Anggota Parlemen Malaysia Serukan Keanggotaan Myanmar di ASEAN Dibekukan

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 17 Mar 2021 20:13 WIB
Naypyitaw -

pemakaman korban penembakan, kudeta, militar, Myanmar

Warga menghadiri pemakaman Khant Nyar Hein, 17, mahasiswa kedokteran yang tewas dalam penumpasan terhadap demonstran di Yangon pada Selasa (16/03). (Reuters)

Pertumpahan darah yang memakan korban jiwa dalam unjuk rasa menentang kudeta militer di Myanmar semakin serius, namun solidaritas dari kalangan wakil rakyat maupun di tataran akar rumput di negara-negara tetangga termasuk Indonesia, tampak tidak menonjol, kata para pengamat.

Di Indonesia, DPR sebagai lembaga representasi suara rakyat lewat pemilihan demokratis sejauh ini belum mengeluarkan sikap resmi, kecuali pernyataan sporadis sejumlah anggota.

Padahal Indonesia juga pernah mengalami situasi yang kurang lebih serupa di zaman Orde Baru.

Hingga hari Rabu (17/03), setidaknya 202 nyawa warga sipil telah melayang sejak perebutan kekuasaan oleh militer pada 1 Februari dari tangan sipil hasil pemilu sah.

Dengan kudeta, sebanyak 440 orang batal duduk di kursi DPR dan 224 di Majelis Tinggi hanya beberapa jam sebelum mereka resmi memulai mewakili rakyat Myanmar.

Peristiwa itu juga menafikan hak jutaan pemilih yang mencoblos dalam pemilu demokratis kedua pada tanggal 8 November 2020.

Demonstrasi, Myanmar, Yangon, kudeta

Penduduk Myanmar mengikuti pembangkangan nasional menentang kudeta, dalam aksi di bundaran Hledan, Yangon, Myanmar pada Minggu (14/03). (Reuters)

Mengapa suara dan aksi tenggang rasa di kalangan wakil rakyat dari Indonesia tampak tak terdengar, padahal apa yang terjadi di Myanmar merupakan ancaman bagi eksistensi demokrasi, bahkan menurut pelapor PBB, tindakan militer sudah mengarah ke kejahatan kemanusiaan?

"Kalau kenapanya saya tidak tahu. Kalau di dalam perbincangan di antara teman-teman anggota Komisi I, kepedulian mereka bagus, concern (keprihatinan) mereka besar. Cuma mungkin karena ini situasi pandemi, tidak ada bentuk-bentuk aksi yang sifatnya tampil ke permukaan barangkali," kata anggota Komisi I DPR RI Dr. Sukamta.

Lebih lanjut ia menandaskan para anggota Komisi I DPR, yang antara lain membidangi urusan luar negeri, tak diragukan lagi merasa prihatin dengan peristiwa di Myanmar.

"Paling tidak kita mendorong kepada menteri luar negeri untuk menjadikan Indonesia itu negara yang terus proaktif mendorong demokratisasi yang terjadi di ASEAN atau khusus di Myanmar, karena apa yang terjadi di sana akan berpengaruh kepada keseluruhan negara-negara ASEAN."

Lewat pernyataan tertulis, Irine Yusiana Roba, anggota lainnya di Komisi I DPR mengaku ia "terus mengupayakan tekanan kolektif", tanpa menjabarkan bentuk-bentuk tekanan yang dimaksud.

Baca juga:

Dalam pernyataan itu pula, Irine yang juga Anggota Parlemen ASEAN untuk HAM (APHR) meyakini bahwa perebutan kekuasaan ketika parlemen baru akan dilantik adalah tindakan semena-mena yang tidak mengakui demokrasi dan prinsip-prinsip ASEAN atau Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara.

"Sehingga negara-negara ASEAN perlu bertindak lebih tegas, seperti misalnya membekukan keanggotaan Myanmar di ASEAN," katanya dalam pernyataan tertulis yang diberikan kepada BBC News Indonesia pada Senin (15/03).

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah aktif melakukan lobi-lobi untuk membantu mencari penyelesaian atas kemelut di Myanmar.

Puncaknya adalah pertemuan menteri luar negeri ASEAN pada tanggal 2 Maret.

