Cerita Perempuan yang Berjalan Keliling Dunia Sendirian

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 05 Jun 2021 17:48 WIB
Oregon -

"Mengapa?" Ini pertanyaan sederhana yang sering ditanyakan banyak orang kepada Angela Maxwell setelah perempuan asal Amerika Serikat itu memutuskan mengubah kehidupan yang sudah mapan demi mengejar mimpi besar.

Namun bagi Maxwell, pertanyaan itu layak untuk dijawab. Bagaimanapun, dia melakukan perjalanan yang jarang ditempuh orang. Pada tahun 2013, dia memutuskan untuk berkeliling dunia. Sendirian.

Perjalanan itu bukan sesuatu yang direncanakan Maxwell. Faktanya, dia melakukan itu hanya sembilan bulan setelah mendengar percakapan di kelas kursus seni tentang seorang laki-laki yang konon berjalan keliling dunia.

Baca juga:

Perjalanan Maxwell tidak dipicu rasa kehilangan, kekalahan, atau persoalan pribadi. Ketika memutuskan memulai perjalanan ini, umurnya 30-an tahun. Dia menjalankan bisnis yang sukses dan memiliki hubungan percintaan.

"Saya pikir saya bahagia," katanya, "tetapi dalam retrospeksi, saya menyadari bahwa saya sedang mencari hubungan yang lebih mendalam dengan alam dan orang-orang, dengan hidup sederhana dan terhubung dengan dunia di sekitar saya."

Menurut Maxwell, cara terbaik untuk menemukan itu jalan hidup itu adalah dengan meletakkan satu kaki di depan yang lain.

Berjalan kaki akan menekan jejak karbon yang dia tinggalkan. Dan dengan langkah yang lambat, dia dapat sepenuhnya membenamkan diri ke alam, bertemu orang-orang yang hanya akan dia lewati dan mengenal budaya lain dengan cara yang unik.

Saat mempersiapkan perjalanan ini, Maxwell merasa seluruh perempuan penjelajah dunia memberinya keberanian.

Dia jatuh cinta dengan tulisan dan gaya perjalanan lambat Robyn Davidson yang berkeliling Australia dengan unta.

Maxwell juga belajar tentang pejalan kaki jarak jauh Ffyona Campbell. Dia membaca kisah Rosie Swale-Pope yang berjalan dari Eropa ke Nepal dengan cara menumpang orang lain, berlayar, menyeberangi Chile dengan menunggang kuda dan pada usia 59 mengelilingi dunia dengan cara berlari.

"Saya membaca buku-buku mereka dengan harapan menemukan semangat dan saya mendapatkannya. Saya mendalami tantangan, perjuangan, dan kemenangan mereka."

"Kisah setiap perempuan sangat berbeda dan itu memberi saya kepercayaan diri untuk mencoba perjalanan ini," kata Maxwell.

Begitu memutuskan untuk pergi, Maxwell menjual semua barang miliknya dan mengatur perlengkapan yang dia perlukan.

Maxwell mengemasi gerobak seberat 50 kilogram berisi peralatan berkemah, makanan kering, filter air minum berstandar militer, dan pakaian untuk empat musim berbeda.

Maxwell meninggalkan kampung halamannya di Bend, Oregon, pada 2 Mei 2014. Saat itu dia menuju ke sebuah petualangan yang begitu besar sehingga mungkin dia tidak tahu persis apa yang menunggunya di sepanjang jalan.

Ketika saya pertama kali berkomunikasi dengannya melalui Skype pada Juni 2018, Maxwell sudah hampir empat tahun melakukan perjalanan itu dan telah berjalan lebih dari 20.000 kilometer di 12 negara di tiga benua.

Saya penasaran dan bertanya kepadanya tentang kepribadian semacam apa yang dibutuhkan untuk berjalan keliling dunia. Wajahnya bersinar. Dia menyindir, "yang keras kepala."

"Ini mungkin kombinasi dari ambisi, sedikit keras kepala dan sedikit gairah. Bukan untuk olahraga, tetapi untuk menemukan diri dan berpetualang," ujarnya.

Maxwell berkata, meski dia dengan cepat menemukan rutinitasnya, tidak ada hari yang sama.

Baca juga:

Rutinitas yang dia jalani adalah bangun saat matahari terbit, lalu meminum dua cangkir kopi instan, menyantap semangkuk oatmeal, berkemas, berjalan, mendirikan kemah untuk malam, makan mie instan dan meringkuk di kantong tidur.

Awalnya, Maxwell berangkat dengan sebuah rencana, tapi dengan cepat dia menyadari bahwa berjalan tanpa persiapan justru menghadirkan petualangan.

Itu sebabnya, walau dia mengikuti arahan umum, Maxwell selalu mempercayai firasatnya, ke mana dia harus berbelok, ke kiri atau ke kanan.

Kulit Maxwell melepuh terbakar sinar matahari. Dia tersengat panas di gurun Australia dan mengalami demam berdarah saat di Vietnam.

Maxwell juga diserang dan diperkosa seorang pengembara yang mendobrak kemahnya di Mongolia. Dia mendengar suara tembakan saat berkemah di Turki, dan belajar tidur dengan satu mata dan satu telinga terbuka, terjaga terhadap kerentanan tidur nyenyak.

