China Bidik Timur Tengah Lewat Kerja Sama dengan Iran

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 03 Apr 2021 11:48 WIB
Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif meneken perjanjian kedua negara. (Reuters)
Jakarta -

China dan Iran menandatangani perjanjian di Teheran pada Sabtu (27/03), langkah yang oleh menteri luar negeri kedua negara dikatakan sebagai kemitraaan strategis selama seperempat abad mendatang.

Rincian perjanjian belum diumumkan, tetapi asumsi yang berkembang adalah China, bertentangan dengan sanksi Amerika Serikat, akan membeli minyak dari Iran. Sebagai gantinya, China akan menanamkan sebagian kekayaannya di Iran. Karena sanksi-sanksi maka investasi di Iran kering.

Inilah langkah terbaru dari perluasan mega proyek infrastruktur China, prakarsa Belt and Road, untuk membangun jalur perhubungan yang diperlukan China guna menopang ambisinya melebarkan pengaruh sebagai kekuatan global.

Sebagian rakyat Iran curiga terhadap motif China ketika rancangan naskah perjanjian kerja sama itu bocor tahun lalu. Kesepakatan dalam prakarsa Belt and Road dimaksudkan untuk lebih menguntungkan China.

Beberapa perjanjian yang tampak menarik berdasarkan prakarsa itu ternyata tak seperti yang dibayangkan ketika negara-negara kecil dan miskin mendapati bahwa mereka terjerumus ke dalam kesulitan.

Konfrontasi melawan AS

Iran - lebih kecil dibanding China, tetapi masih tergolong negara besar yang kaya akan sumber daya alam dan sebagai aktivis di bidang kebijakan luar negeri - adalah berbeda.

Kesepakatan baru ini akan menempatkan Iran dalam posisi berkonfrontasi dengan Amerika Serikat (AS).

Baik Iran maupun pemerintahan Joe Biden di Washington telah menyatakan mereka menghendaki AS kembali masuk ke dalam perjanjian yang membatasi program nuklir Iran yang dikenal dengan nama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Warga Iran berbelanja di pasar Teheran, Iran (2 Maret 2021)

Sanksi Amerika Serikat berhasil mencegah investasi asing masuk ke Iran. (EPA)

Mantan Presiden Donald Trump menarik AS dari kesepakatan pada 2018 dan berusaha membubarkan perjanjian itu meskipun tidak berhasil.

Trump berpendapat perjanjian itu bukannya mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, melainkan justru memudahkannya.

Baik Iran maupun AS sama-sama bersikukuh pada pendirian, sama-sama tidak bersedia untuk menjadi pihak pertama yang mengalah.

Kini setelah Iran menandatangani kerja sama strategis dengan China, yang juga masuk dalam perjanjian JCPOA, negara itu akan mengharapkan lebih dari sekedar peningkatan penjualan minyak, meskipun memang penting bagi perekonomian yang terpuruk akibat adanya sanksi-sanksi.

Perjanjian ini semestinya memberikan Iran daya tawar lebih besar di hadapan AS.

Presiden Biden, seperti juga dua pendahulunya, berusaha untuk beralih "poros" dari Timur Tengah ke kawasan Asia-Pasifik yang menguntungkan dan secara strategis penting. Dalam praktiknya, itu tidak mungkin, karena di Timur Tengah terdapat banyak faktor yang oleh AS dianggap penting bagi kepentingannya.

Salah satu agenda AS adalah Iran, dan ambisi nuklirnya. Iran membantah mempunyai program senjata nuklir.

China kekuatan global

Meskipun AS belum mengubah haluan dan menarik diri dari Timur Tengah, negara itu tidak juga bergerak maju. Keengganannya menggali lubang lebih dalam bagi diri sendiri di Timur Tengah telah membuka peluang bagi saingan-saingannya.

Rusia menangkap peluang bidang antariksa untuk menghidupkan kembali peran lama di era Uni Soviet dengan melibatkan diri dalam perang di Suriah.

China meyakini AS mengalami kemunduran jangka panjang yang tak dapat dihindari. China menempatkan diri sebagai kekuatan global yang naik daun di Abad ke-21 dan seterusnya. Kekuatan besar seperti itu tidak bisa mengabaikan Timur Tengah.

Menlu Uni Emirat Arab Abdullah bin Zayed Al Nahyan dan Menlu China Wang Yi di Abu Dhabi (28 Maret 2021)

Menlu China Wang Yi juga melakukan kunjungan ke tiga negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab. (Reuters)

Kerja sama strategis di kawasan Teluk mempunyai makna lebih besar bagi ambisi jangka panjang China dibanding manfaat jangka pendek yang didapat Iran.

Kunjungan Menteri Luar Negeri China Wang Yi ke Timur Tengah tidak hanya mencakup lawatan ke Teheran untuk upacara penandatanganan.

China Daily, media Partai Komunis China, melaporkan bahwa Wang Yi membeberkan rencana lima poin "untuk menciptakan keamanan dan stabilitas di Timur Tengah dengan menawarkan dorongan konstruktif terhadap dialog Palestina-Israel, melanjutkan perjanjian nuklir Iran dan membangun kerangka keamanan di kawasan".

Peresmian pangkalan militer China di Djibouti pada 1 Agustus 2017.

China meresmikan pangkalan militer luar negeri pertama di Djibouti pada 2017. (AFP)

Hal seperti itulah yang juga dikatakan oleh para diplomat Barat. Tetapi Amerika Serikat menempatkan Timur Tengah sebagai cagarnya sejak Perang Dingin berakhir.

Negara itu tidak mau mengizinkan sekutu-sekutunya di Uni Eropa memainkan peran di luar sekedar ikut memberikan persetujuan.

Tentara Pembebasan Rakyat, atau militer China, sudah membangun pangkalan pertama di luar negeri di Laut Merah, yakni di Djibouti. Pangkalan itu menghadap ke salah satu jalur pelayaran terbesar di dunia dan hanya 10 km dari pangkalan Komando Afrika milik militer AS.

Mungkinkah Beijing merencanakan hal serupa di wilayah pesisir Iran di Teluk, sehingga China mempunyai pijakan kelautan di wilayah yang oleh Angkatan Laut AS dianggap sebagai danaunya sendiri?

Joe Biden dan pemerintahannya mungkin menemukan jalan untuk kembali bergabung ke dalam JCPOA. Yang menjadi penentu adalah kepentingan terbaiknya.

Amerika Serikat akan merasa lebih tidak nyaman melihat tanda-tanda bahwa China, yang pertarungannya semakin gencar, sedang berusaha masuk ke kawasan yang paling tidak stabil di dunia.

Simak video 'AS Hasut Negara Lain untuk Tolak Laporan WHO soal Asal Corona':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)