.

Beberapa iklan juga merinci persyaratan fisik tertentu, terutama bagi perempuan, bahkan jika kriteria itu tidak diperlukan untuk melakukan pekerjaan.

Laporan Human Rights Watch tahun 2018 menyoroti iklan pekerjaan seksis China, mengutip contoh-contoh iklan termasuk pencarian associate penjualan pakaian yang terlihat "menyenangkan secara estetika".

Ada juga iklan yang mencari kondektur kereta yang "modis dan cantik".

Dengan internet yang menciptakan banyak peluang kerja baru - yang semuanya sangat bergantung pada penampilan seseorang - para ahli mengatakan ada fokus baru pada penampilan, lebih dari sebelumnya.

"Sampai batas tertentu, kecantikan dapat membawa lebih banyak peluang karier, misalnya ada monetisasi saat live steaming (siaran langsung) dan pembuatan konten video online," kata wakil presiden Gengmei Wang Jun kepada BBC.

Gengmei mengatakan perusahaannya hanya bekerja dengan praktisi berlisensi di platformnya.

A livestreamer sells biscuits via live streaming in Tianjin, China

Siaran langsung di China telah menjadi bisnis besar dan banyak yang ingin terlihat bagus di depan kamera untuk itu. (Getty Images)

'Tercantik hingga terjelek'

Budaya tabloid China juga bisa brutal.

Publikasi berita sering mengkritik selebriti karena penampilan mereka.

Awal tahun ini, sebuah galeri seni Shanghai mempromosikan sebuah pameran yang mengurutkan gambar perempuan dari yang "tercantik hingga terjelek".

Lu Yufan, seorang fotografer yang berbasis di Beijing, yang sedang mengerjakan sebuah buku tentang bedah kosmetik, mengatakan kepada BBC bahwa ketika tumbuh dewasa, orang-orang akan sering berterus terang dalam hal penampilan.

Kerabatnya akan mengatakan kepadanya bahwa dia terlihat seperti aktris TV, "bukan pahlawan perempuan yang cantik, tetapi karakter sampingan yang lucu", kenang wanita berusia 29 tahun itu.

"Ketika saya masih di sekolah menengah, anak laki-laki juga menyebutkan siapa yang mereka pikir sebagai perempuan paling jelek di kelas. Mereka bilang saya No. 5."

Lu, yang telah mengunjungi 30 klinik bedah kosmetik sebagai bagian dari proyeknya, menambahkan bahwa para praktisi kecantikan tidak pernah menahan diri ketika memberitahunya bagaimana wajahnya dapat "diperbaiki".

"Mereka sangat persuasif sehingga saya merasa sulit untuk mengatakan tidak, kecuali dengan mengatakan saya tidak punya uang untuk itu," katanya.

Untuk Ruxin, operasi kelopak mata terjangkau, dengan biaya antara US$300 (Rp4,3 juta) dan US$1,200 (Rp17,4 juta).

Tapi itu baru langkah pertama.

"Jika ini berjalan dengan baik, saya mungkin akan berbuat lebih banyak. Siapa yang tidak ingin menjadi lebih cantik?"

Anda mungkin tertarik:

Pada tahun 2016, BBC mengunjungi klinik operasi plastik swasta di Beijing.

(ita/ita)