Cerita Perawat India Berjuang Selamatkan Pasien Corona hingga Napas Terakhir

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 01 Mei 2021 13:22 WIB
Viveki Kapoor
Jakarta -

Gelombang kedua pandemi Covid-19 yang mematikan tengah melanda India. Jumlah kematian di India akibat penyakit ini pun melonjak hingga lebih dari 200.000 kasus.

Tenaga kesehatan berada di garis depan pertempuran melawan Covid-19. Mereka menangani kematian dan kedukaan setiap hari.

Seorang perawat bernama Viveki Kapoor bercerita kepada BBC bagaimana virus corona telah mengubah hidupnya serta sejumlah kemenangan dan kekalahan yang dia alami selama pandemi.

Saya adalah perawat yang bertugas di unit perawatan intensif (ICU) bangsal Covid di sebuah rumah sakit swasta di Kota Delhi. Saya memimpin 25 perawat.

Sejak pandemi dimulai, banyak staf rumah sakit ini berhenti. Mereka menganggap gaji kami sangat rendah dan tidak sebanding dengan risiko yang kami hadapi.

Saat gelombang kedua pandemi terjadi, pasien membanjiri rumah sakit. Seperti semua rumah sakit di Delhi lainnya, kami harus menolak pasien saat setiap tempat tidur sudah terisi.

Beban kerja kami naik lima kali lipat. Semua perawat sekarang bekerja ekstra. Kami selalu datang tepat waktu, tapi kami tidak pernah bisa pulang sesuai jadwal.

Saya sudah menjadi perawat selama 22 tahun dan melalui sejumlah bencana kesehatan yang mendorong banyak pasien datang ke rumah sakit dalam keadaan darurat.

Namun yang berlangsung saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sekarang saya sangat lelah di penghujung hari sehingga saya bisa tidur di mana saja. Saya bahkan tidak lagi membutuhkan tempat tidur.

'Profesi paling mulia'

Perawat dianggap profesi paling mulia di dunia. Ada alasan yang jelas mengapa profesi kami disebut 'sister' (saudara perempuan) dalam bahasa Inggris. Pasien menganggap kami sebagai keluarga mereka.

Setiap kali pasien baru datang ke rumah sakit, perawat adalah orang pertama yang mereka temui. Mereka membentuk hubungan khusus dengan kami.

Para pasien yang terinfeksi Covid-19 sangat takut jadi kami berusaha sebaik mungkin dan memotivasi mereka.

Kepada mereka, saya menceritakan kisah singa dan rusa. Saya memberi tahu bahwa rusa berlari lebih cepat, tetapi singa masih bisa menangkapnya karena tersandung saat ketakutan.

Jadi saya memberi tahu pasien bahwa mereka harus berpikir positif. Jika mereka berpikir negatif, viruslah yang akan menang.

Viveki Kapoor with some of the other nurses

Semua perawat di rumah sakit bertugas melebihi jam kerja, kata Viveki Kapoor. (Viveki Kapoor)

Sebelumnya, pasien kerap mengeluh bahwa perawat tidak segera datang saat mereka memanggil kami. Akan tetapi, para pasien kini sangat kooperatif.

Mereka bisa melihat kami bekerja sangat keras. Kadang-kadang, mereka bahkan bertanya apakah kami sudah makan siang. Mereka juga menyuruh kami minum air putih atau teh.

Pada gelombang pertama pandemi, kami menerima pasien yang kebanyakan berusia lebih tua. Namun sekarang kondisinya sangat menyedihkan. Kami melihat orang-orang berusia 15 atau 17 tahun datang dengan infeksi Covid-19.

Kami berusaha yang terbaik. Kami mencoba menyelamatkan pasien hingga ada satu nafas yang tersisa dalam diri mereka.

Saya sangat bahagia saat seorang pasien sembuh. Saya merasa saya dapat membantu orang dan semua kerja keras saya membuahkan hasil.

Namun saat seorang pasien meninggal, perasaan saya hancur. Saya sangat tersiksa melihat kematian anak muda. Hati saya hancur setiap kali salah satu dari mereka meninggal.

Baru-baru ini, ayah teman putri saya meninggal. Dia masih muda. Hati saya pilu. Tapi apa yang dapat saya lakukan selain menghibur keluarganya?

Pekan lalu, 25 pasien meninggal di rumah sakit saya setelah tekanan oksigen turun. Saya merasa sangat tidak berdaya. Saya marah.

Menyalahkan pemimpin yang cuma ingin menang pemilu

Dulu saya selalu bangga menjadi orang India, tapi saya sedih melihat yang kini terjadi di negara ini.

Saya menyalahkan para pemimpin India. Yang mereka pedulikan hanyalah memenangkan pemilu.

People cremate their relatives

Di tengah lonjakan kematian, prosesi kremasi korban Covid-19 di India berlangsung dari pagi hingga malam. (Reuters)

Covid-19 tidak hanya membuat pekerjaan saya dirundung ketegangan tanpa henti. Penyakit ini juga membuat saya tertekan menjalani rumah tangga.

Suami saya adalah seorang dokter di rumah sakit pemerintah. Dia sakit selama dua pekan terakhir, jadi saya mengatur pekerjaan rumah sendirian.

Saya melakukan semua tugas, termasuk menjaga ketiga anak kami.

Pada saat yang sama, saya sangat khawatir karena ibu saya yang berusia 90 tahun sempat dinyatakan positif mengidap Covid-19.

Ibu saya dirawat di rumah sakit di kota Mathura. Alat picu pernafasan dipasangkan ke tubuhnya. Namun ibu kini sudah pulih dan sudah pulang ke rumah.

Saya tidak pernah membayangkan seseorang yang berusia 90 tahun mampu mengalahkan virus mematikan itu.

Saya menyerahkan keselamatan ibu saya kepada Tuhan dan berharap Dia membalas perbuatan baik saya. Saya juga berharap pada doa-doa baik dari pasien saya.

Cinta dari keluarga dan tetangga sayalah yang membuat saya terus maju. Mereka berkata bahwa mereka mencemaskan saya. Namun mereka juga paham bahwa apa yang kami lakukan di rumah sakit penting.

"Kami sangat takut tertular virus corona sehingga kami berhenti keluar dari rumah, tetapi Anda pergi keluar setiap hari untuk menghadapinya," kata mereka.

Seorang tetangga baru-baru ini memberi tahu saya bahwa sebelum pandemi ini dia terbiasa menyalakan satu lampu tanah liat saat senja untuk mendoakan umur panjang keluarganya.

Namun sejak pandemi terjadi, dia menyalakan satu lampu ekstra untuk keselamatan saya. Yang dia lakukan membuat pekerjaan dan kehidupan saya menjadi berharga.

---

Suster Viveki Kapoor menuturkan kisahnya kepada wartawan BBC di Delhi, Geeta Pandey

Tonton Video: Sukarelawan Terjun Langsung Jemput Jenazah COVID-19 di India

[Gambas:Video 20detik]




(ita/ita)