Tes Keperawanan untuk Pengantin di Acara Televisi, Menteri Prancis Murka

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 03 Apr 2021 18:10 WIB
Menteri Kewarganegaraan Marlne Schiappa menentang sebuah serial televisi. (Getty Images)
Jakarta -

Suatu serial televisi pertunjukan realitas di Prancis mengundang kecaman dari pejabat tinggi pemerintah terkait tayangan yang meminta pengantin perempuan untuk menguji keperawanannya.

Menteri urusan Kewarganegaraan Marlne Schiappa telah menulis surat kepada badan pengawas siaran Prancis, CSA, untuk menyatakan bahwa dia "marah" terkait tayangan serial Incredible Gypsy Weddings, terutama saat memperlihatkan suatu ritual yang mana pengantin wanita diperiksa oleh kerabat perempuan menjelang acara pernikahan, apakah masih perawan atau tidak.

Program itu terinspirasi oleh serial Big Fat Gypsy Weddingsyang disiarkan oleh saluran Channel 4 Inggris. Namun, bedanya, serial Prancis yang ditayangkan di saluran TFX tersebut mengikuti tradisi pacaran dan pernikahan komunitas gipsi Catalan yang tinggal di Perpignan.

Dalam edisi yang disiarkan pada bulan Februari, para penonton diperlihatkan cuplikan persiapan sebuah pernikahan yang mewah, termasuk tempat tidur pengantin. Di situ, mempelai perempuan menjalani tes keperawanan lewat ritual "upacara saputangan."

Cuplikan itu diiringi dengan narasi: "Di tempat tidur ini, seorang perempuanyang telah dilatih khusus, akanmemeriksa selaput dara Naomi dengan sebuah tisu halus. Upacara saputangan inibersifat luhur dan tak terhindarkan. Jika Naomi pernah melakukan hubungan seksual, pernikahan akan dibatalkan."

Di adegan lain, para perempuan dari komunitas itu menjelaskan mengapa upacara tersebut penting. "Ini demi keluarga si [mempelai] laki-laki," kata salah satunya. "Agar mereka tahu dia telah menerima seorang perempuan cantik yang masih perawan."

"Sejak perempuan itu masih bayi hingga besar dia diajarkan untuk mengetahui bahwa dia harus mengadakan upacara ini, untuk mendapatkan semua gaunnya, untuk mendapatkan pernikahannya," kata yang lain.

Ketika ditanya apakah laki-laki seharusnya dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan serupa, seorang perempuan yang lain menjawab: "Bukan begitu caranya. Ini berdasarkan prinsip bahwa jika seorang laki-laki muda tidak pergi berpesta dan pacaran dengan gadis-gadis lain sebelum dia menikah, maka dia akan melewatkan kesempatan itu. Sementara itu adalah pengalaman yang harus dia miliki. "

Itu sebabnya Menteri Schiappa dalam suratnya mengaku marah dengan alur cerita program tersebut, yang tetap ditayangkan tanpa ada yang mempertanyakannya.

"Institusi pernikahan di Republik kita ini diinjak-injak, tanpa ada yang mengomentari dengan cara yang tepat," katanya.

Dia mengatakan cuplikan adegan itu menjadi "semakin memuakkan" karena Majelis Nasional baru saja meloloskan undang-undang "yang melarang tes keperawanan dan menjamin persetujuan dari kedua mempelai untuk menikah".

Sementara itu, sebuah pasal dalam Rancangan Undang-Undang Anti-Separatisme - yang saat ini tengah dibahas di Senat - melarang dokter untuk memberikan sertifikat keperawanan. Pasal tersebut ditujukan terutama untuk komunitas Muslim Prancis, di mana beberapa keluarga bersikeras untuk membuktikan keperawanan mempelai sebelum pernikahan. Praktik itu sendiri masih diperdebatkan.

Pada RUU yang telah disetujui oleh DPR itu, dokter yang memberikan sertifikat keperawanan akan menghadapi ancaman hukuman satu tahun penjara dan denda 15.000 (Rp 256 juta). Sementara, seorang ahli non-medis yang melakukan tes keperawanan, bahkan dengan persetujuan perempuan yang bersangkutan, akan berisiko didakwa kasus pemerkosaan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan praktik pemeriksaan selaput dara secara visual atau dengan jari tidak dapat membuktikan apakah seorang perempuan pernah melakukan hubungan intim atau tidak. Hal itu juga merupakan pelanggaran hak asasi manusia perempuan yang bersangkutan, kata organisasi itu.

Schiappa sebelumnya sudah pernah mengeluhkan tentang seksisme di televisi Prancis. Tahun lalu, sebagai menteri kesetaraan gender, dia membuat sebuah laporan yang mengkritik program televisi pertunjukan realita karena memperlihatkan stereotip.

"Program-program reality TV menekankan hiper-feminitas kandidat perempuan dan ultra-maskulinitas laki-laki. Dari dikotomi inilah muncul sebuah visi hubungan antara laki-laki dan perempuan yang merupakan stereotip dan tidak setara," kata laporan itu.

Dia juga mengeluhkan tentang acara TV pernikahan Prancis yang populer, seperti Four Marriages for a Honeymoon, di mana para pasangan dibandingkan antara satu sama lain untuk menilai kualitas pernikahan mereka, dan Married at First Sight di mana para pasangan di acara itu menikah hanya dalam beberapa jam sejak pertama kali bertemu satu sama lain, dan kamera-kamera kemudian mengikuti dan merekam perjalanan pernikahan mereka.

Anda juga mungkin tertarik dengan:

(ita/ita)