Bentrok dengan Taliban, 1.000 Tentara Afghanistan Lari ke Tajikistan

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 06 Jul 2021 10:14 WIB
Reuters
Jakarta -

Lebih dari 1000 tentara Afghanistan dilaporkan melarikan diri ke negara tetangga Tajikistan setelah bentrok dengan milisi Taliban.

Para serdadu itu mundur hingga melintasi perbatasan untuk "menyelamatkan nyawa mereka," menurut pernyataan penjaga perbatasan Tajikistan.

Kekerasan telah meningkat di Afghanistan seiring wilayah yang dikuasai Taliban bertambah secara signifikan, terutama di bagian utara negara itu, dalam beberapa pekan terakhir.

Lonjakan ini terjadi seiring pasukan AS, Inggris, dan sekutunya ditarik dari Afghanistan setelah 20 tahun.

Sebagian besar pasukan asing di Afghanistan telah hengkang sebelum tenggat waktu 11 September. Ada kekhawatiran bahwa militer Afghanistan, yang seharusnya mengambil alih keamanan di negara itu, akan kolaps.

Berdasarkan kesepakatan dengan Taliban, AS dan sekutunya di NATO bersedia untuk menarik semua pasukan mereka dengan syarat kelompok militan tersebut tidak membiarkan kelompok ekstremis beroperasi di wilayah yang mereka kuasai.

Tetapi Taliban tidak setuju untuk berhenti memerangi pasukan Afghanistan, dan sekarang mereka dilaporkan menguasai sekitar sepertiga dari negara itu.

Mundurnya pasukan tersebut adalah ketiga kalinya tentara Afghanistan melarikan diri ke Tajikistan selama tiga hari terakhir dan kasus kelima selama dua minggu terakhir. Secara total, hampir 1.600 tentara telah melintasi perbatasan.

Kelompok terbaru pasukan Afghanistan mencari perlindungan pada Senin pagi setelah bertempur dengan kombatan Taliban pada malam hari, kata Komite Keamanan Nasional Tajikistan.

Map

Taliban telah menguasai semakin banyak wilayah di Provinsi Badakhshan dan Takhar, yang berbatasan dengan Tajikistan.

"Taliban memblokir semua jalan dan orang-orang ini tidak punya tempat untuk pergi selain menyeberangi perbatasan," kata seorang pejabat senior Afghanistan kepada kantor Reuters pada hari Senin.

Zabihullah Atiq, seorang anggota parlemen dari Badakhshan, mengatakan pasukan Afghan telah menggunakan berbagai rute untuk melarikan diri. Penjaga perbatasan Tajikistan mengatakan para tentara Afghanistan mendapat tempat tinggal dan makanan, namun tidak memberikan keterangan lebih lanjut.

Jatuhnya semangat tempur pasukan Afghanistan

Oleh Kawoon Khamoosh, BBC News

Dengan gelombang kekerasan baru di seluruh negeri, pasukan Afghanistan menghadapi tingkat pertempuran yang belum pernah mereka hadapi tanpa bantuan pasukan asing.

Pejabat pemerintah sudah berusaha tanpa henti untuk memotivasi para tentara dengan menekankan pengorbanan mereka. Namun motivasi banyak tentara menghilang di tengah kabar tentang kekalahan, runtuhnya distrik-distrik penting, dan jatuhnya korban.

Pejabat militer di Kabul berbicara tentang "mundur secara taktis" setiap kali pemberontak berhasil menang, tetapi kami mendengar dari para komandan di medan perang tentang kekurangan amunisi, dan keterlambatan dalam pengiriman bantuan.

Di provinsi Badakhshan, tempat pemerintah kehilangan banyak wilayah dalam beberapa hari terakhir, sumber-sumber lokal mengatakan banyak pejabat pemerintah "melarikan diri" ke Kabul jauh sebelum Taliban menyerang.

Ini tidak hanya dapat membuat para prajurit berkecil hati, tetapi juga menimbulkan pertanyaan yang lebih besar tentang loyalitas para pejabat tinggi yang terlibat dalam perundingan damai.

