Korea Utara Klaim Anak Yatim Piatu Sukarela Kerja di Tambang

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 31 Mei 2021 13:42 WIB
Jakarta -

Media pemerintah Korea Utara mengeklaim sejumlah anak yatim piatu bekerja secara sukarela di berbagai tambang dan ladang yang dikelola pemerintah.

Kantor berita Korut (KCNA) menyebut ratusan anak "dengan kebijaksanaan dan keberanian di masa muda terbaik mereka" telah memilih melakoni pekerjaan fisik bagi negara.

Usia mereka tidak dijabarkan secara spesifik, namun beberapa foto sepertinya memperlihatkan anak-anak belasan tahun.

Berbagai kelompok hak asasi manusia sudah sejak lama menuding Korea Utara memanfaatkan anak-anak sebagai tenaga kerja paksa, namun Korut membantahnya.

Pada Februari lalu, BBC melaporkan mengenai tudingan bahwa beberapa generasi tahanan perang Korea Selatan telah digunakan sebagai budak di sektor pertambangan batu bara guna menghasilkan uang bagi rezim Korut sekaligus mendanai program senjatanya.

Baca juga:

Analysis box by Laura Bicker, Seoul correspondentBBC

Saya telah mewawancarai sejumlah pembelot Korea Utara yang mengeklaim dipaksa bekerja di tambang-tambang negara itu.

Kondisinya, menurut mereka, sangat parah. Mereka menyebut kerap terjadi kecelakaan fatal dan waktu bekerja yang panjang, namun dengan sedikit makanan.

Hanya segelintir orang yang memilih bekerja seperti itu dan saya yakin banyak organisasi HAM yang melihat laporan serta foto dari media pemerintah Korut dengan penuh keprihatinan.

Ada pula pertanyaan yang lebih besar mengapa Korea Utara mencari tenaga kerja cuma-cuma untuk tambang, ladang, dan pabriknya?

Ini adalah masa-masa sulit di Korut setelah Kim Jong-un menempuh langkah drastis dengan menutup perbatasan Januari lalu guna menghentikan penyebaran Covid-19 dari negara tetangga, China.

Ada beragam laporan bahwa barang-barang kebutuhan pokok akhirnya sampai di Korut, namun jelas tidak cukup untuk kembali menggerakkan ekonomi.

Satu-satunya cara agar roda ekonomi berputar lagi adalah meningkatkan produksi. Untuk itu, rezim memerlukan sumber baru tenaga kerja cuma-cuma.

Dengan merekrut "sukarelawan" muda yang dipuji atas "kebijaksanaan dan keberaniannya" Korut tidak hanya mendapat tenaga kerja gratis tapi juga sosok-sosok panutan Partai Komunis yang diidolakan atas pengorbanan mereka.

Langkah ini juga mengemuka saat Kim Jong-un berupaya membasmi pembangkangan di kalangan muda Korut. Dia melabeli media asing, seperti K-pop, berita luar negeri, dan drama sebagai "racun berbahaya".

Ketika masa sulit tiba, dia tidak ingin rakyatnya tahu ada orang-orang lain yang bernasib baik khususnya jika dia mengirim anak-anak ke tambang batu bara.

Pada April lalu, Kim Jong-un memperingatkan rakyatnya untuk bersiap menghadapi masa sulit sesuatu yang jarang dilakukan seorang pemimpin Korut.

Korut sebelumnya telah menutup perbatasan pada 2020 akibat pandemi virus corona, sehingga praktis memutus perdagangan dengan China yang selama ini diandalkan dalam keberlangsungan ekonomi.

Baca juga:

Media pemerintah melaporkan apa yang mereka sebut sebagai para relawan telah dikerahkan sebagai tenaga kerja di seantero negeri.

Pada Sabtu (29/05), KCNA melaporkan sebanyak 700 anak yatim piatu telah sukarela bekerja di pabrik, tambang, dan ladang.

Lalu pada Kamis (27/05), KCNA melaporkan "puluhan anak yatim piatu bergegas ke kompleks tambang batu bara Chonnae untuk memenuhi ikrar mereka dalam membayar sepersekian juta cinta yang telah ditunjukkan partai".

https://twitter.com/nknewsorg/status/1398217493534105601

Laporan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengenai HAM pada 2020 menuding Korut mempraktikkan "tenaga kerja anak dalam wujud terburuk".

Menurut laporan itu, para pejabat Korut sering mengirim anak-anak sekolah untuk bekerja "membantu menyelesaikan proyek-proyek khusus, seperti menyingkirkan salju di jalan-jalan utama atau mencapai target produksi".

Laporan itu juga menyebut anak-anak berusia 16 atau 17 tahun "didaftarkan dalam brigade konstruksi kaum muda bercorak militer selama 10 tahun" dan menderita akibat "cedera fisik serta psikologis, kekurangan gizi, keletihan, dan perlambatan pertumbuhan lantaran bekerja paksa".

Korea Utara berulang kali membantah tuduhan-tuduhan ini.

Awal bulan ini, Korut menuding Presiden AS, Joe Biden, menjalankan "kebijakan bermusuhan" terhadap mereka selagi Biden bersiap merilis kebijakan baru dalam berurusan dengan Pyongyang dan program nuklirnya.

(ita/ita)