'Sidik Jari' Tersembunyi di Dalam Foto Digital Anda

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 08 Apr 2021 17:16 WIB
Getty Images
Jakarta -

Orang bilang satu gambar berbicara seribu kata. Akan tetapi sebenarnya ada lebih banyak hal yang tersembunyi di dalam gambar digital modern, kata peneliti Jerone Andrews.

Pada 3 Oktober 2020, Gedung Putih merilis dua foto Presiden Donald Trump, menandatangani makalah dan membaca briefing.

Sehari sebelumnya, Trump mengumumkan bahwa dia tertular virus corona dan foto-foto ini tampaknya dirilis untuk menunjukkan bahwa dia dalam keadaan sehat.

Putrinya, Ivanka, mengunggah salah satu foto itu ke Twitter dengan caption: "Tak ada yang bisa menghentikannya bekerja untuk rakyat Amerika. GIGIH!"

Tetapi para pengamat yang teliti melihat sesuatu yang tidak biasa.

Foto-foto tersebut diambil di dua ruangan berbeda di Rumah Sakit Militer Nasional Walter Reed.

Dalam satu foto Trump mengenakan jaket, dalam foto yang lain hanya kemeja.

Ditambah dengan pernyataan publik tentang kesehatan dan etos kerjanya yang baik, implikasinya adalah dia menjalankan tugas kepresidenan sepanjang hari, walaupun sedang sakit.

Namun, stempel waktu foto mengatakan sebaliknya. Kedua foto itu diambil dengan selang waktu 10 menit.

Tentu saja, ada kemungkinan penjelasan lain tentang waktu pengambilan foto yang begitu berdekatan.

Barangkali si fotografer hanya punya akses selama 10 menit, dan barangkali Trump memang sudah berniat untuk berpindah kamar selama jendela waktu itu.

Namun, Gedung Putih jelas tidak senang ketika orang-orang memperhatikan stempel waktunya.

Temuan itu membuat para komentator dan outlet berita mempertanyakan apakah gambar-gambar tersebut merupakan hasil pemotretan yang direkayasa dengan tujuan memproyeksikan pesan politik tertentu.

Mereka juga meragukan kalau Trump benar-benar bekerja dengan "gigih".

Ini bukan pertama kalinya informasi tersembunyi dalam foto digital mengakibatkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Tanya saja John McAfee, pencipta perangkat lunak antivirus ternama.

Pada 2012, dia melarikan diri dari otoritas Belize di Amerika Tengah. Wartawan dari majalah Vice melacaknya dalam pelarian dan menerbitkan gambar dirinya di internet, dengan judul "Kami Bersama John McAfee Saat Ini".

Namun tanpa mereka sadari, data lokasi yang tersemat di foto tersebut secara tidak sengaja mengungkap bahwa McAfee berada di Guatemala. Dia segera ditemukan pihak berwenang, dan ditahan.

Ini hanyalah dua contoh ketika informasi tersembunyi di dalam foto digital dapat mengungkapkan lebih banyak dari yang diinginkan fotografer dan subjeknya.

Mungkinkah foto Anda sendiri juga membagikan lebih banyak informasi kepada dunia daripada yang Anda sadari?

Saat Anda mengambil foto, smartphone atau kamera digital Anda menyimpan "metadata" di dalam fail gambar. Ia secara otomatis bersembunyi di setiap foto yang Anda ambil.

Metadata adalah data tentang data, yang memberikan informasi pengenal seperti waktu dan lokasi pengambilan gambar, serta jenis kamera yang digunakan.

Metadata dapat dihapus menggunakan alat yang tersedia secara gratis seperti ExifTool.

Akan tetapi banyak orang bahkan tidak menyadari keberadaan data itu, apalagi kemungkinan pemanfaatannya, sehingga mereka tidak repot-repot melakukan apa pun sebelum mengunggah gambar ke internet.

Beberapa platform media sosial menghapus informasi seperti geolokasi (meskipun hanya dari tampilan publik), tetapi banyak situs lain tidak.

Kurangnya kesadaran ini terbukti berguna bagi para penyidik polisi, untuk membantu mereka menemukan penjahat di suatu tempat melalui gambar di kamera dan media sosial.

Tetapi itu juga menimbulkan masalah privasi bagi warga yang taat hukum.

Dan sayangnya, para penjahat yang pintar bisa menggunakan trik yang sama: jika mereka dapat mengetahui tempat dan waktu foto diambil, mereka dapat menemukan target tindak kejahatan seperti perampokan atau penguntitan.

