Capek Kerja Keras Tapi Gaji Pas-pasan, Tren 'Kaum Rebahan' Marak di China

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 07 Jun 2021 14:55 WIB
Jakarta -

Kaum muda di China yang lelah dengan budaya kerja keras tapi dengan imbalan yang kecil, kini mulai mengubah gaya hidup dengan memilih jadi "kaum rebahan".

Tren baru ini, dikenal dengan istilah "tang ping", dikenal sebagai penangkal tekanan di masyarakat untuk mencari kerja dan berkinerja baik walau harus bekerja dalam shift panjang.

China kini memiliki pasar tenaga kerja yang menyusut dan kaum muda di sana sering kali memiliki jam kerja yang lebih lama.

Istilah "tang ping" ini diyakini berasal dari suatu unggahan di suatu laman media sosial populer di China.

"Cuma rebahan adalah gerakan bijakku," tulis seorang netizen di suatu unggahan yang kini sudah dihapus di forum diskusi Tieba.

Dia sempat menambahkan, "Cukup hanya dengan rebahan, manusia bisa menjadi ukuran segala sesuatu."

"Pepatah-petitih" itu menular jadi bahan diskusi di Sina Weibo, yang juga laman mikrobloging populer di China, dan akhirnya jadi kata kunci.

Gagasan di balik istilah "tang ping" itu -- tidak bekerja terlalu keras, puas dengan yang sudah diraih dan sempatkan waktu untuk bersantai -- langsung menuai pujian banyak warganet dan menginspirasi munculnya meme-meme baru.

Bahkan terminologi itu juga dipandang sebagai gerakan spiritual.

"Mengirim CV ibarat mencari jarum di tumpukan jerami," kata seorang teknisi laboratorium bermarga Wang kepada kantor berita AFP.

"Kita sudah ditekan masyarakat dan cuma ingin hidup yang lebih santai ... 'rebahan saja' bukan untuk cari mati. Saya masih kerja kok, namun tidak sampai diforsir," kata pria berusia 24 tahun itu.

Laman berita Sixth Tone melaporkan bahwa suatu kelompok "tang ping" membuat platform mirip IMDb bernama Douban yang telah menarik 6.000 anggota.

Namun, bersamaan dengan unggahan pertama di Tieba itu, kelompok Douban juga sudah dihapus, begitu pula pencarian tagar #TangPing yang sudah lenyap di Sina Weibo.

Tampaknya itu merupakan tindakan sensor untuk mencegah tagar itu kian populer jadi tren baru.

Meningkatnya tekanan pada kaum muda China

Oleh Kerry Allen, analis media China

Ada sejumlah tren yang serupa dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2016, beberapa gambar seorang aktor China di suatu serial komedi situasi (sitcom) menjadi meme populer.

Tahun berikutnya para warganet China menggandrungi karakter kartun asal Jepang bernama Gudetama alias "si kuning telur yang depresi".

Saat itu, laman berita Sixth Tone mencatat bahwa kebangkitan dari apa yang disebut "budaya sang" atau secara harafiah "budaya hari kiamat" mencerminkan sikap kaum muda yang "etika kerjanya rendah, begitu pula dengan motivasi diri yang kurang disertai sikap apatis."

Tren semacam itu muncul di tengah meningkatnya tekanan yang diberikan pada kaum muda China.

Kelompok umur ini telah tumbuh di bawah kebijakan "satu anak cukup" dan diharapkan melakoni jam kerja yang lebih panjang ketimbang generasi sebelumnya - jumlah mereka dua kali lebih banyak dari warga di usia pensiun.

Populasi kaum muda China kini juga menghadapi tekanan yang lebih besar untuk menunjukkan bahwa mereka "punya tanggung jawab secara sosial" dengan mematuhi aturan-aturan baru di bawah sistem kredit sosial yag kontroversial di China.

Mereka pun terus-menerus didesak untuk menunjukkan nasionalismenya dengan memboikot daftar perusahaan dan merek asing yang tak kunjung berakhir.

Anda mungkin juga tertarik dengan tayangan berikut:

(ita/ita)