Sihir-Rumor Perparah Lonjakan Corona di Papua Nugini, RI Tutup Perbatasan

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 03 Mei 2021 12:59 WIB
Jakarta -

Keyakinan yang tertanam dalam pada sihir membayangi misinformasi tentang Covid-19 di Papua Nugini, memperparah potensi bencana kesehatan di negara yang bersebelahan dengan provinsi Papua tersebut.

Pemerintah Indonesia mewaspadai lonjakan kasus di Papua Nugini dan sementara waktu menutup perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

Ketika negara itu bertempur dengan apa yang dikatakan para ahli sebagai lonjakan eksponensial kasus virus corona, kekhawatiran akan kematian yang tidak dapat dijelaskan memiliki konsekuensi yang mengerikan.

Sanguma - kata lokal yang merujuk pada ilmu gaib - umum di negara-negara di Samudra Pasifik. Ini adalah tradisi yang pada dasarnya tak berbahaya, tetapi memiliki sisi gelap.

"Beberapa minggu yang lalu, seorang petugas kesehatan di fasilitas pedesaan meninggal karena Covid dan istri serta putrinya mengalami siksaan karena keyakinan pada sihir, dan kemudian mereka terkonfirmasi positf Covid juga," jelas Justine McMahon, direktur Care International di Papua Nugini, sebuah badan amal pembangunan.

Baca juga:

"Sihir pasti memengaruhi beberapa sikap yang dimiliki orang-orang."

Ilmu hitam berkelindan dalam pusaran konspirasi, kecurigaan dan rumor yang memperparah salah satu keadaan darurat kesehatan masyarakat terbesar di Papua Nugini.

"Informasi yang salah menyebar lebih cepat daripada virus. Ada tingkat skeptisisme yang tinggi terhadap vaksinasi," kata Jonathan Pryke, direktur Program Kepulauan Pasifik di Lowy Institute, sebuah lembaga kajian yang berbasis di Sydney.

"Media sosial benar-benar memicu disinformasi dan ketidakpercayaan terhadap vaksin."

Pasokan vaksin AstraZeneca yang didistrubisikan oleh program vaksin global Covax diharapkan bisa diberikan dalam beberapa hari.

Papua Nugini, covid

Perdana Menteri Papua Nugini James Marape telah mendapatkan vaksin. (AFP)

Ahli meragukan angka resmi pemerintah

Hanya ada 11.000 kasus dan 107 kematian akibat Covid-19 yang tercatat di Papua Nugini, menurut pusat sumber data virus corona Universitas John Hopkins AS.

Bagaimanapun, para ahli yang berpengalaman meragukan bahwa angka-angka itu adalah cerminan akurat dari krisis kesehatan masyarakat di Papua Nugini.

Sebab, terindikasi adanya tingkat pengujian yang rendah, pasien yang terinfeksi namun tidak mendapat perawatan medis, dan kematian yang tidak diidentidikasi dengan virus.

"[Kasus] covid melonjak secara eksponensial sejak Natal. Ini sangat buruk," kata Pryke kepada BBC.

"Sistem kesehatan begitu tegang hingga mencapai titik puncak sehingga benar-benar tidak dapat menangani guncangan. Statistik resmi secara dramatis meremehkan seberapa parah tantangannya.

"Satu-satunya hal yang benar-benar melindungi Papua Nugini dari krisis ini adalah bahwa mereka memiliki populasi yang sangat muda. Jadi banyak orang yang jatuh sakit cepat pulih."

Justine McMahon tinggal di Goroka, ibu kota dari Provinsi Eastern Highlands di Papua Nugini.

Dia melihat tanda-tanda berpuas diri yang mengkhawatirkan, bahkan di antara guru dan pekerja medis.

"Banyak dari orang-orang itu juga menyebarkan informasi yang salah. Orang-orang sebenarnya harus menanggapi ini dengan serius," katanya.

"Hanya sedikit orang yang mengikuti tindakan pencegahan [kesehatan masyarakat]. Ada banyak ambivalensi. Ada banyak yang benar-benar meragukan apakah virus itu mempengaruhi orang, jadi itu perjuangan yang nyata."

5.000 tenaga medis untuk 10 juta populasi penduduk

Ketika Profesor William Pomat, direktur Institute for Medical Research di Papua Nugini, mengalami nyeri dada, masalah pernapasan, dan kepanikan yang meningkat, dia mengenali ini sebagai tanda-tanda infeksi Covid-19.

