Pesan Misterius dalam Lukisan Potret Diri Pelukis Caterina van Hemessen

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 01 Apr 2021 18:13 WIB
Getty Images
Jakarta -

Pikirkan tentang seniman-seniman "jenius yang kreatif" dan parade potret diri mereka dalam sejarah seni, masing-masing tampak merenung dengan intens di depan kanvas yang belum selesai, melintas di benak Anda.

Beberapa di antaranya: Lukisan potret diri a la bangsawan karya Rembrandt, Self-Portrait with Two Circles (1665); lukisan potret diri yang ikonik dengan warna terang karya Vincent Van Gogh, Self-Portrait as a Painter (1886); tatapan malu-malu Francisco Goya dalam Self-Portrait in a Studio (1790; dan lukisan potret diri karya Paul Gauguin, Self Portrait with a Palette (1894).

Jadi, maskulinitas adalah stereotip dari seniman yang menyendiri, mengangkat kuasnya layaknya barbel eksistensial yang diangkat dengan bobot psikologis.

Hampir tak bisa dibayangkan bahwa tradisi potret diri itu bermula dari seorang perempuan muda berusia 20 tahun, yang berkontribusi pada sejarah budaya dan membentuk gagasan modern kita tentang temperamen artistik - yang terperangkap dalam prisma pemikiran yang sibuk.

Namun, kontribusinya tak diakui selama hampir setengah milenia.

Ada banyak alasan untuk menyimpulkan penyebabnya. Sejarawan seni berpendapat bahwa lukisan potret diri yang memikat dan bergaya Flemmish Renaissance yang dilukis pada 1548 karya pelukis muda berbakat Caterina van Hemessen, kemungkinan merupakan lukisan potret diri pertama dari seorang seniman - baik laki-laki maupun perempuan - sedang berkarya di kandang kuda.

Atribusi semacam itu tentu saja adalah hal yang berisiko. Tanyakan saja tentang suksesi tak berujung nominasi penemu lukisan abstrak - antara Kandinsky, Hilma af Klint dan JMW Turner.

Selalu ada kemungkinan dari kejadian-kejadian sebelumnya, karya lukisan yang secara tak adil dilupakan oleh zaman, akan terungkap.

Tapi dalam kasus mahakarya lukisan potret diri karya Hemessen yang memukau, bukan hanya sekadar posturnya - perempuan muda yang menggambar dirinya dengan sapuan kuas seiring ia mulai membuat lukisan yang sama dengan yang kita lihat di hadapan kita - yang membedakan karya tersebut sebagai salah satu pelopor dalam sejarah pembuatan lukisan.

Kedalaman dan kompleksitas refleksi hakikat kreativitas dan penemuan diri pada panel kecil yang terbuat dari kayu ek adalah terobosan yang tak terbantahkan dan mengubah cara seniman menampilkan diri mereka kepada dunia selamanya.

Caterina van HemessenLukisan Hemessen adalah salah satu pelopor dalam sejarah pembuatan karya potret diri (Getty Images)

Pada pandangan pertama, tatapan perempuan dalam lukisan tampak sedikit meresahkan, menatap melewati kita ke cermin yang berada di suatu tempat di luar bingkai, yang menarik perhatian kita

Baju berlengan panjang berbahan beludru yang mewah bertentangan dengan tugas kotor yang sedang dihadapi - noda pigmen dan minyak pada palet yang tidak rapi - menambah rasa penasaran dalam lukisan itu.

Tidak lama kemudian, mata kita ditarik lebih dalam ke dalam misteri lukisan itu dengan tulisan menggoda yang disisipkan oleh Hemessen.

Dalam kehampaan keruh antara lukisan potret diri yang mirip dengan dirinya yang mendominasi bagian kanan gambar dan potret diri yang lebih kecil yang mulai dibuat oleh pelukis dalam lukisan pada panel kayu ek yang bertumpu pada kuda-kuda di sebelah kiri , ada secarik tulisan yang berbunyi: "Ego Caterina de Hemessen me pinxi 1548 Etatis suae 20"

Dalam bahasa Indonesia, tulisan itu berarti "Saya, Caterina de Hemessen, melukis diri saya pada tahun 1548 pada usia 20 tahun".

Caterina van Hemessen

Pesan Hemessen ambigu, dan terbuka untuk interpretasi (Getty Images)

Meskipun sudah menjadi kebiasaan bagi para pelukis untuk menuliskan karya mereka dengan keterangan yang mengidentifikasi pembuatnya, dalam hal ini, bahasa dalam tulisan itu berfungsi dengan cerdik untuk mengintensifkan semangat visual panel dengan tingkat intrik semantik, psikologis, dan filosofis.

Lagipula, siapa yang mengucapkan kata-kata yang melayang dan tidak berbobot ini?