Disepakati ASEAN siap membantu kendati disyaratkan "it takes two to tango" atau diperlukan dua belah pihak untuk bekerja sama.

Uluran tangan lewat jalur diplomasi itu sejauh ini belum ditanggapi oleh penguasa baru Myanmar pimpinan Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Senior Min Aung Hlaing. Setidaknya secara terbuka.

Anggota parlemen Malaysia minta Myanmar dibekukan di ASEAN

Jika DPR RI tak mengambil sikap bulat, suara lebih keras justru muncul dari Malaysia, walaupun parlemen negara tetangga sebenarnya telah dibekukan sejak 12 Januari hingga 1 Agustus bersamaan dengan pemberlakuan keadaan darurat nasional karena pandemi COVID-19.

Dalam pernyataan bersama pada 5 Maret, 56 anggota parlemen plus tiga senator memohon kepada negara-negara ASEAN untuk mengambil tindakan tegas terhadap Myanmar "untuk menghentikan tindakan yang telah diambil, sedang diambil pihak junta Myanmar supaya menghentikan pembunuhan terhadap rakyat mereka sendiri yang memprotes pemerintah Myanmar ketika ini," kata Datuk Seri Wilfred Madius Tangau, salah seorang dari penandatangan pernyataan.

Ditambahkan, masyarakat internasional tidak boleh membiarkan pengunjuk rasa warga sipil meninggal dunia tanpa daya.

"Kami mendesak semua pemerintah anggota ASEAN untuk membekukan keanggotaan Myanmar dalam ASEAN sehingga junta Myanmar menghentikan pembunuhan rakyat mereka sendiri," papar presiden partai UPKO yang berbasis di Negara Bagian Sabah itu.

Pernyataan sikap bersama 56 dari total 222 anggota parlemen Malaysia juga telah dikirim ke Dubes Myanmar untuk PBB.

Menurutnya, pembekuan keanggotaan Myanmar di ASEAN mempunyai landasan dilihat dari sudut pandang sejarah masuknya Myanmar ke dalam organisasi pada tahun 1997.

Kala itu Myanmar yang dulu dikenal dengan nama Burma masih diperintah militer.

Warga demonstrasi di depan Sekretaria ASEAN di Jakarta, pada 12 Maret 2012.

Sekelompok orang melakukan protes di depan gedung Sekretariat ASEAN di Jakarta pada 12 Maret. (Reuters)

Sempat muncul penentangan keras dari masyarakat internasional jika Myanmar diterima menjadi anggota. Akan tetapi ada pemahaman umum di kalangan negara-negara ASEAN bahwa Myanmar akan mempraktikkan demokrasi dan kendali pemerintahan akan diserahkan ke pihak sipil.

"Tetapi akhirnya setelah pemilu yang lalu, bukan pula keadaan Myanmar semakin bagus tetapi pihak tentara mengambil alih sebagai pemerintah, maka negara-negara ASEAN harus mengambil tindakan tegas dan drastis meminta supaya keanggotaan Myanmar di ASEAN dibekukan sehingga mereka berhenti membunuh rakyat mereka sendiri," demikian analogi Datuk Seri Wilfred Madius Tangau.

Hingga kini ASEAN dilaporkan belum sampai pada tahap mempertimbangkan pembekuan keanggotaan Myanmar.

Pengamat Myanmar dan penulis buku Thailand, Indonesia and Burma in Comparative Perspective, Dr Priyambudi Sulistiyanto menjelaskan sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa solidaritas kawasan untuk perjuangan rakyat Myanmar menentang junta militer kurang kuat.

"ASEAN sendiri secara kolektif mempunyai masalah di dalam negeri. Kualitas demokrasi dan sistem pemerintahannya berbeda satu dengan yang lain."

Sebagian negara anggota menganut sistem multipartai, seperti Indonesia, Thailand, Filipina dan Malaysia tetapi Laos dan Vietnam menjalankan sistem partai tunggal. Berbeda lagi dengan Brunei Darussalam yang merupakan negara kesultanan.

"Juga ada prinsip-prinsip ASEAN sendiri yang membuat mereka ewuh pakiwuh, tak bisa menggurui negara yang lain," kata dosen dari Flinders University, Australia itu.

