Dukung Kapas Xinjiang, TV China Ramai-ramai Buramkan Logo Merek Barat

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 07 Apr 2021 16:19 WIB
Jakarta -

Stasiun-stasiun televisi China memburamkan logo-logo merek Barat di tayangan program mereka, sebagai bentuk dukungan kampanye mendukung kapas buatan Xinjiang.

Pemburaman gambar itu menyebabkan beberapa siaran jadi tertunda, karena para editor pasca-produksi harus menyensor tayangan logo merek Barat, mulai dari kaos hingga sepatu.

Para peritel Barat belakangan ini tengah "diserang" publik di China setelah mereka menyatakan prihatin atas dugaan pemaksaan atas warga minoritas Uighur untuk bekerja di produksi kapas.

Beijing membantah dugaan itu dan, dalam beberapa hari terakhir, banyak merek asal negara-negara Barat yang menghadapi serangan boikot.

Kemarahan publik China pun dilontarkan secara daring (online) dan para selebriti pun ramai-ramai putus kontrak dengan merek-merek Barat sebagai dukungan bagi kapas buatan Xinjiang.

Kini sejumlah program siaran populer televisi di China juga melontarkan dukungan dengan cara yang unik.

Beberapa episode tayangan hiburan populer Sisters Who Make Waves terpaksa menyiarkan para penyanyi dan bintang film seolah-olah sedang berjalan di atas awan, padahal sepatu mereka yang menampilkan merek buatan Barat sengaja diburamkan.

Pemburaman itu juga melanda acara populer lainnya, yaitu Chuang 2021, saat para kontestan mengenakan pakaian yang menunjukkan merek asal Barat.

Salah satu penyensoran yang paling menantang adalah program kontes "Muda bersama Anda", karena melibatkan banyak kontestan sehingga harus diburamkan satu per satu bila ada yang mengenakan busana hingga sepatu dengan logo buatan Barat.

Perusahaan produksi siaran tersebut, iQiyi, mengeluarkan pengumuman pada 25 Maret lalu bahwa episode yang akan datang terpaksa ditunda penayangannya dengan tanpa memberi alasan.

Dua hari kemudian, para pemirsa bisa secara cepat melihat tanda-tanda buram pada merek-merek di baju yang dikenakan lebih dari 50 orang di tayangan itu.

Apa yang melatari penyensoran ini?

Polemik kapas Xinjiang muncul setelah AS dan negara-negara Barat lainnya menekan China atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia di provinsi yang terletak di barat laut negeri Tembok Besar itu.

Kampanye mendukung kapas Xinjiang muncul Maret lalu saat media-media massa pemerintah China dan para warganet menyerang merek H&M yang tahun lalu menyatakan prihatin soal dugaan warga Uighur jadi pekerja paksa atas produksi kapas di wilayah itu.

Kemarahan juga menyebar ke merek-merek Barat lainnya setelah diketahui melontarkan sikap serupa.

Penjualan merek-merek tersebut pun langsung diblokir di platform-platform toko online China.

Merek-merek lain yang juga kena getahnya, antara lain Nike, Adidas, dan Puma. Produsen merek-merek itu diketahui tergabung dalam Better Cotton Initiative (BCI), yaitu kelompok nirlaba yang mengkampanyekan produksi kapas secara berkelanjutan.

Kelompok itu Oktober tahun lalu menyatakan telah menghentikan operasinya di Xinjiang, begitu pula atas perizinan kapas buatan wilayah itu, dengan mengutip dugaan soal tenaga kerja paksa.

Desember tahun lalu BBC mempublikasikan investigasi berbasis riset yang menunjukkan China memaksa ratusan ribu warga minoritas, termasuk Uighur, untuk bekerja di ladang-ladang kapas Xinjiang.

'Kasihan tukang sensornya'

Selain jadi bahan lelucon di media sosial, para warganet mengaku "merasa kasihan" kepada para tenaga pasca-produksi siaran-siaran televisi itu karena harus teliti menyensor logo-logo Barat itu.

"Mereka pasti kerja keras. Saya nggak yakin mereka belakangan ini punya cukup waktu buat tidur."

Warganet lain pun membuat penyensoran versi mereka sendiri.

Itu hanyalah contoh terbaru dari pemburaman program-program televisi di China.

Tayangan yang menampilkan budaya hip-hop, tato dan belahan dada perempuan sebelumnya juga kena sensor.

Pada 2019, keputusan pengelola suatu platform video streaming populer di China yang menyensor telinga aktor yang memakai anting pun memicu perdebatan di dunia maya.

Para warganet di media sosial berpendapat bahwa penyensoran itu dipicu motivasi untuk melindungi peran gender secara "tradisional"

Anda mungkin juga tertarik dengan tayangan berikut...

Pada 2015, drama televisi populer "Kaisar Perempuan China" diedit ulang untuk menghilangkan garis leher yang muncul di siaran itu - dan ini memicu kemarahan publik besar-besaran.

Lihat juga video 'Temui Ormas Islam RI, Menlu AS Pompeo Bicara Tentang Uighur':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)