Kisah Pemuda Selamatkan Korban Kebakaran di Kamp Pengungsi Rohingya

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 24 Mar 2021 15:55 WIB
Team Saiful Arakani
Jakarta -

Kebakaran besar yang menyebar cepat di pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh menyebabkan 45.000 orang kehilangan tempat tinggal, paling tidak 15 meninggal dan 400 hilang, menurut badan pengungsi PBB.

Ketika api melahap ratusan tempat tinggal sementara, Saiful Arakani, pengungsi berusia 25 tahun, langsung lari untuk membantu menyelamatkan korban.

"Orang-orang terbakar di depan saya," katanya. "Banyak orang meninggal."

pengungsi Rohingya, kebakaran di kamp pengungsi Rohingya

Badan pengungsi PBB mengatakan sekitar 10.000 tempat tinggal sementara hancur. (Team Saiful Arakani)

Bersama sukarelawan lain, Saiful menggunakan jaketnya dan selimut untuk membantu mereka yang terbakar parah.

Ia sendiri adalah seorang fotografer profesional, ia hanya membawa telepon selulernya, dan ia berhasil membidik sejumlah gambar di tengah suasana panik itu.

"Saya mulai ambil gambar, namun saya tak berhenti menangis," katanya.

pengungsi Rohingya, kebakaran di kamp pengungsi Rohingya

Saiful Arakani yang berusia 25 tahun adalah fotografer profesional dan memimpin kelompok sukarelawan di kamp itu. (Team Saiful Arakani)

Dari semua fotonya, yang paling mengejutkan adalah seorang anak balita. Dengan tubuh terbakar parah, badan kecilnya terbaring dan ia memegang mainannya. Saiful mengatakan anak itu tak bisa bertahan.

Tak kuasa menahan api

Kamp ini ditempati oleh sekitar satu juta etnik Rohingya, dengan sekitar 34 kamp secara keseluruhan di tenggara Bangladesh.

Puluhan ribu Muslim Rohingya melarikan diri dari Myanmar setelah ditumpas secara brutal pada 2017.

Kekabaran menyebar cepat di wilayah berbukit, tempat ribuan rumah sementara di Kutalapalong Balukhali.

pengungsi Rohingya, kebakaran di kamp pengungsi Rohingya

Saiful dan rekan-rekannya tiba di lokasi kebakaran jauh sebelum pemadam kebakaran tiba. (Team Saiful Arakani)

Upaya penyelamatan

Saiful dan ibunya keluar dari rumah mereka sekitar pukul 16.00 WIB, Senin (22/03) ketika melihat api hitam mengepul dari sekitar dua kilometer.

"Asap mengepul sekitar 30 meter di udara," kata Saiful. "Saya langsung naik taksi dan menuju tempat kebakaran."

Rumah sementara rata dengan tanah.

Saat Saiful tiba, banyak orang yang membicarakan dari mana sumber kebakaran. (Team Saiful Arakani)

"Saya melihat orang lari dan berteriak, 'Selamatkan ibu saya, selamatkan adik saya'. Suasana kacau balau. Tak ada yang tahu harus bagaimana."

Tim pemadam kebakaran masih jauh dan bersama warga lain, Saiful menuju ke arah asap hitam dan mulai mencari korban selamat.

Namun apa yang dia lihat tak akan pernah hilang dari ingatannya.

"Saya menyaksikan sendiri orang terbakar habis. Saya ingin membantu mereka. Saya ingin menyelamatkan mereka, walaupun saya bisa meninggal."

"Saya menggendong bayi-bayi, perempuan dan pria tua, semua saya angkut dengan tangan saya dan saya letakkan di punggung saya. Banyak yang luka parah."

Dalam suasana kacau itu, Saiful mendengar seorang pria berteriak minta tolong.

"Namanya Saleem. Usianya sekitar 40 tahun. Ia menangis. Selamatkan anak dan istri saya. Saya selamat tapi tolong selamatkan anak perempuan saya."

Berjalan melalui puing-puing rumah yang terbakar, para sukarelawan berhasil menyelamatkan keluarga pria itu.

Saiful telah tinggal di kamp pengungsi selama lebih dari empat tahun. Ia mengatakan bagaimana rasanya hidup tanpa ada yang memperhatikan.

Itulah mengapa, kata Saiful, ia dan para sukarelawan mencoba menyelamatkan para pengungsi yang terjebak kebakaran.

pengungsi Rohingya, kebakaran di kamp pengungsi Rohingya

Saiful mengatakan ratusan orang diselamatkan para sukarelawan. (Team Saiful Arakani)

Bagi tim tanggap darurat, dengan hampir 60.000 orang berdesakan di setiap kilometer persegi, mencapai lokasi kebakaran saja sudah sulit.

Tetapi tanpa sistem pipa air di bagian kamp tersebut, Saiful menceritakan bahwa selama lebih dari satu jam, sekelompok kecil pengungsi bergegas bolak-balik membawa ember air. Akhirnya sekitar pukul 16.40 waktu setempat mobil pemadam kebakaran tiba.

Saat beberapa ambulans juga tiba, Saiful mulai membantu orang-orang yang diselamatkannya di atas kapal. Dia tahu setidaknya satu orang yang dia selamatkan dari api kemudian meninggal di rumah sakit karena luka-lukanya.

"Sepuluh orang tewas di depan saya," kata Saiful. "Empat orang di antaranya anak kecil, berusia antara satu sampai enam tahun."

pengungsi Rohingya, kebakaran di kamp pengungsi Rohingya

Seorang anak perempuan yang mengalami luka bakar tengah diobati. (Team Saiful Arakani)

Lembaga bantuan dirikan tempat penampungan sementara

Menjelang matahari terbenam, dengan sebagian besar api sudah terkendali, banyak lembaga bantuan mulai menangani kebutuhan orang-orang yang kehilangan segalanya dalam kebakaran itu.

Menurut badan pengungsi PBB, diperkirakan 560 orang terluka dan sekitar 45.000 orang harus mengungsi. Dengan sekitar 10.000 selter hancur, direktur ActionAid Bangladesh Farah Kabir mengatakan kepada BBC bahwa mereka sudah mulai mendirikan tempat penampungan sementara bagi mereka yang kehilangan rumah.

"Kami telah menampung 200 orang yang selamat bersama sejumlah anak tanpa pendamping di dua pusat komunitas. Kami telah membagikan makanan kering. Dalam koordinasi dengan penanggung jawab kamp (CIC) kami juga telah mendistribusikan 12.000 liter air minum."

pengungsi Rohingya, kebakaran di kamp pengungsi Rohingya

Para pengungsi menatapi puing-puing rumah mereka. (Team Saiful Arakani)

Saiful mengatakan bahwa dia merasa sangat sedih atas hal yang terjadi pada komunitasnya, tetapi dia menemukan kedamaian dalam kenyataan bahwa dia setidaknya berhasil membantu ratusan orang mengungsi ke tempat yang aman.

"Saya ragu saya bisa tidur malam ini. Tangisan anak-anak dan perempuan tak berdaya itu masih bergema di kepala saya. Saya hanya berharap saya bisa menyelamatkan lebih banyak orang."

(ita/ita)