Peneliti Inggris Temukan Kaitan COVID-19 dengan Depresi dan Demensia

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 08 Apr 2021 17:20 WIB
Getty Images
Jakarta -

Penelitian menemukan bahwa orang yang didiagnosis dengan Covid-19 dalam enam bulan terakhir lebih mungkin mengalami depresi, demensia, psikosis, dan stroke.

Sepertiga dari orang yang pernah terinfeksi Covid-19 mengembangkan suatu kondisi psikologis atau neurologis, atau mengalami kondisi tersebut kambuh lagi.

Akan tetapi mereka yang dirawat di rumah sakit atau dalam perawatan intensif jauh lebih berisiko.

Para peneliti menyoroti efek stres, dan dampak langsung virus pada otak.

Sekelompok ilmuwan di Inggris memeriksa catatan medis lebih dari setengah juta pasien di AS, serta peluang mereka mengembangkan salah satu dari 14 kondisi psikologis atau neurologis yang umum, termasuk:

  • pendarahan otak
  • stroke
  • Parkinson
  • Sindrom Guillain-Barre
  • demensia
  • psikosis
  • gangguan mood
  • gangguan kecemasan

Para peneliti menjelaskan, kegelisahan dan gangguan mood adalah diagnosis paling umum di antara mereka yang terinfeksi Covid-19, dan ini kemungkinan disebabkan oleh stres akibat pengalaman sakit parah atau dibawa ke rumah sakit.

Kondisi seperti stroke dan demensia lebih mungkin disebabkan oleh dampak biologis dari virus itu sendiri, atau reaksi tubuh terhadap infeksi secara umum.

Covid-19 tampaknya tidak berkaitan dengan peningkatan risiko Parkinson atau sindrom Guillain-Barre (risiko dari flu).

Sebab dan akibat

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Lancet Psychiatry ini bersifat observasional. Jadi para peneliti tidak dapat mengatakan apakah Covid-19 merupakan penyebab diagnosis - dan beberapa orang akan mengalami stroke atau depresi dalam enam bulan ke depan, terlepas dari infeksi Covid.

Tetapi dengan membandingkan sekelompok orang yang pernah menderita Covid-19 dengan dua kelompok - penderita flu dan penderita infeksi saluran pernapasan lainnya - para peneliti di Universitas Oxford menyimpulkan bahwa Covid-19 berkaitan dengan lebih banyak kondisi otak daripada penyakit pernapasan lainnya.

Para peserta dicocokkan berdasarkan usia, jenis kelamin, etnis, dan kondisi kesehatan, agar dapat dibandingkan sebaik mungkin.

Penderita Covid-19 16% lebih mungkin mengembangkan gangguan psikologis atau neurologis setelah sakit dibandingkan penderita infeksi pernapasan lainnya, dan 44% lebih mungkin dibandingkan orang yang pulih dari flu.

Selain itu, semakin parah penyakit pasien, semakin besar kemungkinan mereka untuk didiagnosis dengan gangguan kesehatan mental atau gangguan otak.

Gangguan mood, kecemasan, atau psikotik mempengaruhi 24% dari semua pasien tetapi angka ini meningkat menjadi 25% pada mereka yang dirawat di rumah sakit, 28% pada orang yang dalam perawatan intensif, dan 36% pada orang yang mengalami delirium (kebingungan parah, mengigau) saat sakit.

Stroke mempengaruhi 2% dari semua pasien Covid-19, bertambah menjadi 7% dari mereka yang dirawat di ICU, dan 9% dari mereka yang mengalami delirium.

Dan demensia didiagnosis pada 0,7% dari semua pasien Covid-19, namun 5% dari mereka yang merasakan delirium sebagai gejala.

Dr Sara Imarisio, kepala divisi riset di Alzheimer's Research UK, mengatakan: "Studi-studi sebelumnya menyoroti bahwa orang dengan demensia risikonya lebih tinggi untuk menderita Covid-19 yang parah. Studi terbaru ini menyelidiki apakah hubungan ini juga berlaku sebaliknya (penderita Covid-19 yang parah lebih berisiko mengembangkan demensia)."

"Studi ini tidak berfokus pada penyebab hubungan ini dan penting bagi para peneliti untuk mengetahui apa yang mendasari temuan ini."

Terdapat bukti bahwa virus dapat masuk ke dalam otak dan menyebabkan kerusakan langsung, profesor neurologi Masud Husain dari Universitas Oxford menjelaskan.

Ini dapat memberi efek tidak langsung lainnya, misalnya mempengaruhi pembekuan darah yang dapat menyebabkan stroke. Dan peradangan biasa yang terjadi di dalam tubuh saat merespons infeksi dapat memengaruhi otak.

Bagi lebih dari sepertiga orang yang mengembangkan satu atau lebih dari kondisi tersebut, ini adalah diagnosis pertama mereka.

Tetapi bahkan bagi mereka yang sejak awal mengidap kondisi tersebut, dan kambuh lagi setelah terinfeksi, para peneliti mengatakan ini tidak menghapus kemungkinan bahwa Covid-19 menyebabkan episode baru penyakit.

Prof Dame Til Wykes, di Institute of Psychiatry, Psychology and Neuroscience, King's College London, mengatakan: "Studi ini menegaskan kecurigaan kami bahwa diagnosis Covid-19 tidak hanya terkait dengan gejala pernapasan, tetapi juga terkait dengan masalah kejiwaan dan neurologis.

"Mengamati [kondisi pasien] lebih dari enam bulan setelah diagnosis menunjukkan bahwa "efek samping"dapat muncul lebih lama dari yang diperkirakan - hal yang tidak mengherankan bagi mereka yang menderita Covid jangka panjang.

"Meskipun sesuai harapan, hasilnya lebih serius pada mereka yang dirawat di rumah sakit, penelitian ini menunjukkan bahwa efek serius juga terlihat pada mereka yang tidak dirawat di rumah sakit."

(ita/ita)