Protes di Myanmar, kudeta militer

Minggu 14 Maret tercatat sebagai hari yang paling banyak jatuh korban jiwa. Sekitar 50 orang meninggal dunia ketika polisi dan tentara mengeluarkan tembakan ke arah pengunjuk rasa. (Reuters)

Di Myanmar dengan penduduk sekitar 52 juta jiwa, lautan manusia dari segala lini, mayoritas generasi muda, memenuhi jalan dan tempat umum, baik di kota kecil maupun kota besar seperti Yangon dan Mandalay.

Aksi mereka bertujuan menentang perebutan kekuasaan oleh militer, menuntut pengembalian kekuasaan ke pemerintahan sipil hasil pemilu dan menuntut pembebasan pemimpin nasional Aung San Suu Kyi serta ratusan tahanan lainnya.

Aparat menggunakan gas air mata, meriam air, peluru karet bahkan, menurut utusan khusus PBB, ditemukan pula bukti penggunaan peluru tajam yang jelas melanggar hukum internasional.

Peristiwa jalanan ini juga disokong dengan aksi solidaritas, dalam skala tertentu, di sejumlah negara terutama di Thailand yang telah menampung sekitar dua juta warga Myanmar.

Akhir pekan adalah waktu luang bagi orang Myanmar di perantauan dan juga warga Thailand sendiri untuk menunjukkan kebersamaan.

Di Kuala Lumpur, Malaysia, sekelompok orang melakukan demo diam dengan menyalakan lilin di depan Kedutaan Myanmar pada tanggal 10 Maret malam, tetapi aksi mereka hanya berlangsung selama 20 menit karena dibubarkan oleh polisi.

Pengalaman Orde Baru

Kedutaan Myanmar di Jakarta juga menjadi sasaran demonstrasi para aktivis, dalam skala kecil. Kelompok yang telah menunjukkan solidaritas di antaranya mencakup Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia dan Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK).

Menurut penggerak komunitas Jaringan Rakyat Miskin Kota, Gugun Muhammad, aksi solidaritas dilandasi pengalaman rakyat kecil perkotaan di Indonesia di zaman Orde Baru.

"Kasus penggusuran di masa Orde Baru itu betul-betul pahit, dalam arti pemerintahan dijalankan dengan militerisme keras dan tidak ada ruang untuk negosiasi. Semua hal dipaksakan, pikiran dan apapun maunya pemerintah. Ruang-ruang demokrasi untuk rakyat kecil hampir tidak ada. Jadi hampir dianggap tidak ada sama sekali, baik suara maupun eksistensinya."

Ia memahami kawan-kawan dalam jaringannya di Myanmar, terutama di kota terbesar Yangon, sudah mengalami kesulitan ekonomi.

"Terus mereka juga mengalami kasus-kasus penggusuran, ditambah lagi kudeta militer. Militer yang memegang pemerintahan. Pasti situasinya akan bertambah sulit," jelas Gugun Muhammad.

Bagaimanapun pembatasan berkaitan dengan pandemi COVID-19 berpengaruh pada skala unjuk rasa menentang kudeta di Myanmar. Yang jelas peserta aksi dibatasi, protokol kesehatan harus ditegakkan dan tidak boleh menarik perhatian orang sampai menimbulkan kerumunan, katanya.

Kendala seperti ini bukan khas masalah di Indonesia.

Anggota parlemen Malaysia Datuk Seri Wilfred Madius Tangau menuturkan unjuk keprihatinan dan ungkapan kemarahan yang tidak menonjol terhadap penggunaan kekuatan berlebihan aparat keamanan Myanmar terhadap demonstran tanpa senjata, juga dipengaruhi oleh pandemi COVID-19.

"Pandemi tentu punya dampak dalam hal ini, dan untuk Malaysia situasi dalam negeri khususnya pemberlakuan keadaan darurat dan situasi di dalam tubuh pemerintah, saya pikir itu mempunyai dampak pada masyarakat madani dan rakyat Malaysia," ungkapnya.

Keadaan darurat nasional, yang pertama dalam tempo 50 tahun di Malaysia, diumumkan oleh raja atas permintaan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin dengan alasan untuk menekan penyebaran virus Corona.

Di balik alasan resmi, berkembang spekulasi bahwa keadaan darurat diterapkan guna mencegah keruntuhan pemerintahan koalisi yang bukan hasil pemilu, melainkan apa yang disebut pemerintahan 'pintu belakang'.