John McAfee berbicara kepada jurnalis di Pengadilan Tinggi di Guatemala, setelah lokasinya terungkap oleh foto.

John McAfee berbicara kepada jurnalis di Pengadilan Tinggi di Guatemala, setelah lokasinya terungkap oleh foto. (Getty Images)

Tetapi metadata bukanlah satu-satunya yang tersembunyi dalam foto Anda. Ada juga tanda pengenal pribadi (personal identifier) unik yang menghubungkan setiap gambar yang Anda ambil dengan kamera yang digunakan, tetapi Anda mungkin tak pernah menyadarinya.

Bahkan fotografer profesional mungkin tidak sadar atau tidak ingat bahwa penanda itu ada.

Untuk memahami tanda pengenal ini, pertama-tama Anda harus memahami bagaimana foto diambil.

Bagian terpenting dari setiap kamera digital, termasuk yang ada di smartphone, adalah sensor pencitraannya. Ia terdiri dari jutaan "photosite", yaitu rongga yang menyerap foton (cahaya).

Karena fenomena yang disebut efek fotoelektrik, penyerapan foton menyebabkan photosite melepaskan elektron.

Muatan listrik elektron yang dipancarkan dari photosite diukur dan diubah menjadi nilai digital. Ini menghasilkan satu nilai untuk setiap photosite, yang menjelaskan jumlah cahaya yang terdeteksi.

Dan begitulah foto terbentuk. Atau secara etimologis, gambar yang terbuat dari cahaya.

Namun, karena cacat dalam proses pembuatan sensor pencitraan, ukuran setiap photosite sedikit berbeda.

Dan ditambah dengan perbedaan yang inheren pada bahan silikonnya, kemampuan setiap photosite untuk mengkonversi foton menjadi elektron bervariasi.

Hal ini menyebabkan beberapa photosite menjadi lebih atau kurang sensitif terhadap cahaya, terlepas dari apa yang sedang difoto.

Jadi, meskipun Anda menggunakan dua kamera dengan merek dan model yang sama untuk mengambil gambar pada suatu permukaan dengan pencahayaan seragam - berarti setiap titik pada permukaan memiliki kecerahan yang sama - akan ada perbedaan halus yang unik untuk setiap kamera.

Kepekaan yang berbeda dari photosite menciptakan sejenis watermark yang tidak terlihat.

Meskipun tidak disengaja, ini dapat berfungsi seperti sidik jari bagi sensor kamera Anda, tercetak pada setiap foto yang Anda ambil dengan kamera tersebut.

Layaknya butiran salju, tidak ada dua sensor pencitraan yang sama persis.

Dalam komunitas forensik gambar digital, sidik jari sensor ini disebut "respon foto ketidakseragaman" (photo response non-uniformity).

Dan itu "sulit untuk dihapus meski dengan susah payah", kata Jessica Fridrich dari Binghamton University di negara bagian New York, AS.

Sidik jari ini melekat pada sensor, tidak seperti seperti metadata foto yang "diterapkan dengan sengaja", jelasnya.

Mengidentifikasi foto palsu

Manfaat dari teknik sidik jari tak seragam ialah membantu peneliti seperti Fridrich mengidentifikasi gambar palsu.

Pada prinsipnya, foto merupakan rujukan tentang dunia, dan oleh karena itu dapat digunakan sebagai bukti, karena menggambarkan kenyataan apa adanya.

Namun, dalam iklim disinformasi saat ini - diperburuk oleh keberadaan program pengedit gambar - semakin penting untuk mengetahui keaslian, integritas, dan sifat suatu gambar digital.

Fridrich telah mematenkan teknik penelusuran sidik jari foto, yang telah mendapat izin resmi untuk digunakan sebagai bukti forensik di pengadilan di Amerika Serikat.

Teknik ini membantu penyidik mengidentifikasi bagian foto yang dimanipulasi, menghubungkannya dengan perangkat kamera tertentu, atau menentukan riwayat pemrosesannya.

Fridrich percaya teknologi ini juga dapat digunakan untuk mengungkap gambar sintetis yang dihasilkan AI, disebut deepfake. Dan beberapa penelitian menguatkan hal ini.

Fitur yang membedakan deepfake dari jenis-jenis manipulasi citra lainnya ialah fotorealismenya.

Banyak dihujat setelah digunakan dalam video porno pada 2018, deepfake menghadirkan ancaman nyata bagi ekosistem informasi.

Jika kita tidak dapat membedakan mana yang nyata dan yang tidak, maka semua media bisa diragukan keasliannya.