"Ketika Anda merasa sesak atau dada Anda sesak, Anda berpikir: apakah saya akan menjadi bagian dari statistik? Jadi semua itu menakutkan," katanya kepada BBC.

"Secara mental itu memengaruhi Anda ketika tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya saat Anda menjalani tahap infeksi yang berbeda. Usia saya akan menginjak 60 tahun, jadi itu membuat Anda khawatir."

Setelah 14 hari dalam isolasi, dia pulih dan kembali bekerja di garis depan. Tapi perjuangan melawan pandemi tampaknya tidak adil.

Papua Nugini, covid

Kasus virus corona di Papua Nugini terus melonjak sejak Januari (AFP)

Diperkirakan ada 5.000 tenaga kesehatan di PNG untuk populasi 10 juta orang.

Negara itu juga didera oleh penyakit menular lainnya, seperti tuberkolosis dan malaria.

Selain itu, Papua Nugini juga memiliki tingkat HIV yang mengkhawatirkan, serta kematian bayi dan ibu. Covid-19 menambah tekanan pada sistem medis yang rapuh.

"Ini akan membuat penyakit lain menjadi lebih buruk jika kita melanjutkan cara yang kita lakukan dengan petugas kesehatan yang terinfeksi [dengan virus corona] terpaksa sementara menjauh dari pekerjaan, dan membiarkan semua penyakit menular lainnya seperti tuberkulosis dan malaria terus lepas kendali," ujar Pomat memperingatkan.

Indonesia perketat perbatasan

Covid-19 telah teridentifikasi di seluruh 22 provinsi di Papua Nugini. Belum jelas mengapa kasusnya mengalami pelonjakan.

Varian baru virus corona kemungkinan telah melintasi perbatasan darat dengan Indonesia.

Menteri Kesehatan Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, mewaspadai tingginya kasus Covid-19 di Papua Nugini dengan "memperingatkan agar masyarakat Papua tidak sering menyeberang ke Papua Nugini".

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Papua telah menutup perbatasan Indonesia-Papua Nugini untuk sementara waktu.

"Perbatasan RI-PNG kini sudah kami tutup, namun pasti ada yang menyeberang, sehingga diminta untuk sementara waktu ini tinggal di tempatnya masing-masing," kata Wakil Gubernur (Wagub) Papua, Klemen Tinal, seperti dikutip dari kantor berita Antara (15/4).

Selain itu, jalur-jalur nonformal yang menjadi akses di perbatasan Indonesia-Papua Nugini diperketat guna mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Hingga saat ini, belum ada pagar pembatas ataupun pos lintas batas pada jalur-jalur nonformal tersebut.

Seperti dikutip dari kantor berita Antara, Kepala Badan Perbatasan dan Kerja Sama Luar Negeri (BPKLN) Provinsi Papua, Suzana Wanggai, mengatakan ke depan pihaknya "akan membangun pagar dan pos lintas batas di perbatasan agar warga yang keluar masuk dapat terpantau dengan baik"

Terlepas dari kondisi perbatasan Indonesia dan papua, mungkin ada penjelasan yang lebih sederhana mengapa terjadi lonjakan kasus di Papua Nugini.

"Kami menjadi terlena dan tidak lagi memakai masker," kata Prof Pomat.

"Dalam hal kepemimpinan, banyak dari kita sama bersalahnya dengan orang normal."

Anggota Parlemen Richard Mendani, yang berusia 53 tahun, telah meninggal karena virus tersebut, bersama dengan setidaknya dua hakim.

Saschveen Singh, penasihat penyakit menular tropis untuk Medecins Sans Frontieres, baru-baru ini tiba di Port Moresby, ibu kota Papua Nugini.

"Infeksi komunitas cukup merajalela," katanya kepada BBC.

"Pengujian yang lambat terjadi di provinsi-provinsi. Kami tidak yakin apa yang akan terjadi dalam beberapa pekan mendatang, tetapi kami hanya perlu waspada dan bersiap untuk potensi lonjakan."

Semua hal ini sedang berlangsung di depan pintu Australia.

Provinsi di bagian barat Papua Nugini hanya berjarak 4 km dari pulau-pulau Australia di Selat Torres, dan keleluasaan bergerak diperbolehkan berdasarkan perjanjian perjanjian.

"Merupakan kepentingan nasional Australia untuk melakukan segala kemungkinan untuk memastikan bahwa Papua Nugini memiliki sistem kesehatan dan masyarakat yang menangani krisis ini sebaik mungkin," kata Jonathan Pryke dari Lowy Institute.

(ita/ita)