Apakah kita dapat membayangkan bahwa tulisan itu ditiupkan dihirup berabad-abad dari bibir seniman itu sendiri yang telah meninggal?

Kala itu, Hemessen adalah seorang penata gaya berbakat yang hidup pada era ketika beberapa seniman perempuan membuat banyak kemajuan. Ia berbeda dengan seniman perempuan lain sehingga permaisuri ratu Hongaria dan Bohemia, Mary dari Austria, mempertahankan untuk menggunakan jasanya.

Apakah deklarasi ini, "Saya Caterina", adalah bisikan dari mulut tak bergerak alter ego sang seniman dalam lukisan itu - kemiripan dari matanya yang linglung, menatap dengan tegas tapi menolak untuk bertemu dengan mata kita?

Atau, apakah "saya " dalam "Saya melukis saya" melekat pada diri yang hampir selalu muncul di panel-dalam-panel yang, jika kita mengikuti logika penggambaran dalam lukisan ini, "saya" yang pada akhirnya akan tercipta?

Potret diri Hemessen mengandaikan keberadaan tiga diri yang berbeda, yang dibiaskan seperti sinar cahaya putih dalam prisma ke dalam spektrum pelukis, yang dilukis, dan yang belum dicat.

Trio itu terkunci selamanya dalam fantasi identitas yang berputar.

Benturan identitas

Ada sedikit keraguan bahwa Hemessen sengaja mengaitkan begitu banyak intensitas karya itu pada puisi tak tertembus dari lukisannya yang penuh teka-teki.

Dilatih oleh ayahnya, Jan Sanders van Hemessen, tokoh terkemuka Sekolah Romanist (seniman Low Country abad ke-16 yang pernah bepergian ke Roma) pada Flemish Renaissance, ia tahu sejarah seninya dengan baik.

Pola bahasa teks mengambangnya merupakan singgungan yang jelas terhadap apa yang masih, hingga hari ini, salah satu potret diri paling menawan yang pernah dibuat: Potret Diri Albrecht Drer, Self-Portrait at Twenty-Eight (1500).

Albrecht DrerSelf-Portrait at Twenty-Eight (1500) juga memiliki sebuah teks di dalamnya (Getty Images)

Dibuat setengah abad sebelum lukisan Hemessen, lukisan Drer juga memposisikan teks Latin yang sejajar dengan mata: "Albertus Durerus Noricus ipum me propriis ic effingebam coloribus tatis anno XXVIII".

Atau, "Saya, Albrecht Drer dari Nuremberg menggambarkan diri saya dalam warna-warna abadi yang menua dua puluh delapan tahun ".

Telah diakui secara luas oleh para pakar bahwa potret diri Drer sendiri merupakan tabrakan identitas yang berani ketika master Renaisans Jerman dengan berani mengaburkan kemiripannya dengan penggambaran Kristus yang bangkit yang tak terhitung jumlahnya.

Matanya dipoles menjadi tatapan abadi, mengangkat tangannya dengan penuh kewenangan akan dunia lain untuk membagi jiwa pada Hari Penghakiman.

Caterina van Hemessen

Seperti citra Drer, Hemessen menggabungkan identitasnya dengan Kristus. (Getty Images)

Dengan berani menyinggung potret diri Drer yang terkenal, Hemessen tidak hanya memproyeksikan kepercayaan pada keahliannya sendiri atau memproklamirkan ambisi artistik yang meningkat.

Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih keterlaluan: mengundang kita secara luhur untuk melihat keberadaannya secara spiritual bersebelahan dengan Kristus, sang juru selamat.

Jika Anda memiliki keraguan tentang niat yang mencengangkan itu, lihat kembali lukisan-lukisan-dalam-lukisan yang baru saja dimulai yang tergeletak di atas kuda-kuda di depannya, tepat di bawah kata-kata yang disisipkan itu.

Kuas cat yang dipegang Hemessen secara horizontal dengan tangan kanannya dan vertical maulstick (penyangga yang digunakan untuk menstabilkan lengan seniman) yang bersandar ke panel, didorong oleh tangan kirinya yang tergenggam palet, diposisikan dengan hati-hati untuk membentuk salib.

Caterina van Hemessen

Posisi kuas memiliki makna tersendiri. (Getty Images)

Terhadap potret diri yang mulai dia gambarkan di panel putih, salib yang dilapiskan ini menjadi salib terselubung yang disodorkan pada citra seniman yang muncul.

Hemessen tampaknya menegaskan bahwa penglihatan dan keahliannya sekaligus menebus dan menyiksanya - sebuah sentimen yang akan memiliki implikasi luas bagi bagaimana generasi seniman masa depan memandang kondisi mereka sendiri.