Sensor cahaya dalam kamera digital memiliki cacat-cacat kecil yang dapat berfungsi sebagai sidik jari.

Sensor cahaya dalam kamera digital memiliki cacat-cacat kecil yang dapat berfungsi sebagai sidik jari. (Getty Images)

Di era post-truth, kemampuan untuk mengenali pemalsuan jelas merupakan perkembangan yang positif.

Tetapi pada saat yang sama metode penelusuran sidik jari foto dapat "memiliki kegunaan positif dan negatif", kata Hany Farid, seorang profesor di bidang teknik elektro dan ilmu komputer di University of California, Berkeley.

Meskipun Farid telah menggunakan teknik ketidakseragaman untuk menghubungkan foto-foto dengan kamera tertentu dalam kasus pelecehan seksual terhadap anak - jelas merupakan manfaat - dia juga memperingatkan bahwa "dengan teknologi identifikasi apa pun, perlu kehati-hatian untuk memastikan ia tidak disalahgunakan" .

Ini penting terutama bagi orang-orang dengan pekerjaan tertentu seperti pegiat hak asasi manusia, jurnalis foto, dan pembocor rahasia, yang keamanannya bergantung pada anonimitas mereka.

Menurut Farid, orang-orang seperti itu dapat "disasar dengan menghubungkan suatu gambar dengan perangkat mereka atau gambar [online] yang diunggah sebelumnya".

Saat mempertimbangkan masalah privasi ini, kita dapat menemukan kesamaan pada teknologi lain.

Banyak printer berwarna diam-diam menambahkan pelacak pada dokumen: titik-titik kuning hampir tak kasat mata yang menunjukkan nomor seri printer, serta tanggal dan waktu dokumen dicetak.

Pada 2017, pelacak ini mungkin digunakan oleh FBI untuk mengidentifikasi Reality Winner sebagai sumber kebocoran dokumen Badan Keamanan Nasional AS (NSA), yang menjabarkan dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS 2016.

Terlepas dari pendapat Anda tentang pembocor rahasia, teknik pengawasan ini dapat berdampak pada kita semua.

Komisi Eropa telah menyuarakan keprihatinan dan menyatakan bahwa mekanisme semacam itu dapat merongrong "hak atas privasi dan kehidupan pribadi" seseorang.

Jika kita menganggap sidik jari foto setara dengan nomor seri printer, maka ini mendorong kita untuk bertanya apakah respon foto ketidakseragaman juga melanggar hak individu atas perlindungan data pribadi mereka.

Terlepas dari kebiasaan kronis kita untuk buka-bukaan di internet, kita dengan gigih mempertahankan hak untuk privasi.

Pada prinsipnya, orang seharusnya bisa memutuskan sejauh mana informasi tentang diri mereka dikomunikasikan secara eksternal.

Tetapi setelah mengetahui tentang pelacakan foto forensik, privasi mungkin hanyalah ilusi.

Menghindari identifikasi lewat metadata standar saja sudah cukup sulit - Anda harus menghapus metadata setelah foto diambil, dan satu-satunya informasi yang dapat Anda cegah untuk dihasilkan saat memotret adalah geolokasi.

Namun respon foto ketidakseragaman jauh lebih sulit.

Secara teknis, seharusnya kita dapat mengaburkannya, misalnya dengan menurunkan resolusi gambar, kata Farid.

Tapi, seberapa efektifkah cara itu? Tentu saja bergantung pada banyak faktor seperti jenis perangkat yang digunakan untuk mengambil gambar, serta algoritma pendeteksi sidik jari.

Tidak ada solusi tunggal untuk menghapus sidik jari.

Jadi, haruskah kita khawatir tentang sidik jari foto dari sudut pandang etika?

Ketika saya bertanya kepada Fridrich tentang implikasi dari berbagai penerapannya, dia dengan jujur berkata, "seorang tukang kayu dapat membuat karya yang menakjubkan dengan palu, tetapi palu juga dapat digunakan untuk membunuh".

Meskipun tidak ada yang bilang kalau data tersembunyi di dalam foto Anda bisa membunuh, maksudnya adalah teknik ini bisa jadi berbahaya di tangan yang salah.

Anda tidak perlu menjadi Donald Trump atau John McAfee untuk terdampak oleh maraknya metadata dan sidik jari foto.

Jadi, lain kali Anda memotret dengan smartphone, Anda dapat berhenti sejenak untuk merenungkan informasi apa lagi yang tertangkap daripada yang Anda lihat melalui lensa kamera.

(ita/ita)