Kisah Pilu Perjuangan Keluarga di India Selamatkan Ayah yang Positif Corona

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 19 Mei 2021 09:57 WIB
Apakah keluarganya berhasil menyelamatkan nyawa sang ayah, Anoop Saxena? (BBC)
Jakarta -

Anoop Saxena, 59 tahun, adalah satu dari ratusan ribu orang India yang jatuh sakit akibat Covid-19 pada akhir April lalu.

Dan seperti kebanyakan orang yang mengidap Covid, pria asal kota Ghaziabad di India utara ini mengalami sakit parah sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Namun banyak rumah sakit di India kewalahan. Semua fasilitas kesehatan itu kekurangan tempat tidur serta oksigen pada awal Mei - walaupun para pejabat di Negara Bagian Uttar Pradesh, tempat Kota Ghaziabad berada, bersikukuh tak ada masalah.

Apa yang terjadi pada hari-hari berikutnya hanyalah salah satu contoh kefrustrasian sebuah keluarga dalam mendapatkan bantuan. Ada ribuan lainnya di seluruh India yang bernasib serupa.

Kami menapaktilasi perjuangan keluarga Saxena melalui pembahasan di bawah ini.

Baca juga:

Thursday 29 April BBC People wait in queue for their turn for COVID-19 testing at a test centre at Ghaziabad in Uttar Pradesh, India on April 23, 2021Getty Images

Tidak ada tes yang tersedia

Anoop mengalami demam tinggi pada 29 April dan dokter memintanya untuk menjalani tes Covid-19.

Keluarga tersebut berupaya mendaftar agar tes dilakukan di rumah, tapi pihak laboratorium menolaknya seraya mengatakan mereka tidak memiliki tenaga untuk menyediakan layanan tersebut.

Keluarga Anoop lantas membawanya ke rumah sakit umum. Antrean di sana panjang, dan putra Anoop, Tushar, berharap mereka dapat didahulukan. Namun semua orang di depan mereka juga sakit parah.

Dua jam kemudian, ketika Anoop pingsan dalam antrean, mereka memutuskan untuk membawanya pulang.

Saturday 1 MayBBC

Pukul 10 pagi: Perjuangan agar bisa bernapas

Part one of the journeyBBC

Anoop terbangun pada Sabtu pagi dan memberi tahu keluarganya bahwa dia mengalami kesulitan bernapas.

Keluarganya mendapatkan nebuliser - alat untuk mengubah obat dalam bentuk cairan menjadi uap yang dihirup pasien - untuk membantu pernapasannya.

Alat ini hanya membantu sebentar, namun kadar oksigennya terus menurun.

Saat itu pukul 10 pagi, dan dokter menyarankan agar Anoop dirawat di rumah sakit.

Keluarga itu mencoba mendatangkan ambulans tetapi tidak ada yang tersedia dan mereka tidak memiliki mobil.

Mereka lantas meminta seorang sepupu, yang tinggal di Distrik Hapur, membawa mobilnya ke Ghaziabad - perjalanannya sekitar 27km.

Sang sepupu tiba di rumah Anoop di Akash Nagar pada pukul 14.00, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa ranjang tersedia di rumah sakit.

Pada pukul 16.00, mereka memutuskan untuk membawanya ke Gurdwara (kuil Sikh) Sri Guru Singh Sabha. Di sana dia diberi oksigen dari sebuah silinder.

Keluarga itu berterima kasih kepada pengelola kuil lantaran memberikan layanan gratis bagi keluarga yang membutuhkan pertolongan.

Short presentational grey lineBBC

Pukul 19.30 malam: Mencari ranjang tempat tidur di rumah sakit

Part two of the journeyBBC

Kadar oksigen Anoop menjadi stabil saat dia berada di gurdwara, tetapi para relawan menyarankan agar dia dibawa ke rumah sakit, karena mereka tidak dapat merawatnya di sana tanpa batas waktu.

Tushar memohon kepada mereka untuk menjaga ayahnya di kuil, tapi dalam hatinya dia paham bahwa dia harus menemukan tempat tidur di rumah sakit.

Keluarga Anoop membawanya ke rumah sakit MMG yang dikelola pemerintah. Setelah menghabiskan satu jam, mereka menyadari bahwa dia tak akan mendapatkan tempat tidur dalam waktu dekat.

Short presentational grey lineBBC

Pukul 20.00 malam: Mencari tabung oksigen

Part three of the journeyBBC

Pada pukul 20.00 malam, keluarga Anoop masih berada di rumah sakit. Tushar mengontak saudaranya, yang ada di rumah, dan memintanya agar pergi ke pabrik oksigen di daerah Lal Kuan untuk mencari tabung oksigen.

Saudara lelakinya masuk ke dalam antrean panjang di pabrik, dan dia memutuskan untuk menunggu gilirannya.

Tushar menelepon saudaranya setiap sekian menit. Dia paham jika mereka tidak menemukan tabung oksigen atau tempat tidur rumah sakit, ayahnya tidak bisa bertahan sampai malam.

Short presentational grey lineBBC

Pukul 20:30 malam: Menyerah di rumah sakit

Part three of the journeyBBC

Tushar membawa pulang ayahnya. Dia kemudian meninggalkan rumah untuk membeli tabung oksigen berukuran kecil sebanyak 25 buah untuk membantu Anoop bernapas.

Tabung kecil ini menyuplai oksigen dalam dosis kecil secara berkala tetapi tidak dapat memberikan pasokan terus menerus.

Setiap kaleng berharga 2.500 rupee. Biasanya harganya kurang dari 1.000 rupee. Ini jumlah yang tidak murah bagi keluarga kelas menengah seperti Saxenas, tetapi mereka tidak punya pilihan.

