Pasukan Asing Ditarik dari Afghanistan, Al-Qaeda Bisa Bangkit Lagi?

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 08 Jul 2021 10:01 WIB
Milisi lokal telah berkumpul di sekitar pasukan keamanan Afghanistan sejak penarikan pasukan Barat (Reuters)
Jakarta -

Penarikan tergesa-gesa pasukan Barat yang tersisa dari Afghanistan bulan ini malah membuat pimpinan intelijen mereka khawatir.

Penarikan pasukan yang diputuskan Presiden Amerika Serikat Joe Biden itu ternyata memberi angin bagi gerilyawan Taliban.

Dalam beberapa hari terakhir, gerilyawan Taliban telah merebut satu demi satu distrik hingga menyerbu pangkalan-pangkalan pasukan pemerintah yang mengalami demoralisasi (sering menyerah atau melarikan diri).

Sekarang, kata pengamat, momok terorisme internasional muncul kembali.

"Penarikan Biden dari Afghanistan membuat pengambilalihan oleh Taliban tak terelakkan dan memberi al-Qaeda kesempatan untuk membangun kembali jaringannya, ke titik di mana ia bisa sekali lagi merencanakan serangan di seluruh dunia," Sajjan Gohel, analis keamanan dan terorisme, mengatakan kepada BBC.

Memperluas operasi

Pandangan itu tentu saja terkesan pesimistis. Walaupun demikian, terdapat dua hal yang pasti pascapenarikan pasukan.

Pertama, Taliban - kelompok Islam garis keras yang memerintah Afghanistan dari tahun 1996-2001 dengan tangan besi - akan kembali berkuasa dalam beberapa bentuk.

Untuk saat ini, mereka mengatakan tidak memiliki ambisi untuk merebut Ibu Kota Kabul secara paksa.

Tetapi di sebagian besar wilayah Afghanistan, Taliban sudah menjadi kekuatan dominan dan tidak pernah mundur untuk menjadikan negara itu Imarah Islam sesuai dengan pedoman ketat keyakinan mereka.

Kedua, al-Qaeda dan saingannya, Negara Islam di Provinsi Khurasan (IS-KP, atau ISIS), akan mencari keuntungan dari kepergian pasukan Barat untuk memperluas operasi mereka di Afghanistan.

Lebih lanjut tentang penarikan Afghanistan:

Al-Qaeda dan ISIS sudah berada di Afghanistan. Negara ini terlalu bergunung-gunung, dan medannya terlalu berat sehingga banyak tempat terpencil bagi kelompok-kelompok teror yang dilarang secara internasional ini untuk bersembunyi.

Namun hingga saat ini dinas intelijen pemerintah Afghanistan, NDS, yang bekerja sama dengan AS dan pasukan khusus lainnya mampu menanggulangi sebagian ancaman tersebut.

Perwira dan tentara unit komando pasukan khusus Afghanistan menghadiri upacara kelulusan di akademi militer di Kabul, Afghanistan

Tanpa dukungan AS, pemerintah Afghanistan mungkin kesulitan untuk menahan Taliban tetap berada di tempatnya. (Getty Images)

Serangan dan pemboman masih terjadi, tetapi dalam jumlah yang sedikit dan jarang didengar publik.

Informasi dari informan atau penyadapan telepon telah menghasilkan tindakan cepat dan efektif oleh pasukan khusus Afghanistan dan Barat.

Beroperasi dari pangkalan di Afghanistan, pasukan Barat dapat bereaksi dalam beberapa menit, mendarat dengan helikopter, kadang di tengah malam, dan mengejutkan musuh.

Namun, kekuatan itu sekarang akan segera berakhir.

'Ancaman terhadap Inggris akan tumbuh'

Taliban telah menegaskan pekan ini bahwa pasukan Barat yang tertinggal - bahkan yang menjaga bandara Kabul atau kedutaan besar AS - adalah sebuah pelanggaran atas kesepakatan Doha yang mengharuskan semua pasukan AS pulang sebelum 11 September.

Taliban telah bersumpah untuk menyerang pasukan yang tersisa itu.

Namun pekan ini Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, diperkirakan memimpin pertemuan rahasia Dewan Keamanan Nasional pemerintahnya untuk membahas bantuan militer apa yang harus ditinggalkan Inggris di Afghanistan.