Akankah para pemimpin politik Afghanistan - yang keluarganya sudah tinggal di luar negeri - akan tetap berada di negara itu jika perang saudara benar-benar meletus?

Presiden Ashraf Ghani menegaskan bahwa pasukan keamanan Afghanistan sepenuhnya mampu mengatasi Taliban, tetapi ada juga laporan tentang semakin banyak tentara yang mencari perlindungan di Pakistan dan Uzbekistan untuk menghindari pertempuran.

Negara-negara tetangga bersiap menghadapi kemungkinan masuknya pengungsi jika pertempuran terus meningkat.

Juru bicara Taliban Suhail Syahin mengatakan kepada BBC bahwa kelompok itu tidak bertanggung jawab atas meningkatnya kekerasan baru-baru ini. Dia bersikeras bahwa banyak distrik telah jatuh ke tangan Taliban melalui mediasi setelah tentara Afghanistan menolak untuk berperang.

Bagi rakyat Afghanistan, ini adalah saat yang mengkhawatirkan, kata Lyse Doucet, kepala koresponden internasional BBC. Taliban, yang telah dituduh melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia dan budaya, mendukung hukuman dalam syariat Islam - seperti eksekusi publik terhadap pelaku pembunuhan - serta melarang televisi, musik, dan bioskop, dan tidak mengizinkan anak perempuan di atas 10 tahun pergi ke sekolah.

"Mereka tidak punya kepastian tentang kehidupan mereka sendiri dan masa depan keluarga mereka," kata Doucet.

Zahra, seorang penduduk Kabul berusia 25 tahun, termasuk di antara warga Afghanistan yang khawatir tentang masa depannya.

"Orang-orang memperkirakan perang yang lebih luas dari sebelumnya. Banyak orang di Kabul takut bahwa Taliban akan mendatangi kami kapan saja," katanya kepada BBC OS di radio World Service.

Zahra, warga Kabul berusia 25 tahunPhoto suppliedZahra mengatakan warga Kabul takut Taliban bisa mendatangi kota mereka "kapan saja".

Jamshid, seorang mahasiswa di Universitas Kabul, mengatakan dia tidak berencana untuk tinggal di negara itu jika Taliban mengambil alih kekuasaan.

Ada juga kekhawatiran tentang bagaimana melindungi misi diplomatik di Afghanistan.

Rusia pada hari Senin mengumumkan bahwa mereka menangguhkan sementara operasional di konsulatnya di Mazar-i-Sharif karena situasi keamanan yang memburuk. Utusan Rusia, Zamir Kabulov, mengatakan pasukan Afghanistan telah menyerahkan terlalu banyak distrik kepada Taliban, yang membuat situasi menjadi tidak stabil.

Turki dan Iran juga telah menangguhkan operasi di kota itu, memindahkan para diplomat mereka ke Kabul, menurut sejumlah laporan.

Pasukan internasional yang dipimpin AS menggulingkan Taliban dari kekuasaan di Afghanistan pada tahun 2001. Kelompok militan itu menyembunyikan Osama Bin Laden dan tokoh al-Qaeda lainnya yang terlibat dengan serangan 11 September atau 9/11 di AS, yang memicu invasi tersebut.

Namun, Taliban secara bertahap membangun kembali kekuatan mereka untuk merebut wilayah lagi.

Taliban mengikuti perundingan langsung dengan AS pada 2018, dan Presiden Joe Biden mengatakan penarikan pasukan Amerika bisa dibenarkan karena mereka telah memastikan bahwa Afghanistan tak lagi dapat menjadi basis bagi para jihadis asing untuk berkomplot melawan Barat.

Namun, mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengatakan kepada BBC bahwa dia yakin misi militer NATO dan AS di sana telah gagal dalam mengalahkan terorisme dan ekstremisme.

Dia meminta pemerintah Afghanistan dan Taliban untuk "sesegera mungkin duduk bersama dan berunding untuk perdamaian".

(ita/ita)