Geger Pria China Seberangi Selat Taiwan yang Dijaga Ketat Tanpa Terdeteksi

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 05 Mei 2021 13:21 WIB
Selat Taiwan adalah salah satu perairan dengan pengawasan ketat di dunia (Getty Images)
Jakarta -

Pihak keamanan Taiwan tengah menyelidiki klaim seorang pria dari daratan China yang mengaku menyeberangi Selat Taiwan menggunakan perahu karet kecil. Padahal, perairan itu dijaga ketat oleh ratusan kapal militer.

Pria China berusia 33 tahun itu mengatakan kepada polisi bahwa dirinya melintasi perairan sejauh 160 kilometer untuk mencari "kebebasan dan demokrasi".

Pihak berwenang Taiwan sedang mencari tahu mengapa sistem keamanan perairan bisa 'kecolongan' sehingga pria itu bisa lolos dari pengawasan.

Pria China yang hanya diidentifikasi dengan nama belakang Zhou itu terlihat pada Jumat (30/04) malam lalu di dekat Pelabuhan Taichung setelah melakukan perjalanan dari Quanzhou di Provinsi Fujian di pantai tenggara China, Washington Post melaporkan.

Map

Zhou telah melakukan perjalanan dengan perahu karet berukuran 2,6 x 1,5 meter yang dibeli di internet dan dilengkapi dengan mesin tempel penggerak perahu, menurut Washington Post. Dia membawa 90 liter bahan bakar dan tidak ada barang lainnya.

Polisi mengatakan, Zhou ingin pindah ke Taiwan untuk mencari perlindungan politik.

Zhou saat ini diamankan di pusat penahanan dan menjalani karantina selama 14 hari. Dia bisa menghadapi hukuman tiga tahun penjara dan denda hingga Rp46 juta.

Selat Taiwan adalah salah satu jalur perairan paling dijaga ketat di dunia, yang dipatroli oleh kapal angkatan laut dan penjaga pantai China dan Taiwan.

Walau ada sejumlah pengungsi dari kedua belah pihak di masa lalu - dan beberapa warga negara China telah terbang ke Taiwan untuk meminta perlindungan - perjalanan lintas selat jarang terjadi.

Kapal angkatan laut AS di Selat Taiwan

Selat Taiwan dipatroli oleh ratusan kapal (Reuters)

Menteri Pertahanan Taiwan, Chiu Kuo-cheng, mengatakan "kekurangan" dalam pengawasan Selat Taiwan tengah diselidiki akibat klaim perjalanan pria itu, kantor berita AFP melaporkan.

"Kami akan menghubungi penjaga pantai, kami akan saling memberi tahu bila ada situasi, untuk mengetahui alasannya dan melakukan perbaikan," kata Chiu kepada wartawan.

Tapi seorang perwira senior Angkatan Laut Taiwan meragukan cerita Zhou.

Chiang Cheng-kuo, kepala staf Angkatan Laut Taiwan, mengatakan Zhou tidak membawa bahan bakar yang cukup untuk melakukan perjalanan.

Namun, menurut Cheng-kuo, perahu tersebut mungkin saja melakukan penyeberangan karena tidak terdeteksi oleh radar berbasis darat ataupun yang dipasang di kapal milik angkatan laut.

Radar penjaga pantai mencakup 12 mil laut lepas pantai, sebut Washington Post.

"Tidak ada titik buta, tapi kami tidak mengabaikan kemungkinan bahwa [Zhou] disembunyikan oleh kapal kargo dan kapal lain yang lebih besar," kata Direktur Komando Distrik Patroli Keempat Penjaga Pantai Taiwan, Hong Yishun, mengatakan kepada surat kabar itu.

Ketegangan antara Taiwan dan China telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir, karena Beijing telah meningkatkan latihan udara dan laut di sekitar pulau itu.

China melihat Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri, tetapi Taiwan melihat dirinya sebagai negara yang berdaulat.

Zhou bukan orang pertama yang melarikan diri dari China ke Taiwan atas nama kebebasan.

Agustus lalu, 12 pengunjuk rasa Hong Kong ditangkap di laut saat mereka mencoba melarikan diri ke Taiwan dengan speedboat.

The Washington Post melaporkan bahwa ratusan warga Hong Kong telah mencari perlindungan di pulau itu, sebagian besar datang secara resmi tetapi beberapa menggunakan penyelundup untuk mencapai dengan perahu.

Simak juga 'Taiwan Pamer Kapal Perang Amfibi Terbaru untuk Perkuat AL':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)