Mantan kepala Dinas Intelijen Rahasia, Sir Alex Younger, mengatakan kepada Sky News bahwa "ancaman teror terhadap Inggris akan tumbuh jika Barat meninggalkan Afghanistan".

Tapi di sini dilemanya: Jika meninggalkan puluhan anggota pasukan khusus SAS atau lainnya di negara itu, tanpa perisai pelindung dari pangkalan militer AS dan dukungan udara, mereka berisiko diburu oleh Taliban yang bangkit kembali.

Tapi, jika menarik keluar semua, seperti yang diminta Taliban maka Barat tidak memiliki sarana untuk bereaksi cepat terhadap intelijen tentang aktivitas teroris di negara itu.

Hubungan Taliban-al-Qaeda?

Jadi apa sebenarnya hubungan antara Taliban dan al-Qaeda?

Apakah jika Taliban kembali berkuasa maka berarti al-Qaeda akan pula kembali, dengan semua basisnya, kamp pelatihan terornya dan eksperimen gas beracunnya yang mengerikan pada anjing?

Singkatnya, hal-hal dalam invasi yang dipimpin AS tahun 2001 dimaksudkan untuk ditutup selamanya.

Pertanyaan ini telah merongrong pikiran para pimpinan intelijen Barat selama bertahun-tahun. Setidaknya sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 2008 dan tahun ini.

Penilaian rahasia pemerintah Inggris telah dibiarkan begitu saja di tempat umum, mengungkapkan kepada siapa saja yang ingin membacanya tentang betapa khawatirnya Inggris akan hubungan antara kedua kelompok tersebut.

Gohel, yang telah mempelajari kelompok ekstremis di wilayah itu selama bertahun-tahun, tidak meragukan hubungan kedua kelompok itu.

"Taliban tidak dapat dipisahkan dari al-Qaeda, dengan kewajiban budaya, keluarga, dan politik yang tidak dapat ditinggalkan sepenuhnya, bahkan kepemimpinannya tulus dalam upaya untuk melakukannya," kata Dr Gohel dari Asia Pacific Foundation.

Tanda-tanda firasat

Sejak pemimpin al-Qaeda, Osama bin Laden, memindahkan operasinya dari Sudan kembali ke Afghanistan pada tahun 1996 hingga 2001, Taliban menyediakan tempat yang aman baginya.

Arab Saudi, satu dari hanya tiga negara yang mengakui pemerintah Taliban pada saat itu, mengirim kepala intelijennya, Pangeran Turki al-Faisal, untuk mencoba membujuk Taliban agar menyerahkan bin Laden.

Mereka menolak dan dari pangkalan al-Qaeda Afghanistan itulah, serangan 9/11 atas AS direncanakan dan diarahkan.

Osama bin Laden

Dipimpin oleh Osama bin Laden (kanan), al-Qaeda merencanakan serangan 9/11 dari Afghanistan (Getty Images)

Tetapi Kepala Staf Pertahanan Inggris, Jenderal Sir Nick Carter, yang memimpin beberapa penugasan komando di Afghanistan, percaya bahwa kepemimpinan Taliban mungkin telah belajar dari kesalahan mereka sebelumnya.

Dia menyatakan, jika Taliban berharap untuk berbagi kekuasaan, atau merebutnya, maka mereka tidak ingin dilihat sebagai paria kali ini.

Namun di sinilah letak kesulitannya. Pemimpin yang lebih bijaksana di antara Taliban, terutama mereka yang telah merasakan kehidupan yang baik di pusat perbelanjaan ber-AC di Doha selama negosiasi damai baru-baru ini, mungkin akan berdebat untuk memutuskan hubungan dengan al-Qaeda untuk mengamankan penerimaan internasional.

Tetapi di negara yang luas dan kontrol pemerintahan yang minim seperti Afghanistan, sangat sulit dipastikan jika pemerintahan Taliban di masa depan dapat menahan al-Qaeda, yang dapat dengan mudah menanamkan sel-selnya tanpa terlihat di dalam desa-desa dan lembah-lembah terpencil.

Pada akhirnya apa yang dibutuhkan baik al-Qaeda dan kelompok Negara Islam untuk berkembang adalah situasi yang kacau dan tidak stabil. Semua tanda menunjukkan bahwa di Afghanistan, mereka akan mendapatkannya.

(ita/ita)