Kamboja Kritik Seniman Beri 'Senyuman' pada Foto Korban Genosida Khmer Merah

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 13 Apr 2021 08:39 WIB
Museum Genosida Tuol Sleng di Kamboja jadi saksi bisu kekejaman rezim Khmer Merah (Getty Images)
Phnom Penh -

Pihak berwenang di Kamboja mengkritik seorang seniman setelah ia mengubah foto-foto korban genosida Khmer Merah.

Seniman Irlandia Matt Loughrey memberi warna pada foto yang diambil dari penjara Tuol Sleng yang terkenal kejam. Ia dilaporkan menambahkan senyuman ke beberapa wajah.

Dalam sebuah artikel Vice, yang kemudian dihapus, Loughrey mengatakan dia ingin memanusiakan para korban.

Rezim brutal, yang berkuasa dari tahun 1975-1979, merenggut nyawa hingga dua juta orang.

Kementerian Kebudayaan Kamboja mengatakan perubahan gambar mempengaruhi "martabat para korban" dan meminta Loughrey dan Vice untuk menghapusnya.

Dikatakan bahwa Museum Genosida Tuol Sleng adalah pemilik sah dari gambar tersebut. Kementerian berjanji untuk mengambil tindakan hukum jika "Matt Loughrey tidak memenuhi" permintaan tersebut.

"Kami mendesak peneliti, seniman, dan publik untuk tidak memanipulasi sumber sejarah apa pun untuk menghormati para korban," katanya.

Loughrey mengatakan kepada BBC bahwa dia tidak dapat berkomentar sampai dia berbicara dengan Vice.

Dalam sebuah pernyataan di situsnya, Vice mengatakan: "Artikel itu memuat foto-foto korban Khmer Merah yang dimanipulasi Loughrey di luar pewarnaan.

"Artikel tersebut tidak memenuhi standar editorial VICE dan telah dihapus. Kami menyesali kesalahan tersebut dan akan menyelidiki bagaimana kegagalan proses editorial ini terjadi."

Apa yang ditunjukkan gambar itu?

Loughrey mewarnai gambar para korban dari penjara S-21 di ibu kota Phnom Penh, tempat lebih dari 15.000 ditahan dan menemui ajal mereka.

Gambar-gambar ini kemudian ditampilkan di bagian profil di Vice.

Loughrey mengatakan proyek itu mendapat "tanggapan besar" dan menambahkan bahwa dia sedang berbicara dengan museum agar gambar-gambar itu dapat diakses oleh semua orang.

Khmer Merah, Komunisme

Tuol Sleng diubah dari sekolah menjadi penjara, tempat penyiksaan dan kamp kematian (Getty Images)

Ketika ditanya oleh majalah Vice tentang senyuman itu, dia mengatakan bahwa mereka yang perempuan terlihat lebih banyak tersenyum dibandingkan pria-pria di foto-foto yang dia lihat.

"Saya pikir banyak dari itu ada hubungannya dengan kegugupan," katanya.

"Juga - dan saya membuat tebakan terpelajar - siapa pun yang mengambil foto dan siapa yang hadir di ruangan itu mungkin berbicara secara berbeda kepada perempuan dan laki-laki."

Artikel itu tidak menyebutkan senyuman yang ditambahkan.

Apa reaksinya?

Pada hari Sabtu, sejumlah orang di Twitter mengunggah gambar yang diduga asli, di samping foto yang diwarnai, dan mereka mengatakan bahwa senyuman telah ditambahkan.

Hal ini menyebabkan reaksi keras di Kamboja.

Salah satu pemilik akun Twitter, Munthit Ker, menulis: "Tidak ada kata-kata yang dapat sepenuhnya menggambarkan perasaan mengerikan yang tersembunyi di balik wajah-wajah yang tahu bahwa mereka akan segera dibawa ke kuburan massal. Tapi di sini, gambar-gambar ini diubah menjadi potret tersenyum untuk sebuah seni yang dipamerkan. Ini tidak sensitif dan menyinggung!"

Seorang wanita bernama Lydia mengatakan bahwa dia adalah keponakan dari salah satu orang yang ada di foto Loughrey.

Dia mengatakan bahwa seringai yang nampak tidak diedit, tetapi informasi yang diberikan Loughrey dalam wawancara dengan Vice tidak tepat.

Artikel tersebut menyatakan pamannya adalah seorang petani yang disetrum dan dibakar.

"Kami tidak tahu bagaimana tepatnya dia meninggal dan mungkin ada catatan yang belum kami lihat," katanya di Twitter.

"Tapi sisanya salah: dia bukan petani, tapi guru sekolah dasar. Tidak mungkin Loughrey berhubungan dengan putranya, karena anak satu-satunya juga meninggal."

"Jurnalisme yang bertanggung jawab sangat penting, terutama jika menyangkut penceritaan kembali kisah nyata korban genosida yang mengerikan. Orang-orang ini memiliki keluarga dan orang yang dicintai," tambahnya.

Museum Genosida Tuol Sleng, yang berada di lokasi bekas penjara, mengatakan bahwa foto yang diubah "sangat mempengaruhi martabat para korban".

Siapakah Khmer Merah?

Rezim yang dipimpin oleh Pol Pot mencoba membawa Kamboja kembali ke Abad Pertengahan atau "Tahun Nol", memaksa jutaan orang dari kota untuk bekerja di pertanian komunal di pedesaan.

Mereka pada awalnya menargetkan "kaum intelektual" - atau warga yang sering diidentifikasikan sebagai mereka yang berkacamata atau berbicara bahasa asing - dan mereka yang terkait dengan rezim lama yang didukung AS yang mereka gulingkan.

Tetapi para pemimpin yang paranoid kemudian mulai melihat "musuh" di mana-mana.

Etnis Vietnam dan Muslim Cham di Kamboja juga menjadi sasaran. Banyak korban Khmer Merah meninggal karena kelaparan, penyakit, dan kerja paksa.

PBB membantu membentuk pengadilan untuk mengadili para pemimpin yang masih hidup. Pengadilan ini mulai bekerja pada 2009.

Khmer Merah, Komunisme

Potret Kaing Guek Eav, yang juga dikenal sebagai Comrade Duch, ditampilkan di Museum Genosida di Phnom Penh (Reuters)

Meskipun ratusan juta dolar melalui bantuan internasional telah dikucurkan, hanya tiga mantan Khmer Merah yang pernah dijatuhi hukuman - Kamerad Duch, kepala negara rezim Khieu Samphan dan orang kedua dalam komando Pol Pot, Nuon Chea, yang meninggal tahun lalu setelah dinyatakan bersalah melakukan genosida.

Pol Pot sendiri meninggal pada tahun 1998.

Lihat juga Video: Kamboja Laporkan Kematian Pertama Akibat COVID-19

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)