Vaksinasi Corona di Australia Berjalan Lamban, Apa Sebabnya?

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 31 Mar 2021 17:49 WIB
Australia baru memvaksin sekitar 600.000 orang hingga akhir Maret 2021. (EPA)
Canberra -

Australia hanya bisa memvaksin 15% dari target total empat juta warga hingga tenggat 31 Maret. Ini artinya 3,4 juta orang (85%) yang seharusnya masuk dalam skema vaksinasi itu masih belum disuntik dan ini mengundang kritik tajam bagi pemerintah.

Data masih banyak orang yang belum divaksin itu muncul dua hari setelah Kota Brisbane menerapkan lockdown (karantina wilayah) secara terbatas untuk mengatasi lonjakan kasus lokal.

Pekan lalu pemerintah menyatakan bahwa program vaksinasi tidak bersifat genting mengingat tingkat infeksi di Australia masih relatif rendah.

Negeri Kanguru itu hingga kini mencatat total 29.300 kasus dan 909 kematian sejak pandemi berlangsung setahun lalu - jumlah itu masih lebih sedikit ketimbang negara-negara lain.

Namun muncul peningkatan kasus secara sporadis membuat enam kota menerapkan lockdown dalam beberapa bulan terakhir. Menurut kalangan pengritik, situasi seperti yang terjadi di Brisbane menunjukkan bahwa Australia perlu juga menerapkan program vaksin secara cepat.

Dua kluster di Brisbane terkait dengan penularan yang dialami seorang perawat dan seorang dokter dari bangsal perawatan COVID di suatu rumah sakit.

Kalangan pejabat setempat mengaku belum tahu persis mengapa para tenaga kesehatan itu belum juga divaksinasi.

Para pengkritik pun menuding pemerintah telah salah menangani program vaksinasi di Australia, yang baru dimulai pada 22 Februari saat banyak negara sudah lebih dulu memulainya.

Australia menggunakan vaksin Pfizer dan AstraZeneca dan penyuntikan di negara itu berskala 2,3 vaksin per 100 orang. Jumlahnya kemungkinan bertambah dalam beberapa bulan mendatang saat vaksin didistribusikan lebih luas lagi ke masyarakat.

Menteri Kesehatan Greg Hunt pada Rabu menyatakan bahwa tercatat rekor 72.826 vaksinasi dalam sehari - sehingga totalnya mencapai 670.000 dosis.

"Ini menunjukkan bahwa program vaksinasi nasional bertambah pesat sesuai dengan yang diperkirakan," katanya kepada para wartawan.

Namun Januari lalu, Perdana Menteri Scott Morrison berjanji sebanyak 4 juta orang bakal terima vaksin dosis pertama pada Maret ini.

Awal bulan ini, pemerintah melonggarkan target itu jadi April, dan menyatakan enam juta warga bakal sudah disuntik pada pertengahan Mei mendatang.

Target jangka panjang pun akhirnya diubah, tadinya semua warga Australia bakal tuntas dua kali suntik pada Oktober, kini target diubah jadi setidaknya setiap warga di bulan itu sudah mendapat satu kali dosis.

Vaksinasi berjalan lamban

Australia kini tengah bergerak ke tahap kedua dari empat tahap program vaksinasi bagi seluruh 25 juta warganya.

Penyuntikan diprioritaskan bagi warga berusia 70 tahun ke atas, atau yang sudah dirawat di panti jompo, tenaga kesehatan garis depan, petugas layanan darurat, warga Aborigin dan Selat Torres usia 55 tahun ke atas, dan mereka yang mengalami kondisi kesehatan tertentu.

Pihak berwenang belum menjelaskan mengapa laju vaksinasi berjalan begitu lamban, namun muncul masalah-masalah teknis terkait pendaftaran. Ada pula laporan-laporan mengenai warga yang tidak mau divaksin.

Bencana alam - seperti banjir bandang yang terjadi di bagian timur Australia pekan lalu - juga menghambat program vaksinasi.

Awal bulan ini, Uni Eropa memblokir pengiriman vaksin AstraZeneca ke Australia, dengan alasan lagi banyak diperlukan oleh negara-negara Benua Biru itu.

Australia mengungkapkan bahwa terhambatnya satu kloter pengiriman sebanyak 250.000 dosis itu tidak berdampak besar bagi program vaksinasinya, apalagi negara tersebut juga mampu memproduksi vaksin sendiri.

Namun Australia meminta UE untuk meninjau kembali pemblokiran atas pesanannya itu karena, seperti dinyatakan PM Morrison, pemerintahnya sudah bayar.

Sedangkan pemimpin Partai Buruh yang beroposisi, Anthony Albanese, menyatakan tidak seharusnya pemerintah menyalahkan gangguan pasokan dari luar negeri itu atas lambannya vaksinasi.

"Mereka [pemerintah] pernah bilang targetnya tidak tergantung pada hal lain dan yakin bakal memenuhi target itu," kata Albanese kepada ABC.

"Tapi, lagi-lagi, ini jadi contoh bahwa Scott Morrison selalu kencang dalam berkata-kata, tapi lemah dalam bertindak."

Kekhawatiran di Brisbane

Sementara itu ibu kota negara bagian Queensland tersebut melaporkan dua kasus penularan baru pada Rabu, sehingga total kasus akhir-akhir ini bertambah jadi 15.

Muncul kekhawatiran bahwa lockdown yang diterapkan pemerintah kota selama tiga hari, yang akan berakhir pada Kamis, akan diperpanjang.

Pelacakan kontak dengan mereka yang tertular terus berlangsung dan sejauh ini sudah lebih dari 1.000 orang yang pernah berkontak dengan pengidap harus menjalani karantina.

Lockdown itu juga memaksa banyak warga di Queensland dan sekitarnya untuk membatalkan rencana jalan-jalan dalam rangka liburan Paskah dan libur sekolah.

Padahahl perekonomian Queensland sangat tergantung pada pariwisata. Kalangan pelaku industri wisata menyatakan lockdown selama tiga hari itu diperkirakan menyebabkan kehilangan pendapatan sebesar A$ 35 juta (lebih dari Rp 388 miliar).

(nvc/nvc)