Tushar mencoba untuk menjaga ayahnya agar tetap stabil dengan pasokan oksigen itu, sambil menunggu saudara laki-lakinya kembali dengan tabung oksigen.

Pada pukul satu pagi, saudaranya kembali dengan tangan hampa lantaran pabrik tutup sebelum dia mendapatkan tabung oksigen . Mereka terus menggunakan tabung oksigen berukuran kecil itu dan Anoop perlahan-lahan stabil.

Sunday 2 MayBBC

Pukul 10 pagi: Mencari tempat tidur di rumah sakit

Part four of the journeyBBC

Dokter sekali lagi memberi arahan bahwa Anoop perlu dirawat di rumah sakit. Keluarga mengantar Anoop ke Rumah Sakit Gargi, yang merupakan layanan kesehatan terdekat dari rumah mereka.

Seorang staf rumah sakit memberitahu mereka agar mencari rumah sakit lain karena tidak ada tempat tidur di sana.

Short presentational grey line BBC Part five of the journeyBBC

Keluarga kemudian membawa Anoop ke Rumah Sakit Sarvodya, tetapi tidak ada tempat tidur tersedia. Sementara itu, Anoop kesulitan bernapas dan hanya ingin pulang.

Tapi keluarganya tidak menyerah.

Short presentational grey line BBC Part six of the journeyBBC

Pada pukul 12:05, mereka sudah berada di Rumah Sakit Santosh - fasilitas medis ketiga yang mereka datangi pagi itu - dan mereka disuruh menunggu di luar bangunan rumah sakit.

Gerbang rumah sakit dikelilingi oleh petugas keamanan, membuat keluarga tersebut merasa seperti berada di luar penjara.

Mereka menunggu selama 10 menit dan memutuskan untuk mencoba rumah sakit lain.

Tushar mulai bertanya-tanya di rumah sakit mana ayahnya akan bernapas terakhir kalinya. Tetapi ketika ibunya menelepon, dia meyakinkannya bahwa mereka telah menemukan tempat tidur, dan semuanya akan baik-baik saja.

Short presentational grey line BBC Part seven of the journeyBBC

Mereka tiba di rumah sakit keempat pada pukul 12.30. Satpam di luar memberitahu mereka untuk menunggu apakah ada pasien yang dipulangkan, atau meninggal dunia.

Tushar tidak percaya ayahnya bakal mendapatkan tempat tidur dengan bergantung pada kematian orang lain.

Sementara itu, tabung oksigen berukuran kecil tak lagi dapat diharapkan dan Anoop kembali terengah-engah.

Short presentational grey lineBBC

Pukul 14.00 siang: Kuilmembuat keluarga Anoop lega

Part eight of the journeyBBC

Kondisi Anoop semakin memburuk dan keluarga tersebut memutuskan untuk tidak membuang waktu lagi dan membawanya kembali ke gurdwara - satu-satunya tempat yang sejauh ini telah menawarkan bantuan.

Tingkat oksigennya mulai meningkat setelah dia terhubung ke silinder.

Short presentational grey lineBBC

Pukul 15.00 siang: Pencarian oksigen berlanjut

Part nine of the journeyBBC

Saat Tushar membawa ayahnya dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, dia meminta saudara laki-lakinya untuk membeli silinder di tempat terdekat, tetapi antreannya terlalu panjang.

Seseorang mengatakan kepadanya bahwa sebuah pabrik di dekat distrik Bulandshahr - satu jam jauhnya - menjual tabung oksigen. Tetapi pada saat saudara laki-laki Tushar sampai di sana, tempat itu sudah tutup.

Saudara laki-laki Tushar kembali ke Ghaziabad dan membeli silinder kecil lima liter di pasar gelap.

Short presentational grey lineBBC

Pukul 17.30 sore: Perjuangan terakhir

Part ten of the journeyBBC

Sudah hampir delapan jam sejak dokter memintanya mencari pertolongan. Tapi Anoop masih berada di gurdwara.

Sementara itu, putrinya, yang tinggal di Kota Aligarh sekitar 120km jauhnya, menemukan tempat tidur di rumah sakit swasta dan meminta keluarganya untuk membawanya ke sana.

Mereka memulai perjalanan sekitar jam enam sore, dan Anoop yang tetap terhubung dengan tabung oksigen berukuran kecil, tiba di rumah sakit pada jam 20.30 malam.

Dia segera dilarikan ke ruangan perawatan intensif. Dokter di sana memberi tahu mereka bahwa Anoop kritis dan peluangnya untuk bertahan hidup sangat kecil.

Monday 3 MayBBC

Pukul 4 pagi: Kalah dalam pertarungan

Setelah delapan jam menunggu, seraya berdoa memohon keajaiban, dokter memberi tahu keluarga bahwa kondisi Anoop memburuk. Tushar berandai-andai jika saja mereka bisa berbuat lebih banyak.

Enam jam kemudian, pada pukul 10 pagi, dokter memberi tahu keluarga tersebut untuk mengucapkan pesan terakhir mereka. Anoop meninggal satu jam kemudian, pukul 11 pagi.

Tushar berharap tidak ada orang lain yang harus menyaksikan orang tua mereka berjuang untuk bernapas seperti ikan yang menggelepar dipaksa keluar dari air; dia berpikir tentang bagaimana sistem yang membunuh ayahnya, dan bukan Covid.

Namun keluarga tersebut bahkan tidak sempat berpilu hati karena kondisi istri Anoop mulai memburuk. Mereka kembali ke rumah ke Ghaziabad.

Peta rute dibuat oleh Paul Sargeant, Lilly Huynh, Gerry Fletcher dan Joy Roxas.

Short presentational grey lineBBC

Simak juga 'Kasus Harian Corona di India Mulai Menurun':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)