Memang mustahil untuk mengetahui apa yang akan terjadi, tapi Maxwell mengantisipasi segala macam risiko tadi.

"Tetap saja, saya memulai perjalanan ini karena bukan karena saya takut terhadap apapun. Saya lebih takut tidak mengikuti kata hati saya daripada kehilangan semua yang saya miliki dan cintai," ucapnya.

Mengatasi trauma serangan seksual ternyata menjadi momen yang menentukan, di mana Maxwell akhirnya memutuskan untuk terus berjalan.

Walau masih takut, kisah-kisah kegigihan dan kekuatan perempuan lain mendorongnya untuk melanjutkan perjalanan.

"Saya bertekad untuk tidak membiarkan kejadian itu memaksa saya untuk melepaskan impian ini dan pulang."

"Saya telah meninggalkan dunia saya dan tidak punya tanggungan apapun lagi. Saya memahami risiko dalam perjalanan saya."

Maxwell melalukan ini untuk menemukan seberapa kuat pikiran dan tubuhnya, bahkan saat menghadapi kekerasan.

Sepanjang jalan, langkahnya yang lambat memungkinkannya untuk mempelajari budaya lain, secara singkat tapi mendalam.

Dia menjelajahi desa-desa kecil di tepi pantai di sepanjang Laut Tyrrhenian Italia, menyerap suasana yang semarak dan menerima undangan untuk berbincang, duduk, dan minum anggur.

Di Vietnam, saat lelah usai mencapai puncak Hai Van Pass, dia disambut perempuan tua yang mengundangnya untuk beristirahat di gubuk kayu kecilnya di puncak untuk bermalam.

Satu persahabatan berkembang di perbatasan antara Mongolia dan Rusia. Mereka kembali bertemu bertahun-tahun setelahnya di Swiss.

Maxwell bahkan menjadi ibu baptis bagi putri seorang perempuan yang ditemuinya di Italia.

[Gambas:Instagram]

Apakah pertemuan antarbudaya ini berlangsung selama tujuh menit atau tujuh hari, Maxwell selalu mengingat dua hal.

Pertama, menjadi pendengar yang baik untuk belajar. "Perjalanan ini telah mengajari saya bahwa segala sesuatu dan setiap orang memiliki cerita untuk dibagikan, kita hanya harus mau mendengarkan," ucapnya.

Sepanjang perjalanannya, ia mempelajari resep keluarga yang diturunkan dari generasi ke generasi di sebuah desa Italia, peternakan lebah di Republik Georgia dan penanganan unta di Mongolia di Jalur Sutra yang bersejarah.

Kedua, Maxwell belajar pentingnya kontribusi. Dia memotong kayu di Selandia Baru dan berbagi makanan kepada para tunawisma di Italia.

Di kawasan Sardinia, dia membantu seorang petani Italia merenovasi rumahnya.

Namun, cerita Maxwell biasanya adalah kontribusi terbesarnya. Dia berbicara di pertemuan informal, sekolah dan universitas, dan bahkan di panggung TEDx di Edinburgh. Dia berbagi pengalaman untuk menginspirasi orang lain.

Maxwell menyuarakan pemberdayaan perempuan, terutama setelah dia memutuskan untuk terus berjalan meskipun ada serangan di Mongolia.

"Berhenti tidak pernah menjadi pilihan saya," katanya.

Sepanjang ziarahnya, Maxwell mengumpulkan sumbangan untuk LSM seperti World Pulse dan Her Future Coalition yang fokus mendukung anak perempuan dan perempuan muda.

Total, dia mengumpulkan sekitar US$ 30.000 atau sekitar Rp 429 juta.

Menyelami rasa ingin tahu dan pikiran yang terbuka, kata Maxwell, adalah cara yang ampuh untuk "lebih mendalami dunia dan penghuninya".

Selama enam setengah tahun, Maxwell menjalani gaya hidup penuh rasa ingin tahu, ketidakpastian, dan kerentanan ekstrem.

Dia melakukannya untuk mencari sesuatu yang dia tidak pernah yakin akan temukan: kebahagiaan pribadi dan hubungan yang lebih dalam dengan dunia di sekitarnya.

Pada 16 Desember 2020, perjalanan Maxwell berakhir tepat di tempat awalnya: di rumah sahabatnya Elyse di Bend.

Sama seperti dia telah menjawab panggilan untuk memulai perjalanannya, dia tahu waktu yang tepat untuk mengakhirinya.

Maxwell juga tahu bahwa petualangan ini telah menjadi cara hidup yang bisa dia jalani kapan saja.

Saat ini, dia sedang menulis sebuah buku. Dia menyusun rencana perjalanan berikutnya dan menciptakan cara agar perempuan menemukan, mengekspresikan, dan mewujudkan keberanian dalam kehidupan sehari-hari.

Entah berjalan kaki mengarah ke belahan dunia atau di ujung jalan, Maxwell telah menunjukkan nilai sebenarnya dari memperlambat aktivitas, memberi lebih banyak perhatian dan memberi lebih dari yang kita terima di sepanjang jalan.

---

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di BBC Travel.

(nvc/nvc)