"Orang di sini lebih concern oleh masalah ekonomi, sekolah anak-anak, COVID-19 dan hal-hal seperti itu," Datuk Seri Wilfred Madius Tangau mengatakan kepada wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir.

Betapa pun, ia mengakui parlemen akan lebih banyak bereaksi dalam situasi normal dan jika parlemen tidak dibekukan seperti sekarang.

Selain kendala pandemi, direktur eksekutif Institut Perdamaian dan Demokrasi, I Ketut Putra Erawan, berpendapat salah satu alasan mengapa solidaritas di negara-negara ASEAN tampak tak kuat, dikarenakan demokrasi tidak menjadi isu signifikan di kawasan Asia tenggara.

"Tapi lebih ke isu identitas, isu demografi karena kalau ada pendatang akan mengubah konstalasi penduduk. Ekonomi, perdagangan menjadi isu yang utama di ASEAN," ujarnya.

Sebagai salah satu contoh isu identitas, kecaman dan kemarahan dari publik hingga politikus tak dapat dibendung ketika terjadi dugaan persekusi terhadap etnik Rohingya yang umumnya Muslim.

Sebagaimana dijelaskan oleh Datuk Seri Wilfred Madius Tangau dan Gugun Muhammad di bagian atas bahwa pagebuk menghambat unjuk rasa, maka suara-suara menentang perebutan kekuasaan dan penumpasan terhadap gerakan penentangannya lebih mudah diekspresikan lewat media sosial.

Di dunia maya, banyak aktivis muda pendukung demokrasi di sejumlah negara Asia; Taiwan, Thailand, Hong Kong, Australia dan Indonesia untuk menyebut sebagian, menunjukkan simpati terhadap rakyat Myanmar.

Solidaritas ditunjukkan melalui jaringan transnasional yang diberita nama "Milk Tea Alliance" atau Aliansi Teh Susu. Nama diambil dari minuman favorit lintas negara.

Keluarga korban, kudeta, Myanmar

Anggota keluarga demonstran yang meninggal dunia ketika aparat keamanan mengeluarkan tembakan, menunggu pengambilan jenazah di Rumah Sakit Thingangyun, Yangon pada Senin (15/03). (Reuters)

Di samping itu, beberapa LSM juga bergerak secara mandiri.

"Kami membuat poster-poster kemudian difoto setiap warga. Ini juga menjadi kesempatan bagi warga anggota Rakyat Miskin Kota di Jakarta untuk mendiskusikan apa yang terkait dengan persoalan di Myanmar supaya ini menjadi pengetahuan bersama. Setiap pertemuan kami diskusikan sambil membawa poster, lalu kita foto dan unggah ke media sosial," jelas Gugun Muhammad, penggerak komunitas Jaringan Rakyat Miskin Kota.

"Minimal teman-teman kami yang ada di Myanmar langsung tahu bahwa kami yang di Jakarta dan di Indonesia, karena teman-teman di kota-kota lain juga ikut membuat foto-foto dukungan, mereka langsung tahu bahwa kita tidak diam saja. Kita mendukung apa yang sedang mereka lakukan," katanya.

Ia merujuk pada perjuangan rakyat Myanmar untuk menolak perebutan kekuasaan oleh militer dan mengembalikannya ke pemerintahan sipil.

Militer, melalui kepanjangan tangannya- Partai Pembangunan dan Solidaritas Persatuan (USDP) kalah telak dari Liga Nasional untuk Demokrasi (LND) pimpinan Aung San Suu Kyi dalam pemilu lalu.

Berdasarkan konstitusi yang disusun oleh rezim militer sebelumnya, militer secara otomatis sebenarnya mendapat alokasi 25% kursi di parlemen. Ini belum termasuk perolehan kursi USDP.

Dengan melontarkan tudingan ada kecurangan pemilu meskipun sudah dibantah oleh Komisi Pemilihan Umum dan para pemantau, Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Senior Min Aung Hlaing mengkudeta pemerintahan yang sahih hasil pemilu demokratis kedua.

Dengan demikian, hanya sempat menghirup alam demokrasi dalam tempo lima tahun, kini Myanmar kembali dalam cengkeraman junta militer sebagaimana periode sebelumnya selama lima dekade.

(nvc/nvc)