Anjing Pelacak Bisa Endus Hampir 90 Persen Orang yang Tertular Corona

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 26 Mei 2021 12:14 WIB
London -

Penyakit COVID-19 memiliki bau unik yang dapat dideteksi oleh anjing yang dilatih khusus dengan akurasi hampir 90%, menurut penelitian di Inggris.

Temuan ini - yang perlu diuji lagi di laboratorium - didapatkan melalui enam anjing yang menguji 3.200 sampel bau dari orang yang tertular COVID, bau yang tak dapat tercium oleh manusia.

Anjing-anjing itu dapat mengidentifikasi COVID dengan varian yang banyak ditemukan pertengahan tahun lalu, serta varian yang muncul akhir tahun.

Profesor James Logan, ketua pengawasan penyakit di London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM), yang memimpin proyek penelitian ini mengatakan, "Yang bagus adalah anjing-anjing itu telah dilatih dengan varian awal yang kemudian bermutasi menjadi varian baru."

"Anjing-anjing ini dapat mendeteksi varian baru tanpa latihan tambahan."

"Jadi hasil ini memberikan harapan dan menunjukkan anjing dapat melacak berbagai varian COVID," tambahnya.

Temuan ini akan sangat berguna untuk skrining di bandar udara serta di acara publik besar.

Anjing-anjing yang dilatih ini dapat melacak 88% kasus virus Corona. Artinya, dalam setiap 100 orang pengidap COVID, anjing-anjing ini gagal melacak 12 orang.

Adapun tingkat kesalahan anjing-anjing ini mencapai 16%. Artinya, dalam setiap 100 orang yang tidak mengidap COVID, anjing-anjing tersebut malah menunjukkan 16 orang terinfeksi virus Corona.

Anjing memiliki kemampuan penciuman 100.000 lebih baik dari manusia dan sering digunakan untuk melacak obat bius dan bahan peledak.

Penelitian baru-baru ini menunjukkan anjing - khususnya jenis spaniel dan retriever - dapat melacak bau unik penyakit seperti kanker, Parkinson dan malaria.

Seperti apa uji coba COVID dengan anjing pelacak?

Ini dia enam anjing yang dilatih mengendus Covid.

Ini dia enam anjing yang dilatih mengendus COVID. (PA Media)

Enam anjing dilatih untuk mencium bau orang yang tertular COVID-19 dengan menggunakan kaus kaki, masker, serta kaus dari berbagai bahan.

Enam anjing itu - Asher, Kyp, Lexie, Tala, Millie, dan Marlow - dari badan amal Medical Detection Dogs dilatih dalam penelitian ini.

Tim peneliti tak ada yang mengetahui mana sampel bau dari orang yang positif terkena COVID dan yang negatif.

aning pelacak Covid.

Anjing yang berhasil melacak dengan benar diberi makanan. (PA Media)

Anjing-anjing diberi makanan bila berhasil mengidentifikasi sampel dari orang yang positif atau negatif COVID.

Sebagian orang dalam kategori negatif COVID, mengalami flu biasa, untuk memastikan anjing-anjing pelacak ini dapat membedakan antara COVID dan penyakit pernapasan lain.

Anjing-anjing itu bahkan dapat melacak COVID dari varian yang berbeda dan bila ada orang yang tanpa gejala atau hanya tertular virus dengan kandungan sangat rendah.

Claire Guest, ilmuwan di badan amal Medical Detection Dogs, lembaga yang melatih hewan-hewan ini, mengatakan hasil itu merupakan "bukti lebih lanjut bahwa anjing adalah salah satu sensor yang paling dapat diandalkan dalam mendeteksi bau penyakit manusia."

Apabila ada satu orang di pesawat dengan 300 penumpang terkena COVID, anjing-anjing ini dapat dengan tepat melacak orang itu. Namun kemungkinan salah mengendus 48 orang yang sebenarnya negatif, tapi masuk kategori positif.

Dengan probabilitas ini, tim peneliti tidak merekomendasikan hanya menggunakan anjing untuk melacak kasus positif.

Dapat melacak 300 orang dalam setengah jam

Para ilmuwan mengatakan pelacakan dengan anjing dan disertai dengan tes usap, hasil deteksi COVID dapat mencapai 91%.

Hal lain yang menguntungkan adalah kecepatan. Tes paling cepat untuk virus Corona memerlukan 15 menit sampai ada hasil, sementara endusan anjing untuk suatu penyakit hanya memerlukan beberapa detik.

Dua anjing dapat melacak 300 orang penumpang pesawat dalam waktu setengah jam, menurut para peneliti.

Anjing dapat mengendus Covid dalam hitungan detik.

Anjing dapat mengendus COVID dalam hitungan detik. (PA Media)

Anjing-anjing ini dapat digunakan untuk metode skrining massal, menurut Prof James Logan dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, yang melakukan penelitian bersama Universitas Durham.

Secara teori, orang dapat diskrining saat antre di bandara atau memasuki satu tempat acara besar dan siapapun yang terlacak anjing harus melakukan tes PCR - tes usap yang lebih akurat yang diproses di laboratorium.

Langkah ini dapat mengurangi jumlah orang yang perlu dikarantina.

Anjing juga dapat digunakan di tempat-tempat lain seperti stasiun kereta untuk menekan penyebaran COVID secara cepat.

Penelitian ini masih dalam tahap awal dan perlu dikaji lagi oleh ilmuwan lain sebelum hasilnya diterbitkan dalam fase studi lebih lanjut dan diuji coba pada orang yang terinfeksi bukan hanya mencium kaus kaki seperti yang dilakukan dalam penelitian.

(nvc/nvc)