Jumlah Bayi Lahir di China Menurun, Kenapa?

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 17 Mei 2021 10:58 WIB
Di China 12 juta bayi lahir tahun lalu - penurunan signifikan ketimbang tahun 2016 yang sebanyak 18 juta bayi. (Getty Images)
Jakarta -

Populasi di China kini mengalami pertumbuhan paling rendah dalam beberapa dekade terakhir, ungkap data pemerintah terbaru.

Tingkat pertumbuhan per tahun rata-rata cuma 0,53% dalam 10 tahun terakhir, lebih rendah dari periode 2000 hingga 2010 yang sebanyak 0,57%. Total populasi di China kini 1,41 miliar jiwa.

Hasil ini menambah tekanan bagi Beijing untuk menggenjot upaya bagi pasangan di sana untuk menambah anak demi mengatasi masalah penurunan populasi.

Data terkini itu diumumkan Selasa (11/05) dalam hasil sensus per sepuluh tahun, yang tadinya akan diumumkan April lalu.

Sensus itu dibuat akhir 2020 dengan melibatkan tujuh juta petugas cacah jiwa yang survei dari rumah ke rumah untuk mendapatkan informasi dari setiap keluarga di China.

Mengingat begitu banyak warga yang disurvei, sensus ini dipandang sebagai sumber paling komprehensif mengenai populasi di China, yang penting untuk perencanaan masa depan.

Bagaimana tingkat kelahiran bayi bisa turun?

Ning Jizhe, kepala Badan Nasional Statistik, mengungkapkan bahwa 12 juta bayi lahir tahun lalu - penurunan signifikan ketimbang tahun 2016 yang sebanyak 18 juta bayi.

Namun dia menambahkan bahwa jumlah itu "masih cukup banyak."

Graph showing China's falling birth rateBBC

Menurut Ning, tingkat kesuburan yang lebih rendah merupakan dampak alamiah dari pembangunan sosial dan ekonomi di China.

Makin maju suatu negara, tingkat kelahirannya cenderung turun karena faktor pendidikan dan prioritas lain, seperti karier.

Di negara-negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan, misalnya, juga telah mencatat turunnya tingkat kelahiran hingga mencatat rekor baru dalam beberapa tahun terakhir walau masing-masing pemerintah sudah memberi insentif bagi suami-istri untuk menambah anak.

Tahun lalu, Korea Selatan malah kali pertama dalam sejarah mencatat tingkat kematian lebih banyak ketimbang tingkat kelahiran, sehingga menjadi peringatan bagi pemerintah yang sudah mencetak rekor sebagai negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia.

Populasi yang menyusut menjadi hal yang problematis karena komposisi usia yang sudah terbalik, kini lebih banyak orang tua ketimbang kaum muda.

graph showing China's population by age groupBBC

Ketika itu terjadi, bakal ada kelangkaan tenaga kerja di masa depan untuk mendukung warga yang sudah usia lanjut, dan bakal meningkat pula permintaan untuk layanan kesehatan dan sosial.

Apakah China sudah berupaya mengatasi masalah ini?

Sudah. Pada 2016, pemerintah mengakhiri kebijakan cukup satu anak dan membolehkan suami-istri untuk punya dua anak.

Namun reformasi itu gagal mengatasi turunnya tingkat kelahiran walau kemudian naik lagi dalam dua tahun berikut.

Yue Su, ekonom dari Economist Intelligence Unit, mengatakan, "Walau kebijakan punya dua anak punya dampak positif pada tingkat kelahiran, namun hanya terbukti dalam jangka pendek."

Sempat muncul perkiraan bahwa China mungkin akan menghapus kebijakan keluarga berencana terkait dengan hasil sensus terbaru itu, namun ini tidak dilakukan.

Laporan dari surat kabar Financial Times April lalu mengutip sumber-sumber yang berkepentingan atas soal itu mengatakan bahwa sensus itu pada akhirnya akan mengungkap penurunan populasi.

Ini tidak terjadi dengan laporan 2020, namun para pakar kepada berbagai media massa mengatakan bahwa situasi itu masih terjadi dalam beberapa tahun mendatang.

"Mungkin pada 2021 atau 2022, atau segera," kata Huang Wenzhang, pakar demografi di Centre for China and Globalisation kepada Reuters.

China, bayiGetty ImagesSeorang perempuan usia lanjut di Beijing bersepeda sambil membonceng seorang bocah.

Tren populasi di China selama bertahun-tahun didominasi oleh kebijakan cukup satu anak, yang diberlakukan pada 1979 untuk memperlambat pertumbuhan populasi.

Keluarga yang melanggar aturan itu diganjar denda, kehilangan pekerjaan, bahkan ada yang sampai harus aborsi paksa.

"Kebangkitan ekonomi bisa hilang cepat"

Populasi usia kerja di China - yang didefinisikan antara 16 hingga 59 tahun - juga telah berkurang 40 juta jiwa dibandingkan pada sensus sebelumnya pada 2010. Namun ahli metodologi Zeng Yuping mengatakan bahwa secara keseluruhan jumlah angkatan kerja di China "masih banyak" yaitu 880 juta jiwa.

"Kami masih punya banyak tenaga kerja," kata Zeng.

Namun, sebagai ekonom, Yue memperingatkan bahwa di masa depan, terus menurunnya jumlah warga usia kerja "akan membatasi potensi pertumbuhan ekonomi China."

Dia menambahkan, "Keuntungan demografis yang mendorong kebangkitan ekonomi di negara itu selama beberapa dekade terakhir akan menghilang dengan cepat."

Analysis box by Robin Brant, Shanghai correspondentBBC

Setelah ditunda beberapa pekan untuk "menyiapkan" angka-angka dan dalam rangka mendukung "penentuan agenda" intinya adalah warga China di negara tersebut memang masih bertambah.

Namun sebagian besar rakyatnya makin tua - dan terus menua. Cuma ada kenaikan kecil dalam jumlah warga usia di bawah 14 tahun, yang jadi pembenaran untuk mengakhiri kebijakan cukup satu anak pada 2015, menurut pimpinan sensus pemerintah.

Kendati demikian, media pemerintah pun sudah menyinggung soal mulai turunnya pertumbuhan populasi tahun depan.

Ini bukan perubahan demografis yang unik bagi China, namun sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia dan sebagai ekonomi yang berupaya lebih mengandalkan konsumsi domestik, ini adalah masalah yang sangat menonjol.

Pimpinan komunis China sudah menyatakan bahwa usia pensiun perlu dinaikkan untuk mengatasi masalah permintaan dan biaya. Ini bisa diartikan makin lama beban kerja bagi warga angkatan kerja di negara itu.

Para pakar sudah mengingatkan bahwa dampak apapun pada populasi di China, seperti penurunan, bisa saja berefek luas pada belahan lain di dunia.

Yi Fuxian, ilmuwan di Universitas Wisconsin-Madison, berkata, "Perekonomian China telah tumbuh begitu pesat dan banyak industri di seluruh dunia bergantung pada China. Cakupan dampak dari penurunan populasi ini akan sangat luas."

Laporan tambahan oleh jurnalis BBC' Yip Wai Yee

(ita/ita)