Corona di India Kini Diperparah Penyakit Jamur Putih, Apa Gejalanya?

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 02 Jun 2021 13:16 WIB
Jakarta -

Mei lalu, seorang pria setengah baya yang mengidap Covid-19 dibawa ke unit perawatan intensif (ICU) suatu rumah sakit di Kota Kolkata, India bagian timur.

Saat kondisinya memburuk, pasien itu dipasangkan ventilator dan diberi steroid - yang dianggap sebagai obat manjur bagi pasien Covid-19 yang sakit parah dan kondisinya sudah kritis.

Namun, para pakar mengatakan obat itu juga mengurangi imunitas sekaligus menaikkan gula darah pasien yang bersangkutan.

Setelah lama dirawat di ICU, pasien itu lantas pulih dan bersiap untuk pulang. Tanpa disangka, para dokter menemukan pasien tersebut sudah terinfeksi jamur mematikan yang kebal terhadap obat.

Baca juga:

Jamur Candida auris (C. auris), yang ditemukan sekitar satu dekade lalu, merupakan salah satu mikroba di rumah sakit yang paling ditakuti di dunia. Jamur ini kerap menyebabkan infeksi saluran darah dan paling sering terdeteksi di unit perawatan intensif di rumah sakit-rumah sakit seluruh dunia. Tingkat kematian akibat jamur ini mencapai sekitar 70%.

"Kami menyaksikan bertambahnya pasien yang menderita infeksi itu selama gelombang kedua Covid-19. Ada banyak orang sakit di ICU dan banyak dari mereka menerima dosis steroid tinggi. Itu bisa menjadi penyebab," kata Dr Om Srivastava, spesialis penyakit infeksi yang berbasis di Mumbai.

Covid, India, jamur

Jamur candida auris menyebabkan infeksi yang resistan pada obat melanda para pasien Covid di India. (Getty Images)

Infeksi jamur apa yang tengah meningkat?

Saat gelombang penularan Covid melanda India dan banyak pasien sakit parah memenuhi ruang ICU, para dokter menyaksikan peningkatan infeksi jamur yang berbahaya.

Pertama, ada wabah mucormycosis atau jamur hitam, infeksi yang jarang terjadi namun berbahaya. Jamur hitam menyerang hidung, mata, dan terkadang otak. Tercatat sudah ada 12.000 kasus dan lebih dari 200 kematian akibat penyakit itu.

Kemudian, ada pula kenaikan kasus infeksi jamur lain yang juga mematikan bagi pasien Covid-19, sebagian besar setelah seminggu atau 10 hari dirawat di ICU.

Jamur yang dimaksud adalah jamur Candida. Sejauh ini terdapat dua spesies jamur Candida, yaitu auris dan albicans. Keduanya berakibat fatal bagi manusia.

Aspergillus, jenis lain dari kelompok jamur, mempengaruhi paru-paru dan juga bisa berdampak fatal.

Baca juga:

Dari lebih lima juta tipe jamur, Candida dan Aspergillus merupakan dua kelompok besar yang sudah merenggut banyak nyawa manusia.

Covid, India, jamur

Jamur Aspergillus menjangkiti paru-paru dan ini bisa berakibat fatal (Getty Images)

Candida adalah jamur yang bisa muncul di banyak permukaan, seperti di tirai kamar mandi, layar komputer, stetoskop dokter, hingga pegangan di gerbong kereta api.

Menurut para dokter, C. auris sering menyebabkan infeksi aliran darah, namun juga bisa menjangkiti sistem pernapasan, sistem saraf pusat, organ dalam, dan kulit.

Aspergillus juga tetap berada di lingkungan dan sering ditemukan dalam sistem pemanas maupun pendingin udara. Biasanya imunitas tubuh kita bisa mencegah masuknya spora jamur ke saluran pernapasan.

Namun bagi pasien yang menderita Covid-19, jamur itu bisa masuk ke saluran pernapasan karena kulit, dinding pembuluh darah maupun lapisan saluran napas lainnya pada tubuh pasien sudah rusak akibat virus corona.

Infeksi ini menimpa sekitar 20% hingga 30% pasien yang sudah sakit parah maupun yang dibantu mesin ventilator, menurut Dr DP Kalantri dari Rumah Sakit Kasturba di Kota Wardha, negara bagian Maharashtra.

Apa gejala-gejala infeksinya?

Gejala sejumlah penyakit jamur bisa mirip dengan Covid-19, termasuk demam, batuk, dan sulit bernapas.

Untuk infeksi jamur Candida, gejalanya termasuk seriawan berwarna putih - sehingga terkadang infeksi itu disebut "jamur putih" - pada hidung, mulut, paru-paru dan perut maupun dasar kuku.

Sedangkan pada bentuk infeksi yang lebih invasif - saat kuman itu masuk ke darah - gejalanya sering berupa anjloknya tekanan darah, demam, sakit pada perut dan infeksi saluran kencing.

Mengapa infeksi bisa terjadi?

Sedikitnya 5% pasien Covid-19 kondisinya menjadi kritis dan butuh perawatan intensif, terkadang sampai waktu yang lama.

Para pakar mengatakan mereka yang terpaksa dibantu oleh mesin ventilator selalu berisiko lebih besar terjangkit infeksi bakteri maupun jamur.

Covid, India, jamur

Ruang ICU di banyak rumah sakit di India sudah penuh oleh pasien Covid selama gelombang kedua penularan. (Reuters)

Rendahnya pengendalian infeksi di unit perawatan intensif yang penuh sesak selama pandemi merupakan alasan utama, kata dokter.

Belum lagi tenaga medis yang sudah terlalu lama bekerja dengan pelindung diri yang terbatas, penggunaan tabung cair yang meningkat, dan rendahnya kesadaran mencuci tangan termasuk kebersihan fasilitas dan praktik disinfeksi yang tidak teratur menjadi penyebab rendahnya pengendalian infeksi.

"Dengan pandemi yang berkepanjangan, faktor kelengahan dan keletihan telah menimpa para tenaga medis. Praktik-praktik pengendalian infeksi pun berkurang. Itu yang jadi penyebab utama." kata Dr Arunaloke Chakrabarti, ketua lembaga International Society of Human and Animal Mycology.

Selain itu ada penyebab lain.

Penggunaan steroid maupun obat-obatan lain yang kelewat batas bisa melemahkan sistem imunitas tubuh sehingga kondisi ini membuat pasien Covid-19 yang sudah sakit parah kian rentan terkena infeksi jamur.

"Jamur jenis demikian biasanya menyebabkan infeksi setelah sistem imunitas tubuh berkurang signifikan. Ini juga disebut infeksi oportunistik," kata Dr Zachary Rubin, pakar imunologi.

Menurut Dr Rubin, pasien HIV/Aids juga secara signifikan berisiko besar terinfeksi jamur. "Penyakit jamur ini tadinya jarang dikaitkan dengan Covid-19, namun kini kian sering terjadi di India."

Diagnosisnya tidak mudah, karena pengetesannya butuh spesimen dari dalam paru-paru. Obatnya pun mahal.

"Ini sangat mengkhawatirkan dan bikin frustrasi para dokter yang menangani infeksi itu. Seperti menghadapi tiga pukulan beruntun paru-paru pasien yang sudah rusak oleh Covid-19, lalu sudah terinfeksi bakteri, dan kini infeksi jamur," kata Dr Kalantri.

"Ibarat sedang berjuang di pertempuran yang sudah pasti kalah."

Simak juga video 'Vietnam Temukan Varian Corona 'Oplosan' Inggris-India':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)