Corona Meningkat Saat Euro 2020, UEFA Dituding Tak Bertanggung Jawab

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 03 Jul 2021 13:34 WIB
Suporter Swiss berkumpul di St Petersburg, Rusia, yang mencatat tingkat kematian tertinggi akibat COVID-19. (Reuters)
Jenewa -

Infeksi COVID-19 telah meningkat 10% dalam sepekan di Eropa setelah dua bulan menurun dan risiko gelombang kasus baru meningkat, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Direktur Regional WHO, Hans Kluge, mengatakan risiko meningkat karena program vaksin yang lamban, kemunculan varian baru virus Corona, dan peningkatan interaksi sosial.

Juga, pada Juni-Juli digelar turnamen sepak bola akbar Euro 2020 di 11 negara yang dikhawatirkan bisa menjadi "penyebar luar biasa" COVID-19.

Ratusan suporter yang kembali dari London dan St Petersburg sudah dinyatakan positif COVID-19.

Pada Jumat (02/07), perhelatan Euro 2020 -- dikenal juga dengan Piala Eropa 2020 -- memasuki babak perempat final dengan menggelar dua pertandingan.

Laga Swiss melawan Spanyol digelar di St Petersburg, Russia, yang mencatat tingkat kematian tertinggi, namun juru bicara pemerintah, Dmitry Peskov, menegaskan pihaknya tak berencana menerapkan lockdown atau karantina wilayah untuk menekan penyebaran virus.

Baca juga:

Laga kedua, yang mempertemukan Belgia dan Italia, digelar di Muenchen, Jerman.

Menteri Dalam Negeri Jerman, Horst Seehofer, mengecam federasi sepak bola Eropa, UEFA, karena mengizinkan Euro 2020 digelar dengan melibatkan banyak penonton.

Ia menyebut UEFA "sangat tidak bertanggung jawab".

"UEFA sangat tidak bertanggung jawab karena saat ini kita semua menghadapi pandemi dan di negara-negara seperti Inggris tingkat penambahan kasusnya tinggi ... dan melihat rekaman video, orang-orang berdekatan satu sama lain," kata Seehofer.

"Ini hanya akan meningkatkan tingkat infeksi. Saya curiga ini semua didorong oleh kepentingan komersial, padahal [semestinya] kepentingan komersial tidak boleh mengorbankan keselamatan publik," tegas Seehofer.

Sebelumnya, staf senior darurat WHO, Catherine Smallwood, meminta kota-kota tuan rumah agar berbuat lebih banyak dalam memantau pergerakan para suporter.

"Yang perlu kita perhatikan adalah suporter di sekitar stadion," katanya, menyoroti perjalanan mereka sebelum dan sesudah laga.

"Apa yang terjadi setelah pertandingan? Apakah mereka pergi ke bar dan pub yang ramai?"

Kebangkitan varian Delta

Varian Delta yang berasal dari India dianggap sebagai ancaman terbesar oleh banyak negara di Eropa.

Badan pengendalian penyakit Uni Eropa (ECDC) memperkirakan kehadiran varian itu dapat menyebabkan 90% kasus pada akhir Agustus.

Rusia mengalami rekor jumlah kematian selama tiga hari terakhir, dengan 672 kematian dan 23.543 kasus baru diumumkan pada Kamis saja.

Sebagian besar kasus baru di Moskow adalah varian Delta, dan pejabat tinggi kesehatan juga membicarakan varian Delta-Plus.

Kota tuan rumah Euro 2020 St Petersburg mencatat 115 kematian dalam 24 jam terakhir pada Kamis, menjelang laga perempat final Euro 2020 antara Spanyol dan Swiss.

Otoritas kesehatan Finlandia mengimbau masyarakat agar menghindari bepergian ke Rusia setelah ditemukan 400 orang terinfeksi COVID-19 yang dikaitkan dengan suporter negara itu yang kembali dari St Petersburg pada 21 Juni lalu.

UEFA 'tidak bertanggung jawab'

Badan sepak bola Eropa, UEFA, dituding "tidak bertanggung jawab" oleh Menteri Dalam Negeri Jerman Horst Seehofer, yang mengatakan bahwa saling memeluk di antara suporter akan membantu menyebarkan virus.

Dia sangat mengkritisi terhadap keputusan mengizinkan 60.000 suporter masuk ke stadion di Budapest (Hungaria) dan Wembley di London untuk fase semi-final dan final.

"Saya tidak bisa menjelaskan mengapa UEFA tidak berpikiran sehat... Saya menduga itu karena komersialisme," katanya kepada wartawan.

UEFA berkukuh bahwa keputusan tentang jumlah penggemar yang diizinkan masuk ke dalam stadion "berada di bawah tanggung jawab otoritas lokal yang kompeten".

Scotland fans in London

Ribuan suporter Skotlandia berkumpul di kawasan Leicester Square jelang laga melawan Inggris. (Getty Images)

Otoritas kesehatan Skotlandia mengatakan pada hari Rabu bahwa 1.294 kasus COVID telah dikaitkan dengan orang-orang yang melakukan perjalanan ke London saat timnya melawan Inggris pada 18 Juni, termasuk 397 penggemar yang berada di Stadion Wembley.

Di seluruh Inggris, 27.989 kasus lainnya telah dicatat, jumlah tertinggi sejak Januari. Namun, 62,7% orang dewasa di Inggris sudah mendapatkan dua dosis vaksin.

Dalam perkembangan lainnya:

  • Portugal memberlakukan jam malam di Lisbon, Porto, dan kota lainnya mulai Jumat, karena terjadi peningkatan kasus terbesar sejak Februari
  • Spanyol telah melaporkan peningkatan tajam di antara orang-orang berusia dua puluhan - hingga 366 kasus per 100.000 orang.
  • Jerman memperkirakan varian Delta menyumbang lebih dari 70% kasus bulan ini sehingga dapat melonggarkan tindakan karantina pada pengunjung dari Inggris dan Portugal di mana varian tersebut sudah lazim.

Badan obat-obatan Uni Eropa mengatakan dua dosis vaksin yang sejauh ini telah disetujui tampaknya memberikan perlindungan terhadap paparan varian Delta.

Sementara vaksinasi yang dipercepat di seluruh Uni Eropa dalam beberapa bulan terakhir, di mana setidaknya satu dari tiga orang telah mendapatkan dua dosis, hal itu tidak terjadi di Rusia.

Presiden Vladimir Putin pada Rabu mengimbau warga Rusia untuk divaksinasi, namun sejauh ini hanya 16% yang mendapat satu suntikan.

Berbagai klinik kesehatan di Moskow mulai menawarkan suntikan booster dalam upaya untuk mengekang penyebaran, namun laporan-laporan lokal mengatakan persediaan setidaknya satu vaksin telah habis di beberapa klinik kota.

Hans Kluge mengatakan bahwa di seluruh wilayah Eropa yang dipantau WHO, termasuk Asia Tengah, hanya 24% orang yang tercakup dan setengah dari orang lanjut usia dan 40% petugas kesehatan tetap tidak terlindungi.

(nvc/nvc)