Putra Mahkota Saudi Ingin Hubungan Baik dengan Iran, Apa Sebabnya?

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 29 Apr 2021 14:09 WIB
Putra Mahkota Mohammed bin Salman mengataan Arab Saudi tak menghendaki
Jakarta -

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mengatakan negaranya menginginkan "hubungan baik" dengan musuh bebuyutannya, Iran.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam wawancara dengan TV Al Arabiya yang ditayangkan pada Selasa (27/04) malam waktu setempat.

Dikatakannya Arab Saudi tidak menghendaki "situasi sulit dengan Iran".

"Pada akhirnya, Iran adalah negara tetangga dan yang kami harapkan adalah menjalin hubungan baik.

"Masalah kami terletak pada kelakuan buruk Iran, mulai dari program nuklirnya hingga dukungannya terhadap milisi-milisi terlarang di kawasan, atau peluncuran rudal balistiknya," kata Mohammed bin Salman.

Mohammed bin Salman

Mohammed bin Salman, kerap disingkat MBS, bersiap-siap diwawancara oleh televisi nasional Arab Saudi. (Reuters)

"Kami bekerja sama dengan mitra-mitra regional dan global untuk mencari solusi atas masalah-masalah tersebut dan kami berharap dapat mengatasinya demi hubungan baik yang menguntungkan semua orang."

Baca juga:

Komentar putra mahkota kali ini jauh lebih terukur dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun 2018, ia membandingkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dengan Adolf Hitler.

Berebut pengaruh

Pernyataan Mohammed bin Salman sebagai penguasa de facto Arab Saudi dikeluarkan beberapa hari sesudah terbit laporan bahwa para pejabat dari kedua negara diam-diam telah menggelar pembicaraan di Irak sebagai upaya memperbaiki hubungan.

Sumber-sumber Arab Saudi membantah isi laporan itu. Tetapi Kementerian Luar Negeri Iran tidak membantah dan tidak pula mengukuhkannya, sebaliknya hanya mengatakan pihaknya "selalu menyambut dialog".

Arab Saudi, yang menempatkan diri sebagai kekuatan utama Islam Suni Muslim, dan Iran sebagai negara dengan penganut Islam Syiah terbanyak di dunia, terlibat dalam perebutan pengaruh di kawasan selama puluhan tahun.

Namun selama beberapa tahun terakhir, persaingan tersebut diperparah oleh perang proksi di wilayah Timur Tengah.

Petempur propemerintah Yaman melawan pemberontak Houthi Marib (28 March 2021)

Arab Saudi dan Iran mendukung pihak-pihak yang bermusuhan dalam perang saudara di Yaman. (Reuters)

Di Yaman, dalam perang sejak tahun 2015 koalisi negara-negara Islam Suni pimpinan Arab Saudi mendukung pasukan propemerintah guna menghadapi pemberontak Houthi yang didukung oleh Iran.

Iran membantah negara itu menyelundupkan senjata untuk Houthi. Kelompok itu telah menggencarkan serangan pesawat nirawak dan rudal dengan sasaran kota-kota serta infrastruktur perminyakan di Arab Saudi.

Ketika ditanya tentang perang Yaman, yang oleh PBB digolongkan sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia, Mohammed bin Salman mengatakan tak satu pun negara yang menginginkan keberadaan milisi bersenjata di sepanjang perbatasannya.

Ia menyerukan kepada pemberontak Houthi, yang menolak usulan Arab Saudi untuk gencatan senjata bulan lalu, untuk segera "duduk di meja perundingan" guna mencari solusi yang dapat "menjamin hak-hak rakyat Yaman dan juga kepentingan kawasan".

Selain perang Yaman, Saudi telah menuduh Iran campur tangan dalam urusan di Lebanon dan Irak.

Milisi syiah dukungan Iran di kedua negara mempunyai pengaruh militer dan politik yang besar.

Arab Saudi juga menuding Iran menyerang kapal kargo dan kapal pengangkut minyak di perairan Teluk dan berada di balik serangan rudal serta drone pada tahun 2019 dengan sasaran instalasi minyak.

Di samping itu, Kerajaan Arab Saudi menentang perjanjian tahun 2015 untuk membatasi program nuklir Iran, dan justru mendukung keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiga tahun lalu untuk menarik diri dari perjanjian dan lebih lanjut menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Iran.

Iran lantas merespons sanksi itu dengan melanggar batas pengayaan uranium.

Negara itu kini berunding secara tak langsung dengan pemerintah AS di bawah Presiden Joe Biden untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir.

Perkuat kepentingan AS-Saudi

Dalam bagian lain dalam wawancara televisi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman juga menganggap remeh segala perbedaan yang ada dengan presiden baru Amerika.

Petempur propemerintah Yaman melawan pemberontak Houthi Marib (28 March 2021)

Arab Saudi dan Iran mendukung pihak-pihak yang bermusuhan dalam perang saudara di Yaman. (Reuters)

AS di bawah Presiden Biden berusaha masuk kembali ke dalam perjanjian nuklir Iran, telah menarik dukungan bagi operasi militer Saudi di Yaman, bersikap kritis terhadap catatan HAM Saudi, dan baru-baru ini membuka laporan intelijen AS yang menyimpulkan bahwa MBS menyetujui pembunuhan wartawan kondang Jamal Khashoggi pada tahun 2018. Sang putra mahkota membantah ia terlibat.

"Kami lebih dari 90% sepakat dengan pemerintahan Biden ketika menyangkut kepentingan Arab Saudi dan AS, dan kami bekerja untuk memperkuat kepentingan-kepentingan itu," jelasnya.

"Tak diragukan lagi Amerika Serikat adalah mitra strategis."

Simak juga 'Arab Saudi Tawarkan Perdamaian ke Houthi':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)