Bayangan cermin

Perasaan membangkitkan minat dari pencerminan artistik dan spiritual yang diaktifkan oleh potret diri - dari Hemessen yang menggabungkan identitasnya dengan Drer, dan dengan Kristus - diperbesar oleh misteri pencerminan optik aktual yang menggantung di atas persepsi apa pun dari lukisan yang membingungkan ini.

Menghargai potret diri apa pun berarti menganggap keberadaan kaca tampak yang digunakan oleh seniman dan ditempatkan di suatu tempat di luar bingkai lukisan - permukaan yang secara material memantulkan cahaya yang memungkinkan gambar yang dibuat oleh pelukis.

Namun dalam refleksi Hemessen, ada sesuatu yang tidak sesuai.

Pada lukisan yang kita miliki di depan kita, kepala pelukis ada di kanan atas panel, sedangkan pada panel pada kuda-kuda, lukisan di dalam lukisan, kepala ada di kiri atas.

Seolah-olah Hemessen dengan cerdik mengoreksi inversi optik dari citra dirinya yang dibuat oleh cermin yang ia lihat, di luar bingkai.

Akibatnya, potret-diri-dalam-potret-diri yang baru saja dimulai dan terpisah-pisah itulah yang lebih hidup daripada lukisan jadi yang kita lihat di hadapan kita.

Dengan bermain-main melibatkan dirinya (dan kita) dalam teka-teki cermin yang membengkokkan pikiran, Hemessen telah menciptakan lebih dari sekadar teka-teki retina yang berputar-putar.

Ia telah menghasilkan risalah visual yang mendalam tentang hakikat dan substansi peniruan spiritual dan fisik - sebuah topik di pusat pemikiran religius kontemporer.

Seabad sebelum Hemessen melukis potret dirinya, teolog Belanda-Jerman Abad Pertengahan Thomas Kempis menerbitkan buku renungan Kristennya yang berpengaruh, The Imitation of Christ, sebuah panduan untuk kehidupan spiritual yang memanfaatkan penyangga cermin untuk menekankan pentingnya refleksi akan kesucian alam semesta.

"Jika hatimu benar," tulis Kempis di bab keempat buku itu, "maka setiap ciptaan akan menjadi cermin kehidupan bagimu dan sebuah kitab ajaran suci, karena tidak ada makhluk yang begitu kecil dan tidak berharga sehingga tidak menunjukkan kebaikan Tuhan."

Cermin tidak pernah hanya sekadar cermin. Di zaman Hemessen, itu adalah wadah kebajikan, papan keselamatan yang terdengar.

Memperkuat makna cermin dalam imajinasi saat itu, dan bahkan resonansi yang lebih dalam pada karya Hemessen, adalah tulisan mistikus Italia abad ke-14, St Catherine dari Siena, yang ajarannya telah beredar populer di Eropa sejak awal. abad ke-16.

Seolah-olah menyetujui semangat visual lukisan Hemessen, di mana seniman berani melihat dirinya tidak hanya melakukan fungsi yang biasanya ditugaskan untuk laki-laki (melukis), tetapi mengasumsikan aspek Kristus laki-laki, Catherine dari Siena menantang gagasan bahwa perempuan tidak sama-sama dipanggil untuk melihat diri mereka sendiri sebagai cermin Kristus.

Terperangkap dalam refleksi yang saling memantul - religius dan feminis, optik dan artistik - panel Hemessen tak habis-habisnya layak mendapat pujian karena melacak sumbu budaya dan psikologis yang menjadi dasar semua potret diri yang dibuat seniman pada masa berikutnya.

Lukisannya yang kurang dihargai dalam banyak hal menetapkan tema yang akan dijelajahi oleh potret diri yang jauh lebih terkenal, mulai dari Rembrandt hingga Cindy Sherman, Artemisia Gentileschi hingga Picasso, akan dieksplorasi di abad-abad berikutnya.

Karya-karya yang muncul untuk mendefinisikan tidak hanya oeuvre dari seniman yang luar biasa, tapi juga kisah seni itu sendiri dalam setengah milenia terakhir.

Yang membuat mata kita terpaku pada mahakarya Van Gogh dan Frida Kahlo itu adalah kepedihan pemahaman mereka, harapan mereka, bahwa mungkin beberapa elemen dari diri kita sendiri dapat bertahan dari sapuan dan goresan sekilas dari momen-momen kita dalam waktu, dapat bertahan sebagai energi yang bergema di sepanjang zaman - naluri yang disuarakan Caterina van Hemessen dengan cekatan dalam mahakarya misteriusnya yang rancu.

Versi bahasa Inggris dari artikel ini, Caterina van Hemessen: An unknown visual pioneer, bisa Anda baca di laman BBC Culture.

(ita/ita)