Pejabat Olimpiade Tokyo Mundur karena Menghina Komedian Perempuan

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 18 Mar 2021 18:40 WIB
Komedian perempuan Jepang Naomi Watanabe (Getty Images)
Jakarta -

Pejabat tinggi panitia Olimpiade Tokyo lagi-lagi ada yang mengundurkan diri setelah melecehkan perempuan secara verbal.

Dia dianggap menghina seorang komedian perempuan dengan menyebutnya "Olympig". Ini merupakan pukulan terkini bagi persiapan pesta olahraga terbesar di dunia itu, yang tahun lalu ditunda karena pandemi Covid-19.

Masalah berawal saat Hiroshi Sasaki, Kepala Tim Kreatif Panitia Olimpiade Tokyo 2021, menyarankan agar komedian bernama Naomi Watanabe itu muncul di acara pembukaan dengan mengenakan telinga babi.

Dia kemudian meminta maaf atas saran itu, dengan menyebutnya "penghinaan besar" bagi Watanabe.

Kasus itu muncul setelah mantan Presiden Komite Penyelenggara Olimpiade Tokyo, Yoshiro Mori, dipaksa mundur setelah melontarkan kalimat yang merendahkan perempuan.

"Ada suatu ungkapan yang sangat tidak pantas terkait ide dan pernyataan saya," ujar Sasaki dalam pernyataan yang dirilis Komite Penyelenggara Olimpiade Tokyo. "Saya dengan tulus meminta maaf kepada beliau dan mereka yang merasa tidak nyaman atas pernyataan tersebut."

Pria 66 tahun itu, yang bertanggung jawab mengatur acara pembukaan dan penutupan Olimpiade Tokyo, diketahui melontarkan saran menyangkut Watanabe tahun lalu lewat grup percakapan di aplikasi Line.

Sarannya yang bermasalah itu langsung ditolak oleh para koleganya, yang merespons: itu sungguh tidak pantas.

Pengunduran diri Sasaki itu muncul tidak lama setelah majalah Shukan Bunshun melaporkan perkataannya tersebut pada Rabu (17/3).

Pihak komite menyatakan bahwa Presiden Panitia Seiko Hashimoto akan menyinggung hal itu dalam jumpa pers Kamis.

Naomi Watanabe, Jepang, komedian, perempuan, olimpiade Tokyo

Mantan atlet dan pernah menjabat sebagai Menteri urusan Olimpiade, Hashimoto baru bulan lalu ditunjuk jadi presiden komite setelah pernyataan kontroversial pendahulunya, Mori, bahwa perempuan terlalu banyak bicara. Dia juga mengatakan bahwa setiap bertemu dengan banyak kolega perempuan bakal "menghabiskan banyak waktu."

Sejak mengambil alih jabatan baru itu, Hashimoto bertekad menjadikan kesetaraan gender menjadi prioritas utama dalam Olimpiade nanti. Sebagai langkah awal, dia memasukkan 12 perempuan masuk dalam dewan direktur eksekutif komite penyelenggara.

Watanabe merupakan salah satu komedian perempuan terkenal di Jepang, dan pintar meniru gaya artis-artis populer. Di luar negeri, perempuan berusia 33 tahun itu juga tenar setelah muncul dalam sejumlah pertunjukan, seperti Queer Eye: We're In Japan! dan iklan internasional untuk produk kecantikan SK-II.

Berawal dari Skandal Mori

Yoshiro Mori

Mori, 83 tahun, mengatakan bahwa 'perempuan terlalu banyak bicara'. Pernyataannya memicu kecaman luas, baik di dalam maupun di luar Jepang. (Reuters)

Nama Yoshiro Mori, presiden Olimpiade Tokyo, dikecam luas setelah mengeluarkan pernyataan yang dianggap "merendahkan perempuan". Kontroversi ini mendorongnya untuk meminta maaf dan "mengundurkan diri" dari posisi sebagai presiden Olimpiade Tokyo.

Pernyataan tersebut dikeluarkan Mori beberapa waktu lalu saat menghadiri pertemuan virtual para pejabat senior komite Olimpiade Tokyo.

Mori -- yang berusia 83 tahun -- mengatakan bahwa "perempuan terlalu banyak bicara".

"Perempuan punya rasa persaingan yang kuat. Jika satu orang mengangkat tangan untuk bicara, yang lain merasa harus pula ikut bicara. [Akhirnya] semuanya merasa perlu untuk bicara," kata Mori, seperti dikutip media di Jepang.

Mori juga dikutip mengatakan, "Jika kita ingin menambah direktur perempuan, kita harus memastikan ada pembatasan lamanya mereka berbicara, mereka sulit berhenti, suatu hal yang menjengkelkan."

Pernyataannya tersebut memicu kecaman yang meluas, baik di dalam maupun di luar negeri.

Pada hari Rabu (10/02), gubernur Tokyo, Yuriko Koike, mengatakan dirinya akan memboikot pertemuan pekan depan yang dihadiri oleh Mori, menteri olahraga Jepang, dan presiden Komite Olimpiade Internasional, Thomas Bach.

"Melihat situasi yang berkembang, saya kira hadir di pertemuan tersebut akan mengirim pesan yang salah," kata Koike, gubernur perempuan pertama Tokyo.

Mori diperkirakan akan mengundurkan diri dari posisi presiden Olimpiade Tokyo, setelah sebelumnya sempat menegaskan dirinya tetap berniat menduduki jabatan tersebut.

Media di Jepang mengatakan "pengunduran diri Mori disampaikan hari Jumat (12/02) di pertemuan dewan eksekutif panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo".

Kepada Nippon TV, Mori mengatakan bahwa dirinya akan menjelaskan kontroversi ini di pertemuan tersebut.

"Saya harus meminta maaf," kata Mori kepada Nippon TV, hari Kamis (11/02).

"Saya tak bisa membiarkan kasus ini berlarut-larut," imbuhnya.

'Pukulan besar'

Olimpiade TokyoOlimpiade Tokyo sedianya digelar pada pertengahan 2020, namun ditunda karena pandemi Covid-19. (EPA)

Kantor berita Jepang, Kyodo, dengan mengutip sejumlah sumber, mengatakan bahwa Mori akan digantikan oleh Saburo Kawabuchi, laki-laki berusia 84 tahun yang pernah menjadi ketua persatuan sepak bola Jepang.

Kawabuchi adalah anggota tim nasional sepak bola Jepang di Olimpiade Tokyo tahun 1964.

Ia juga berperan penting dalam meluncurkan liga sepak bola profesional Jepang, J-League, pada 1993.

Mori bukan nama asing di panggung politik Jepang.

Ia antara lain pernah menjabat sebagai menteri pendidikan dan menteri perdagangan internasional sebelum menjadi perdana menteri pada April 2000 hingga April 2001.

Jabatan presiden Olimpiade Tokyo ia pegang sejak 2014.

Pengunduran Mori akan menjadi pukulan besar bagi persiapan pelaksanaan Olimpide Tokyo.

Olimpiade ini sedianya digelar pada pertengahan tahun lalu namun ditunda karena pandemi Covid-19.

Rencananya, pesta olahraga paling akbar di dunia tersebut mulai digelar pada 23 Juli tahun ini.

Namun publik di dalam negeri, sebagian besar mendesak agar ditunda atau bahkan dibatalkan sama sekali karena pandemi belum sepenuhnya bisa dikendalikan.

(ita/ita)